NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

****

Malam Selasa Kliwon membungkus perbukitan dengan keheningan yang amat pekat. Angin malam bertiup kencang, menyusup di antara pilar-pilar kayu rumah joglo milik Bagas dan menyuarakan deru yang mencekam. Di dalam kamar peraduan utamanya yang megah, Bagas terlelap tidur di atas tempat tidur ukir.

Tepat saat tengah malam berganti, rajah sisik ular di dada kiri Bagas mendadak berdenyut hebat. Sensasi panas yang merambat cepat membakar seluruh aliran darahnya. Belum sempat Bagas membuka mata seutuhnya, pendar cahaya hijau keemasan yang silau seketika menggulung raganya. Tubuh pemuda itu melayang melintasi dimensi gaib, ditarik secara mistis kembali menuju Istana Sendang Manten.

Dalam sekejap mata, aroma wangi melati dan dupa sakral menyergap indra penciumannya. Bagas mendapati dirinya berdiri di tengah aula megah Istana Sendang Manten. Di sekelilingnya, puluhan prajurit dan pelayan bertubuh separuh ular membungkuk dalam memberikan penghormatan.

Dari atas tahta pualam, Ratu Ular melangkah turun dengan anggun. Ratu tidak mengenakan pakaian kebesarannya, melainkan berbalut kain jarik sutra hijau tipis dan ronce Bunga Melati segar yang membingkai dadanya. Pendar matanya yang hijau keemasan menatap Bagas dengan pendar kerinduan dan kepemilikan yang teramat posesif.

"Selamat datang kembali di istanamu, Suamiku..." bisik sang Ratu dengan suara merdu yang bergema di seluruh ruangan. "Malam Selasa Kliwon telah tiba. Sudah waktunya kamu menuntaskan tugas pengabdianmu padaku."

Bagas menghembuskan napas panjang, melangkah mendekat tanpa rasa ragu sedikit pun. "Aku berada di sini untukmu, Nyai... Aku hadir untuk memenuhi janjiku."

Sang Ratu tersenyum sangat puas. Tangan halusnya yang dingin merangkul leher Bagas, membimbing pemuda tegap itu masuk ke dalam kamar peraduan utama yang diterangi pendar lampu minyak keemasan.

Di atas peraduan pualam berlandaskan sutra empuk, suasana privat yang teramat hangat dan mistis seketika melingkupi mereka. Rasa cemas yang dulu pernah merayapi batin Bagas kini telah sirna seutuhnya, berganti dengan keberanian dan gelora asmara seorang suami yang ingin memanjakan istrinya.

Bagas mengambil alih kendali peraduan malam itu. Dengan tatapan mata yang tajam dan tegas, Bagas merangkak mendekat, membimbing raga cantik sang Ratu untuk berbaring telentang di atas tempat tidur pualam. Jemari kuat Bagas merayap lembut, mengelus rahang tegas dan paha mulus sang Ratu yang terentang pasrah.

Sang Ratu terperanjat halus, menyunggingkan senyuman memikat yang sarat pemujaan. "Apakah malam ini suamiku yang akan memanduku...?"

"Iya, Nyai... Malam ini biarkan aku yang melayanimu dan membuktikan baktiku padamu," jawab Bagas tegap dan berwibawa, mendaratkan cumbuan yang teramat dalam dan hangat di atas bibir manis sang Ratu.

"Mmmm... Bagas..." desah sang Ratu terpejam nikmat, kedua tangan halusnya melingkar erat di bahu kekar Bagas.

Bagas memanjakan sang Ratu dengan cumbuan-cumbuan mesra yang berpindah menuju leher wangi melati dan bahu terbukanya. Tanpa ragu, Bagas membimbing penyatuan intim mereka dari atas secara perlahan, mantap, dan meresap seutuhnya.

Saat penyatuan gaib itu terjadi secara penuh dan terbenam utuh di dalam kehangatan raga sang Ratu, sebuah erangan nikmat yang teramat dahsyat dan memabukkan lolos dari tenggorokan mereka berdua.

"NGGGHHHH! Mmmm... Bagas!" jerit sang Ratu menggeram panjang, matanya terpejam rapat, kepalanya mendongak pasrah saat raganya terbenam seutuhnya menyatu dengan ketegasan raga Bagas. "Nikmat sekali, Suamiku... luar biasa dalam dan hangat meresap..."

"AHHH! Nyai... Nggghhh...!" rintih Bagas melengking merdu, matanya terpejam meresapi rasa penuh, rapat, dan kehangatan aura mistis yang meresap hingga ke dasar jiwanya. "Enak sekali, Nyai... rahim gaibmu begitu hangat dan memeluk rapat..."

Bagas mulai mengayunkan pinggulnya dari atas dengan ritme yang berat, teratur, dan begitu dalam menuntut. Usaha Bagas yang memimpin penyatuan malam itu membuat sang Ratu terkulai pasrah dalam kenikmatan puncak yang tiada tandingannya.

