NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Kabut ungu kehitaman membentang di atas rawa purba Lantai 10.5, menelan batas antara daratan kering dan kubangan lumpur hisap.

Gelembung gas belerang meletup lambat di permukaan air rawa, menyebarkan bau bangkai dan lumut lapuk yang menusuk hidung. Uap asam itu membuat mata terasa perih terbakar, mengaburkan pandangan ke arah gundukan karang kapur yang terisolasi di tengah rawa. Di tempat terkutuk ini, suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar seperti ketukan jam kematian yang menghitung sisa waktu bernapas para prajurit yang tersesat.

Di atas bongkahan batu kapur yang lebarnya tak lebih dari enam langkah, tiga sosok bertahan di balik perisai besi yang ringsek.

Vargas berlutut di tepi batu yang licin. Bahu kirinya menekan kuat punggung perisai menara yang penuh sobekan cakar monster. Janggut kasar pria tua itu basah oleh keringat dingin bercampur jelaga, sementara puntung pipa tembakau tua masih terselip di sudut bibirnya yang pecah-pecah tanpa bara. Napasnya terdengar berat dan tersendat, tanda kelelahan fisik yang telah mencapai titik kritis setelah berjam-jam menahan gempuran predator bawah tanah.

Di balik tameng baja Vargas, Shizuka berlutut merawat betis kiri Riku.

Jari-jemari gadis tabib itu berlumuran getah herbal kecokelatan yang berbau tajam menyengat. Ia menekan kain kasa kotor ke luka robek menganga di kaki Riku, berusaha membendung aliran darah yang tercemar racun lumpur. Bibir Shizuka pucat pasi, napasnya memburu cepat karena pasokan mana di dalam inti sihirnya telah terkuras habis hingga ke titik terendah.

"Tahan napasmu, Riku," bisik Shizuka dengan suara serak yang bergetar. "Akar ini hanya menahan pembusukan jaringan otot, bukan mematikan racunnya."

Riku menggigit lengan bajunya sendiri hingga robek. Remaja pengintai itu menahan erangan agar suaranya tidak memancing predator di dalam air lumpur. Matanya yang memerah menatap cemas ke arah kabut rawa yang kian pekat dan air pasang yang terus merayap naik menenggelamkan kaki-kaki karang.

"Paman..." rintih Riku dengan suara tercekat menahan perih. "Perisaimu sudah retak di bagian tengah... tinggalkan aku di sini. Bawa Kak Shizuka menyeberang selagi monster-monster itu belum naik..."

"Tutup mulutmu, Bocah ingusan," geram Vargas seraya meludahkan dahak pahit ke lumpur. "Aku tidak membesarkanmu di barisan pelopor untuk melihatmu mati jadi santapan kadal rawa. Diam dan simpan tenagamu sebelum lidahmu kuikat ke gagang tombak."

Namun situasi di atas karang kapur itu semakin mendekati jurang kehancuran.

Di sekeliling pulau batu, permukaan air ungu berdesir membentuk pusaran-pusaran kecil yang bergerak melingkar secara teratur.

Enam ekor amfibi purba berleher duri—kadal pemangsa rawa sepanjang dua meter—berenang memutari batu kapur. Mata merah mereka menyembul di atas batas air, menatap ketiga manusia itu dengan tatapan lapar yang dingin. Setiap desisan dari moncong mereka melepaskan lendir beracun yang mendidihkan lumut karang dan mengikis pelat logam pelindung kaki Vargas.

Dari atas tebing batu setinggi empat meter di tepi rawa, Ren mengamati pergerakan monster-monster tersebut dari balik bayang-bayang stalagmit.

Jarak antara posisinya dan pulau karang terpisah oleh kubangan lumpur hisap sedalam dua meter. Melompat langsung ke dalam rawa sama saja menyerahkan tubuh secara sukarela ke rahang amfibi di bawah air.

Satu-satunya jalur melintas adalah deretan fosil jamur payung purba dan tonjolan karang kapur yang mencuat di atas permukaan lumpur.

Ren melangkah ke tepi tebing, mengukur jarak lompatan dan kelenturan batuan di bawah kakinya.

