NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemilihan Ketua Panitia Pensi 25.

Senin pagi selalu punya cara sendiri untuk memutus paksa ilusi akhir pekan.

Koridor SMA Nusantara langsung dipadati oleh ratusan murid yang berkejaran dengan waktu piket, derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai, serta riuh rendah gosip sisa malam minggu.

Bagi Elsa, melangkah melewati gerbang sekolah hari ini terasa berbeda.

Beban tak kasat mata yang biasanya menggelayuti pundaknya setiap kali melihat jajaran motor pengurus OSIS kini menguap.

Hoodie sage yang dua malam lalu menemaninya di bioskop sudah berganti seragam putih abu-abu yang pas di badan.

Di sampingnya, Aris berjalan santai dengan satu tangan menumpu tas ranselnya di bahu kanan, membiarkan jaket levis hitamnya terikat di pinggang.

"Muka lo masih agak pucat. Kurang tidur?" suara bariton Aris memecah keheningan di antara mereka.

Elsa menoleh, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Enggak kok. Cuma agak malas aja ketemu jam pertama. Matematika wajib."

Aris terkekeh, tangannya bergerak cepat mengacak puncak kepala Elsa gemas sebelum gadis itu sempat protes. "Kalau ngantuk, tidur aja. Nanti biar gue yang jagain pintu kelas."

Interaksi itu terjadi begitu natural di tengah koridor yang ramai.

Beberapa pasang mata sempat melirik—terutama anak-anak kelas unggulan yang terbiasa melihat Elsa selalu berjalan mengekor di belakang Firdaus dengan tatapan memohon.

Namun hari ini, Elsa berjalan sejajar dengan Aris, sang penguasa jalanan yang biasanya dihindari karena reputasi balap liar dan tawurannya.

Dari arah berlawanan, langkah kaki Elsa mendadak melambat.

Firdaus berjalan di sana. Sebagai Ketua OSIS, penampilannya selalu tanpa cela—atribut lengkap, tatapan lurus yang sarat akan otoritas, dan langkah kaki yang konstan.

Namun, ada yang berbeda hari ini. Kantung mata hitam yang samar tercetak di bawah netranya, dan garis wajahnya tampak jauh lebih tegang dari biasanya.

Saat jarak mereka mengikis menjadi tiga meter, netra Firdaus langsung mengunci tepat pada manik mata Elsa.

Ada kilat kecemasan, rasa bersalah, dan ego yang terluka yang campur aduk di sana—sisa-sisa dari kepanikan malam minggu akibat satu ketukan like yang salah sasaran dan penolakan follow yang digantungkan.

Cowok itu sempat menahan langkahnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya sedikit terbuka.

Namun, Elsa memilih untuk tidak memutus ritme jalannya.

Tatapannya beralih lurus ke depan, melewati Firdaus seolah cowok itu hanyalah bagian dari dekorasi dinding koridor sekolah yang membosankan.

Tidak ada keraguan, tidak ada binar pemujaan yang dulu selalu ia tunjukkan. Kosong.

Aris yang menyadari perubahan atmosfer itu hanya melirik Firdaus sekilas dengan senyum miring yang provokatif, sebelum merapatkan posisinya di sebelah Elsa, dengan sengaja memblokir sisa pandangan Firdaus.

Firdaus terpaku di tempatnya berdiri. Dadanya kembali dihantam rasa ngilu yang sama seperti dua malam lalu.

Rasa diabaikan secara total oleh seseorang yang dulu menjadikan dirinya sebagai pusat semesta adalah bentuk hukuman paling sadis yang pernah dia terima.

"Perhatian semuanya! Tolong tenang sebentar!"

Suara lantang Pak Satrio, menggema di dalam ruang aula kelas 12 yang mendadak dikumpulkan pada jam istirahat kedua.

Ratusan murid yang tadinya sibuk mengobrol langsung mengarahkan atensi ke depan panggung.

