Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Selasa, 8 November 2016 — New York
Pukul enam lewat tiga puluh menit pagi, Arthur Sterling sudah duduk di depan laptopnya.
Di luar jendela apartemennya di Queens, langit masih berwarna kelabu. Udara November semakin dingin, dan suara kendaraan yang melintas di jalan terdengar samar dari balik kaca.
Arthur menatap dokumen yang baru saja dikirim Daniel Brooks.
Itu adalah proposal untuk Robert Hayes, pemilik bengkel mobil yang mereka temui sehari sebelumnya. Daniel telah memperbaiki tata letak dokumen, menyederhanakan beberapa kalimat, dan menambahkan penjelasan mengenai pekerjaan yang akan mereka lakukan.
Arthur membacanya dari awal hingga akhir.
Proposal itu tidak sempurna, tetapi cukup jelas. Mereka menawarkan pembaruan informasi bisnis daring, penyusunan formulir sederhana untuk mencatat pertanyaan pelanggan, serta evaluasi awal terhadap data yang berhasil dikumpulkan. Pembuatan situs web dan kampanye iklan tidak termasuk dalam paket tersebut.
Mereka juga menjelaskan bahwa layanan itu tidak menjamin peningkatan jumlah pelanggan.
Arthur menambahkan satu paragraf mengenai batas waktu pengerjaan dan meminta Robert menyediakan informasi yang diperlukan agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal.
Setelah selesai, ia mengirimkan dokumen itu kepada Daniel.
Pesannya singkat.
Sudah kuperiksa. Kirimkan kepada Robert setelah kau memastikan semua rincian biaya benar.
Daniel membalas beberapa menit kemudian.
Sudah kukirim. Sekarang kita menunggu.
Arthur tersenyum tipis.
Menunggu.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia memiliki banyak orang yang bertugas memastikan bahwa keputusan penting segera dijalankan. Ia terbiasa melihat proyek bergerak melalui laporan harian dan rapat eksekutif.
Sekarang, ia harus menerima kenyataan bahwa sebagian besar keputusan bisnis kecil membutuhkan waktu, komunikasi, dan kesabaran.
Tidak ada yang dapat dipercepat hanya karena dirinya menginginkannya.
Arthur menutup email, kemudian membuka catatan keuangannya.
Ia masih memiliki cadangan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi ia tidak ingin menganggap keadaan itu sebagai alasan untuk bersantai. Pengeluaran kecil dapat bertambah tanpa terasa, sedangkan pendapatan usaha mereka belum stabil.
Ia memperbarui anggaran mingguan dan menetapkan batas pengeluaran untuk keperluan bisnis.
Tidak ada pembelian perangkat baru.
Tidak ada langganan perangkat lunak berbayar yang belum benar-benar diperlukan.
Tidak ada pengeluaran untuk membuat usaha mereka terlihat lebih besar daripada kenyataannya.
Setelah selesai, Arthur bersiap menuju kampus.
Hari itu, ia memiliki dua hal yang harus diprioritaskan: menyelesaikan tugas kuliah dan memeriksa perkembangan proyek Peter Lawson.
Namun, sebelum meninggalkan apartemen, ia sempat membuka kalender dan melihat nama Clara Vance pada jadwal belajar mereka berikutnya.
Arthur menatap nama itu selama beberapa detik.
Kemudian, ia menutup kalender.
Ia tidak ingin menjadikan Clara sebagai satu-satunya pusat kehidupannya yang baru. Ia ingin membangun kehidupan yang lebih baik, bukan mengganti satu bentuk obsesi dengan bentuk lainnya.
Meski demikian, ia tidak bisa menyangkal bahwa kesempatan untuk mengenal Clara kembali merupakan salah satu alasan terpenting mengapa ia begitu berhati-hati menjalani kehidupan keduanya.
Kali ini, ia tidak ingin membiarkan rasa takut membuatnya menjauh.
Namun, ia juga tidak ingin terburu-buru.
Pukul sembilan pagi, Arthur tiba di kampus dan langsung menuju ruang kuliah Professor William Harris.
Materi hari itu membahas perbedaan antara pertumbuhan pendapatan dan peningkatan nilai perusahaan. Professor Harris memulai kelas dengan sebuah pertanyaan yang tampak sederhana.