Tangan besar Bagas memegang erat pinggul mulus sang Ratu, membimbing setiap dorongan intimnya agar makin meresap sempurna.

"Ahhh... hhh... Bagas... pelan-pelan seperti itu, Tampan... nggghhh... enak sekali... ahhh!" desah sang Ratu makin melengking merdu, ronce melati di dadanya bergoyang membiaskan aroma harum yang memenuhi seluruh kamar.

"Nggghhh... Nyai... permaisuriku... rasakan kehangatan rasaku malam ini, Nyai... hhh..." erang Bagas parau, mempercepat tempo dorongan pinggulnya yang kian intens dan sarat pemujaan.

"Teruslah mengayun seperti itu, Bagas... Kuasai Ratumu malam ini!" perintah sang Ratu seraya meremas erat bahu berotot Bagas.

"Aku akan memuaskanmu seutuhnya, Nyai!" jerit Bagas, mengayunkan pinggul tegapnya makin dalam dan mantap.

Di bawah pendar hijau keemasan istana gaib, desahan nikmat keduanya mengalun merdu bersahutan memecah keheningan peraduan. Bagas mempercepat ayunan pinggulnya dari atas dengan penuh gairah dan kepasrahan utuh, memanjakan sang Ratu dalam ritual pengabdian yang panjang dan memabukkan.

"Bagas... Bagas! Aku mau sampai... Ahhh... nggghhh... peluk aku erat-erat dari atas!" jerit sang Ratu melengking manis, seluruh raganya bergetar hebat di bawah dada bidang Bagas.

"Nggghhh! Bersama, Nyai... Bersama!" jerit Bagas menggeram dahsyat.

Bagas menarik pinggul sang Ratu rapat-rapat ke atas, memperdalam dorongan pungkasan secara mantap sebelum akhirnya tumpahan energi kehangatan dan benih asmaranya menyatu utuh di bagian terdalam rahim gaib sang Ratu.

"NGGGHHHHHHHH! BAGAS!"

"AHHHHH! NYAI!"

Jeritan nikmat puncak keduanya berpadu sempurna dalam keheningan istana bawah tanah. Bagas seketika terkulai lemas, merebahkan raga tegapnya tepat di atas dada bidang sang Ratu yang bersimbah peluh hangat. Sang Ratu merengkuh raga Bagas rapat-rapat dalam dekapannya, mengelus rambut tebal suaminya seraya menghirup napas yang tersengal-sengal pendek.

"Luar biasa... Kepemimpinanmu malam ini sungguh tiada tandingannya, Bagas," tutur sang Ratu tulus, mendaratkan kecupan di dahi Bagas.

Usai hembusan napas mereka kembali teratur, sang Ratu bangkit duduk di atas peraduan. Dari telapak tangannya, membias pendar cahaya keemasan yang menyilaukan. Ketika pendar itu memudar, tampak sebutir pusaka berbentuk susuk sisik ular keemasan yang berkilat halus.

Sang Ratu menempelkan pusaka sisik emas itu tepat di atas dada kiri Bagas. Pusaka tersebut seketika meresap masuk ke dalam pendar rajah Bagas, menyatu dengan pembuluh darahnya.

"Pusaka Sisik Emas ini akan melindungimu dari segala marabahaya, ilmu hitam, dan kesialan di dunia nyata," tutur sang Ratu dengan suara berwibawa.

Namun, raut wajah sang Ratu mendadak berubah menjadi teramat serius dan tegas. Pendar mata hijau keemasannya menatap tajam ke dalam manik mata Bagas.

"Namun ingatlah, Bagas... Keselamatan dan kesembuhan ibumu di dunia nyata sangat tergantung pada kesetiaanmu padaku. Jika kamu berpaling atau menyentuh wanita manusia mana pun, tidak hanya wanita itu yang akan menjadi tumbal, tetapi keselamatan ibumu pun akan tercabut seketika."

Bagas menelan ludah, matanya membelalak tegar. "Aku berjanji, Nyai... Aku tidak akan pernah mengkhianati ikatan kita."

Sang Ratu menyunggingkan senyuman bening, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik lembut tepat di telinga Bagas dengan nada yang membuncitkan harapan luar biasa.

"Satu hal lagi, Suamiku... Jika rahim gaibku ini kelak mengandung dan bisa melahirkan keturunan untuk bangsa ular dari benihmu... maka kamu tidak hanya menjadi orang kaya di alam nyata, tetapi kamu juga akan diangkat menjadi penguasa dan orang paling berpengaruh di Istana Sendang Manten ini."

Mendengar bisikan sakral sang Ratu, dada Bagas berdesir hebat. Sebuah gambaran tentang kekuasaan, takdir, dan masa depan dua alam kini membentang luas di hadapannya.

"Aku siap menerima takdir itu, Nyai..." bisik Bagas tulus, kembali memeluk raga sang Ratu di atas peraduan gaib yang abadi.

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!