NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENANTANG PARA PENGUASA

Hari ini kampus diliburkan atas perintah mutlak Tuan Ramon. Mustahil kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan sementara di dalam lingkungan kampus masih tertinggal jejak kekejaman yang harus dibersihkan hingga tak bersisa.

Para mahasiswa kebingungan bukan kepalang — tiba-tiba di mana-mana terlihat petugas medis bergegas dan wajah-wajah asing berkeliling memeriksa setiap sudut seakan tempat itu baru saja menjadi medan perang. Namun tak ada penjelasan resmi. Ramon tak ingin mengambil risiko sekecil apa pun, sehingga rektor beserta seluruh jajaran pimpinan kampus terpaksa menuruti titahnya tanpa berani membantah sedikitpun.

Di ruang perawatan khusus, seorang wanita tua berbadan kurus berdiri gemetar di tepi ranjang, memeluk erat tubuh Alyssa yang masih terbaring tak sadarkan diri. Matanya sayu basah, air mata tak henti-henti menetes membasahi pipi keriputnya. Dialah Iriana, ibu kandung Renzo dan Alyssa.

"Ya Tuhan... mengapa keluargaku harus menerima ujian seberat ini?" gumamnya lirih tertahan di tenggorokan, dadanya sesak menahan isak tangis.

Di sampingnya berdiri seorang lelaki paruh baya, rahangnya mengeras, kedua kepalan tangannya terkepal rapat hingga kuku-kuku jarinya memutih menahan amarah yang nyaris meledak. Dialah Darman, ayah kandung Renzo. Matanya menatap tajam ke arah sosok Ramon yang berdiri tak jauh dari sana, membara penuh kebencian namun terbungkus kepasrahan pahit.

"Benar-benar kurang ajar! Mereka menyalahgunakan kekuasaan untuk meloloskan diri dari hukum! Bajingan brengsek semuanya!" umpatnya dalam hati bergemuruh. Ia ingin sekali menerjang maju dan menghantam wajah Ramon hingga tak berbentuk lagi — namun di belakang pria berkuasa itu berdiri barisan pengawal berbadan raksasa bersenjata lengkap dari kepala hingga kaki. Darman sadar, satu langkah maju ia sendiri yang terluka.

Ramon melangkah maju selangkah, menatap mereka berdua dari atas ke bawah bagai memandangi serangga di tanah. Suaranya dingin, datar, tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.

"Aku tak menjebloskan anakmu ke penjara walaupun ia sudah menusuk putraku. Itu sudah kemurahan hatiku. Namun ingat baik-baik — ada satu syarat. Kalian harus pergi dari kota ini, hari ini juga. Jika sampai mulut kalian bocor ke publik atau mencoba menimbulkan masalah padaku di masa mendatang... jangan menangis minta belas kasihan saat melihat putra kalian babak belur di dalam sel penjara." Ancaman itu diucapkan pelan namun menancap tajam ke tulang sumsum.

Iriana mendongak berurai air mata tak percaya mendengar janji palsu yang dibalik menjadi ancaman. "Tuan Ramon... sungguh tega sekali kata-kata Anda?! Bagaimana dengan masa depan anakku? Ia berjuang mati-matian agar bisa kuliah di sini! Dan sekarang seenaknya Anda putuskan nasibnya begitu saja?!"

"Itu bukan urusanku!" potong Ramon ketus tak peduli. "Aku tak peduli mau jadi apa nasib kalian. Yang aku tahu — kalian harus pergi sekarang."

Iriana gemetar seluruh tubuhnya, tak menyerah meski lututnya lemas ketakutan. "Tuan... bukankah anak kamulah pelakunya?! Putra andalah yang menyekap dan menganiaya anak kami?! Tusukan itu hanya pembelaan diri! Kenapa justru kami yang di perlakukan seolah pelaku?!"

Wajah Ramon mengeras seketika, senyum meremehkan kembali merekah di bibirnya. "Jangan bermimpi menuntut putraku. Dia tak bersalah sama sekali. Justru anak perempuanmu kalianlah yang menjual kehormatannya pada putraku atas kemauannya sendiri. Terima apa yang sudah jatuh ke tanganmu — atau kau akan kehilangan lebih banyak lagi."

Ramon berbalik perlahan meninggalkan mereka seakan tak layak ia tatap sedetikpun lebih lama.

Sabar Darman habis sudah. Ia menerjang maju sekuat tenaga hendak menghantam tengkuk Ramon dengan kepalan tangannya. Namun sebelum jarinya menyentuh kain baju, dua pengawal sigap mencengkeram kedua lengannya sekuat tenaga. Pengawal ketiga maju selangkah dan melayangkan tinjunya telak menghantam perut Darman.

Bugh!

Udara seakan terperas habis dari paru-parunya. Darman membungkuk nyeri hebat, wajahnya pucat lalu perlahan berlutut di lantai dingin.

"Mass!!" Iriana berlutut memeluk bahu suaminya panik takut kehilangan satu-satunya pelindung keluarganya.

Pengawal itu menatap mereka dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Jangan macam-macam lagi kalau masih sayang nyawa! Anakmu kuat dan pandai bertarung itu karena dilatih keluarga militer Belanda sejak kecil — bukan turunan darah kalian! Kalian hanyalah rakyat jelata tak berdaya, sadarkan diri kalian!"

