NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Lima belas menit kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari arah tangga. Alya turun lebih dulu dengan wajah paling kusut yang pernah dilihat para pelayan. Di belakangnya ada Theo yang terus menguap sambil mengacak rambutnya. Sementara Elang turun paling terakhir dengan ekspresi dingin dan tidak bersahabat.

Ketiganya tampak seperti orang yang dipaksa bangun saat mimpi indah sedang berada di bagian terbaik. Di meja makan, Arabelle sudah selesai sarapan.

Segelas jus alpukat di tangannya baru saja ia letakkan di atas meja. Melihat ketiga anak tirinya datang, Ara tersenyum puas.

"Nah, masih hidup ternyata."

Tidak ada yang menjawab, Ara menunjuk kursi. "Duduk,"

Mereka bertiga duduk dengan malas.

"Apa ini?!" Teriak Alya. Suara gadis itu menggema di seluruh ruang makan.

Theo yang baru melihat isi meja juga langsung melotot.

"Ini sarapan manusia atau makanan kelinci?!"

Di atas meja hanya ada telur rebus, roti gandum, alpukat, susu hangat, dan beberapa potong buah.

Alya langsung menoleh ke arah para pelayan.

"Kalian serius menyajikan ini?"

Salah satu pelayan langsung menunduk.

"Nona muda, kami hanya menjalankan perintah..."

"Perintah siapa?"

Theo ikut membentak. "Kenapa tidak ada makanan normal?"

Para pelayan saling pandang dengan gugup.

Alya langsung berdiri. "Aku nggak makan ini!"

Theo ikut berdiri. "Aku juga!"

Beberapa pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam.

Sementara, Elang yang duduk di ujung meja hanya memandangi telur rebus di depannya seperti sedang memandangi musuh bebuyutan.

Ara yang sejak tadi memperhatikan tingkah mereka akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi.

"Sudah selesai?"

Tidak ada yang menjawab.

"Aku tanya, sudah selesai teriak-teriaknya?"

Alya menoleh kesal. "Ibu lihat sendiri ini makanan apa?!"

Ara mengangguk.

"Telur." Lalu menunjuk alpukat. "Itu alpukat." Kemudian menunjuk susu. "Itu susu ... bisa liatkan?"

Theo mengangkat kedua tangannya frustrasi.

"Kami tahu itu!"

"Nah, terus buat apa nanya?" Jawab Ara santai. "Berarti otak kalian masih berfungsi."

Theo hampir tersedak mendengarnya. Alya menatap Ara tidak percaya. Sedangkan, beberapa pelayan langsung menahan tawa.

Ara kemudian berdiri, tangannya mengambil satu telur rebus.

"Lihat ini."

Ketiga anak itu menatapnya.

"Protein." Kemudian mengambil alpukat.

"Lemak baik." Lalu menunjuk susu. "Kalsium."

Setelah itu Ara menunjuk mereka satu per satu.

"Kalian bertiga."

"Hah?"

"Kurang semuanya."

Alya langsung menganga. Theo menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

"Iya."

Kemudian Ara menunjuk Elang. "Kamu juga."

Elang yang sedari tadi diam langsung mengangkat alis.

"Kenapa aku, perasaan dari tadi diam aja."

Ara menyeringai. "Karena orang yang benci sayur biasanya keras kepala."

Elang langsung memijat pelipis. Theo menatap meja dengan putus asa.

"Aku mau nugget."

"Tidak ada."

"Ayam goreng."

"Tidak ada."

"Sosis."

"Tidak ada."

"Tuhan, aku mau hidup bahagia..."

Ara langsung menjawab cepat. "Kalau begitu makan yang sehat dulu, biar nggak cepat mati,"

Alya mendengus keras. "Aku nggak suka telur rebus."

Ara mengangguk. "Aku juga nggak suka anak yang pulang malam."

Alya langsung diam. Theo yang mendengar itu langsung menahan tawa. Namun, beberapa detik kemudian Ara menoleh ke arahnya.

"Dan aku nggak suka anak yang bikin keributan di depan warung."

Theo langsung ikut diam. Sementara para pelayan mulai menyadari sesuatu. Mereka mengira Arabelle akan kalah menghadapi ketiga anak Nathan.

Ternyata sebaliknya. Wanita itu selalu punya jawaban untuk setiap bantahan. Ara kemudian melipat kedua tangannya.

"Pilihan kalian sederhana." Ketiganya menatapnya.

"Makan atau?" Ara tersenyum manis. "Sampai siang tidak ada camilan."

Seketika Alya dan Theo membeku. Elang bahkan sampai menghela napas panjang.

Alya menatap telur rebus di piringnya dengan ekspresi menderita.

"Ini kayak makanan program MBG saja." Gerutunya pelan.

Theo langsung mengangguk setuju. "Kurang susu kotak doang."

Alya lalu melirik Arabelle yang sedang duduk santai sambil meminum jusnya.

"Kayaknya ibu memang suka menyiksa anak-anak." Cibirnya.