Ia menjejak kuat di tepi karang, melompat ke arah fosil jamur pertama, lalu mendarat di atas tudung jamur kedua yang berwarna kehitaman.

Krak!

Tudung jamur kedua ternyata telah keropos total oleh pembusukan asam bertahun-tahun. Material lapuk itu runtuh seketika saat menerima bobot tubuh Ren, membuat kakinya terperosok ke dalam rongga kosong dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam kubangan lumpur mendidih.

Sebelum Ren sempat menarik kakinya keluar, tiga ekor kadal pemangsa melesat dari dasar lumpur bagai tombak hitam.

Rahang bergigi gergaji menyambar paha kiri dan bahu kanannya secara bersamaan. Tubuh Ren diputar paksa ke dalam pusaran lumpur hisap, menghancurkan sendi bahunya dan merobek daging paha hingga ke tulang putih. Air rawa yang beracun mengalir deras masuk ke tenggorokannya, membakar paru-parunya dalam kegelapan pekat yang membekukan kesadaran.

Kesadarannya tersentak kembali ke udara dingin di puncak tebing karang.

Dada Ren kembang kempis dengan cepat. Rasa panas membakar di paru-parunya memudar seketika, menyisakan denyut saraf di pelipisnya akibat pembalikan waktu tiga puluh detik.

Tudung jamur kedua lapuk total. Titik pendaratan harus dialihkan ke tonjolan karang putih di sebelah kanannya.

Ren mengunci pandangannya ke tonjolan karang tersebut, menata kembali titik tumpu berat badannya.

Ia mengambil ancang-ancang dua langkah, lalu meluncur cepat ke tepi tebing. Kakinya menjejak kuat pada jamur fosil pertama, memanfaatkan daya pantul batangnya untuk melontarkan tubuhnya melayang di atas tudung lapuk yang menipunya tadi.

Tubuhnya mendarat mulus di atas tonjolan karang kapur putih yang padat.

Dua ekor kadal rawa yang bersembunyi di balik riak air langsung melonjak ke udara dengan mulut menganga lebar, berniat menyergap pinggangnya saat ia baru mendarat.

Gerakan mereka telah terbaca sempurna di dalam ingatan Ren.

Ren merendahkan tubuhnya, memutar tumit kanannya di atas karang. Belati taring hitam di tangannya melesat dalam dua tebasan pendek yang presisi.

Cras! Cras!

Bilah taring bergerigi itu membelah bola mata dan insang lunak kedua amfibi rawa tersebut. Cairan darah hitam menyembur deras dari luka robek, menyiram permukaan air ungu di bawahnya.

Kedua monster itu jatuh menggelepar ke dalam kubangan lumpur. Bau darah segar seketika memicu kegilaan kawanan pemangsa lainnya. Empat kadal rawa yang tadinya mengepung pulau karang langsung berbalik arah, menyerbu dan mencabik-cabik tubuh rekannya yang sekarat dalam pusaran air yang buas.

Ren memanfaatkan kekacauan tersebut untuk melakukan lompatan kedua, mendarat kokoh di atas pulau karang tepat di belakang perisai Vargas.

Vargas tersentak hebat. Refleks militernya membuat ia langsung memutar ujung tombak sumbingnya ke arah sosok yang baru mendarat. Namun saat melihat wajah pemuda berlumur debu hitam di hadapannya, tangan sang veteran membeku di udara.

"Ren?!" suara Vargas tercekat di tenggorokan, matanya membelalak lebar menatap pemuda itu. "Bocah... bagaimana bisa kau lolos dari jurang Lantai 10?!"

Shizuka mengangkat kepalanya, tangannya yang gemetar terhenti di atas luka Riku. Air mata kelegaan merebak di sudut matanya yang lelah. "Ren... kau benar-benar masih hidup..."

Riku menatap Ren dengan mulut ternganga, napasnya yang tadi tersengal kini tertahan karena tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Simpan napas kalian," potong Ren cepat seraya menyeka cipratan darah monster di pipinya. "Bangkai itu hanya mengalihkan mereka selama satu menit. Air pasang mulai naik, kita harus menyeberang ke tebing utara sekarang juga."

