Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Anggara
Siapa sangka, kalau semalaman Cakra memilih menginap di rumah Kakek Rama.
Karena suhu tubuhnya yang sedang naik dan Naura kasihan padanya. Wanita itu mengizinkan Cakra buat tidur di kasurnya, sementara dia sendiri tidur di lantai bawah bersama putrinya Kiki.
Kakek juga sudah bilang, kalau Kiki biar tidur bersamanya saja, akan tetapi Kiki tidak mau dan memilih tidur bersama mamanya. Alhasil mereka tidur sekamar sepanjang malam.
Pagi harinya setelah bangun dari tidur, Naura sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerja.
Sementara Cakra baru saja terbangun dari tidurnya. Dia sudah merasa jauh lebih baik setelah Naura merawatnya semalam dan dengan bermurah hati mau mengompresnya saat suhu tubuhnya semakin naik.
Naura juga sudah meminta agar Cakra ke rumah sakit. Akan tetapi pria itu keras kepala dan tidak mau.
Cakra menatap Naura, yang sedang sibuk merapikan tempat tidurnya.
"Sudah tiga hari berlalu sesuai perjanjianmu, kalau kau akan menceraikanku. Seharusnya sidang kita dimulai kemarin tapi kau sendiri yang tidak menghubungiku dan ini sudah masuk hari ketiga," tanya Naura, tiba-tiba tanpa menghentikan kesibukannya.
"Nanti saja, aku masih sibuk dan belum punya waktu untuk itu," jawab Cakra terdengar malas.
Naura langsung melihat ke arah pria itu, "Jangan bilang kalau kau tidak berniat untuk menceraikanku?"
Cakra langsung menatap tajam Naura, "Aku juga tidak ingin selamanya hidup sama wanita kayak kamu!" ketusnya.
"Baguslah kalau begitu," jawab Naura santai.
"Cih!" Cakra bersecih.
Sunyi...
"Naura, aku ingin tanya kamu sesuatu," Cakra tiba-tiba berbicara lagi.
Naura menoleh sekilas. "Tanya saja, apa yang ingin kau tanyakan?"
Cakra sedikit condongkan dirinya. "Aku penasaran, apa kau punya rasa pada kakakku?"
Heran dengan pertanyaan pria itu. "Untuk apa bertanya sesuatu yang tidak Ada sangkut pautnya denganmu?"
"Ya, sudah aku bilang aku cuma penasaran,"
Naura tersenyum penuh arti. "Kalau iya, kenapa?"
DEG!
Perasaannya tiba-tiba dongkol saat mendengar jawaban dari wanita itu. Entah Naura jujur atau tidak, tapi dia tidak senang.
"Aku serius bertanya padamu, Naura!"
Mengangkat bahu acuh, "Tidak!" jawabnya lagi.
"Sialan!" umpat pria itu merasa kalau wanita di hadapannya sedang mempermainkannya.
Sunyi...
"Semisalnya, kalau kakakku yang suka sama kamu, bagaimana menurutmu?" tanya pria itu lagi, tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menjadi orang yang sangat kepo.
Naura menatap curiga pada Cakra yang menurutnya berubah menjadi seperti anak kecil.
"Ya sudah, kalau begitu bagus dong," jawabnya hanya asal-asalan.
Cakra semakin penasaran. "Kok bagus?"
"Hm, tentu saja. Memang siapa yang tidak mau disukai sama cowok ganteng, cool, dan keren kayak kakak kamu. Nggak kayak kamu, yang cuma angkuh," tutur Naura, mengecilkan nada bicaranya di akhir.
"Kau!" geram Cakra, tidak menyangka kalau Naura langsung memprotesnya.
Dia berdiri lalu mendekati Naura, "Kamu tahu kan, kalau Mama Safira itu sudah marah sama kamu, jadi enggak bakalan lagi dia suka sama kamu. Kalaupun nanti kamu dengan Kak Anggara saling suka, ya enggak ada gunanya," tutur Cakra, sengaja memanas-manasi wanita itu.
Bukannya merasa panas, wanita itu malah menjawab dengan santai. "Tidak apa-apa, toh aku juga tidak suka sama kakakmu,"
"Ck!" pria itu lagi-lagi berdecak.
Tak ingin terus meladeni pria itu yang mungkin nanti akan membuatnya terlambat, Naura berjalan ke dapur.
Namun, siapa sangka ternyata Cakra malah justru membuntutinya seperti anak kecil.
