✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di Tengah Kemewahan
Mobil hitam mewah berhenti pelan di depan gerbang rumah Aluna yang besar banget. Pagar besi yang tinggi terbuka otomatis, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi dan air mancur di tengahnya. Aluna menoleh ke samping, tersenyum lebar ke arah dua cowok yang duduk di belakang dan depan penumpang.
"Yuk, turun! Kenapa pada diem aja? Takut nyasar ke rumah orang ya?" canda Aluna sambil membuka pintu mobil.
Rexy keluar duluan, menatap sekeliling dengan mata sedikit terbelalak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sumpah ya, setiap kali ke sini aku selalu merasa kayak baru masuk ke tempat wisata. Rumah kamu itu bukan rumah lagi, Lun. Ini istana kecil namanya!"
Aluna tertawa renyah. "Berlebihan banget sih kamu. Cuma rumah biasa aja kok, yuk masuk, Mamaku udah nungguin dari tadi katanya."
Orion keluar diikuti mereka, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Rumahnya memang megah, tapi yang bikin nyaman itu bukan bangunannya, tapi siapa yang ada di dalamnya."
"Mantap banget kata-katanya! Bisa aja kamu nih, Orion. Awas nanti aku ikut minta saran kalau aku mau nembak cewek," celetuk Rexy sambil menepuk pundak Orion pelan.
Aluna langsung menyikut lengan Rexy. "Dih, mau nembak siapa? Jangan-jangan kamu lagi punya gebetan ya? Ceritain dong!"
"Ih enggaklah, cuma ngomong doang. Udah ah, buru masuk, nanti Mamamu nunggu lama," elak Rexy sambil berjalan cepat duluan, membuat Aluna tertawa melihat wajahnya yang tiba-tiba sedikit memerah.
Begitu masuk ke ruang tengah, aroma harum masakan dan bunga segar langsung menyambut mereka. Ruangannya luas banget, perabotannya terlihat mahal dan rapi, tapi entah kenapa terasa sangat nyaman dan hidup. Di ruang tamu, seorang wanita cantik dan anggun sedang berdiri menyambut mereka dengan senyum yang sangat ramah — itu Bu Amira, ibu Aluna.
"Assalamualaikum, Nak. Silakan duduk, jangan sungkan ya di sini. Anggap aja rumah sendiri," sapa Bu Amira hangat.
"Waalaikumsalam, Tante. Terima kasih sudah mengundang kami," jawab Orion sopan sambil tersenyum.
"Makasih ya, Tante. Wah, wanginya masakan Tante enak banget, jadi langsung lapar nih aku," ucap Rexy dengan tulus, membuat Bu Amira tersenyum lebar.
"Kamu ini bisa banget bikin orang senyum ya, Rexy. Sama-sama, Nak. Segera kita makan ya, kebetulan Ayah Aluna sebentar lagi sampai rumah."
Mereka duduk di meja makan yang panjang dan elegan, tapi suasananya jauh dari kaku. Bu Amira terus saja mengisi piring mereka dengan makanan, seolah mereka adalah anak kandungnya sendiri.
"Makanlah yang banyak ya. Kalian sering jaga Aluna sampai lupa pulang, jadi wajar kalau aku harus isi ulang tenaga kalian," kata Bu Amira sambil tertawa lembut.
"Tante ini bikin kami jadi malu aja. Kami senang banget bisa temani Aluna, Tante. Dia itu ceria banget, jadi yang ada kami malah senang ikut dia kemana-mana," ucap Orion pelan tapi tulus.
Aluna menyenggol bahu Orion pelan. "Dih, pujian banget. Kamu emang selalu paling bisa bikin Mamaku senang ya."
"Itu karena kamu memang layak dipuji, Lun. Bukan aku yang hebat, tapi kamu yang bikin semua orang nyaman di dekat kamu," balas Orion tenang.
Rexy yang sedang mengunyah makanan langsung mengacungkan jempol. "Bener banget kata Orion. Aluna itu kayak matahari. Kalau dia ada, suasana langsung cerah. Kadang dia emang agak gila dan bikin pusing, tapi tanpa dia rasanya sepi banget."
"Hei! Kamu mau memuji atau menghina sih, hah?" Aluna mencubit lengan Rexy pelan, tapi dia sendiri ikut tertawa.
"Tentu saja memuji! Cuma jujur aja, kalau aku bilang kamu sempurna nanti kamu jadi sombong, kan?" Rexy terkekeh, lalu menambahkan, "Serius deh Tante, Aluna itu harta paling berharga buat kami berdua. Kami janji akan selalu jaga dia, apa pun yang terjadi."
Bu Amira menatap mereka bertiga dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tahu itu, Nak. Sejak kalian kecil, aku sudah lihat ikatan kalian. Banyak orang bilang harta itu penting, tapi aku dan Ayahnya Aluna berpikir berbeda. Harta bisa dihitung nilainya, tapi teman sejati itu harta yang tak ternilai harganya. Kalian berdua itu seperti anak sendiri buat kami."