"Seperti rutinitas tahunan sekolah kita, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun SMA Nusantara yang ke- empat puluh lima bulan depan, kita akan membentuk kepanitiaan besar yang sepenuhnya dikelola oleh kelas dua belas. Ini adalah acara terbesar kita sebelum kalian fokus pada ujian akhir," jelas Pak Satrio sambil membenarkan posisi kacamata kotaknya.

"Berbeda dengan acara internal yang biasa diurus OSIS, ketua panitia ulang tahun sekolah wajib dipilih dari perwakilan umum kelas dua belas agar ada pemerataan kepemimpinan. Bapak membuka forum siang ini. Siapa yang siap mencalonkan diri sebagai Ketua Panitia?"

Suasana aula mendadak hening.

Proyek ulang tahun sekolah adalah panggung yang besar, namun tanggung jawabnya luar biasa berat. Anggarannya puluhan juta, mengundang musisi nasional, dan taruhannya adalah nama baik sekolah.

Salah sedikit saja, bersiaplah menjadi sasaran tembak pihak yayasan.

Di barisan depan, Firdaus duduk tegak sebagai perwakilan OSIS yang bertindak sebagai pengawas. Matanya menyapu ruangan, berasumsi bahwa posisi strategis ini pasti akan jatuh ke tangan salah satu anak kelas unggulan yang berada di bawah pengaruhnya.

Dengan begitu, dia tetap bisa memegang kendali penuh di balik layar.

"Saya mencalonkan diri, Pak."

Sebuah suara berat dari barisan belakang membuat seluruh kepala di dalam aula menoleh serentak.

Aris berdiri tegak dari kursinya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abu. Wajahnya tenang tanpa beban, bertolak belakang dengan keterkejutan yang kini melanda satu ruangan.

Anak-anak geng motor di sekelilingnya langsung bersorak heboh, memukul-mukul meja hingga menimbulkan kegaduhan kecil.

"Aris?" Pak Satrio menaikkan alisnya, tampak ragu. "Kamu tahu konsekuensi dan tanggung jawab posisi ini?"

"Tahu, Pak. Dan saya serius," jawab Aris tegas, tatapannya beralih ke arah depan, tepat mengunci pandangan Firdaus yang kini mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja.

Pak Satrio menghela napas, lalu menuliskan nama Aris di papan tulis putih. "Baik, kita punya satu kandidat. Namun sesuai regulasi, setiap calon ketua wajib memiliki seorang wakil ketua yang bersedia mendampinginya untuk menyerahkan draf proposal awal besok pagi. Jika tidak ada wakil, pencalonan gugur."

Ruangan kembali senyap. Siapa yang cukup gila untuk menjadi wakil dari seorang Aris? Anak-anak kelas unggulan jelas enggan menurunkan gengsi mereka untuk bekerja sama dengan anak kelas B yang dicap berandal.

Aris menoleh ke sampingnya, menatap Elsa dengan binar mata yang tidak lagi menuntut, melainkan sebuah ruang kepercayaan yang terbuka lebar. Seolah mengatakan:

Gue ada di sini buat lo, dan gue butuh lo di samping gue.

Elsa menarik napas dalam-dalam. Oksigen di paru-parunya terasa penuh.

Ini bukan lagi tentang pelarian dari masa lalu, melainkan tentang pembuktian diri bahwa dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bayang-bayang ketidakpedulian Firdaus.

Perlahan namun pasti, Elsa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.

"Saya bersedia menjadi wakilnya Aris, Pak."

Detik itu juga, suasana aula meledak oleh kasak-kusuk yang riuh.

Di barisan depan, cangkir kertas berisi kopi di tangan Firdaus remuk seketika, menumpahkan cairan hitam di atas tumpukan dokumennya.

Netra Firdaus membelalak menatap Elsa yang kini tersenyum lepas ke arah Aris—sebuah aliansi baru yang siap meruntuhkan dominasi yang selama ini dia banggakan.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!