Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pagi Penuh Delusi
.
Pagi harinya
Bara melangkah keluar dari kamar tidurnya dengan kemeja rapi dan jas mahal yang membalut tubuhnya. Ia sudah siap menyambut hari pertamanya sebagai pemimpin perusahaan. Namun, saat tiba di luar kamar ia merasa suasana di dalam apartemen mewahnya itu terasa begitu sunyi. Tidak ada aroma kopi hangat yang biasanya dibuat oleh Mentari. Ia juga tidak melihat keberadaan Mentari yang biasanya menyambutnya dengan senyum hangat.
Bara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Tidak ada tas kerja Mentari di atas sofa. lalu saat menoleh ke arah kamar tamu yang selama ini ditempati Mentari, pintu itu masih tertutup rapat. Bara berjalan menuju kamar tersebut dan mengetuknya pelan.
"Mentari? Kau di dalam?" panggil Bara dengan nada datar, mencoba menutupi rasa bersalah dari kejadian di pesta semalam.
Beberapa detik menunggu tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Merasa penasaran, Bara akhirnya membuka pintu kamar itu. Ruangan itu terlihat rapi, tempat tidurnya seperti tidak baru saja ditempati. Dan itu membuat Bara merasa aneh.
Saat Bara masih berdiri terpaku di ambang pintu, dari arah pintu depan Mentari muncul dengan langkahnya yang ringan. Gadis itu mengenakan pakaian kasual rumahan sederhana, melangkah tenang tanpa sepatah kata pun. Bara menelan ludahnya melihat sorot mata gadis itu yang sedingin es. Ia seperti melihat sosok yang berbeda dari Mentari yang selalu ia lihat tiap hari.
Bara menghela napas pendek, merasa sedikit lega karena Mentari ternyata masih ada di apartemen. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mencoba memasang ekspresi tegas demi menjaga wibawanya sebagai seorang bos besar.
"Mentari, kamu dari mana?" tanya Bara yang bahkan tidak menyadari bahwa semalam Mentari tidak tidur dalam apartemen. Ia melangkah mendekati Mentari, mencoba mengambil kendali situasi. "Soal kejadian semalam di pesta peresmian, aku ingin kita bicara serius."
Mentari tetap bergeming. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lurus ke arah mata Bara dengan tatapan yang membuat sang pemuda mendadak merasa ciut di dalam hatinya.
"Semua yang dikatakan Vanya memang benar," lanjut Bara, mengabaikan ketegangan di antara mereka dengan memasang senyum tipis. "Penampilanmu semalam sangat tidak cocok dengan lingkaran pergaulanku yang sekarang. Jadi jika kau terus berada di sana, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dan merusak citra perusahaanku."
Mentari masih bergeming, tetapi senyum miring tercetak di sudut bibirnya mendengar kata-kata Bara yang begitu arogan. Apa pria itu lupa, tiga tahun lalu dirinya hanya seorang karyawan kecil yang jangankan modal usaha, bahkan tinggal saja di rumah kontrakan sempit? Apa pria itu pikir semua kemewahan yang saat ini dimilikinya adalah hasil jerih payahnya sendiri?
"Karena itu," Bara melanjutkan dengan nada yang semakin menggurui. "Lain kali, jika ada acara besar perusahaan seperti itu, lebih baik kau tidak usah datang. Kau cukup tinggal di rumah dan menikmati fasilitas yang sudah kuberikan."
Mentari menarik napas perlahan, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh pria yang kini telah berubah wujud menjadi sosok asing yang memuakkan.
Namun ternyata Bara tidak berhenti sampai di situ. Ia melangkah lebih dekat, menepuk pundak Mentari dengan sikap meremehkan. "Dan satu lagi... lebih baik hari ini kamu tidak usah datang ke perusahaan. Aku tidak mau kamu mendengar semua orang membicarakan penampilanmu semalam. Nanti saja kalau suasana sudah reda baru kamu kembali ke kantor seperti biasa. Soal ijinmu, biar nanti aku yang mengurusnya.”
