Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setengah jam Gladys berlari menembus dinginnya malam, membiarkan air matanya membasahi pipi tanpa peduli pada pandangan heran dari orang-orang yang lewat.
Napasnya memburu parau, dadanya terasa sesak, dan kakinya gemetar hebat menahan lelah serta kepedihan yang teramat sangat.
Hingga akhirnya, langkah kakinya terhenti tepat di teras depan DeGla Cafe.
Bangunan ruko itu berdiri sepi dan gelap, menjadi satu-satunya tempat yang saat ini terasa aman di matanya. Namun, tubuhnya tak lagi sanggup menopang hantaman kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
Brugh!
Kesadaran Gladys menguap seketika. Tubuhnya yang lemah roboh dan jatuh pingsan, tergeletak tak berdaya di atas lantai keramik teras kafenya sendiri.
Sementara itu, tak jauh dari ruko DeGla Cafe, Praduta baru saja memarkirkan mobilnya di area sasana tempat ia biasa berlatih boxing.
Mengingat emosi dan ketegangan yang menyelimuti pikirannya belakangan ini, ia sengaja kembali untuk meluapkan penat lewat latihan malam.
Dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya, Praduta melangkah santai menyusuri trotoar.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti saat manik matanya menangkap siluet tubuh seorang wanita yang tergeletak pasrah di depan pintu kaca kafe yang baru saja mereka tutup beberapa jam lalu.
Praduta mengernyitkan keningnya dan melangkah mendekat dengan rasa penasaran yang mendalam.
Begitu sorot lampu jalanan menyinari wajah wanita itu, jantung Praduta seketika berdesir kaget.
"G-Gladys?!" cicit Praduta tak percaya.
Mata pria itu membelalak lebar. "Bukankah aku tadi sudah mengantarnya pulang ke rumahnya?"
Melihat Gladys yang tergeletak pingsan dengan jejak air mata yang masih tersisa di pipinya, Praduta langsung membuang handuk di lehernya dan berlari kencang mendekat.
Pria itu berlutut, dengan cepat merengkuh tubuh Gladys yang dingin ke dalam pelukannya.
"Gladys! Gladys, bangun!" panggil Praduta panik seraya menepuk pelan pipi wanita itu.
Namun Gladys tak bergeming, napasnya terdengar begitu lemah.
Tanpa berpikir panjang lagi, Praduta merengkuh dan mengangkat tubuh Gladys ke dalam gendongannya.
Dengan langkah lebar dan cemas, ia membawa Gladys menuju mobil sport-nya untuk segera memberikannya pertolongan.
Praduta memacu mobilnya membelah malam menuju apartemen pribadinya.
Tanpa ragu, ia memapah dan memapah tubuh Gladys yang lemah, membawanya masuk ke dalam unit apartemen yang luas dan bernuansa modern tersebut.
Dengan sangat hati-hati, Praduta merebahkan tubuh Gladys di atas tempat tidur utama yang empuk.
Saat hendak melangkah keluar kamar, pandangan Praduta mendadak tertuju pada dinding ruangan.
Di sana terpasang sebuah foto berukuran besar yang menampilkan sosok petinggi keluarga Devandra—pria yang menjadi target balas dendamnya.
Dengan gerak cepat dan sigap, Praduta melepas foto tersebut dari dinding, lalu menyembunyikannya ke dalam lemari rahasia yang terkunci rapat.
"Belum saatnya kamu tahu tentang siapa diriku sebenarnya, Gladys," bisik Praduta serak seraya menatap wanita yang terbaring lemah itu.
Ia kembali mendekati tempat tidur dan menyentuh pelan kening Gladys. Sentuhan itu membuatnya tersentak.
"Gladys, panas sekali tubuhmu." gumam Praduta khawatir.
Tanpa membuang waktu, Praduta bergegas ke dapur.
Ia mengambil mangkuk berisi air hangat dan selembar kain bersih.
