Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Wush wush wush.
Tiga sosok berjubah putih melayang turun dari langit dan mendarat tepat di depan gerbang Istana Penguasa Kota.
Mereka adalah Tetua Inti dari Sekte Pedang Langit yang memancarkan aura Tahap Langit tingkat menengah.
"Dengarkan baik-baik, serangga perbatasan!" teriak tetua tertua yang memiliki luka codet di wajahnya.
"Kami datang untuk mengambil alih istana ini dan segala isinya atas nama Sekte Pedang Langit!"
Suara teriakan itu diperkuat dengan energi spiritual hingga menggetarkan kaca-kaca jendela istana.
Krak.
"Serahkan pemuda arogan bernama Yang Zhen itu kepada kami dalam keadaan hidup," lanjut tetua kedua yang membawa pedang besar di punggungnya.
"Dan kami mungkin akan mengampuni nyawa penduduk kota rendahan ini."
Di teras aula utama, Yang Zhen berdiri bersandar pada pilar pualam dengan sangat santai.
Pemuda itu memutar-mutar cangkir teh kosong di tangannya sambil tersenyum meremehkan.
"Kalian bertiga pasti sangat lelah setelah terbang jauh dari ibu kota," sapa Yang Zhen dengan nada mengejek.
"Sayang sekali aku tidak menyediakan hidangan sarapan untuk tamu yang tidak diundang."
Tetua bercodet itu menatap Yang Zhen dengan pandangan penuh amarah yang membara.
"Jadi kau adalah tikus yang berani membunuh utusan sekte kami?" geram tetua tersebut.
"Tikus?" ulang Yang Zhen tertawa pelan.
Hahaha.
"Aku adalah naga yang sedang menunggu mangsa, sedangkan kalian hanyalah tiga ekor cacing yang mengantar nyawa," balas Yang Zhen dengan sangat sombong.
Hinaan itu benar-benar menghancurkan kesabaran ketiga master Tahap Langit tersebut.
"Bocah kurang ajar! Aku akan memotong lidahmu menjadi seribu bagian!" raung tetua ketiga mencabut pedang pusakanya.
Sring.
Ketiga tetua itu langsung melesat ke udara, berniat menerobos pelataran istana dan memenggal kepala Yang Zhen.
Mereka bergerak dengan kecepatan kilat, meninggalkan jejak bayangan putih di udara pagi.
"Sekarang, Pelayan Ye!" perintah Yang Zhen menjentikkan jarinya dengan keras.
Trak.
Di sudut pelataran, golem baja Leluhur Ye segera menginjak inti formasi yang telah ditanam semalaman.
Ngiing.
Suara dengungan energi yang sangat memekakkan telinga langsung meledak dari bawah tanah pelataran istana.
Cahaya biru dari lima ratus ribu batu spiritual menyala terang, menciptakan sebuah kubah energi transparan raksasa.
Ketiga tetua ibu kota itu tiba-tiba merasakan tubuh mereka menjadi seringan kapas, namun sekaligus seberat gunung.
"A-apa yang terjadi dengan keseimbangan udara di sini?!" kejut tetua bercodet saat laju terbangnya terhenti paksa.
Yang Zhen merentangkan kedua tangannya layaknya seorang dirigen orkestra yang sedang memimpin pertunjukan.
"Selamat datang di Formasi Gravitasi Sepuluh Ribu Pedang," ucap Yang Zhen dengan senyum iblis.
Bum.
Tumpukan sepuluh ribu senjata rongsokan di tengah pelataran tiba-tiba melesat terbang ke udara dengan kecepatan suara.
Senjata-senjata itu ditarik paksa oleh gravitasi buatan yang difokuskan ke arah langit.
Wush wush wush.
"Hanya benda rongsokan! Jangan pikir besi berkarat bisa menembus pelindung energi Tahap Langit!" remeh tetua kedua menciptakan perisai angin di sekitar tubuhnya.
Trang trang trang.
Ribuan pedang berkarat itu memang memantul keras saat menabrak perisai energi milik para tetua tersebut.
Namun, Yang Zhen tidak berhenti sampai di situ saja.
Pemuda itu membalikkan tangannya dengan sangat cepat ke arah bawah.
Syuut.
Arah gravitasi di dalam kubah formasi itu langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.
Sepuluh ribu senjata tajam yang berada di udara kini meluncur jatuh ke bawah dengan gaya tarik yang dilipatgandakan seratus kali lipat.
Bugh cras.
Kecepatan jatuh benda-benda logam itu menembus batas suara, menciptakan gesekan udara yang sangat panas.
Perisai energi milik ketiga tetua itu langsung retak dan hancur berkeping-keping akibat hantaman massa fisik yang turun terus-menerus.