Suara ketukan pintu terdengar, dan tak lama kemudian Ayah Aluna masuk. Dia terlihat sedikit lelah dengan setelan jasnya yang rapi, tapi saat melihat mereka bertiga di meja makan, senyum lebar langsung terukir di wajahnya.
"Ah, tamu spesial kami sudah datang rupanya. Selamat malam, Orion, Rexy," sapa Ayah Aluna ramah.
"Selamat malam, Paman," jawab mereka berdua hampir bersamaan.
Ayah Aluna duduk di kursi kepala, tapi dia tak terlihat seperti bos yang kaku. Dia menatap mereka dengan pandangan yang bijaksana.
"Aluna sering cerita tentang kalian. Tentang bagaimana Rexy selalu siap membela dia walau harus berhadapan dengan siapa pun, dan bagaimana Orion selalu ada untuk menenangkan dia saat hatinya sedang gelisah. Terima kasih sudah ada untuk putriku."
"Kami yang berterima kasih, Paman. Aluna itu sahabat terbaik kami. Melindunginya itu bukan tugas, tapi keinginan hati kami," jawab Orion dengan tenang.
Rexy mengangguk mantap. "Benar, Paman. Selama aku masih bernapas, nggak akan ada yang boleh menyakiti Aluna. Biar siapa pun itu."
Aluna menatap mereka berdua bergantian. Di ruangan yang penuh barang-barang mahal ini, dia baru sadar bahwa kemewahan rumahnya bukanlah yang membuat hatinya terasa hangat. Melainkan dua sahabatnya yang duduk di sebelahnya, dan orang tuanya yang begitu tulus menyayangi mereka seolah mereka adalah bagian dari keluarga ini.
"Makanlah sebelum dingin. Kita nikmati waktu bersama malam ini," ajak Bu Amira lembut.
Saat mereka makan dan bercanda, tawa mereka memenuhi ruangan besar itu. Tidak ada sekat, tidak ada merasa asing. Hanya kehangatan yang tulus — sesuatu yang jauh lebih mahal daripada apa pun yang bisa dibeli dengan uang.
Setelah selesai makan, mereka pindah ke ruang keluarga yang lebih santai. Aluna menyeduh teh hangat sementara Ayahnya bercerita tentang masa-masa saat dia masih muda, tentang arti persahabatan yang sejati.
"Dunia luar itu keras, Nak. Kalian akan bertemu banyak orang yang datang karena harta atau nama baik keluarga kalian. Tapi pertahankanlah persahabatan kalian ini. Ini adalah tempat kalian pulang saat dunia di luar sana tidak ramah. Ingatlah, harta bisa habis, nama bisa ternoda, tapi sahabat yang tulus akan tetap ada sampai akhir hayat," pesan Ayah Aluna dengan suara yang dalam dan tulus.
Rexy menunduk sedikit, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Terima kasih nasihatnya, Paman. Terkadang aku merasa tidak pantas mendapat kepercayaan sebanyak ini. Aku ini sering berbuat salah, tapi kalian tetap menerima aku apa adanya."
Bu Amira tersenyum dan menepuk punggung tangan Rexy. "Siapa yang tak pernah salah, Nak? Yang penting niat hatimu baik. Dan niatmu menjaga Aluna itu murni, aku bisa melihatnya dari matamu. Itu yang terpenting."
Orion menatap ke arah jendela yang memperlihatkan taman yang gelap namun diterangi lampu taman. "Kami akan jaga janji kami, Tante, Paman. Selamanya."
Saat malam semakin larut, Orion dan Rexy bersiap untuk pulang. Aluna mengantar mereka sampai ke depan pintu gerbang. Angin malam bertiup sejuk, membuat Aluna memeluk tubuhnya sendiri.
"Makasih ya sudah datang. Aku senang banget kalian bisa kenal lebih dekat sama Ayah dan Mamaku. Mereka sebenarnya jarang terbuka kayak gitu sama teman-temanku," ucap Aluna tulus.
Rexy tersenyum, tangannya terangkat seolah ingin menepuk kepala Aluna, tapi berhenti sebentar lalu menurunkan lagi. "Kita ini keluarga, Lun. Nggak perlu berterima kasih buat hal kayak gitu. Istirahat yang cukup ya, jangan begadang terus."
"Kamu juga, Rex. Hati-hati di jalan," pamit Aluna, lalu menatap Orion yang berdiri tenang di sebelahnya.
"Jangan pikirkan hal-hal yang berat malam ini ya, Lun. Tidur nyenyak. Semuanya akan baik-baik saja," bisik Orion lembut, lalu melambaikan tangan dan berjalan pergi bersama Rexy.
Aluna berdiri di sana sampai kedua sosok itu menghilang di ujung jalan. Dia merasa sangat beruntung. Di tengah kemewahan yang kadang terasa sepi, dia memiliki dua orang yang membuat hidupnya terasa lengkap dan penuh warna.
Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Dia tahu perasaan mereka padanya lebih dari sekadar sahabat. Dan dia juga tahu, suatu hari nanti, dia harus memilih. Pertanyaannya — apakah dia siap menyakiti salah satu dari mereka yang sudah memberikan seluruh hatinya padanya?