Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
BRAK!!
Pintu ruangan kerja itu terbuka kasar, membentur dinding di belakangnya hingga suaranya bergema keras di seluruh ruangan yang luas itu.
Alina, wanita berusia dua puluh enam tahun itu melangkah masuk dengan napas memburu, pipinya memerah bukan karena malu, melainkan karena amarah yang sudah ia tahan selama satu jam penuh di tengah tatapan orang‑orang di butik tadi.
"Rafael Mahendra!" suaranya meninggi, ia menatap pria yang duduk di balik meja kerja besar itu tanpa sedikit pun terkejut. "Kamu janji mau datang ke butik! Kenapa kamu tidak datang?!"
Rafael tidak segera menjawab. Ia masih menatap layar laptop di depannya, jari‑jemarinya sesekali mengetuk permukaan meja kayu hitam itu dengan ritme yang tenang, terlalu tenang hingga membuat darah Alina semakin mendidih.
"Aku ada urusan mendadak," jawabnya singkat, nada bicaranya datar, tanpa menoleh sedikit pun. "Kamu seharusnya tidak perlu menunggu dan bisa pulang duluan."
"Bisa pulang duluan?" Alina tertawa getir, melangkah mendekat hingga tepat di depan meja kerjanya. "Kamu yang bilang mau ikut memilih gaun untuk acara ulang tahun pernikahan kita yang kedua! Kamu yang membuat janji, dan sekarang kamu bilang aku bisa pulang duluan seolah tidak ada apa‑apa?!"
Rafael akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam namun dingin, seolah Alina baru saja membuat keributan yang tidak penting.
"Alina, aku sibuk. Kamu tahu sendiri banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Urusan gaun itu sepele, kamu bisa pilih sendiri."
"Sepele?" Mata Alina mulai berkaca‑kaca, namun ia buru‑buru mengusirnya sebelum air mata itu jatuh. "Bagimu mungkin ya. Tapi bagiku… bagiku itu satu‑satunya waktu yang kita punya berdua. Dan kamu meremehkannya begitu saja."
Suasana hening sejenak. Rafael kembali menunduk ke dokumen di tangannya, seakan keberadaan istrinya di sini hanyalah gangguan yang harus cepat berlalu.
"Kalau itu saja yang mau kamu katakan, aku masih ada pekerjaan. Silakan pulang."
Alina mengepalkan tangannya di sisi tubuh, dadanya naik turun menahan rasa sakit yang kini bercampur amarah. Sebelum ia sempat melontarkan kata‑kata balasan, pintu ruangan itu diketuk pelan lalu terbuka.
Revan Adinata masuk membawa map tebal, langkahnya tenang dan tegap. Matanya yang tajam menyapu sekilas ke arah Alina yang tampak marah dan menahan air mata, lalu kembali menatap Rafael dengan sikap profesional.
"Maaf mengganggu, Tuan. Ini laporan yang Anda minta tadi pagi."
Rafael menerima map itu tanpa banyak bicara, lalu menoleh ke Alina dengan nada yang kembali dingin dan memerintah.
"Kalau kamu belum pulang, biarkan Revan yang mengantarmu. Dan mulai sekarang… dia juga akan mengatur jadwalmu supaya tidak ada lagi hal seperti ini yang mengganggu pekerjaanku."
Alina menatap suaminya tak percaya, lalu beralih menatap Revan yang berdiri di sana dengan wajah tenang namun matanya menyiratkan sesuatu yang belum bisa ia baca sepenuhnya.
"Mengatur jadwalku?" ulang Alina pelan namun penuh penekanan. "Jadi sekarang aku bahkan tidak boleh punya waktu sendiri tanpa izin darimu?"
"Aku memastikan keamanan dan keteraturan rumah tangga kita, Alina. Itu saja." Rafael kembali fokus pada dokumennya, memberi isyarat bahwa percakapan ini selesai. "Revan, antar Nyonya pulang."
Revan mengangguk hormat. "Baik, Tuan."
Lalu ia menoleh ke arah Alina, mengulurkan tangan dengan sopan namun tegas.
"Silakan, Nyonya Alina. Saya antar."