Shizuka segera merogoh kantung obatnya, menyodorkan segenggam akar kering berwarna cokelat tua ke tangan Ren. "Kunyah ini, Ren. Getahnya bisa menahan uap beracun agar tidak merusak saluran napasmu."

Ren menerima akar itu dan mengunyahnya langsung. Rasa pahit yang menyengat lidah menjalar ke kerongkongannya, meredakan sensasi terbakar akibat uap belerang.

Shizuka sempat menyentuh pergelangan tangan Ren saat menyerahkan akar tersebut. Jari tabib gadis itu bergetar sesaat ketika merasakan denyut nadi Ren yang berdegup sangat cepat dan tak beraturan. "Ren... denyut nadimu tidak wajar. Tekanan sihir apa yang sedang membebani kepalamu?"

"Hanya kelelahan otot, Shizuka. Tidak ada waktu untuk triase sekarang," sahut Ren dingin, menarik tangannya perlahan.

Ia memeriksa kondisi fisik rekan-rekannya dengan cepat. Vargas memiliki tenaga kasar tapi perisainya retak dan bahunya terluka. Baju zirah beratnya menjadi beban tambahan yang berbahaya di atas formasi batu kapur. Shizuka kehabisan mana untuk barier sihir, sementara Riku tidak bisa menumpukan kaki kirinya ke tanah akibat gigitan asam.

"Paman Vargas, lepas pelindung bahu besimu yang penyok itu," ujar Ren menunjuk pelat logam di bahu kiri sang veteran. "Bobotmu terlalu berat untuk tumpuan karang di jalur depan."

Vargas sempat mengernyitkan dahi, namun tanpa membantah ia segera membuka gesper kulit pelindung bahunya dan melemparkannya ke dalam lumpur hisap dengan bunyi kecipak pelan. Pria tua itu menyadari perubahan drastis pada sorot mata pemuda di depannya. Ren bukan lagi prajurit baru yang ragu-ragu di barisan belakang; setiap keputusannya kini diambil dengan ketegasan dingin seorang komandan tempur berpengalaman.

"Bocah, kau yang menentukan arah," geram Vargas seraya mengusap peluh di keningnya dengan punggung tangan berlapis sarung kulit kotor. "Katakan ke mana aku harus menabrakkan tameng ini."

"Paman Vargas di depan membuka jalan dengan perisaimu," perintah Ren seraya memeriksa deretan tonjolan karang yang membentang ke tebing utara. "Aku akan memikul Riku di pundak dan menjaga ritme lompatan di tengah. Shizuka, pegang tali sabuk belakangku dan injak hanya bekas telapak sepatuku."

Ren membungkuk di samping Riku, menarik lengan kanan remaja itu dan memapahnya ke atas pundak kirinya. Riku menahan rintihan saat betisnya terangkat dari permukaan batu, kedua tangannya mencengkeram erat kerah jubah perang Ren.

"Riku, jangan melihat ke bawah lumpur," bisik Ren tegas. "Pusatkan pandanganmu ke langit-langit lorong gua."

"Aku... aku mengerti, Kak Ren," sahut Riku terbata-bata dengan bibir gemetar.

Vargas menatap belati taring monster di tangan Ren, lalu melirik ke arah genangan darah di rawa tempat kawanan kadal saling mengoyak satu sama lain.

Kelegaan kasar tergambar di wajah pria tua itu. Ia mengencangkan tali kulit di lengannya, mengangkat perisai menara yang penyok dengan tenaga barunya.

"Pimpin jalannya, Bocah keras kepala," geram Vargas seraya melangkah ke bibir karang. "Kalau kita mati di sini, aku akan menghantuimu sampai ke puncak menara."

"Kita tidak akan mati di sini, Paman," sahut Ren seraya menyesuaikan pijakan kakinya di tepi karang.

Di sekeliling pulau batu kapur, air rawa pasang semakin meninggi, meluapkan busa asam yang mendidih. Keempat penyintas itu bersiap meluncur menembus kabut maut, memulai perlombaan hidup dan mati melawan waktu dan predator rawa.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!