"Bayangkan kalian memiliki dua perusahaan. Perusahaan pertama meningkatkan pendapatannya sebesar dua puluh persen, tetapi arus kas operasionalnya memburuk. Perusahaan kedua hanya meningkatkan pendapatannya sebesar lima persen, tetapi memperbaiki margin keuntungan dan mengurangi kebutuhan modal kerjanya. Mana yang lebih menarik?"
Sejumlah mahasiswa segera mengangkat tangan.
Seorang mahasiswa di barisan depan memilih perusahaan pertama karena pertumbuhan pendapatannya lebih tinggi.
Mahasiswa lain memilih perusahaan kedua karena memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat.
Professor Harris mendengarkan keduanya sebelum memandang Arthur.
"Mr. Sterling?"
Arthur meletakkan pena.
"Saya tidak akan memilih hanya berdasarkan dua angka itu, Profesor. Saya ingin mengetahui penyebab perubahan arus kas perusahaan pertama dan apakah peningkatan margin perusahaan kedua dapat dipertahankan."
Harris mengangguk.
"Jelaskan."
"Perusahaan pertama mungkin sedang berkembang dengan cepat, tetapi membutuhkan modal kerja yang lebih besar. Jika pelanggan membayar lebih lambat sementara perusahaan harus membayar pemasok lebih cepat, pertumbuhan pendapatan justru dapat menciptakan tekanan likuiditas."
Arthur berhenti sejenak.
"Sebaliknya, perusahaan kedua mungkin memiliki pertumbuhan yang lebih lambat, tetapi jika peningkatan marginnya berasal dari efisiensi operasional yang berkelanjutan, nilai bisnisnya bisa meningkat meskipun pendapatannya tidak tumbuh secepat pesaing."
"Bagaimana jika peningkatan margin itu berasal dari pemotongan biaya pemeliharaan?"
"Kalau begitu, kita harus memeriksa apakah penghematan tersebut merusak kemampuan perusahaan dalam jangka panjang. Angka laba yang membaik belum tentu mencerminkan perbaikan bisnis yang sesungguhnya."
Professor Harris tersenyum.
"Bagus. Kalian harus selalu bertanya bukan hanya apa yang berubah, melainkan juga mengapa perubahan itu terjadi dan apakah perubahan tersebut bisa bertahan."
Arthur mencatat kalimat terakhir.
Ia langsung teringat pada pekerjaan mereka bersama Peter Lawson.
Penjualan toko yang menurun tidak otomatis berarti promosi harus ditingkatkan. Persediaan yang tidak tersedia tidak selalu menunjukkan buruknya pengelolaan inventaris. Bahkan penurunan jumlah transaksi belum tentu menjadi penyebab utama turunnya pendapatan jika nilai rata-rata pembelian berubah secara bersamaan.
Semua itu harus diperiksa.
Arthur mulai menyadari bahwa teori yang dipelajarinya di kampus dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang jauh lebih kecil daripada perusahaan publik, tetapi sama pentingnya bagi orang yang menjalankannya.
Bagi Peter Lawson, satu keputusan yang salah bisa berarti kehilangan sebagian keuntungan toko yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Bagi Samuel Carter, pengeluaran bahan makanan yang tidak terkendali dapat membuat restoran keluarga semakin sulit bertahan.
Bagi Arthur dan Daniel, keputusan yang salah dapat menghabiskan modal kecil yang mereka miliki.
Skala mereka berbeda.
Namun, prinsip dasarnya tetap sama.
Setelah kelas berakhir, Arthur menemukan Daniel di halaman kampus.
Daniel sedang memeriksa ponselnya ketika Arthur mendekat.
"Robert sudah membalas?" tanya Arthur.
"Belum. Tetapi Peter mengirimkan pesan."
Daniel memperlihatkan layar ponselnya.
Peter mengatakan bahwa pencatatan transaksi pada hari sebelumnya berjalan lebih baik. Namun, beberapa pegawainya lupa mencatat permintaan barang yang tidak tersedia karena mereka sedang sibuk melayani pelanggan.
Daniel menghela napas.
"Sepertinya formulir kita masih terlalu merepotkan."
Arthur membaca pesan tersebut.
"Atau cara penggunaannya belum sesuai dengan kondisi toko."
"Apa bedanya?"
"Kalau formulirnya terlalu rumit, kita perlu mengurangi langkahnya. Kalau pegawai kesulitan menggunakannya saat toko ramai, kita perlu membuat pencatatan lebih mudah dilakukan tanpa mengganggu pelayanan."
Daniel berpikir sejenak.
