"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Akhir Kebangkrutan Anton
Mobil SUV antipeluru yang dikawal ketat itu akhirnya berdecit berhenti tepat di depan lobi utama rumah sakit swasta terbesar dan paling eksklusif di kota tersebut. Belum sempat pintu mobil sepenuhnya terbuka oleh pengawal, Dante sudah bergerak lebih dulu.
Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, ia kembali mengangkat tubuh Sandra ke dalam dekapannya. Sandra meringis tertahan, merasakan sengatan rasa panas yang luar biasa di bagian pahanya akibat siraman sup mendidih tadi.
"Tahan sebentar, Sandra," bisik Dante lembut, suaranya yang biasanya dingin kini dipenuhi kecemasan yang mendalam.
"Cepat siapkan tim medis! Panggil dokter spesialis bedah dan luka bakar sekarang juga!" bentak Pak Biworo kepada para petugas rumah sakit yang langsung berhamburan menyambut kedatangan mereka begitu melihat lambang pengenal keluarga Dante.
Pihak rumah sakit yang sudah disiagakan melalui sambungan telepon darurat langsung mendorong sebuah brankar dorong ke dekat Dante. Namun, Dante menolak melepaskan dekapannya. Ia tetap menggendong Sandra berjalan cepat melewati pintu otomatis menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD).
Elzard mengekor di belakang mereka dengan langkah kecil yang cepat, digandeng erat oleh salah satu pengawal setia Dante. Wajah bocah kecil itu tampak sangat ketakutan, bibirnya bergetar menahan tangis karena khawatir melihat kondisi ibu barunya.
Sesampainya di ruang UGD, para dokter dan perawat spesialis langsung bergerak sigap menangani Sandra. Mereka dengan hati-hati memotong kain gaun hitam yang menempel di area paha Sandra yang melepuh, lalu segera mengalirinya dengan cairan pendingin steril serta mengoleskan salep pereda luka bakar.
Dante berdiri tepat di sisi brankar, tidak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sandra yang terasa dingin akibat menahan sakit. Sorot mata tajam pria itu kini menyiratkan ketakutan terbesar yang jarang sekali ditunjukkannya—ketakutan akan kehilangan wanita yang baru saja mengisi ruang kosong di dalam hatinya dan Elzard.
"Perih..." lirih Sandra pelan dengan air mata yang menetes di sudut matanya, menahan rasa sakit yang luar biasa saat perawat membersihkan lukanya.
Dante mencondongkan tubuhnya, mencium punggung tangan Sandra dengan penuh kelembutan. "Sstt... Ada aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja," bisik Dante menenangkan.
Elzard yang berlutut di dekat kaki brankar ikut menangis sesenggukan. Bocah itu meraih ujung jas Dante dengan tangan mungilnya. "Ayah... Ibu Baru pasti sembuh, kan?"
Dante mengalihkan pandangannya, lalu mengusap kepala Elzard dengan satu tangannya yang bebas. "Ya, Nak. Ibu Barumu sangat kuat. Dia akan segera sembuh."
Di balik tirai UGD yang steril, malam itu menjadi saksi bagaimana seorang penguasa kegelapan yang ditakuti banyak orang, runtuh seketika hanya karena air mata dan rasa sakit yang dirasakan oleh wanita pilihannya.
Sementara Sandra masih berada di dalam penanganan tim medis UGD, dan Elzard dengan setia ditemani oleh Pak Biworo di kursi tunggu luar, Dante melangkah keluar sejenak menuju koridor rumah sakit yang sepi. Udara di sekitar pria itu terasa begitu membeku, dipenuhi oleh sisa-sisa kemurkaan yang belum sepenuhnya mereda.
Dante mengeluarkan ponsel mewahnya dari saku jas, lalu menekan sebuah tombol cepat untuk menghubungi tangan kanan kepercayaannya di markas.
Panggilan itu terhubung hanya dalam satu deringan.
"Tuan Dante?" suara tegas Pak Biworo dari ujung telepon langsung terdengar.
Tanpa basa-basi, Dante langsung memberikan instruksi dengan nada dingin dan mutlak yang tidak menyisakan ruang perdebatan.
"Biworo, pastikan proses penghancuran perusahaan Anton dipercepat malam ini juga," perintah Dante, suara beratnya bergeming tajam di koridor rumah sakit. "Hubungi seluruh bank mitra, investor utama, dan pemegang saham yang bekerja sama dengannya."
"Baik, Tuan. Apa instruksi khususnya?" tanya Pak Biworo sigap.
"Tarik seluruh suntikan dana, batalkan semua kontrak penanaman saham, dan pastikan tidak ada satu pun institusi keuangan yang berani memberikan pinjaman atau bantuan kepada perusahaan Anton mulai detik ini," tegas Dante tanpa ampun. "Buat dia jatuh miskin dan kehilangan segalanya sebelum matahari terbit besok pagi."
"Perintah diterima, Tuan Dante. Dalam waktu beberapa jam, kekaisaran bisnis kecil milik Anton akan resmi runtuh menjadi debu," jawab Pak Biworo penuh kepastian.
Dante mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu menghela napas panjang untuk meredakan gejolak amarah di dadanya.
Bagi Dante, melukai Sandra sama artinya dengan menantang singa yang sedang menjaga wilayahnya. Pria bodoh bernama Anton itu tidak hanya menyia-nyiakan permata yang berharga, tetapi juga berani menyakiti wanita yang kini berada di bawah perlindungan mutlak seorang penguasa kegelapan. Kehancuran yang akan menimpa Anton bukan lagi sekadar kebangkrutan finansial, melainkan awal dari kejatuhan total yang takkan pernah bisa ia pulihkan selamanya.
Dante membalikkan badannya, melangkah kembali menuju ruang UGD di mana Sandra sedang dirawat, siap kembali menjadi sosok pelindung dan ayah yang hangat bagi keluarga kecilnya.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati