Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Seorang Buruh Kuli Harian
Matahari merambat naik, memancarkan terik yang membakar kulit tanpa ampun di lokasi proyek pembangunan gedung bertingkat.
Debu semen beterbangan tertiup angin panas, menyusup ke tenggorokan dan menyisakan rasa kesat.
Di tengah hiruk-pikuk suara mesin molen dan dentuman besi, Burhan berdiri mengusap keringat kental di dahinya menggunakan celana kain kusam yang terikat di lehernya.
Punggungnya terasa pegal luar biasa setelah memindahkan puluhan karung semen sejak subuh tadi.
Namun, bayangan wajah Anisa dan ancaman pengusiran dari Bu Sumi terus membayangi pikirannya, memaksanya untuk terus menggerakkan otot-otot tubuhnya yang mulai goyah.
"Hei, Burhan! Jangan melamun terus! Angkut semen itu ke lantai dua!" teriak sebuah suara berat dari arah barak pekerja.
Burhan tersentak, lalu menoleh. Tampak Mandor Bakri sedang berdiri berkacak pinggang sambil memegang buku catatan kumal dan sebatang rokok yang mengelus asap tipis.
"Iya, Pak Mandor! Ini langsung saya antar!" sahut Burhan seraya mengangkat karung semen seberat lima puluh kilogram itu ke atas pundaknya.
Dengan langkah tertatih-tatih, Burhan menaiki tangga kayu rakitan yang bergoyang. Setibanya di lantai dua, ia membaringkan karung itu dengan napas terengah-engah.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Burhan memberanikan diri berjalan mendekati pos Mandor Bakri. Matanya menatap ragu ke arah pria berbadan tambun itu.
"Pak Mandor... maaf mengganggu waktunya sebentar," kata Burhan pelan, menundukkan kepala penuh rasa hormat.
Mandor Bakri menghembuskan asap rokoknya ke udara, menatap Burhan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan dingin. "Ada apa lagi, Burhan? Pekerjaanmu belum selesai, kan?"
"Bukan soal pekerjaan, Pak," cicit Burhan, meremas jemarinya yang penuh kapalan. "Saya... saya mau minta tolong, Pak. Kalau boleh, saya mau pinjam kasbon dulu hari ini. Sedikit saja untuk menyambung hidup dan bayar kontrakan."
Mandor Bakri terkekeuh sinis, mematikan rokoknya di atas meja kayu. "Kasbon lagi? Burhan, minggu lalu kau sudah pinjam seratus ribu! Upahmu untuk proyek ini saja belum cukup menutup utangmu yang kemarin-kemarin!"
"Saya mohon, Pak Mandor..." bisik Burhan iba, matanya menatap memohon. "Istri saya di rumah tidak punya uang untuk beli beras hari ini. Pemilik kontrakan juga sudah mengancam mau mengusir kami kalau minggu ini belum bayar. Saya janji potong dari upah mingguan besok, Pak."
"Kau pikir aku ini bank tempat bagi-bagi uang gratis, hah?!" bentak Mandor Bakri, suaranya meninggi hingga membuat beberapa kuli bangunan di sekitar mereka menoleh. "Semua pekerja di sini punya masalah dapur masing-masing! Kalau aku kasih kau kasbon terus, yang lain bakal iri!"
"Tolonglah, Pak... kasihan istri saya di rumah," lirih Burhan, keputusasaan merayapi dadanya.
Mandor Bakri menghela napas kasar, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan lembaran uang yang sudah kumal. Ia melempar dua lembar uang dua puluh ribuan ke atas meja.
"Cuma ada empat puluh ribu! Jangan tawar-tawar lagi!" tegur Mandor Bakri keras. "Dan ingat, kalau besok kau terlambat datang semenit saja atau kerjamu lambat, aku potong lagi upahmu!"
Burhan memandangi uang empat puluh ribu rupiah di atas meja itu dengan dada sesak. Nilai itu bahkan tidak cukup untuk membeli beras tiga kilogram dan membayar sewa rumah.
Namun, dengan tangan gemetar, ia tetap mengambil uang itu.
"Terima kasih banyak, Pak Mandor... terima kasih," kata Burhan seraya mengangguk berulang kali.
"Sudah, sana kembali kerja! Semen di truk baru datang lagi itu!" usir Mandor Bakri galak.
Burhan berbalik melangkah, berjalan kembali ke tumpukan material bangunan, Di tengah debu yang mengepul dan terik matahari yang kian menyengat, Burhan menatap langit siang yang terik.
Air mata tersamar oleh keringat yang menetes di pipinya. Empat puluh ribu rupiah di genggamannya terasa begitu berat, mempertanyakan bagaimana nasibnya dan Anisa besok hari.