"Tergantung seperti apa yang diasuh, kalau anak titisan Sumala, jelas aku harus lebih dari itu," ujarnya bangga. Sikap acuh tak acuh itu justru membuat Alya semakin kesal.

Setelah sarapan selesai, Ara berdiri dan berjalan ke arah dapur. Ia mulai berdiskusi dengan beberapa pelayan mengenai menu makan siang. Para pelayan mencatat semua instruksinya dengan wajah pasrah.

Saat sedang berbicara, Ara melihat Theo dan Alya diam-diam berjalan menuju ruang keluarga. Keduanya terlihat santai. Jelas berniat menghabiskan hari libur dengan bermalas-malasan.

"Theo ... Alya."

Langkah keduanya langsung berhenti. Dengan malas mereka menoleh.

"Apa lagi?" Tanya Theo.

Ara menyilangkan tangan. "Kalian sudah mencuci sepatu?"

Keduanya saling melirik. "Sepatu apa?" Tanya Alya polos.

Ara langsung mengangkat alis. "Sepatu sekolah apalagi."

Theo terlihat bingung. "Lah kenapa dicuci?"

Ara menatap mereka seperti sedang melihat spesies baru.

"Kalian datang ke sekolah pakai sepatu, kan?"

"Iya."

"Ya dicuci."

Theo dan Alya kembali saling pandang. Seolah pertanyaan itu tidak masuk akal.

Alya lalu berkata santai, "Itu urusan pelayan."

Ara mengernyit. "Kenapa?"

"Ayah sudah menyiapkan pelayan di rumah." Jawab Alya. "Percuma digaji kalau nggak kerja."

Beberapa pelayan yang mendengar itu langsung menunduk. Mereka sudah terbiasa dengan ucapan semacam itu.

"Mereka juga manusia."

Alya dan Theo diam.

"Ada capeknya, ada lelahnya. Kalau kita menghargai orang lain, orang lain juga akan menghargai kita."

Theo mendengus dan lalu berkata seenaknya,

"Ibu mau dihargai berapa?"

Beberapa pelayan langsung menahan napas. Mereka tahu Theo baru saja membuat kesalahan besar. Ara langsung berjalan ke arahnya dan langsung menendang lutut Theo.

"Aduh!" Theo langsung memegangi lututnya. "Apa sih!"

Ara menatapnya tajam. "Tidak sopan tau,"

"Sakit tahu!" Keluh Theo masih mengusap lututnya.

"Bagus, rasakan itu!""

Theo langsung melotot. Ara menunjuk ke arah koridor.

"Sekarang pergi cuci sepatu sekolah."

"Nggak mau."

"Tiga."

"Apa?"

"Dua."

Theo langsung berdiri. "Menyebalkan!" Gerutunya. Alya yang melihat itu juga berniat membantah. Namun, tatapan Ara membuat semua kata-katanya tertelan kembali.

Beberapa detik kemudian, keduanya berjalan pergi dengan wajah tidak rela.

"Kenapa hidup kita begini?" Keluh Theo.

"Karena karma." Sahut Ara santai.

Setelah Theo dan Alya pergi, kini tinggal Elang seorang. Pemuda itu masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Ara berjalan mendekat. "Kamu,"

Elang bahkan tidak mengangkat kepala.

"Hm."

"Ambil laptop."

"Tidak,"

"Kenapa?"

"Males..." Jawab Elang jujur.

Ara mengangguk. "Baik."

Elang tersenyum tipis. Namun, sedetik kemudian Ara melanjutkan,

"Kalau begitu nanti aku telepon dosenmu."

Elang langsung menoleh. "Apa urusannya?"

Ara duduk di hadapan Elang. "Kamu harus memperbaiki skripsimu."

Elang mendengus. "Percuma."

"Kenapa?"

"Kalau perlu aku bayar orang saja."

Ara langsung menggeleng. "Percuma."

Elang mengangkat alis. "Kenapa percuma?"

"Karena meskipun skripsimu selesai..." Ara menunjuk kepalanya.

"Otakmu tetap tidak ikut lulus."

Elang langsung terdiam. Ara melanjutkan tanpa ampun.

"Kalau orang lain yang mengerjakan semuanya, kamu tetap tidak belajar apa-apa."

"Yang penting lulus." Bantah Elang.

"Salah." Ara menggeleng. "Yang penting paham."

Elang mulai kehilangan kesabaran.

"Kalau ibu pintar, kenapa tidak sekalian ibu yang kerjakan?"

Niat awal Elang sebenarnya sederhana, ingin membuat Ara menyerah.

Ara malah berkata santai, "Aku tidak akan mengerjakannya."

Elang tersenyum. "Nah."

"Tapi aku bisa mengajarimu."

Senyum Elang langsung hilang.

"Hah?"

Ara menunjuk lantai atas. "Ambil laptop."

Elang masih menatapnya tidak percaya.

"Aku serius."

"Aku juga serius." Jawab Ara.

"Kita perbaiki sama-sama."

Elang benar-benar bingung. Biasanya orang dewasa langsung menyerah menghadapi dirinya. Dan entah kenapa, itu jauh lebih sulit dihadapi oleh Elang daripada kemarahan apa pun. Dengan langkah malas, Elang melangkah menuju lantai atas untuk mengambil laptopnya.