"Jadi, bukan meminta mereka mengisi semua kolom setiap kali pelanggan bertanya?"
"Benar. Kita bisa memprioritaskan barang yang paling sering tidak tersedia, kemudian membuat tanda sederhana untuk mencatat permintaan yang tidak terpenuhi."
Daniel membuka laptopnya.
Mereka menghabiskan sekitar dua puluh menit menyusun format baru. Alih-alih meminta pegawai menulis keterangan panjang, mereka membuat beberapa kategori barang dan menyediakan kolom kecil untuk mencatat waktu serta hasil akhirnya.
Jika pelanggan membeli barang pengganti, pegawai cukup memberi tanda.
Jika pelanggan tidak jadi membeli, mereka memberi tanda berbeda.
Untuk permintaan yang tidak termasuk kategori tersebut, tersedia satu kolom catatan singkat.
Arthur memeriksa hasilnya.
"Ini lebih praktis."
Daniel mengangguk.
"Dan lebih mudah dijelaskan kepada pegawai."
Mereka mengirimkan format baru kepada Peter untuk diperiksa sebelum digunakan.
Arthur juga menambahkan satu catatan penting: data yang terkumpul hanya akan berguna jika dicatat secara konsisten. Mereka tidak boleh membandingkan hari dengan pencatatan lengkap dan hari dengan banyak data yang hilang seolah-olah keduanya memiliki kualitas yang sama.
Daniel menutup laptop.
"Kadang-kadang aku berpikir bahwa pekerjaan kita sebenarnya bukan membuat situs web atau tabel."
Arthur menoleh.
"Lalu apa?"
"Membantu orang memahami masalah mereka sendiri."
Arthur tersenyum.
"Itu bagian pentingnya. Tetapi kita juga harus memberikan solusi yang bisa mereka gunakan."
Daniel mengangguk.
"Baiklah. Kita bantu mereka memahami masalah, lalu kita bantu menyelesaikan masalah yang memang bisa kita tangani."
"Dan kalau belum bisa?"
Daniel mengangkat kedua tangannya.
"Kita mengakuinya."
Arthur tertawa.
Mereka mulai berjalan menuju gedung berikutnya.
Untuk pertama kalinya sejak usaha kecil mereka dimulai, Arthur merasa bahwa Daniel tidak hanya memahami tugas-tugas teknisnya, tetapi juga mulai memahami cara berpikir yang ingin mereka bangun bersama.
Hal itu membuatnya lebih optimistis daripada sekadar mendapatkan satu pelanggan baru.
Menjelang siang, Arthur menerima pesan dari Clara.
Apakah kau punya waktu untuk belajar bersama sore ini?
Arthur membalas bahwa ia bisa bertemu di perpustakaan sekitar pukul tiga.
Clara menyetujuinya.
Namun, sebelum mereka bertemu, Arthur harus menyelesaikan beberapa urusan kuliah. Ia menghabiskan waktu di ruang baca, memeriksa bahan tugas, dan menulis ringkasan materi yang baru dipelajarinya.
Pada pukul dua lewat empat puluh menit, ia menutup buku dan berjalan menuju perpustakaan utama.
Clara sudah berada di tempat yang biasa mereka gunakan.
Di atas meja terdapat dua buku teks, sebuah laptop, dan secangkir teh yang hampir habis.
"Kau datang tepat waktu," katanya.
"Aku sedang berusaha mempertahankan reputasi sebagai mahasiswa yang dapat dipercaya."
Clara tersenyum.
"Kalau begitu, reputasimu masih aman."
Arthur duduk dan mengeluarkan buku catatannya.
Mereka mulai mengerjakan soal penilaian perusahaan. Clara mengerjakan bagian analisis pendapatan, sementara Arthur memeriksa asumsi biaya dan arus kas. Mereka kemudian membandingkan hasil masing-masing dan menemukan bahwa perbedaan kecil dalam asumsi pertumbuhan dapat menghasilkan perbedaan penilaian yang cukup besar.
"Ini yang membuatku tidak suka model keuangan yang terlalu percaya diri," kata Clara. "Angkanya terlihat sangat tepat, padahal hasilnya bergantung pada banyak asumsi."
Arthur mengangguk.
"Model yang baik bukan model yang menghasilkan angka paling meyakinkan. Model yang baik membantu kita memahami apa yang harus benar agar hasilnya masuk akal."
Clara memandangnya.
"Kau sering mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi setelah kupikirkan, ternyata cukup rumit."