Alina menggigit bibir bawahnya, menahan segala protes yang nyaris meluap. Ia tahu bertahan di sini tidak akan mengubah apa pun. Dengan napas panjang yang berat, ia berbalik berjalan keluar ruangan itu, diikuti oleh Revan di belakangnya.
-
-
-
Di dalam mobil mewah yang melaju tenang meninggalkan gedung perkantoran itu, suasana terasa lebih pengap daripada di ruangan Rafael tadi. Alina menatap ke luar jendela, menekan keningnya ke kaca yang dingin, berusaha menahan segala amarah dan kekecewaan yang masih bergejolak di dadanya.
Revan menyetir dengan tenang, matanya sesekali melirik sekilas ke arah Alina dari kaca spion. Alina akhirnya tidak tahan lagi dengan keheningan yang menekan itu.
"Kau ini sebenarnya asisten suamiku atau pengawalku, Revan?" tanyanya tiba‑tiba, suaranya tajam namun bergetar. "Pekerjaan asisten bukankah seharusnya di kantor, bukan di rumah kami mengatur ke mana aku pergi dan dengan siapa?"
Revan sedikit menegakkan punggungnya, namun tetap menatap lurus ke jalan di depannya.
"Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya. Apapun pendapat saya pribadi tidak relevan."
Alina mendengus getir. "Tentu saja. Kau hanya patuh pada perintahnya, tanpa pikir sendiri."
Revan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam setir lebih erat, rahangnya mengeras sedikit.
Hening kembali menyelimuti kabin mobil sepanjang sisa perjalanan. Hanya suara halus mesin dan gesekan ban di aspal yang terdengar. Alina tetap menatap ke luar jendela, wajahnya masih terlihat masam, sementara Revan menyetir dengan tenang, seakan kata‑kata pedas yang diucapkan wanita itu tadi tidak menembus pertahanan dirinya sama sekali.
Mobil perlahan melambat, lalu berbelok masuk ke halaman rumah mewah yang berdiri kokoh dan sepi itu. Lampu‑lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya keemasan di permukaan halaman yang luas. Mesin dimatikan, keheningan kembali menyelimuti mereka sejenak.
Revan turun lebih dulu, berjalan mengelilingi bodi mobil, lalu membukakan pintu untuk Alina. Ia berdiri tegak, mengulurkan tangan seakan membantu wanita itu turun.
Alina melirik tangan itu sekilas, lalu melangkah keluar sendiri tanpa menyentuhnya. Ia menghela napas berat, lalu menatap Revan dengan wajah ketus dan dingin.
"Kau bisa pergi sekarang," ucapnya tegas, nada bicaranya jelas menolak. "Aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Aku tidak butuh dijaga dan diawasi."
Revan tidak beranjak. Ia berdiri di tempatnya, menatap Alina dengan tenang tanpa terpancing emosi sedikit pun.
"Maaf, saya tidak bisa begitu saja pergi, Nyonya," jawabnya rendah namun tegas. "Perintah Tuan Rafael jelas. Saya harus ikut masuk dan memastikan Nyonya benar‑benar aman."
Alina menghela napas kasar, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Kau ini… rumah ini sudah berdiri puluhan tahun, apa yang bisa terjadi di dalamnya? Rafael berlebihan sekali, dan kau… kau terlalu patuh!"
"Saya tidak bisa melanggar perintah." jawab Revan tak berubah ekspresinya. "Mari, silakan masuk Nyonya."
Alina menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan mendahului menuju pintu utama dengan langkah cepat dan tegas. Revan baru saja hendak melangkah mengikuti, namun ponsel di saku dalam jasnya bergetar pelan. Ia berhenti sejenak, mengeluarkan benda itu dan membaca layar yang menyala redup di gelapnya halaman rumah.
Wajahnya yang tenang sedikit berubah, ada kerutan samar muncul di alisnya saat ia membaca pesan itu:
‘Malam ini aku tidak pulang, masih ada urusan penting kantor. Jangan tinggalkan rumah. Kau temani istriku dan tidurlah di kamar tamu bawah. Jangan ada yang salah.’
Revan menatap layar ponsel sejenak, matanya berkilau samar di bawah cahaya lampu taman. Ia memasukkan kembali ponsel ke saku, lalu melangkah mengikuti Alina masuk ke dalam rumah yang tampak luas namun dingin itu.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