FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Ibu Kota
Nakula: [Baik, Tuan. Satu hal lagi... Nyonya Eleonora tadi sore menelepon saya, menanyakan apakah Tuan ada waktu luang di akhir pekan ini untuk acara makan malam keluarga.]
Noah menggeram pelan dari tenggorokannya.
^^^Noah: [Bilang pada Mama kalau jadwalku penuh sampai bulan depan. Dan jangan pernah ber bernegosiasi soal jadwal pribadi tanpa persetujuanku, Nakula.]^^^
Nakula: [Baik, Tuan Noah. Saya mengerti. Selamat malam.]
Noah mematikan sambungan telepon itu begitu saja tanpa membalas ucapan selamat malam dari sekretarisnya. Dia meletakkan ponselnya kembali di atas meja, lalu berdiri dan berjalan mendekati jendela kaca besar.
Mata elangnya menatap lurus ke arah paviliun kecil yang terletak di sudut paling belakang area halaman rumahnya. Paviliun tua yang sudah lama kosong dan hanya dijadikan tempat penyimpanan barang-barang yang tak terpakai.
Noah tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah peduli, bahwa mulai lusa, paviliun kecil di ujung tamannya itu akan diisi oleh kehidupan baru. Kehidupan dari seorang gadis yang membawa sejuta luka dan ketegaran yang sama besarnya dengan dirinya. Seorang gadis yang nantinya tanpa sengaja akan mengguncang pondasi tembok es yang telah dia bangun dengan begitu kokoh selama bertahun-tahun.
Noah meneguk sisa minumannya sampai habis, membiarkan kegelapan malam membungkus sosoknya yang dingin dan kesepian.
Pagi hari belum sepenuhnya pecah di kaki gunung. Udara dingin yang menusuk tulang melingkupi desa terpencil itu, menyelimuti kabut tipis di atas jalanan tanah yang becek.
Di depan rumah panggung kayu yang sudah lima tahun menjadi saksi bisu perjuangan Raina dan Lio, sebuah mobil travel berwarna putih tampak terparkir dengan mesin menyala pelan.
Dua buah tas pakaian berukuran sedang yang sudah lusuh dan satu kardus berisi perlengkapan obat-obatan milik Lio sudah tertata di bagasi belakang.
Lio berdiri di samping pintu rumah, dibalut jaket tebal yang warnanya sudah memudar. Tangan ringkihnya menggenggam erat tali tas kecilnya. Wajahnya yang pucat menatap sekeliling. Beberapa tetangga dekat sudah berkumpul di halaman rumah yang sempit itu untuk melepas keberangkatan mereka.
Mbok Darmi berdiri paling depan, memegangi baskom berisi nasi uduk hangat dan beberapa bungkus kue basah yang sengaja dia buat sejak pukul tiga pagi.
"Na, ini dibawakan buat ganjal perut di jalan," kata Mbok Darmi seraya menyerahkan bungkusan itu kepada Raina. Matanya sudah berkaca-kaca, menahan genangan air mata yang siap tumpah.
"Jangan sampai kamu sama Lio kelaparan di travel. Perjalanan ke ibu kota itu panjang, bisa belasan jam kalau macet." ujar Mbok Darmi merasa khawatir.
Raina menerima bungkusan itu dengan kedua tangan yang bergetar. Dada gadis itu terasa teremas hebat.
"Mbok... Raina nggak tahu harus ngomong apa lagi. Selama lima tahun ini, kalau nggak ada Mbok Darmi dan warga di sini, Raina sama Lio mungkin udah nggak tahu nasibnya gimana..." lirih nya terpotong.
"Hush, jangan ngomong gitu, Na," potong Pak RT yang berdiri di sebelah Mbok Darmi. Pria paruh baya itu menepuk pundak Raina pelan.
"Kami di sini sudah menganggap kamu sama Lio seperti keluarga sendiri. Kamu itu anak yang berbakti, anak yang tegar. Kami bangga sama kamu, Na." ucapnya menyingkirkan rasa tidak enak dari diri Raina.
