-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
*****
Suara langkah kaki dr. Maya dan perawat yang menghilang di balik pintu kayu tebal menyisakan keheningan yang amat pekat di dalam Ruang Periksa VIP Satu. Udara ruangan yang tadinya terasa sejuk mendadak menjadi begitu menyesakkan bagi Aini.
Di atas ranjang periksa, tubuh mungil Aini mulai bergetar hebat. Kata-kata dr. Maya tentang adanya benih kehidupan baru di dalam rahimnya masih bergema berulang kali di dalam kepalanya, bukannya membawa ketenangan, melainkan memicu gelombang kecemasan yang mendadak meledak tak terkendali.
Lonjakan hormon kehamilan di minggu-minggu awal yang berpadu dengan kelelahan fisik dan beban psikologis membuat pertahanan emosional Aini runtuh total.
"G-Gak... gak mungkin..." bisik Aini dengan suara parau yang amat gemetar.
Pikiran Aini mendadak berputar liar tanpa arah. Bayangan malam kelam itu—malam ketika batas perjanjian mereka diruntuhkan oleh ketidakberdayaan—kembali berkelebat menyiksa benaknya. Ditambah lagi status pernikahan rahasia mereka, tugas koas yang masih panjang, dan ingatan akan lembaran kontrak pernikahan kaku yang dulu disusun Ivandra, semuanya bersekongkol menghimpit dadanya hingga Aini kesulitan bernapas.
Ivandra yang masih berlutut di tepi ranjang memajukan tubuhnya, berusaha meraih bahu Aini dengan kelembutan penuh. "Aini... Sayang, tenanglah... Dengarkan Mas—"
"Jangan touch saya!" pekik Aini secara refleks.
Didorong oleh emosi yang labil dan panik berlebih, Aini menyentak kedua tangannya, mendorong dada bidang Ivandra hingga tubuh jangkung pria itu terdorong mundur. Aini merapatkan kedua lututnya ke dada, meremas bagian bawah perutnya sendiri dengan jemari yang gemetaran kencang, menatap Ivandra dengan pendar mata yang sarat akan histeria dan ketakutan murni.
"Aini! Jangan meremas perutmu!" seru Ivandra panik. Pria itu menahan tangannya sendiri di udara, menahan diri agar tidak makin memicu trauma istrinya. "Jangan sakiti dirimu dan bayi kita, Aini!"
"Bayi ini... anak ini..." isak Aini pecah mendadak. Air mata bening mengalir deras menyusuri pipinya yang pucat, membasahi kain hijabnya. "Anak ini hadir dari malam itu, Mas! Malam saat Mas mengabaikan jeritan saya... Malam saat Mas bilang persetan dengan kontrak kita!"
Ivandra membeku. Setiap kata yang meluncur dari bibir Aini terasa bagai belati kembang yang menghujam jantungnya berulang kali. Rasa bersalah yang sempat mereda kini kembali membakar dadanya dengan perih yang tak tertahankan.
"Apakah... apakah kehamilan ini cuma jebakan baru dalam hidup saya?" cecar Aini dengan napas yang memburu kencang, terengah-engah dalam kepungan panic attack. "Bagaimana nasib anak ini nanti, Mas?! Pernikahan kita ini cuma diatas lembaran kontrak! Status saya cuma koas di rumah sakit ini, dan pernikahan kita rahasia! Apa Mas akan menganggap anak ini sebagai beban? Apa Mas akan membuang anak ini kalau masa kontrak kita berakhir?!"
"Demi Allah, Aini! Tidak!" potong Ivandra tegas, suaranya berbariton rendah dan bergetar hebat oleh kepedihan yang teramat mendalam.
Melihat Aini yang kian terengah-engah menahan napas akibat panik, Ivandra tak sanggup lagi berdiam diri di tempatnya. Membuang seluruh rasa takut akan penolakan, Ivandra bergerak maju, merengkuh tubuh mungil Aini ke dalam dekapannya secara paksa namun amat penuh kehati-hatian.
"Mas! Lepas... hnggh... lepas...!" rintih Aini, tangannya memukul-mukul dada tegap Ivandra dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Namun Ivandra tak membiarkan Aini terlepas. Pria jangkung itu memeluk kepala dan punggung Aini rapat-rapat ke dadanya, menyusupkan jemarinya di balik kain penutup kepala Aini untuk mengusap tengkuknya, membimbing posisi tubuh istrinya agar bersandar utuh pada detak jantungnya.
