NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Di dekat pintu, Vivi menundukkan kepala. Karena ia tahu kalimat itu bukan ditujukan untuk menyakitinya. Justru sebaliknya.Itu adalah kalimat yang perlu didengar Sean. Dan Vivi sendiri tidak pernah berniat menggantikan siapa pun.

"Tapi..." Sean berbisik. "Kalau Ayah sayang sama Tante Vivi..."

Baskara terdiam sesaat. Lalu menjawab dengan jujur. "Itu tidak mengurangi rasa sayang Ayah kepada kalian." Sean menangis lagi.

***

Vivi akhirnya menelepon Rini malam itu, saat ia berada sendiri di kamar karena Baskara minta izin tidur di kamar anak-anak malam ini setelah apa yang terjadi, ia memang sebaiknya menghabiskan sedikit waktu lebih banyak dengan mereka. Dan setelah Vivi menyadari bahwa menjadi ibu sambung ternyata jauh lebih melelahkan daripada mengajar satu kelas penuh murid selama seharian.

Ia duduk di balkon kecil lantai atas sambil memandangi langit malam. Lalu menekan tombol panggil. Tidak sampai tiga dering. Rini langsung mengangkat. "Halo? Bu Guru Teladan masih hidup?"

Vivi terkekeh kecil. Untuk pertama kalinya hari itu. "Masih."

"Syukurlah. Aku kira sudah kabur dari rumah Baskara."

"Goda terus."

"Jadi?" Rini langsung masuk ke pokok pembicaraan. "Siapa yang bikin kamu sedih hari ini?"

Vivi terdiam beberapa saat. Kemudian berkata pelan. "Sean. Anak sulung?"

"Dia ngapain lagi?"

Vivi menghela napas panjang. Lalu menceritakan semuanya. Tentang ujian yang sengaja dikosongkan. Tentang kemarahan Baskara. Tentang tangisan Sean. Tentang ketakutannya dikirim ke asrama. Dan akhirnya Tentang kalimat yang paling membekas. "Dia takut aku mengambil posisi ibunya."

Di ujung telepon, Rini langsung diam. Kali ini tidak bercanda. Tidak menyela. Sebenarnya mereka berdua paham, hal itu memang sering terjadi pada anak-anak yang salah satu orang tuanya menikah lagi

"Dan tahu nggak?" Suara Vivi terdengar lelah. "Aku nggak pernah sekalipun berniat melakukan itu. Aku bahkan nggak pernah minta dipanggil Mama. Aku juga nggak pernah menyuruh mereka melupakan ibunya." Mata Vivi mulai terasa panas. "Tapi kenapa rasanya aku selalu jadi penjahat dalam cerita mereka?"

Rini membiarkan sahabatnya mengeluarkan semua isi hati terlebih dahulu. Karena selama delapan tahun bersahabat, ia tahu satu hal. Vivi bukan orang yang mudah mengeluh. Kalau sampai mengeluh Berarti beban itu sudah terlalu berat. "Vi, menurutmu Sean takut kehilangan siapa?"

"Ibunya."

"Salah."

Vivi mengernyit. "Lalu?"

"Dirinya sendiri." Rini melanjutkan. "Anak-anak nggak cuma takut orang yang meninggal dilupakan. Mereka juga takut kenangan tentang dirinya ikut hilang. Takut rumah berubah. Takut kebiasaan berubah. Takut orang-orang yang mereka cintai berubah." Vivi mendengarkan. Perlahan. "Sean itu bukan sedang melawan kamu. Dia sedang melawan ketakutannya." Kalimat itu membuat Vivi terdiam cukup lama. Karena semakin dipikirkan Semakin terasa benar. "Kalau dia benar-benar membencimu..." Rini tertawa kecil. "Dia nggak akan peduli kamu dekat sama ayahnya. Orang yang benci biasanya menjauh. Sean justru terus memperhatikan."

Vivi mengingat kembali. Sean memang selalu memperhatikan. Mengamati. Menilai. Memikirkan. Seolah setiap gerak-geriknya dicatat.

"Dia takut." Rini berkata lembut. "Dan anak yang takut sering kali terlihat seperti anak yang marah." Air mata yang sejak tadi ditahan Vivi akhirnya jatuh juga. Bukan karena sedih. Melainkan karena merasa ada seseorang yang mengerti. "Capek ya?" tanya Rini.

Vivi tertawa sambil mengusap matanya. "Capek."