"Iya, Nduk," timpal Bu Tejo, tetangga depan rumah, seraya mengusap air mata dengan ujung selendangnya. "Kalau nanti di ibu kota ada apa-apa, atau kalau kamu merasa capek, pintu rumah kami di desa ini selalu terbuka buat kalian berdua." terusnya.
Tangis Raina yang sejak tadi dia tahan akhirnya pecah juga. Isakan halus keluar dari bibirnya yang bergetar. Dia merengkuh Mbok Darmi dalam pelukan hangat, memeluk wanita tua yang sudah seperti ibunya sendiri selama lima tahun terakhir.
"Maafin Raina ya, Mbok... Raina harus pergi," bisik Raina di sela isakannya.
"Raina harus bawa Lio berobat. Raina janji, kalau ada rezeki dan Lio udah sembuh, Raina bakal main ke sini lagi." tuturnya dengan penuh harapan untuk kesehatan sang adik.
"Iya, Nduk, iya... Mbok doakan kamu selamat sampai tujuan. Semoga dapat majikan yang baik hati, semoga Lio cepat sembuh," balas Mbok Darmi seraya mengelus punggung Raina dengan kasih sayang seorang ibu.
Sementara itu, Lio menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia mendekati Pak RT dan beberapa bapak tetangga yang sering membantunya diangkat ke puskesmas saat penyakitnya kambuh.
"Pak RT... Pak Tejo... Lio pamit ya," ujar Lio dengan suara serak, menyalami tangan tua mereka satu peran satu.
"Sehat-sehat ya, Le," pesan Pak RT lembut, mengusap kepala Lio.
"Dengerin kata Kakakmu. Jangan rewel di sana. Kasihan Kak Raina, dia berjuang keras luar biasa cuma buat kamu." terus Pak RT dengan bijaksana.
Lio mengangguk pelan. Dia memandang Mbok Darmi yang kini beralih memeluknya. "Mbok, terima kasih ya selama ini udah sering kasih Lio bubur hangat..."
"Duh, Lio anak pinter..." Mbok Darmi mencium kedua pipi Lio yang tirus. "Ingat pesan Mbok, kalau lelah langsung bilang sama Kakakmu, jangan dipendam sendiri."
Sopir travel berbadan tegap keluar dari kursi kemudi, menatap rombongan warga dengan tatapan segan.
"Mbak, Mas... ayo naik sekarang. Biar nggak kena macet parah pas masuk pintu tol ibu kota nanti siang." u
seru sang sopir.
Raina menyapu air mata di pipinya dengan telapak tangan, lalu mengangguk pelan. "Iya, Pak. Sebentar."
Raina menatap rumah panggung kayu di belakangnya untuk terakhir kali. Rumah yang sederhana, namun menyimpan begitu banyak kedamaian dan rasa aman dari kejaran dunia luar. Ketenangan yang kini harus dia tukar demi masa depan dan nyawa sang adik.
Raina menggandeng tangan Lio, membimbing adiknya mendekati mobil travel. Sebelum naik, Lio sempat menahan langkah kakinya dan menatap wajah sang kakak dengan mata hitamnya yang polos dan penuh kecemasan.
"Kak Raina..." panggil Lio pelan.
"Kenapa, Lio?" tanya Raina lembut, berlutut sedikit agar sejajar dengan tinggi adiknya.
"Kita... beneran mau balik ke ibu kota?" suara Lio terdengar ragu.
"Ibu kota itu kan... tempat orang-orang jahat yang ambil rumah kita dulu, Kak? Tempat bapak-bapak seram yang sering teriak-teriak minta uang..." lirih Lio dengan takut dan gugup.
Hati Raina serasa diiris mendengarnya. Dia memegang kedua pundak adiknya dengan erat, menatap tepat ke dalam manik mata Lio dengan pandangan paling hangat dan meyakinkan yang dia miliki.
"Lio, dengerin Kakak," bisik Raina dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan.
"Ibu kota memang tempat kita kehilangan semuanya lima tahun lalu. Tapi ibu kota juga satu-satunya tempat di mana Kakak bisa cari uang buat sembuhin kamu. Kakak janji, Makak nggak akan biarkan siapapun menyakiti kamu lagi. Di sana nanti, Lio tinggal nurut sama Kakak, ya? Jangan takut." ujar Raina.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semangat author yah