Melihat Cakra yang terus membuntutinya, Naura memutar bola mata malas. Dia pun mengambil beberapa bahan dari dalam kulkas untuk membuat sarapan pagi buat mereka berempat yang berada di rumah itu.
"Kamu terus bertanya tentang bagaimana kalau aku dengan kakakmu nanti saling suka, terus, bagaimana kalau nanti kamu yang suka sama aku?" tutur Naura, kembali membuka pembicaraan.
Pria itu, segera menatapnya dengan tatapan horor. "Aku? Suka sama kamu? Ya enggak mungkin lah! Ngomong kok enggak dipikir dulu!" jelas saja Cakra menolak keras, karena baginya menyukai Naura itu tidak akan pernah mungkin.
Naura sedikit tersenyum, mendengar penolakan Cakra yang tidak akan pernah mungkin menyukainya.
Tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja pasangan itu bisa berbicara santai. Padahal sebelumnya keduanya hanya sering berhadapan dengan tatapan dingin, serta sikap Cakra yang suka semena-mena dan sinis.
"Apa kau yakin, memang tidak memiliki perasaan sedikit pun pada kakakku?" entah apa yang ada di pikiran pria itu, tiba-tiba dia kembali membuka pertanyaan yang sama.
Naura menghela nafas, dia tidak menyangka ternyata pria itu sikapnya jauh dari pertama yang dia kenal. Cakra ternyata cerewet dan suka bertanya hal-hal aneh menurutnya.
"Pak Cakra yang terhormat, apa kau pikir kita sedang berada di dunia novel? Di mana seorang anak yang tidak jadi menikah dengan mempelai wanitanya, lalu berakhir menikah dengan ayahnya, terus seorang ipar yang tiba-tiba jatuh cinta pada wanita adiknya? Sepertinya Anda ini penggemar berat novel fiksi ya?" sindir Naura.
"Buahahaha...."
Jawaban Naura, sontak membuat Cakra tertawa, terbahak-bahak.
"Naura," panggil pria itu lagi, setelah menghentikan tawanya.
"Hmm.." wanita itu hanya menjawabnya dengan berdehem pelan.
"Aku sebenarnya hanya penasaran. Soalnya, seringkali aku berpikir apa benar kau tidak pernah kenal dengan kakakku sebelum kalian dijodohkan?"
"Aku cuma penasaran saja, putrimu itu sangat mirip dengan kakakku, apa kau menyadarinya?" Lanjut Cakra.
DEG!
Jari-jari Naura terhenti, dia baru menyadari hal tersebut. Orang lain sudah melihat dari awal putrinya itu yang sangat mirip dengan Anggara. Akan tetapi, dia justru baru menyadari setelah cakra mengatakannya.
Kenapa aku tidak menyadarinya? Tapi mana mungkin pria malam itu Pak Anggara Batin Naura, mencoba untuk menepis semuanya dan berpikir kalau pria itu bukan Anggara.
Usai membahas tentang rasa penasaran Cakra, mereka berdua tidak bicara apapun lagi.
Selesai sarapan di rumah Naura, Cakra pun berpamitan untuk pulang. Dia segera kembali ke rumah keluarganya.
Namun, setibanya di gerbang, dari kejauhan dia sudah melihat mamanya yang menunggunya.
"Kamu dari mana, Cakra?" wanita paruh baya itu langsung melemparkan pertanyaan.
"Tidak dari mana-mana Ma, Cakra nginep di rumah teman," jawabnya memberi alasan, yang menurutnya masuk akal.
Karena mana mungkin dia bicara jujur bahwa sebenarnya semalam dia menginap di rumahnya Kakek Rama bersama istrinya. Dia tahu kalau sang mama pasti akan marah mengingat Safira tidak seperti dulu lagi yang sangat menginginkan Naura.
Saat ini, dia hanya ingin putranya segera bercerai. Semua karena kejadian baru-baru ini, membuatnya tidak bisa menoleransi Naura.
"Kamu tidak bohong kan, sama Mama?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Tidak Ma, untuk apa Cakra bohong," pria itu masih berusaha meyakinkan Safira.
"Terus, kapan kau akan menceraikan Naura? Bukankah seharusnya penceraian kalian sudah diurus kemarin?"
Cakra terdiam, dia bingung bagaimana caranya untuk menjawab sang mama. Tak lupa pria itu juga mengingat bagaimana semalam Naura merawatnya dengan tulus, saat demam tinggi yang tiba-tiba menyerangnya.