1
Rita Juwita
terima kasih thor ceritanya luar biasa..
Sri Wulandari
jangan² cucu sahabat omanya Alya itu Ken 🤔
Sri Wulandari
Ken sprtinya suka qm makanya dia suka ngusilin qm
Sri Wulandari
harus resepsionis itu menghubungi Mohan asisten Nathan buat konfirmasi klu ada Ara yg mengaku istrinya Nathan nah klu sdh gini siap² qm kehilangan pekerjaan mu mbk 😔
Sri Wulandari
pasti itu pelayanan yg sm pas dulu suka ngomporin Alya waktu msh blm menerima Ara jd ibu tirinya 🤔
Sri Wulandari
beruntung Nathan menjadikan Ara sbgai istrinya bagitu pula dg anak²nya memiliki ibu sambung yg peka dg kondisi & keadaan mereka yg sllu mengkhawatirkan mereka setiap saat
Sri Wulandari
ya ampun Alya Theo jahilnya g hilang² orangtua sendiri d jaili malu kan mereka 😅
knp Alya g jd dokter sj drpd jd perawat thour 🤔
atulyaas
nyonya ga sih ka harusnyaa, kan udaa nikah dokternya tau juga itu mama nya elang
Sri Wulandari
baru unboxing ayah Nathan selama 3th kerinduan yg terpendam akhirnya tersalurkan....selamat smoga segera launcing apalagi klu smpai jd 2
Sri Wulandari
klrg Vasilo sangat menyayangi anak² tiri Ara.... mereka sdh menganggap anak² itu menjadi bagian klrg Vasilo
Alya qm pasti BT ya...smua orang mengerjain mu.... tunggu sbntr lg akan ada kejutan luar biasa utk mu qm pasti d buat syok dg hadiah yg qm terima nti....
Happy Birthday Alya bahagia sllu 😍🥰🥰🤗🤗🤗🎂🍭🍭🍦🎉🎆
Sri Wulandari
walaupun tinggal d luar negeri & menjadi bagian klrg kaya tp Alya ttp menjadi pribadi yg sederhana & g sombong begitu pun dg kakaknya yg lain ayah Nathan & Ara sdh berhasil mendidik anak²nya dg sangat baik 🤗
Sri Wulandari
Theo mmng suka buat mslh tp dia sllu bertanggungjawab dg setiap pilihan & mimpinya yg g pernah hilang adalah menjadi pembalap profesional senyum sllu mengembang matanya sllu berbinar karna balapan adalah sebagian dr jiwanya yg g pernah bs dia lepas smpai kpn pun 🤗
Sri Wulandari
mm Ara mmng polos ayah Nathan.... benar² kena mental itu mantan ayah mmng ulat bulu g tau malu salah cari dia mm Ara koq d lawan🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sri Wulandari
Nathan ayah yg hebat demi demi keutuhan klrgnya & kebahagiaan ketiga anaknya dia akhirnya mendapatkan kesempatan utk bersama Ara walaupun mereka smua hrs berpisah selama 3th... waktu yg tdk sebentar tetapi ada kepastian klu mereka suatu hari bs bersama selama membangun klrg bahagia impian Nathan & anak²nya bersama Ara sbgai mama pilihan mereka 🥰🥰🤗

😍😍😍😍😍
Sri Wulandari
Elang mulai PDKT😄
mars
mafioso ga tuh punya ibu tiri😄
Sri Wulandari
Theo lebih gercep dr ayah Nathan utk membawakan Ara kembali pulang semangat Theo qm pasti bs membawa mm Ara pulang
Sri Wulandari
Theo berusaha menjadi kakak yg baik buat Alya apapun akan dia lakukan utk adiknya demi membawa mm Ara pulang.... semangat Theo bkn kemenangan yg hrs d raih tp sebuah proses & usaha yg gigih utk membuktikan klu kalian menginginkan mm Ara kembali pulang 💪💪💪🤗🤗
Sri Wulandari
Theo si pembuat onar akhirnya berpikiran dewasa & berusaha bertanggungjawab dg smua keputusannya
Sri Wulandari
terharu dech bacanya...
akhirnya Theo bs mengungkapkan perasaannya .....Theo, Alya, & Elang mereka sebenarnya anak² yg baik hamya sj karna kehilangan seorang mama membuat mereka merasa kesepian tanpa perhatian & kasih sayang karna ayah Nathan yg sllu sibuk sehingga mereka benar² kehilangan sosok seorang ibu tp kehadiran Ara membuat mereka sadar bahwa hidup mereka menjadi lebih hangat stlh k hadiran Ara walaupun awalnya mereka menolak karna mereka mengira ibu tiri itu seorang yg kejam & suka melakukan kekerasan & hanya mencintai ayah mereka sj....
tp nyatanya tdk dg Ara....dia bs membuat mereka merasa terlindungi d sayangi... Theo yg suka membuat membantah & membuat mslh pun jg merasakan kasih sayang itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!