"Mungkin karena aku terlalu sering memikirkan sesuatu yang seharusnya sederhana."
"Atau mungkin kau memang terlalu serius."
Arthur tertawa kecil.
"Yang itu mungkin benar."
Mereka kembali belajar selama hampir satu jam sebelum Clara menutup bukunya.
"Aku ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu," katanya.
Arthur meletakkan pena.
"Tentu."
Clara menatap permukaan meja sejenak sebelum melanjutkan.
"Setelah berbicara dengan keluargaku, aku mulai menyadari bahwa mereka tidak hanya mengharapkan sebuah jawaban. Mereka sudah membuat banyak rencana berdasarkan jawaban yang mereka inginkan."
Arthur mendengarkan tanpa menyela.
"Mereka berbicara tentang masa depan, tanggung jawab, dan hal-hal yang menurut mereka harus kulakukan. Ketika aku mengatakan bahwa aku belum yakin, mereka menganggapku belum memahami betapa pentingnya semua itu."
Clara menarik napas.
"Aku tidak menganggap keluargaku sebagai musuh. Aku tahu mereka sudah melakukan banyak hal untukku. Tetapi terkadang aku merasa bahwa rasa terima kasihku digunakan sebagai alasan mengapa aku harus menyetujui keputusan mereka."
Arthur merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Ia tahu betapa mudahnya seseorang terjebak dalam perasaan berutang kepada orang yang telah membantunya. Kebaikan dapat menjadi sumber kasih sayang, tetapi juga bisa berubah menjadi alat untuk menuntut kepatuhan.
Namun, ia tidak tahu seluruh keadaan keluarga Clara.
"Aku rasa rasa terima kasih dan hak untuk memilih bisa ada bersamaan," katanya perlahan. "Kau bisa menghargai semua yang telah dilakukan keluargamu tanpa harus menyetujui setiap keputusan mereka."
Clara mengangkat wajah.
"Bagaimana kalau mereka menganggapku egois?"
"Mungkin mereka akan merasa kecewa. Mungkin juga mereka akan membutuhkan waktu untuk memahami sudut pandangmu."
Arthur berhenti sejenak.
"Tetapi aku tidak bisa menjanjikan bahwa mereka akan langsung mengerti. Yang bisa kau lakukan adalah menjelaskan alasanmu dengan jujur dan memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan."
Clara mengangguk pelan.
"Aku ingin mereka mendengarkanku tanpa langsung menganggap bahwa aku sedang menolak mereka."
"Mungkin kau bisa menjelaskan bahwa meminta waktu untuk berpikir bukan berarti menolak. Itu hanya berarti kau ingin memahami keputusan yang akan memengaruhi hidupmu."
Clara terdiam.
Kemudian, ia tersenyum kecil.
"Aku akan mencoba mengatakan itu."
Arthur membalas senyumnya.
Ia ingin melakukan lebih banyak untuk Clara. Namun, ia mulai memahami bahwa dukungan yang paling berguna tidak selalu berbentuk tindakan besar.
Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk menyusun pikirannya tanpa takut akan dihakimi.
Dan Arthur ingin menjadi orang yang mampu memberikan ruang itu.
Menjelang pukul lima sore, Arthur menerima email dari Robert Hayes.
Pemilik bengkel tersebut telah membaca proposal yang dikirimkan pagi itu.
Ia menyukai pendekatan mereka yang sederhana, tetapi ingin mengurangi biaya awal. Robert mengusulkan agar pekerjaan dimulai dengan pembaruan informasi bisnis dan penyusunan format pencatatan pelanggan, tanpa evaluasi lanjutan yang lebih luas.
Ia juga bertanya apakah pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam satu minggu.
Arthur segera meneruskan pesan itu kepada Daniel.
Mereka membahasnya selama beberapa menit.
"Kalau kita menerima cakupan yang lebih kecil, kita harus memastikan bahwa kita tidak menjanjikan evaluasi yang membutuhkan data lebih banyak," kata Daniel.
"Benar. Kita juga perlu menghitung ulang waktunya."
Daniel memeriksa perkiraan pekerjaan.
"Kalau Robert menyediakan semua informasi dan kita tidak perlu membuat situs web, kita bisa menyelesaikan bagian awalnya dalam beberapa jam, ditambah waktu untuk memeriksa hasil."
Arthur mengangguk.