Perlahan-lahan Cakra mulai menyadari kalau sebenarnya Naura itu tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Akan segera Ma, tapi buat sementara beri Cakra waktu dulu. Soalnya lagi banyak banget pekerjaan di kantor," berusaha memberi alasan kemudian tersenyum paksa lalu berbalik badan naik ke lantai atas.
Safira menatap belakang punggung putranya yang menjauh, dia merasa curiga lalu berbisik dalam hati.
Kenapa dengan anak itu? Aku merasa dia sedikit berbeda dari sebelumnya. Jangan bilang kalau dia berubah pikiran dan tidak ingin bercerai, batin Safira, khawatir putranya berubah pikiran.
______
Di lain tempat, Naura yang melihat pekerjaannya tidak terlalu padat dan sepertinya memiliki waktu untuk menjemput putrinya di sekolah, akhirnya mencoba untuk mencuri waktu tersebut.
Apalagi sebelumnya Bayu sudah mengirim pesan kalau dia sedikit sibuk dengan pekerjaannya.
Wanita itu segera melajukan sepeda motornya menuju ke sekolah dasar tempat putrinya.
Belum lama dia berada di gerbang sekolah, terdengar suara bel berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar, terlihatlah sosok Kiki yang sudah berjalan santai.
Ketika melihatnya, gadis kecil itu langsung berteriak riang. "Mama!" berlari memeluknya.
Safira, menyambut putrinya dengan senang hati. "Bagaimana di kelas tadi, apa semuanya berjalan lancar?" tanya sang mama.
"Tentu saja, Ma."
"Kamu nggak bertengkar kan dengan teman-teman?"
"Ya nggak lah Ma, Kiki kan anaknya orang baik," tuturnya menaik turunkan alisnya dengan gaya bercanda.
Naura tersenyum menggeleng melihat tingkah putrinya, "Ya sudah, kalau begitu ayo Mama antar pulang,"
"Pulang? Kok pulang sih Ma?"
"Loh? Kalau nggak pulang, mau ke mana dong?" Mengusap pucuk kepala putrinya.
Gadis kecil itu mengusap perutnya, "Kayaknya Kiki lapar deh Ma,"
"Kamu belum makan?"
"Belum,"
"Kalau begitu, pengen makan apa?"
"Apa aja pasti enak, Ma,"
"Ya iyalah enak, kalau makanan dibeli,"
Gadis kecil itu menyengir saat mendengar godaan sang mama.
Mereka akhirnya berangkat mencari sebuah warung kecil untuk makan bersama.
Di waktu yang bersamaan, ternyata Anggara juga memiliki sedikit waktu jam istirahat untuk keluar dari markas.
Dia langsung melajukan mobilnya membelah jalanan, mencari tempat yang mungkin di mana ada cocok untuk makan siang.
Tapi tidak sengaja, saat menoleh keluar jendela pandangannya menangkap seorang wanita bercadar yang sedang duduk bersama anak kecil di sebuah warung.
Sadar kalau keduanya tidak asing, pria itu memarkir mobilnya kemudian keluar dan mendekati Naura bersama putrinya.
"Naura," panggil Anggara, sontak Naura mendongak kaget melihat kedatangan pria tersebut.
"Pak Anggara? Ngapain di sini?"
"Apa aku bisa duduk?" bukannya menjawab pertanyaan Naura, pria itu malah balik bertanya dan meminta izin untuk bergabung.
Sebenarnya Naura ingin menolak, akan tetapi melihat keadaan yang lumayan ramai. Mana mungkin dia melakukannya.
"Silakan duduk saja,"
Pria itu langsung menarik kursi, dengan sorot mata dan tumpuan perhatiannya hanya tertuju pada sosok Kiki, menelisik setiap jengkal wajah gadis kecil itu yang begitu mirip padanya.
"Kalau boleh Paman tahu, berapa usiamu?" tiba-tiba Anggara melemparkan pertanyaan pada Kiki.
"6 tahun paman," jawab gadis itu dengan nada polosnya.
DEG!
Enam tahun? Bukankah itu bersamaan kejadian tujuh tahun kalau diperhitungkan? Mengambil masa waktu hamil sekitar 9 sampai 10 bulan. Dan jika diikut dari perkiraannya, anak itu seharusnya baru berusia 6 tahun. Batin Anggara, dalam hati.
Pemuda itu segera menoleh ke arah Naura. Anggara semakin curiga kalau wanita malam itu adalah Naura.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls