**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Detak Jantung
"Dua?"
Perempuan bertubuh mungil itu menatap layar tanpa berkedip. Suara detak jantung yang saling bersahutan itu masih memenuhi ruangan. Dug-dug. Dug-dug. Dua irama kecil yang berlomba, seolah ingin menunjukkan bahwa keduanya sama-sama ada.
"Kembar, Bu," kata dokter muda berkerudung putih itu sambil tersenyum. "Waktu Ibu pertama kali dirawat dulu, janin kedua masih sangat kecil dan tertutup. Ditambah lagi ada perdarahan, jadi sulit terlihat. Sekarang keduanya sudah jelas. Dua-duanya sehat."
Aina menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras. Sepuluh tahun perempuan bermata sayu itu berdoa untuk satu anak. Kini doanya dijawab dua kali lipat.
"Tapi kehamilan kembar perlu dijaga lebih hati-hati," lanjut dokter itu dengan nada lebih serius. "Ibu harus lebih sering kontrol. Jangan terlalu lelah. Dan bersiaplah, bayi kembar sering lahir lebih cepat daripada perkiraan."
Raka menunggu di lorong. Lelaki berlesung pipi itu langsung berdiri ketika Aina keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah basah oleh air mata.
"Na? Ada apa? Ada masalah?"
Aina menggeleng. Perempuan bertubuh mungil itu tidak sanggup bicara. Tangannya hanya menyerahkan selembar foto hasil USG. Di foto itu, dokter telah melingkari dua titik kecil dengan pulpen dan menulis dua huruf di sampingnya: A dan B.
Raka menatap foto itu lama. Lelaki beralis tebal itu tidak mengerti.
"Dua," bisik Aina. "Mas, ada dua."
Raka mengangkat wajahnya perlahan. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Lalu lelaki berlesung pipi itu tertawa. Tawa yang pecah menjadi tangis. Raka bersandar di dinding lorong rumah sakit, memegangi foto itu di dadanya, dan menangis sambil tertawa seperti orang yang baru saja diberi seluruh dunia.
Beberapa perawat yang lewat ikut tersenyum melihat mereka.
Kabar itu menyebar dengan cepat.
Ibu Aina menangis di dapur sambil terus mengaduk sayur yang hampir gosong. Hamdan menelepon dari Mataram dan berteriak begitu keras sampai Aina harus menjauhkan ponsel dari telinga. Rini memeluk Aina di kantor sampai hampir menjatuhkan tumpukan berkas.
Sekar datang ke rumah Sengkol sore harinya bersama Arsya. Perempuan berwajah teduh itu memeluk Aina lama sekali.
"Arsya, kamu akan punya dua adik," kata Sekar kepada anaknya.
Bocah bermata bulat itu membelalak. "Dua? Satu laki-laki, satu dinosaurus?"
Semua orang tertawa.
Namun, ada satu kabar yang ingin Aina sampaikan sendiri. Kabar itu harus disampaikan bersama surat yang masih tersimpan di dalam tasnya.
Sabtu pagi, Aina dan Raka pergi ke Kawo.
Ibu Sumi sedang duduk di berugak, menyusun daun tembakau seperti biasa. Begitu melihat mereka datang, perempuan berambut putih itu langsung berdiri dengan wajah berseri.
Aina duduk di samping Ibu Sumi. Perlahan, perempuan bertubuh mungil itu mengeluarkan dua amplop dari tasnya. Amplop putih berisi surat pernyataan tanah dan amplop cokelat bertuliskan satu nama.
"Ini dari Lalu Mustiadi, Ibu."
Wajah Ibu Sumi berubah tegang. Perempuan berambut putih itu menatap amplop cokelat tersebut lama, tanpa menyentuhnya.
"Aku tidak lancar membaca tulisan tangan, Nak," katanya akhirnya. "Bacakan untukku."
Aina membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada selembar kertas bergaris. Tulisannya gemetar, tetapi bisa dibaca.
Sumiati. Tiga puluh tahun lalu, aku berdiri di halaman rumahmu dan menyaksikan bayimu diambil. Aku mendengarmu menjerit. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku justru menandatangani surat yang menghapus namamu dari kelahiran anakmu sendiri. Lima belas tahun lalu, aku mengambil tanah yang dititipkan untukmu. Aku tidak meminta maaf karena berharap dimaafkan. Aku meminta maaf karena kamu berhak mendengarnya. Mustiadi.
Aina menurunkan kertas itu. Ibu Sumi terdiam lama. Matanya menatap sawah tembakau yang bergoyang ditiup angin.
"Aku tidak bisa memaafkannya hari ini," ucap perempuan berambut putih itu akhirnya. Suaranya pelan, tetapi tegas. "Mungkin besok juga belum. Tapi aku tidak mau membawa dendam ini sampai ke kuburan. Aku sudah terlalu tua untuk memikul beban seberat itu."
