Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 7
Matahari baru saja naik sepenggalah, namun suasana di ruang makan utama kediaman Keluarga Mahendra sudah mendidih oleh amarah dan rasa heran yang luar biasa.
Martha mondar-mandir di atas lantai marmer sambil menggenggam ponselnya erat-erat, sementara Kevin duduk di sofa dengan wajah ditekuk masam. Di ujung meja, Kakek Surya mengetuk-nugkuk tongkat berkepala naganya berulang kali, menciptakan suara ketukan keras yang membuat seisi ruangan semakin tegang.
"Kalian tidak salah dengar, kan? Coba ulangi sekali lagi berita dari pabrik!" bentak Martha kepada manajer pabrik utama Keluarga Mahendra lewat panggilan speaker telepon.
"B-benar, Nyonya Besar," jawab suara di seberang sana dengan nada ketakutan. "Semua truk bahan baku dari PT Bina Karya milik Bu Yevone pagi ini sudah masuk ke area produksi. Stok mereka penuh lagi, bahkan produksinya jalan dua kali lipat lebih cepat dari kemarin. Bukan cuma itu... bank pusat juga melaporkan kalau perusahaan Bu Yevone baru saja menerima suntikan dana segar senilai lima puluh miliar rupiah!"
Plak!
Martha menjatuhkan ponselnya begitu saja ke atas meja makan hingga layarnya retak. Wajahnya memerah padam menahan syok.
"Lima puluh miliar?! Dari mana perempuan sialan itu dapat uang sebanyak itu dalam semalam?!" teriak Martha histeris. Ia menoleh ke arah Kakek Surya. "Kakek, ini pasti ada yang nggak beres! Kemarin sore jelas-jelas kita sudah pastikan semua bank menutup pintu untuk Yevone. Perusahaannya seharusnya sudah bangkrut dan jadi pengemis hari ini!"
Kevin ikut bangkit dari duduknya, wajahnya tampak menyiratkan kepanikan bercampur iri. "Iya, Kek! Nggak masuk akal sama sekali. Kemarin dia bahkan kelihatan hampir nangis waktu kita tekan buat cerai sama si benalu itu. Mana mungkin dalam waktu kurang dari dua puluh jam dia bisa dapet investor sebesar itu?"
Kakek Surya mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alis putihnya bertaut tajam. Tongkatnya berhenti mengetuk. Pria tua itu tahu betul likuiditas dunia bisnis di kota ini. Tidak ada satu pun investor lokal yang berani memberikan pinjaman sebesar lima puluh miliar tanpa jaminan aset yang kuat—sementara aset perusahaan Yevone sudah hampir disita.
"Apakah ada perusahaan besar lain yang sengaja pasang badan buat dia?" gumam Kakek Surya parau, lebih pada dirinya sendiri.
"Perusahaan besar mana yang mau rugi invest ke perusahaan kecil kayak punya dia, Kek?" protes Kevin dengan nada tinggi. "Kecuali kalau..."
Kevin menghentikan kata-katanya. Ia saling berpandangan dengan ibunya. Sebuah pikiran kotor dan keji tiba-tiba melintas di kepala mereka berdua.
"Kecuali kalau Yevone menjual dirinya pada pria hidung belang kaya raya di luar sana!" sambung Martha dengan suara melengking penuh kebencian. "Ah, benar juga! Pantasan dia kemaren malam pulangnya agak telat dan pasang muka melas di depan kita. Ternyata dia sengaja melacurkan diri demi uang lima puluh miliar itu!"
Mendengar tuduhan keji itu, pintu dapur berderit pelan. Theodore, yang sejak tadi berdiri membersihkan lantai dapur dengan kain pel, menghentikan gerakannya. Ia memegang gagang pel dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih keras. Udara di sekitar dapur mendadak terasa dingin mencekam, namun keluarga di ruang makan terlalu sibuk bergosip untuk menyadarinya.
"Kalau benar dia menjual diri demi perusahaan, itu benar-benar memalukan dan mencoreng nama baik Keluarga Mahendra!" maki Kakek Surya dengan suara bergetar karena marah besar, harga diri keluarganya merasa diinjak-injak. "Segera panggil perempuan kurang ajar itu pulang! Suruh dia menghadap ke sini sekarang juga!"
Belum sempat Martha meraih ponselnya untuk menelepon Yevone, suara deru mesin mobil sedan tua terdengar memasuki halaman depan. Tak lama kemudian, pintu utama terbuka, dan Yevone melangkah masuk ke dalam rumah.
Wajah Yevone tampak jauh lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya. Ada secercah aura kelegaan dan senyuman tipis yang coba ditahannya, meski matanya masih menyisakan sedikit lelah.
