Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suasana di dalam mobil kembali hening, hanya terdengar suara Elvan yang sedang menyedot susu.
Raka diam-diam memperhatikan cara Dewi memeluk dan menatap anaknya.
Tidak ada raut wajah palsu atau tatapan menjilat yang sering Raka temui pada wanita-wanita lain.
Mata wanita penjual kue ini murni memancarkan kelembutan.
Kurang dari sepuluh menit, botol susu itu sudah kosong melompong.
Kelopak mata Elvan mulai meredup dan berkedip lambat.
Dewi menepuk-nepuk pelan pantat Elvan dengan ritme yang teratur.
"Tidur sayang, Mama ada di sini menemanimu," bisik Dewi sambil menyenandungkan nada pelan.
Hanya butuh waktu dua menit setelah susu habis, dengkuran halus mulai terdengar dari hidung kecil Elvan.
Anak itu tertidur sangat pulas di pelukan wanita yang baru dikenalnya kurang dari satu jam.
Ding!
[Misi Berhasil!]
[Target asuhan tertidur lelap. Hadiah Pakaian Kasual Elegan telah disimpan di dalam Inventori Sistem]
Dewi bernafas lega, akhirnya anak lucu ini bisa beristirahat juga.
"Turunkan aku di halte depan, Tuan Raka."
Dewi berbisik pelan agar tidak membangunkan Elvan.
"Anakmu sudah tidur lelap, tugasku sudah selesai, dan aku menagih janji seratus juta rupiah yang kau ucapkan tadi."
Raka terdiam, matanya menatap lekat ke wajah anaknya yang tertidur damai.
Sudah hampir satu bulan Elvan tidak pernah tidur senyenyak ini.
Sejak mantan istrinya pergi membuat kekacauan bulan lalu, Elvan selalu rewel dan sering terbangun menangis di malam hari.
Puluhan pengasuh bayi terbaik di ibu kota sudah Raka sewa, tapi tidak ada satu pun yang bisa menenangkan Elvan.
Tapi wanita lusuh di depannya ini, hanya dengan modal botol susu, bisa melakukan keajaiban.
"Bram, putar balik, kita kembali ke mansion," perintah Raka dengan suara pelan namun tegas.
"Baik, Tuan," jawab Bram sigap sambil memutar kemudi.
Dewi melebarkan matanya dan memprotes setengah berbisik.
"Hei! Apa maksudnya ini? Aku bilang turunkan aku di halte depan!"
Raka menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di dada.
"Seratus juta terlalu murah untuk kemampuanku menjinakkan anak ini, benar begitu maumu?" tanya Raka memutarbalikkan fakta.
"Apa? Aku tidak bilang begitu!" bantah Dewi kesal.
"Pria kaya sepertimu memang terbiasa melanggar janji seenaknya ya?"
Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat jarang terlihat oleh bawahannya.
"Aku tidak melanggar janji, aku hanya ingin menaikkan nilai tawaran kerjanya, Nona..."
"Dewi Anjani. Namaku Dewi," potong Dewi cepat.
"Baik, Nona Dewi Anjani."
Raka mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata Dewi.
"Anakku butuh sosok seorang ibu untuk menstabilkan emosinya akhir-akhir ini."
"Dan kau butuh uang untuk bertahan hidup, mengingat pakaian dan bau matahari yang menempel di tubuhmu saat ini."
Dewi menggertakkan giginya, merasa tersinggung namun tidak bisa membantah fakta bahwa dia memang miskin.
"Lalu apa maumu?" tanya Dewi ketus.
"Jadilah ibu bayaran untuk anakku."
Suara Raka terdengar sangat santai, seolah dia baru saja mengajak Dewi makan siang, bukan menawarkan posisi ibu.
Dewi hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar penawaran gila itu.
"Kau pasti sudah gila! Kita bahkan tidak saling kenal!"
"Aku kenal kondisimu. Kau butuh uang, aku butuh jasa. Ini murni transaksi bisnis," balas Raka logis.
"Tinggal di mansionku, asuh Elvan seperti anakmu sendiri setiap hari."
"Aku akan membayarmu seratus juta rupiah setiap bulan, bersih, di luar biaya makan dan tempat tinggal."
Dewi menelan ludah berkali-kali sampai kerongkongannya terasa kering.
Seratus juta rupiah per bulan? Gaji di pabrik sepatu saja hanya UMR.
Dengan uang sebanyak itu, dia bisa membuka puluhan cabang toko kue dalam setahun!
"Tapi ada syaratnya," lanjut Raka memecah khayalan indah Dewi.
"Jangan pernah memiliki perasaan apa pun padaku."
"Dan jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadiku di luar masalah Elvan."
Dewi mencibir pelan mendengar syarat narsis pria di depannya ini.
"Cih, percaya diri sekali Anda, Tuan Raka."
"Meski Anda sekaya Bill Gates, saya juga tidak sudi jatuh cinta pada kulkas berjalan yang arogan seperti Anda."
Mata Raka sedikit menyipit mendengar hinaan Dewi, tapi dia tidak terlihat marah.
"Bagus kalau kau sadar diri. Jadi, kesepakatannya diterima?"
Dewi menunduk menatap wajah Elvan yang tertidur pulas.
Jari kelingking anak itu secara tidak sadar melilit erat kancing kaus Dewi.
Ada perasaan hangat yang aneh menjalar di dada Dewi, bukan karena uangnya, tapi karena anak ini.
Lagipula, aku tidak punya tempat tujuan lagi untuk pulang hari ini, pikir Dewi pasrah.
"Tulis kontraknya di atas materai, dan aku ingin gaji pertamaku dibayar di muka hari ini juga," tegas Dewi memberikan syarat.
Raka kembali bersandar ke kursinya dengan raut wajah puas.
"Bram, siapkan surat kontrak kerja sesuai yang dikatakan Nona Dewi begitu kita sampai di mansion."
"Baik, Tuan Raka," jawab Bram sambil tersenyum simpul dari bangku depan.
Mobil mewah itu terus melaju membelah kemacetan sore ibu kota, membawa Dewi menjauh dari kehidupan lamanya.
Dewi menatap keluar jendela mobil, menghela nafas panjang.
Selamat tinggal gerobak kue, dan selamat datang kehidupan baru sebagai ibu kontrakan miliarder.
Semoga saja aku tidak menjadi gila di rumah pria es batu ini, doa Dewi dalam hati.
Di saat yang sama, layar sistem kembali berkedip samar.
[Selamat! Tuan Putri berhasil mengamankan sumber keuangan jangka panjang!]
[Persiapkan diri Anda, misi-misi bertahan hidup di Mansion Mahardika akan segera dimulai.]
Dewi hanya bisa memutar bola matanya malas menanggapi peringatan dari sistem cerewet itu.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