Perempuan bungkuk itu melipat surat tersebut dan menyimpannya di balik kain sarungnya.
Aina lalu menyerahkan foto hasil USG. "dan ini, Ibu. Kabar yang lain."
Ibu Sumi menatap foto itu tanpa mengerti. Raka berlutut di depan ibunya dan menunjuk dua lingkaran kecil di foto itu.
"Dua, Ibu. Cucu Ibu ada dua."
Perempuan berambut putih itu menatap foto itu, lalu menatap anaknya, lalu menatap Aina. Lalu tangisnya pecah.
"Ya Allah," isaknya. "Tiga puluh tahun aku menunggu satu anak pulang. Sekarang Engkau membayarnya dengan tiga."
Sebulan kemudian, Aina duduk di ruang sidang Pengadilan Agama Praya.
Ruangan itu tidak seseram yang dibayangkan. Hanya ada meja hakim yang tinggi, beberapa kursi kayu, dan bendera merah putih di sudut. Hamdan duduk di samping Aina sebagai pendamping. Raka duduk di kursi seberang.
Sidang itu tidak lama. Hakim membacakan berkas, lalu bertanya kepada Raka.
"Saudara mengakui bahwa pada saat menikahi Saudari Aina, Saudara masih terikat perkawinan sah dengan perempuan lain, dan Saudara memberikan keterangan palsu mengenai status Saudara?"
"Saya mengakui, Yang Mulia," jawab lelaki berlesung pipi itu tanpa ragu.
Setelah beberapa kali persidangan, putusan dibacakan pada pertemuan terakhir. Perkawinan antara Aina dan Lalu Raka dinyatakan batal.
Aina berjalan keluar dari ruang sidang dengan perasaan aneh. Secara hukum, perempuan bertubuh mungil itu kini bukan istri siapa pun. Namun, Aina justru merasa lebih utuh daripada sebelumnya.
"Bagaimana dengan anak-anakku, Kak?" tanya Aina di halaman pengadilan.
"Hak anak-anakmu tetap dilindungi," jawab lelaki jangkung itu. "Raka sudah menyatakan di depan hakim bahwa dirinya ayah mereka. Kita akan mengurus semuanya sesuai aturan. Kamu tidak perlu khawatir."
Bulan-bulan berikutnya berlalu dengan cepat.
Pengadilan mengesahkan penyerahan tanah di Tanak Awu kepada Ibu Sumi. Toko pupuk Lalu Mustiadi ditutup. Di atas tanah itu, Raka mulai membangun sebuah rumah sederhana untuk ibunya. Lelaki berlesung pipi itu bekerja dengan tangannya sendiri setiap akhir pekan, dibantu beberapa tetangga dari Kawo.
Lale Rukmini datang hampir setiap minggu membawa makanan untuk para pekerja. Awalnya, Ibu Sumi dan perempuan bersanggul itu hanya saling mengangguk dari kejauhan. Lama-kelamaan, keduanya mulai duduk bersama di bawah pohon mangga sambil mengupas bawang. Mereka tidak banyak bicara. Namun, diam di antara keduanya tidak lagi terasa seperti permusuhan.
Perceraian Sekar dan Raka akhirnya diputus pengadilan. Perempuan berwajah teduh itu membuka sebuah tempat mengaji kecil di rumahnya di Kuta. Arsya mulai bersekolah di TK Pertiwi dengan kartu keluarga yang hurufnya sudah lengkap.
Perut Aina semakin besar. Perempuan bertubuh mungil itu kini sulit berjalan jauh. Namun, setiap sore Raka masih datang ke teras rumah Sengkol, membacakan cerita untuk perut Aina, dan pulang sebelum azan Isya.
Pada bulan kedelapan kehamilan Aina, rumah Ibu Sumi di Tanak Awu akhirnya selesai dibangun.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya bercat putih dan atapnya genteng merah. Di halaman depannya ada sebuah berugak baru dari kayu jati. Raka sengaja membuatnya mirip berugak tua di Kawo.
Hari itu, keluarga mengadakan syukuran sederhana. Semua orang datang. Ibu dan Bapak Aina, Hamdan, Sekar dan Arsya. Selain itu, Lale Rukmini dan Bidan Rohani juga terlihat disana. Bidan Rohani datang diantar cucunya. Rini dan beberapa rekan kantor, Bahkan Pak Mahsun juga hadir disana.
Aina duduk di berugak baru itu, bersandar pada bantal. Seorang ustaz memimpin doa. Semua orang menengadahkan tangan.
Di tengah doa, perempuan bertubuh mungil itu merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengalir di bawahnya. Aina menunduk. Kain sarung yang dikenakannya basah.
Jantung Aina berdegup kencang. Perempuan bermata sayu itu mengangkat wajah dan menatap Bidan Rohani yang duduk tidak jauh darinya.
Perempuan renta bermata tajam itu sudah lebih dulu melihat. Wajahnya langsung berubah serius.
Air ketuban Aina telah pecah.