Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi masuk ke kamar lewat celah tirai, dan ponsel di meja samping ranjang bergetar sekali. Elang membuka mata, meraih ponselnya, dan membaca pesan yang masuk.
Selamat pagi, Elang. Kemarin menyenangkan sekali. Hari ini kamu mau ke mana? Aku sarapan sendiri karena Ayah sudah berangkat.
Di bawahnya ada foto sepiring roti panggang dengan potongan stroberi di pinggir piring, dan satu kalimat tambahan yang diketik terpisah.
Aku sudah memakai pita barunya.
Elang membaca pesan itu dua kali, dan pada bacaan kedua sudut bibirnya terangkat sendiri. Ia mengetik balasan singkat, Pagi. Belum tahu, menghapusnya, lalu menggantinya dengan Pagi. Makan yang benar.
Setelah mengirimnya, ia melempar ponsel ke ranjang dan mengangkat tangan kanannya. Sebuah panel biru menyala sebelum ia sempat menyentuh sarung tangannya.
[Kuota permintaan: 5/5.]
[Misi baru: Pergi ke lokasi pertambangan di perbukitan timur.]
[Titik koordinat telah dikirim ke ponsel Host.]
[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]
Elang duduk tegak dan membaca ulang baris-baris itu.
"Tambang," gumamnya. "Hanya itu keterangannya?"
Panel itu tidak menambah apa pun. Di layar ponselnya muncul koordinat dan peta kecil yang menandai sebuah titik di luar kota, di antara dua perbukitan, dan ia menatapnya beberapa saat sebelum turun dari ranjang.
Ia mandi, memilih kemeja gelap yang lebih tebal dari kemarin, dan memasang sarung tangannya. Di lantai bawah, pelayan sudah menyiapkan sarapan di meja panjang, tetapi Elang hanya mengambil sepotong roti dan memakannya sambil berjalan menuju pintu.
"Sopir sudah siap?" tanyanya. "Sudah menunggu di depan, Tuan," jawab pelayan itu.
Mobil meninggalkan gerbang dan melaju keluar kota. Gedung-gedung perlahan berganti ladang dan kebun karet, dan warung-warung di tepi jalan yang atapnya dicat merah mulai jarang terlihat. Setelah dua jam perjalanan, jalan aspal berubah menjadi jalan tanah, dan debu kuning pucat naik di belakang ban.
Selama itu Elang merasakan sesuatu di tengkuknya, semacam tekanan halus yang datang dan pergi. Itu bukan niat membunuh, hanya terasa seperti ada yang memperhatikannya dari jauh. Ia sempat menyipitkan mata ke arah perbukitan, lalu memutuskan untuk tidak memedulikannya dulu.
"Jalannya makin rusak, Tuan," kata sopir ketika mobil melewati papan peringatan yang catnya sudah berkarat. "Kita berhenti di mana?"
"Di sini saja."
Mobil berhenti di pelataran tanah merah di tepi lembah. Elang turun, dan angin membawa bau belerang dan solar ke wajahnya. Di bawah, lembah itu sudah digali bertingkat, dengan jalur truk melingkar dari dasar sampai ke tepi atas. Truk-truk besar bergerak pelan dengan bak penuh batu hitam yang berkilat terkena matahari, dan dua ekskavator bekerja di dasar lubang dengan gerakan teratur. Dari kejauhan sirene berbunyi tiga kali, lalu berhenti, dan para pekerja di dekat jalur truk serempak menepi seolah sudah terbiasa dengan isyarat itu.
Elang menghitung tiga puluh lebih truk yang hilir mudik, dan tidak ada satu pun yang berhenti untuk memeriksa mobilnya. Ratusan pekerja berhelm kuning bergerak di antara mesin-mesin itu.
Di mulut jalan masuk ada pos jaga dari seng yang berdiri miring di antara dua drum minyak. Papan nama di atasnya hanya bertuliskan nomor blok, dan catnya sudah mengelupas sampai hampir tidak terbaca. Seorang penjaga berbaju kusam duduk di bawahnya sambil merokok, dan matanya mengikuti mobil mereka dari jauh tanpa menunjukkan minat. Tidak ada tamu lain di sana, dan tidak ada orang yang datang menyambut.
Dari tepi tebing, Elang memperhatikan lembah itu dengan kedua tangan di saku. Semuanya tampak tertata: jalur truk yang melingkar, tumpukan batu yang disusun menurut ukuran, dan kabel-kabel panjang yang ditarik ke sebuah bangunan seng di sisi barat. Terlalu rapi untuk tempat yang tidak menerima kunjungan siapa pun, pikirnya.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Lastri, hanya satu baris. Jangan lupa makan.
Elang mendengus pelan dan memasukkan ponselnya kembali ke saku tanpa membalas, karena ia belum bisa memikirkan hal lain sebelum tahu apa yang sebenarnya ada di tempat ini.
Di belakangnya, sopir turun dari mobil dan berdiri canggung di samping pintu, tidak berani bertanya mengapa tuannya memandangi lubang tanah itu begitu lama.
[Anda telah tiba di lokasi misi.]
[Detail misi akan terbuka sesuai perkembangan.]
Elang menarik napas, dan debu yang pahit memenuhi lidahnya.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku lihat dulu seperti apa tempat ini."