"Menangislah, Aini... Pukul Mas, marahi Mas sepuasmu... Tapi tolong bernapaslah..." bisik Ivandra parau tepat di samping telinga Aini. Suara pria angkuh itu kini sepenuhnya basah oleh air mata yang ikut lolos menetes dari pelupuk matanya.
"Anak ini bukan beban... Anak ini bukan jebakan, Sayang..." erang Ivandra dengan dada yang naik turun memburu. "Anak ini adalah anugerah terbesar dalam hidup Mas. Anak ini darah daging Mas sendiri!"
Ivandra meraih tangan kanan Aini yang gemetaran, menariknya perlahan lalu menempelkan telapak tangan mungil itu tepat di atas dada kirinya—di mana detak jantung Ivandra berdegup begitu kencang, jujur, dan tak beraturan.
"Kandungkan rasa takutmu di sini, Aini..." tutur Ivandra serak, menatap lurus ke dalam manik mata Aini yang membasah. "Merasakan detak jantung Mas? Ini detak jantung seorang pria yang sangat mencintaimu... seorang suami yang berdosa dan sedang berjuang setengah mati untuk menebus semua lukamu."
Aini tertegun dalam dekapan hangat itu. Sentuhan telapak tangannya pada dada bidang Ivandra menyalurkan getaran kejujuran yang amat pekat. Pukulan lemah dari jemarinya perlahan mengendur, berganti menjadi cengkeraman kaku di piyama kemeja Ivandra.
"Mas tidak pernah menganggap pernikahan kita sekadar kontrak lagi sejak pertama kali Mas menyadari bahwa Mas tidak bisa hidup tanpamu," lanjut Ivandra dengan keteguhan mutlak. "Kontrak kaku itu sudah hancur. Mulai detik ini, tidak ada lagi batasan, tidak ada lagi rahasia. Mas siap menanggung seluruh risiko karier Mas di rumah sakit ini... Mas siap mengumumkan status pernikahan kita ke seluruh dunia jika itu yang membuatmu merasa aman."
Aini menatap wajah Ivandra yang berada sangat dekat dengannya. Untuk pertama kalinya, Aini melihat mata elang sang Kepala Bedah Saraf yang biasanya tajam dan tak tersentuh kini dipenuhi oleh air mata penyesalan dan kasih sayang yang teramat murni.
"Tapi... status koas saya... tanggung jawab saya..." cicit Aini lirih, suaranya menyuarakan kerapuhan seorang wanita yang mendadak dihadapkan pada peran sebagai calon ibu.
"Kamu tidak sendirian, Aini," bisik Ivandra lembut, mengecup kening Aini dengan rasa hormat dan kehangatan yang amat dalam, membiarkan bibirnya menempel lama di sana. "Mas akan menjaga kamu dan buah hati kita. Mas akan atur seluruh beban tugasmu tanpa mengorbankan cita-citamu sebagai dokter. Izinkan Mas menjadi benteng perlindunganmu dan anak kita..."
Isak tangis Aini yang tadinya dipenuhi histeria perlahan mereda, berganti menjadi hembusan napas lega yang pasrah di dalam pelukan Ivandra. Kehangatan dada suaminya dan kepastian kata-kata pria itu perlahan-lahan mengikis kabut ketakutan yang disebabkan oleh gejolak hormon di dalam dirinya.
Ivandra mempererat dekapannya, menyandarkan dagunya di atas kepala Aini, berjanji dalam hatinya untuk siap berjuang sejauh apa pun demi menyembuhkan seluruh luka di hati istrinya dan membesarkan buah hati mereka bersama dalam keutuhan cinta.
Bersambung....
Halo, para pembaca setia! Terima kasih sudah terus mengikuti perjalanan kisah Ivandra dan Aini hingga sejauh ini. Dinamika emosi yang penuh trauma, penyesalan, hingga titik balik hubungan mereka tentu menyuguhkan banyak peradukan rasa. Terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian dalam menyimak setiap babnya!
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
mampir ya ke novel ku