"Mau menyerah?"

"Sedikit."

"Bohong."

"Kenapa?"

"Karena kalau benar mau menyerah, kamu nggak akan nelepon aku."

Vivi tertawa lagi. Kali ini lebih tulus. Rini memang selalu seperti itu. Tidak selalu memberi solusi. Tetapi selalu berhasil membuat Vivi melihat masalah dari sudut yang berbeda. Itulah sebabnya persahabatan mereka bertahan begitu lama. Sebelum menutup telepon, Rini berkata, "Vi. Jangan berusaha menjadi ibu mereka."

Vivi terdiam. "Apa?"

"Karena mereka sudah punya ibu." Kalimat itu membuat dadanya sesak sesaat. Namun Rini melanjutkan. "Jadilah Vivi. Hanya itu. Kalau suatu hari mereka menerima kamu, itu bukan karena kamu berhasil menggantikan ibunya. Tapi karena kamu berhasil menjadi dirimu sendiri."

Vivi menutup mata. Menyerap setiap kata. Malam itu, setelah telepon berakhir, Vivi duduk sendirian cukup lama. Namun kali ini hatinya jauh lebih ringan. Karena untuk pertama kalinya Ia sadar bahwa tujuannya bukan memenangkan hati anak-anak Baskara. Bukan mengambil posisi siapa pun. Bukan menjadi pengganti ibu mereka. Tujuannya jauh lebih sederhana. Menjadi orang dewasa yang tetap tinggal sampai anak-anak itu percaya bahwa tidak semua orang akan pergi dari hidup mereka.

***

Pagi itu rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Baskara sudah berangkat sejak subuh karena ada urusan penting di luar kota. Sebelum pergi, ia sempat sarapan cepat lalu berpamitan kepada anak-anak. Kepada Vivi juga. Meski masih canggung. Namun setidaknya sekarang tidak lagi seperti orang asing.

Kini hanya ada Vivi dan lima anak di rumah. Sean duduk di meja makan sambil membaca buku. Atau setidaknya berpura-pura membaca.Karena sejak kejadian ujian kemarin, anak itu menjadi jauh lebih pendiam.

Yuan beberapa kali melirik kakaknya. Saka berusaha mengajak bicara tapi gagal. Ella sibuk mewarnai. Lili menempel pada Vivi seperti biasa.

Vivi meletakkan segelas susu di depan Sean. "Minum dulu." Sean mengangguk kecil. Tidak membantah. Tapi juga tidak bicara. "Masih marah sama aku?" tanya Vivi hati-hati. Sean tidak menjawab. "Kalau masih marah nggak apa-apa." Masih diam. "Tapi jangan sampai lupa sarapan."

Sean akhirnya mengambil gelas itu. Lalu meminumnya. Tetap tanpa bicara. Namun bagi Vivi itu sudah kemajuan. Setidaknya anak itu tidak lagi memusuhinya secara terang-terangan.

Pukul sembilan pagi. Bel rumah berbunyi. Ting tong. Ting tong. Ting tong. Terdengar berkali-kali. Seolah orang di luar tidak sabar menunggu. Vivi yang sedang melipat pakaian langsung berjalan ke depan. Lili mengekor di belakang. Saat pintu dibuka Di depan rumah berdiri dua perempuan.

Yang pertama berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya tegas. Tatapannya tajam. Dan Vivi langsung mengenalinya dari foto keluarga yang pernah dilihat. Helda. Kakak dari almarhumah istri Baskara. Di sampingnya berdiri seorang perempuan lanjut usia. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Tubuhnya sedikit membungkuk. Namun sorot matanya masih tajam. Nenek Ema. Ibu dari almarhumah. Nenek kandung anak-anak. Suasana langsung berubah. Tidak nyaman.

Helda tersenyum. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Oh. Jadi kamu Vivi."

Vivi membalas sopan. "Silakan masuk."

Helda melangkah masuk tanpa banyak bicara. Seolah rumah itu masih miliknya. Nenek Ema menyusul. Begitu mereka masuk ke ruang keluarga Sean langsung berdiri. "Bibi!" Helda langsung memeluknya. Hangat.

Ella berlari mendekat. "Bibi Helda!"

"Sayang..." Saka dan Yuan ikut menghampiri. Bahkan Nenek Ema sampai berkaca-kaca memeluk cucu-cucunya satu per satu.

Vivi berdiri agak jauh. Menyaksikan semuanya.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!