Dengan penuh kelembutan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun, Praduta memeras kain tersebut dan mengompres kening Gladys dengan perlahan, memandangi wajah pucat wanita itu dengan binar mata yang penuh kecemasan.
Sementara itu, suasana di kediaman mewah keluarga Devandra terasa begitu mencekam bagaikan diterpa badai.
Papa Devandra berdiri tegak di tengah ruang tamu dengan napas memburu dan rahang mengeras.
Matanya penuh kemarahan saat menatap Raka yang berdiri kaku, mencoba memasang wajah acuh tak acuh meski kepalanya terasa berat oleh rasa bersalah yang enggan ia akui.
"Puas kamu, Raka?! Puas kamu menghina dan mengusir istrimu sendiri dari rumah ini?!" bentak Papa Devandra dengan suara menggelegar hingga membuat para pelayan ketakutan di sudut ruangan.
"Kalau terjadi apa-apa pada Gladys malam ini, Papa tidak akan pernah memaafkanmu!"
"Pa, Gladys yang terlalu berlebihan! Dia hanya—"
"CUKUP!" potong Papa Devandra murka, mengacungkan jarinya tepat ke wajah Raka.
Ceklek!
Pintu depan mendadak terbuka. Pak Minto melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan wajah panik setelah mendengar keributan yang terjadi dari luar.
"Ada apa ini, Pak Minto?!" tanya Papa Devandra cepat.
Pak Minto membungkuk hormat, menyapu pandangan dari Papa Devandra ke arah Den Raka yang berdiri kaku.
Dengan suara bergetar namun tegas, Pak Minto memberanikan diri untuk bersuara membela majikan mudanya.
"Maafkan saya, Pak, Den Raka." tutur Pak Minto jujur.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwasanya Bu Gladys tidak berbuat hal yang aneh-aneh di luar sana. Seharian ini saya dan anak saya, Kirana, ikut mendampingi Bu Gladys di kafe."
Raka terdiam, menyimak ucapan sopirnya itu dengan alis terangkat.
"Hari pertama pembukaan DeGla Cafe tadi sangat ramai pengunjung, Pak," lanjut Pak Minto tanpa sedikit pun menyebutkan keberadaan maupun bantuan Praduta.
"Bu Gladys bekerja sangat keras dari pagi sampai petang tanpa istirahat demi melayani para pelanggan. Beliau melayani semua orang dengan jujur dan penuh semangat. Tidak ada hal buruk yang beliau lakukan seperti yang dituduhkan."
Perkataan Pak Minto yang jujur dan polos bagaikan tamparan keras yang menghantam kesadaran Raka seketika.
Pria itu membeku di tempatnya, dadanya mendadak terasa sesak dan dihantam rasa penyesalan yang luar biasa.
Papa Devandra menatap putranya dengan tatapan penuh kekecewaan mendalam. "Kamu dengar itu, Raka? Sekarang, cari istrimu sampai ketemu!"
"Tapi, Pa—"
Raka masih mencoba membela diri, menolak mengakui sepenuhnya rasa bersalah yang kini mencekik kerongkongannya.
Namun, bentakan keras sang ayah memotong ucapannya seketika, menggetarkan seluruh dinding rumah.
"RAKA!! APA KAMU INGIN MENGECEWAKAN MENDIANG ISTRIMU YANG MENITIPKAN GLADYS?!" teriak Papa Devandra penuh amarah dan kekecewaan yang sudah di ujung tanduk.
Nama Dewi yang disebut sang ayah bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Raka.
Seketika itu juga, pertahanan dingin dan keras kepala yang selama ini ia bangun runtuh berkeping-keping.
Bayangan wajah mendiang Dewi saat berpesan agar ia menjaga dan membimbing Gladys berkelebat tajam di kepalanya, menampar telak nuraninya.