Mendengar setiap kata-kata Bara yang terdengar konyol itu, Mentari tidak lagi bisa menahan tawanya. Bukan karena lucu, melainkan karena kebodohannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menyembunyikan identitasnya hanya agar Bara tidak merasa kecil hati. Tapi setelah sukses, sekarang dengan sombongnya Bara melarang dirinya untuk datang ke perusahaan yang setiap rupiah modalnya adalah miliknya, dan bahkan setiap mitra yang bekerja sama berasal dari koneksi miliknya.
Mentari menepis tangan Bara dari pundaknya lalu menatap lurus ke dalam bola mata Bara, membuat pemuda itu mendadak menelan ludah karena terkejut oleh aura intimidasi yang mendadak terpancar dari sorot mata gadis itu.
"Kau selesai berbicara?" tanya Mentari dengan suara rendah, tenang, namun mengandung kekuatan mutlak yang membuat udara di dalam ruangan terasa menipis.
Bara mengerutkan keningnya, merasa tersinggung dengan nada bicara Mentari yang tidak biasa. "Mentari! Apa-apaan sikapmu itu? Aku sedang menasehatimu demi kebaikan hubungan kita dan masa depan karierku! Jangan membangkang!"
Mentari tidak menjawab omelan itu. Ia membalikkan tubuhnya begitu saja, mengabaikan keberadaan Bara, lalu berjalan melewati mantan kekasihnya masuk ke dalam kamar yang ia tempati sejak Bara berhasil membelinya setahun lalu.
Bara mendengus kesal, menatap punggung Mentari yang perlahan menjauh dengan perasaan jengkel. "Wanita keras kepala!" gerutunya dalam hati. Padahal ia menyuruh Mentari untuk tidak masuk kerja sementara ini juga untuk kebaikan Mentari sendiri.
Tak lama kemudian Mentari keluar dari kamar itu dengan tas laptop di tangan.
"Kamu mau ke mana?” tanya Bara dengan kening berkerut. "Sudah aku bilang tidak usah masuk kerja hari ini!”
Mentari yang bersiap melangkah keluar menghentikan langkahnya lalu menatap datar ke arah Bara. “Kita putus!” ucapnya tegas. "Mulai hari ini tidak ada hubungan apapun di antara kita.”
Setelah berkata demikian, Mentari kembali membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan tegas meninggalkan bara yang berdiri terpaku di tempatnya.
Mulut Bara menganga mendengar ucapan Mentari dan merasa gadis itu masih merajuk. Pria itu pun kembali menghela nafas. "Ternyata benar yang dikatakan Vanya," gumamnya. "Mental Mentari terlalu lemah. Dia harus digembleng dulu biar bisa berdiri tegar seperti Vanya."
Bara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.
“Ah, sudahlah, biarkan saja dia menenangkan diri dulu. Nanti juga kalau sudah tidak marah dia akan kembali lagi. Memangnya dia mau ke mana selain ke sini?” ucap bara yang segera menyambar tas kerjanya. Ia harus segera berangkat ke perusahaannya untuk memimpin rapat direksi pertama dengan para investor elit.
*
Sementara itu di dalam mobil yang terparkir di basement apartemen, Mentari menempelkan ponselnya ke telinga.
"Bram," ucap Mentari dengan suara dingin yang penuh kekuasaan. "Apa semuanya sudah siap? Aku sudah tidak sabar melihat pemuda bodoh itu merasakan akibat nyata dari keangkuhannya sendiri."
"Semua sudah siap, Nona Mentari. Semua sistem sudah siap dieksekusi hanya tinggal menunggu detik-detik terakhir," jawab Bram dari ujung telepon dengan nada penuh kepatuhan.
Mentari menutup sambungan telepon setelah mendengar jawaban dari Bram, lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sinar matahari pagi menembus kaca mobil menyinari wajahnya yang memancarkan ketegasan mutlak.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