"Aaaargh!" jerit tetua ketiga saat sebuah pisau daging besar menembus bahu kirinya.
Darah segar langsung menyembur keluar mewarnai jubah putih kebanggaannya.
Yang Zhen kembali membalikkan tangannya ke atas.
Wush.
Senjata-senjata yang baru saja jatuh ke tanah itu langsung tertarik kembali ke langit dengan kecepatan yang sama buasnya.
Ini adalah mesin penggiling daging absolut yang tidak memiliki jeda serangan sedikit pun.
Cras cras cras.
Ketiga master Tahap Langit itu kini terjebak di tengah badai logam tanpa akhir.
Mereka tidak bisa melarikan diri karena gravitasi dari segala arah terus menarik dan mendorong tubuh mereka secara acak.
"Ampun! Hentikan formasi iblis ini!" teriak tetua bercodet dengan tubuh yang sudah dipenuhi puluhan luka sayatan.
Harga diri mereka sebagai penguasa ibu kota telah hancur lebur di bawah hujan besi tua tersebut.
Su Lin yang berdiri di samping Yang Zhen menatap pembantaian itu dengan pandangan sedingin es.
"Mereka mati bukan karena teknik kultivasi yang lemah, tapi karena mereka tidak mengerti hukum fisika benda jatuh," komentar Su Lin dengan datar.
Mulan dan Wang Hao yang menonton dari balik pilar hanya bisa menelan ludah melihat kengerian mesin pembunuh tersebut.
Glek.
"Bos benar-benar mengubah besi tua menjadi dewa kematian," gumam Wang Hao merinding ketakutan.
"Aku tidak akan pernah mau mencari masalah dengan Bos Yang Zhen seumur hidupku."
Setelah lima menit pertunjukan badai logam itu berlangsung, Yang Zhen akhirnya menurunkan tangannya.
Trak.
Golem baja Leluhur Ye segera memutus aliran energi dari batu spiritual, menghentikan formasi mutlak tersebut.
Bruk bruk bruk.
Sepuluh ribu senjata tajam jatuh berserakan ke lantai marmer dengan suara berdentang yang memekakkan telinga.
Di tengah tumpukan besi berdarah itu, ketiga Tetua Inti Sekte Pedang Langit terkapar tidak berdaya.
Pakaian mereka hancur, dan tubuh mereka dipenuhi luka sayat yang tidak terhitung jumlahnya.
Mereka masih hidup, namun urat nadi dan organ dalam mereka telah rusak parah akibat tekanan gravitasi yang berubah-ubah.
Yang Zhen berjalan menuruni tangga teras dengan sangat perlahan, menikmati aroma darah segar di udara pagi.
Tap tap tap.
Pemuda itu berhenti tepat di depan tetua bercodet yang sedang merintih kesakitan di atas tanah.
"Apakah ibu kota kekurangan orang kuat, Tuan Tetua?" ejek Yang Zhen menendang wajah pria itu dengan pelan.
Bugh.
"Kenapa kalian menyerah begitu cepat di dalam mainan baruku ini?" tanya Yang Zhen dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
Tetua itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya dan menatap Yang Zhen dengan penuh teror.
"S-sekte kami tidak akan melepaskanmu... Master Sekte akan membunuhmu," ancam tetua itu dengan napas tersengal-sengal.
Yang Zhen justru tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman klise tersebut.
Hahaha.
"Aku sangat menantikan kedatangan Master Sektemu itu," balas Yang Zhen menunduk menatap mata pria tersebut.
"Beri tahu dia, Kota Awan Merah kini memiliki penguasa baru, dan aku tidak menerima tamu tanpa membawa hadiah."
Pemuda itu menoleh ke arah Wang Hao yang masih berdiri di teras.
"Hao, seret ketiga sampah ini dan buang mereka di perbatasan kota," perintah Yang Zhen dengan otoritas mutlak.
"Pastikan mereka tetap hidup agar bisa menceritakan kengerian formasi ini kepada anjing-anjing ibu kota lainnya."
Wang Hao langsung melompat turun dengan semangat.
"Siap laksanakan, Bos! Aku akan menendang mereka sampai ke luar gerbang!" sahut pemuda botak itu.
Yang Zhen memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah langit pagi yang kini benar-benar cerah.
Ultimatum dari ibu kota telah dipatahkan dengan sangat brutal, membuktikan bahwa Kota Awan Merah kini adalah benteng yang tidak tersentuh.
Arc dominasi ini ditutup dengan tawa sombong Yang Zhen yang menggema di seluruh pelataran istana.
Perang besar dengan sekte utama mungkin akan segera terjadi, namun sang penguasa gravitasi telah siap menyambutnya dengan tangan terbuka.