Darman mendongak menatap mata pengawal itu tajam hingga menyala, napasnya memburu penuh amarah, "Dengarkan aku baik-baik... hukum itu memang lambat tapi tak pernah luput. Hukum karma itu nyata. Suatu hari kalian semua akan menuai apa yang kalian tanam. Ingat kata-kataku ini!"

Mereka tertawa mencemooh, tak peduli seakan baru saja didengarnya kicauan burung. "Sialan tua. Ayo pergi."

Mereka berbalik serentak mengikuti majikannya, meninggalkan pasangan suami istri itu terpuruk di lantai dingin sendirian persis seperti sampah yang dibuang.

"Bagaimana ini, Mas... apa kita benar-benar harus pergi? Bagaimana dengan kuliah Alyssa? Kasihan nasib anak malang itu..." isak Iriana memeluk suaminya erat.

Darman mengangkat wajahnya pelan, menatap pintu yang tertutup rapat itu penuh tekad namun berat di dada. "Tak ada jalan lain, Bu. Kita bicara baik-baik padanya saat sadar nanti. Selama ia masih di sini... nyawanya tak akan pernah aman."

Sementara itu di kafetaria penjara, suasana hening seketika seiring percakapan yang semakin mengerikan. Ivan mencondongkan badannya ke depan, matanya berkilat penuh gairah tak wajar.

"Maksudmu... di sini kita boleh saling membunuh sesuka hati?" tanyanya menyeringai lebar menampakkan gigi-giginya yang tajam.

Pria berkulit gelap di hadapannya menghela napas panjang pasrah. "Bukan begitu maksudku... tapi... ya. Ya, kau boleh bertarung.."

Sorot mata Ivan semakin menyala antusias. "Dan para sipir? Mereka diam saja melihat pembunuhan terjadi di depan hidung mereka?"

Pria itu menengok ke kiri dan kanan memastikan tak ada telinga lain yang menguping, lalu mendekatkan mulutnya ke meja berbisik pelan namun jelas.

"Dengarkan baik-baik. Keenam penguasa gedung itu bersahabat akrab dengan para sipir. Mereka saling mengerti aturan mainnya. Lagipun... kita semua di sini sudah terhitung mati. Tak ada satu pun yang akan keluar dari gerbang ini hidup-hidup." Ia menelan ludah berat. "Setiap hari pasti ada pertumpahan darah. Dan para sipir? Mereka hanya bersandar santai di tembok sambil menonton pertunjukan itu untuk mengusir bosan." Matanya menegang tajam. "Bahkan kalau delapan puluh atau seratus orang mati dalam sehari pun, mereka tak akan menoleh sedikitpun."

Keheningan mencekam menyelimuti meja itu. Sesuatu yang buas bangkit kembali dari dasar diri Ivan. Lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak menggema memenuhi ruangan hingga kepala-kepala berbalik menatapnya.

"Hahahaha!!!" Tawanya liar bagaikan singa yang baru dilepaskan ke kandang manusia. "Menarik... luar biasa menarik! Belly, Darren, Axel, Kaneo, Damian, Kael... sepertinya mereka orang-orang yang tangguh" Ia menoleh ke samping pada Renzo yang masih tenang menyuap makanannya seakan tak mendengar apa-apa. Namun Ivan tahu — diamnya itu bukan tak tahu, melainkan sedang mengukur seberapa berat besi yang sedang dipanaskan di hadapannya.

Ivan mendekat ke telinga Renzo berbisik bergetar antusiasme membara, "Hei Renzo... tempat ini sebenarnya adalah Colosseum. Bukankah luar biasa indahnya?" Ia mundur sedikit menatap wajah datar Renzo dengan senyum pemburu tua. "Bagaimana kalau kau dan aku bersekutu? Bersama-sama kita tumbangkan keenam penguasa ini satu per satu?!!"

Suaranya sengaja meninggi di detik terakhir, membiarkan setiap orang di ruangan itu mendengar tantangannya telak. Ia terkekeh melihat kepala-kepala berkerut marah, terkejut, dan mengancam dari segala penjuru. Lalu menepuk bahu Renzo pelan seakan sahabat karib sejak lahir.

"Lihat itu... sepertinya kita jadi pusat perhatian, kawan."

Renzo tak menoleh, ia hanya meneguk susu di gelasnya perlahan tenang seakan tak terjadi apa-apa. Namun di sekeliling mereka, puluhan narapidana mulai berdiri perlahan. Ada yang mengangkat alis tak percaya, ada yang tersenyum penuh minat, dan banyak di antaranya menatap tajam bagai harimau yang baru saja melihat mangsa paling berani seumur hidupnya.

BAAAMM!!!

Suara gebrakan meja di sudut ruangab terdengar..

Seorang pria berkepala pelontos berdiri menatap tajam mereka berdua.

Di wajahnya terdapat luka sayatan panjang, menandakan dia pernah melewati pertarungan hidup dan mati.

"Sepertinya kita punya bocah baru yang belum tau aturan di tempat ini.." ucapnya.

Pria berkulit gelap itu menatap mereka satu per satu, lalu perlahan menyunggingkan senyum tipis penuh makna. "Bagus sekali... saling bunuhlah habis-habisan. Semakin cepat kalian saling memusnahkan, semakin cepat pula kematian datang menjemput kalian." Rencana sang intelijen sederhana, membuat para narapidana hukuman mati saling membunuh entah dengan cara mengadu domba atau yang lainnya. Pria berkulit hitam itu memanfaatkan Ivan, lelaki yang gila bertarung untuk menantang narapidana lainnya namun Renzo juga ikut di seret oleh Ivan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!