Raka terdiam kaku. Napasnya memburu, matanya menatap kosong ke lantai sesaat sebelum rahangnya mengeras karena panik dan penyesalan yang mendadak membuncah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raka langsung berbalik, menyambar kunci mobil di atas meja konsol, dan berlari keluar rumah menembus malam.
Sementara itu di dalam unit apartemennya yang temaram, suhu tubuh Gladys masih terasa panas.
Demam akibat kelelahan ekstrem dan hantaman tekanan batin yang luar biasa itu belum juga turun.
Praduta tidak beranjak barang sedetik pun. Pria itu terus setia duduk di tepi tempat tidur sepanjang malam.
Kain kompres yang ada di kening Gladys beberapa kali ia bilas dengan air hangat, lalu ia letakkan kembali dengan sangat hati-hati.
Kelelahan akhirnya menyerang Praduta; dengan posisi setengah duduk, kepalanya menyandar di sisi ranjang, sebelah tangannya tetap menggenggam erat kain kompres yang menempel di dahi Gladys hingga ia tertidur dalam posisi itu.
Di dalam tidurnya yang gelisah, Gladys meracau lirih. Air matanya tiba-tiba meleleh lolos dari sudut matanya yang terpejam.
"Dewi, a-aku ikut," bisik Gladys terbata-bata dengan suara serak.
"Jangan tinggalkan aku."
Mendengar racaian itu, mata Praduta langsung terbuka seketika. Kesadarannya pulih dalam sekejap.
Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap cemas ke arah Gladys yang tampak kesakitan dalam tidurnya.
Praduta melihat jejak air mata membasahi pipi wanita itu.
Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangannya. Dengan sentuhan yang begitu lembut dan penuh kehati-hatian, ibu jari Praduta mengusap serta menghapus air mata yang mengalir di pipi Gladys, seolah ingin menyerap separuh rasa sakit yang tengah ditanggung wanita itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat kamu pulang tadi, Gladys?" gumam Praduta yang kembali mengompres kening Gladys.
Di sisi lain mesin mobil sedan mewah Raka menderu kencang, membelah jalanan kota yang kini semakin sunyi di larut malam.
Selama hampir dua jam ia berputar tanpa arah, memeriksa setiap sudut jalan utama, memeriksa trotoar, hingga menepikan mobilnya di depan beberapa minimarket demi mencari keberadaan sang istri. Namun, hasilnya nihil. Gladys seperti ditelan bumi.
Dalam keputusasaan yang kian mencengkeram dadanya, sebuah pikiran melintas di benaknya.
Tempat terakhir di mana Gladys menghabiskan seluruh tenaganya hari ini.
Raka memutar kemudi dengan tergesa-gesa, mengarahkan kendaraannya menuju area ruko tempat kafe sang istri berada.
Tak butuh waktu lama, mobilnya berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua yang gelap.
Dari balik kaca kemudi, pandangan Raka langsung menangkap papan nama yang terpampang di atas ruko tersebut. DeGla Cafe.
Raka mematikan mesin mobilnya. Ia keluar, lalu melangkah gontai mendekati pintu kaca kafe yang terkunci rapat.
Suasana di sekitar ruko itu begitu sepi, gelap, dan lengang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Gladys di sana.
Pria bertubuh tinggi itu menempelkan telapak tangannya pada kaca pintu kafe, menatap ke dalam ruangan gelap gulita tempat istrinya berjuang mati-matian hari ini.
Bayangan saat ia menghina, menuduh, dan mengusir Gladys kembali berputar telanjang di kepalanya, menghujam ulu hatinya tanpa ampun.
Tenggorokan Raka mendadak tercekat. Pertahanan dingin yang selama ini ia banggakan runtuh tak tersisa.
Raka menundukkan kepalanya, meremas jemarinya di atas kusen pintu dengan napas yang bergetar hebat.
"Gladys, maaf." gumam Raka lirih, membiarkan penyesalan yang teramat dalam akhirnya pecah di tengah kebisuan malam.