Mereka sepakat untuk menawarkan paket awal dengan biaya $90, mencakup pembaruan informasi bisnis yang disepakati dan formulir pencatatan sederhana. Evaluasi lebih lanjut akan menjadi pekerjaan terpisah jika Robert memutuskan untuk melanjutkannya.
Mereka tidak menurunkan harga secara sembarangan. Mereka mengurangi cakupan pekerjaan agar biaya tetap sebanding dengan layanan yang diberikan.
Arthur menyusun balasan dan mengirimkannya setelah Daniel memeriksa rincian biaya.
Beberapa menit kemudian, Robert menjawab.
Ia menerima tawaran tersebut dan meminta mereka mengirimkan daftar informasi yang perlu disediakan sebelum pekerjaan dimulai.
Arthur menatap layar laptopnya.
Mereka akhirnya memperoleh pelanggan baru.
Sembilan puluh dolar bukanlah jumlah yang besar. Bahkan jika digabungkan dengan pendapatan proyek sebelumnya, usaha mereka masih belum mampu menghasilkan penghasilan yang stabil.
Namun, kesepakatan itu membuktikan bahwa pendekatan mereka memiliki peluang.
Mereka mendengarkan kebutuhan pelanggan, menyesuaikan layanan, dan menetapkan batas pekerjaan yang jelas.
Tidak ada janji yang tidak masuk akal.
Tidak ada tekanan untuk membeli layanan yang tidak dibutuhkan.
Arthur mengirimkan kabar tersebut kepada Daniel.
Temannya membalas dengan cepat.
Pelanggan ketiga yang benar-benar membayar akan menjadi sesuatu yang lebih baik.
Arthur tersenyum.
Setuju. Tetapi mari kita selesaikan pekerjaan pelanggan kedua dan ketiga dengan baik sebelum menghitung pelanggan berikutnya.
Daniel mengirimkan sebuah tanda jempol.
Arthur menutup laptop.
Hari itu, mereka telah membuat kemajuan nyata.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai melihat bagaimana bisnis kecil tersebut dapat berkembang melalui proses yang dapat diulangi, bukan semata-mata melalui keberuntungan atau pengetahuan yang hanya dimilikinya sendiri.
Malam itu, Arthur berjalan pulang melewati jalanan Queens yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.
Ia memikirkan kesepakatan dengan Robert, pekerjaan Peter Lawson, dan perkembangan tabel keuangan Samuel Carter. Ketiganya memiliki persoalan yang berbeda, tetapi semuanya mengajarkannya hal yang sama: sebuah solusi hanya bernilai jika benar-benar sesuai dengan kebutuhan orang yang menggunakannya.
Ia juga memikirkan Clara.
Percakapan mereka belum menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Arthur bahkan belum mengetahui apa sebenarnya keputusan yang ingin dipaksakan keluarganya. Namun, Clara mulai berani mengungkapkan perasaannya dengan lebih jelas.
Bagi Arthur, itu sudah berarti banyak.
Ia tidak akan memaksa Clara untuk menceritakan semuanya. Jika suatu hari Clara memutuskan untuk meminta bantuannya, ia akan mendengarkan dan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukannya.
Namun, ia tidak akan mengambil alih kehidupannya.
Sesampainya di apartemen, Arthur membuka catatan keuangannya sekali lagi. Ia mencatat pendapatan yang telah dikonfirmasi, memperbarui jadwal pengerjaan, dan memeriksa saldo rekening.
Ia belum kaya.
Ia belum memiliki perusahaan besar.
Ia bahkan belum mengetahui apakah usaha kecilnya akan bertahan selama satu tahun.
Namun, ia mulai membangun sesuatu yang dapat tumbuh tanpa mengharuskannya mempertaruhkan seluruh masa depannya pada satu keputusan.
Sebelum tidur, Arthur berdiri di dekat jendela dan memandang lampu-lampu kota.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah mencapai puncak dunia bisnis, tetapi ia sering mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya menentukan arah hidupnya.
Kali ini, ia ingin melakukan semuanya dengan berbeda.
Ia akan membangun kekayaan secara bertahap, menjaga persahabatan dengan Daniel, dan memberi Clara kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Ia tidak tahu apakah semua itu akan berjalan sesuai harapan.
Namun, ia tidak lagi membutuhkan kepastian mutlak untuk melangkah maju.
Karena ketika angka mulai berbicara, tugas seorang pengusaha bukanlah memaksanya mengatakan apa yang ingin didengar, melainkan berani menerima apa yang sebenarnya ditunjukkannya.