Begitu melihat Yevone berdiri di ruang tamu, Martha langsung menyambutnya dengan lemparan tatapan penuh racun. Ia berjalan cepat menghampiri putrinya, lalu melayangkan tangan kanannya berniat menampar pipi Yevone.
"Anak tidak tahu malu!" jerit Martha penuh emosi.
Namun, sebelum tangan Martha sempat mendarat di wajah Yevone, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Martha dari samping. Gerakannya begitu cepat bagai kilat.
Martha terpekik kaget. Ia menoleh dan mendapati Theodore sudah berdiri di sampingnya. Pria itu menahan tangan mertuanya dengan cengkeraman kokoh seperti besi, sementara tangan kirinya masih memegang kain pel basah.
"Jangan pernah menyentuh istriku," ucap Theodore dengan suara berat dan datar. Matanya menatap tajam langsung ke mata Martha, memancarkan aura dingin yang membuat darah Martha mendadak berdesir ketakutan.
"L-lepas! Beraninya kamu ya, si benalu sialan! Lepasin tanganku!" maki Martha sambil meronta-ronta, meski ia tidak bisa melepaskan diri sama sekali dari genggaman Theodore.
Yevone sendiri tertegun melihat suaminya berani bertindak melindungi dirinya secara langsung di hadapan seluruh keluarganya. Selama ini Theodore selalu diam dan membiarkan dirinya disiksa atau dimarahi tanpa perlawanan. Kenapa hari ini pria itu terlihat berbeda?
Theodore perlahan melepaskan tangan Martha, lalu mendorongnya mundur satu langkah dengan halus namun tegas. Ia kembali berdiri di belakang Yevone, memasang kembali ekspresi bodoh dan menunduk layaknya seorang pria penurut.
Martha mengusap pergelangan tangannya yang memerah, lalu menunjuk-nunjuk wajah Yevone dengan jari telunjuknya yang gemetar karena geram.
"Yevone! Kamu benar-benar sudah hilang akal ya! Dari mana kamu dapat uang lima puluh miliar itu, hah?! Jawab jujur! Kamu tidur sama direktur mana sampai bisa nyelametin pabrikmu?!" bentak Martha tanpa filter di depan kakeknya.
Yevone membelalakkan matanya, terkejut luar biasa mendengar tuduhan murahan dari ibu kandungnya sendiri.
"Apa yang Mama bicarakan?! Jaga mulut Mama!" balas Yevone dengan suara bergetar karena sakit hati yang luar biasa. "Aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu!"
"Lalu kalau bukan karena menjual diri, dari mana uang sebanyak itu datang dalam semalam?!" Kevin ikut menimpali sambil berjalan mendekat dengan senyum meremehkan. "Jangan ngaku-ngaku suci deh, Yev. Semua bank kemarin nolak kamu, tapi tiba-tiba ada dana misterius masuk. Kalau bukan karena kamu melayani om-om kaya, perusahaan bangkrutmu itu pasti sudah rata dengan tanah hari ini!"
Yevone mengepal kedua tangannya hingga kuku jarinya menusuk telapak tangannya sendiri. Air mata kemarahan hampir tumpah. Keluarga kandungnya sendiri bahkan tidak sudi melihatnya sukses dengan cara yang halal; mereka lebih memilih memfitnahnya sebagai wanita murahan daripada mengakui bahwa ia mampu bangkit.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada kalian karena aku sendiri tidak tahu siapa yang memberi dana itu," jawab Yevone dingin, menatap keluarganya satu persatu dengan penuh kekecewaan. "Tapi camkan ini baik-baik: aku tidak pernah menjual harga diriku!"
"Alasan pembual!" maki Kakek Surya sambil memukulkan tongkatnya ke lantai. "Bawa perempuan tidak tahu diri ini pergi dari hadapanku! Dan kamu, si benalu!" Kakek menunjuk Theodore dengan ujung tongkatnya. "Bawa istrimu keluar dari rumah ini sekarang juga! Jangan kotori rumah Keluarga Mahendra dengan perempuan kotor hasil uang haram!"
Theodore maju setengah langkah melindungi Yevone. Di balik kepalanya yang menunduk, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang sangat dingin.
*Kalian menuduhnya menjual diri hanya karena kalian terlalu bodoh untuk menyadari siapa yang memegang kendali di belakang layar,* batin Theodore penuh ejekan.
"Baik, Kakek," ucap Theodore pelan dengan suara datar. "Kami akan pergi dari rumah ini."
Yevone terkejut mendengar ucapan suaminya. Ia menoleh menatap Theodore, namun suaminya hanya balas menatapnya dengan sorot mata yang menyiratkan ketenangan mutlak, seolah mengatakan bahwa segalanya sudah berada di bawah kendali.