"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ampun, Mayor!
Vina terkekeh renyah, menatap Tanti dengan binar jenaka yang menelanjangi keangkuhan wanita itu.
"Gue malah bersyukur banget kalau lu secepatnya bawa pergi tuh Om Tentara dari hidup gue," sambung Vina enteng. "Rumah ini adem kalau kagak ada dia. Tante ambil tuh Si Yudhana, bungkus pakai pita merah sekalian kalau perlu! Biar gue bisa secepatnya bebas kembali ke panti!"
Pukulan kata-kata Vina menghantam rasa percaya diri Tanti dengan sangat telak. Rencana intimidasi yang disusun Tanti dengan rapi—bayangan bahwa Vina akan menangis tersedu-sedu, berlutut memohon agar tidak ditendang—runtuh berantakan di atas lantai rumah dinas. Vina justru menyodorkan Yudhana seperti barang murah yang sama sekali tak bernilai di matanya.
"Kamu ...." Tanti berdiri dari duduknya, napasnya memburu kencang. Kebencian dan rasa malu yang membakar kepalanya meluap tanpa bisa dibendung lagi. "Kamu benar-benar cewek panti tidak berpendidikan!"
Dengan gerakan mendadak yang dipenuhi amarah, tangan kanan Tanti melayang cepat ke udara. Jemari berkuteks merahnya terangkat tinggi, mengayun kencang hendak menampar pipi Vina dengan sekuat tenaganya.
Namun, Tanti lupa satu hal.
Vina yang ada di depannya bukanlah wanita penurut yang pasrah menerima siksaan. Vina adalah anak panti asuhan yang tumbuh di jalanan, terbiasa beradu fisik dan main kasar sewaktu mempertahankan makanan di masa kecilnya.
Plak!
Sebelum telapak tangan Tanti sempat menyenggol helai rambut Vina, tangan kanan Vina bergerak secepat kilat. Jemari Vina mencengkeram pergelangan tangan Tanti di udara dengan kencang—sebuah cengkeraman kaku dan berotot yang seketika mengunci gerakan wanita bersutra merah itu.
"Eits! Mau main tangan lu, Tante?" bisik Vina dengan suara mendadak dingin. Binar jenaka di matanya melenyap, digantikan oleh kilatan galak anak jalanan.
Tanti terperanjat kaget, berusaha memutar pergelangan tangannya namun cengkeraman Vina terlalu kuat seperti jepitan besi. "Lepasin! Lepasin tangan saya, Vina!"
"Main fisiknya jelek amat gaya lu," cibir Vina.
Dengan sekali sentakan santai namun bertenaga, Vina mendorong pergelangan tangan Tanti ke samping. Dorongan mendadak itu membuat tubuh Tanti yang mengenakan sepatu hak tinggi kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Tubuh Tanti terhuyung mundur tiga langkah, pinggulnya menyenggol tepi meja kaca. Gelas plastik bekas selai yang terisi air bening itu tersenggol keras, terguling kaku, dan menumpahkan seluruh isi airnya ke atas pangkuan gaun sutra merah hati milik Tanti.
Cairan bening dingin itu meresap cepat ke dalam kain mahal Tanti, membentuk noda basah yang melebar luas dari pinggang hingga ke paha, membasahi gaun mewahnya hingga menempel kaku di kulitnya.
"Aaghhhh!" Tanti menjerit histeris, memandangi gaun mewahnya yang kini basah kuyup dan ternoda air mentah dari gelas plastik. "Baju saya! Baju impor saya basah!"
Vina kembali mendaratkan bokongnya di sofa dengan rileks, menyandarkan Punggungnya seraya menyambar selembar keripik singkong pedas dari dalam toples.
Tanti berdiri dengan napas memburu dan gaun mewahnya yang ketumpahan air, menatap tak percaya ke arah Vina yang santai mengunyah keripik sambil menunjuk pintu keluar.
"Tuh pintu keluar di sebelah sana, Tante," cetus Vina santai tanpa rasa bersalah sedikit pun, menudingkan keripik pedasnya ke arah pintu utama yang terbuka. "Sana balik! Nanti gaun sutra mahal lu makin baus apek kena air mentah. Lagian bau parfum melati lu udah kalah sama bau keripik pedas gue nih!"
Tanti meremas tas tangannya kencang-kencang. Wajahnya yang tebal oleh bedak kini tampak berantakan oleh emosi yang meluap. Ia menunjuk Vina dengan jari bergetar.
"Saya bakal laporkan semua perbuatan kamu ke Mas Yudhana dan Opa Gema!" jerit Tanti dengan suara melengking sumbang. "Kamu bakal ditendang keluar dari rumah ini hari ini juga!"
"Iya, iya, terserah lu dah Tante!" sahut Vina memutar bola matanya malas. "Bilang juga ke Si Om Kaku, kalau ke sini lagi bawain martabak manis! Jangan cuma bawa Tante-tante rewel kayak lu!"
Tanti menyentak napasnya kasar, memutar tubuhnya yang basah dengan gerakan kaku. Dengan langkah-langkah tergesa-gesa yang dibayangi rasa malu yang membakar, Tanti berlari keluar menembus pintu teras, meninggalkan derit tinggi sepatu hak tingginya yang memantul kencang di pelataran parkir.
Suara mesin mobil SUV milik Tanti menderu melengking di luar pagar, melaju kencang meninggalkan Kompleks Batalyon dengan kepulan asap tipis.
Keheningan kembali menyapu ruang tamu rumah dinas. Kipas angin berdiri di sudut ruangan terus berputar ritmis, sriiing... sriiing..., memutar udara hangat yang kini tak lagi tercemar oleh wewangian melati yang menyengat.
Vina mengunyah keripiknya sampai habis, lalu menyapu remah-remah bumbu di jemarinya dengan gerakan santai. Ditatapnya genangan air di atas meja kaca yang perlahan-lahan menetes ke atas karpet.
Klek.
Dari arah koridor belakang, Ita melangkah keluar dengan mata membelalak lebar. Ita rupanya mengintip seluruh kejadian itu dari balik tirai dapur sejak awal.
"Ya Allah, Vina!" bisik Ita menepuk dadanya sendiri, napasnya terengah antara kaget dan puas luar biasa. "Kamu bener-bener ya! Itu kan Mbak Tanti! Kerabat kaya raya yang dulu paling kamu takuti waktu di rumah dinas ini!"
Vina memutar kepalanya, menatap Ita dengan raut polos yang memancarkan kejujuran tanpa beban.
"Mbak Tanti apaan, Ta?" Vina terkekeh geli, menyenderkan badannya makin nyaman di sofa. "Tante-tante kaku gaya melayat begitu kok ditakuti? Mending gue takut sama ibu panti kalau belum menyapu halaman!"
Vina kembali memejamkan matanya, menikmati hembusan angin hangat dari kipas angin tua, membiarkan ancaman dan kecemburuan Tanti menguap begitu saja ditelan kebebasan jiwanya yang tak lagi sanggup dilukai.
***
Assalamu'alaikum Kakak Cantik semuanya. Alhamdulillah retensi bab 20-nya bagus, sekarang tinggal pengajuan kontrak. Semoga tidak gagal kontrak, mau bagaimana pun saya juga tetap ingin melanjutkan cerita Vina dan Yudhana di sini. Mohon doanya ya, dan Terima kasih banyak 🤗
Alhamdulillah 🤲