Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setibanya di apartemen mewah Adelia, pintu dibanting dengan sangat keras dari dalam. Arga melempar kunci mobilnya ke atas meja kaca, napasnya masih memburu menahan amarah yang sejak dari butik belum juga reda. Di belakangnya, Adelia menyusul dengan langkah menghentak, wajahnya merah padam.
"Kamu pikir kamu lagi apa tadi di butik, hah?!" jerit Adelia histeris, melemparkan tas mewahnya ke sembarang arah. "Kamu mempermalukan aku di depan Reta! Di depan perempuan kampung itu!"
Arga berbalik cepat, menatap Adelia dengan sorot mata yang tajam dan dingin. "Yang mempermalukan dirimu sendiri itu kamu, Adel! Bukan aku!"
"Aku?!" Adelia menunjuk hidungnya sendiri dengan tak percaya. "Aku cuma kasih dia pelajaran! Biar dia tahu diri posisinya di mana! Dia itu cuma pelayan, dan aku pacar kamu!"
"Nisa bukan pelayan kamu!" bentak Arga, suaranya menggelegar memantul di dinding apartemen. "Dia itu istri sahku! Dan kamu menyuruhnya berjongkok membuka sepatumu? Di mana otak kamu, Adel?!"
Dada Adelia naik turun dengan cepat. Matanya melotot tajam. "Oh, jadi sekarang kamu belain dia? Kamu kasihan sama perempuan gatal itu?! Kalau bukan karena dia muncul dan mau aja dinikahin sama kamu, kita udah nikah dari dulu, Mas! Dia pantas dapat perlakuan kayak tadi!"
"Nisa nggak salah!" Arga membalas tak kalah keras, membela Nisa tanpa sadar. "Pernikahan ini bukan kemauannya! Dia sama seperti aku, terjepit! Kami berdua nggak bisa melawan kehendak orang tua! Nisa bukan perempuan gatal yang sengaja merebut aku dari kamu, Adel!"
"Tapi kenyataannya dia tetap aja nikah sama kamu!" jerit Adelia, air matanya mulai mengalir bercampur amarah. "Dia tidur di rumah kamu! Dia pakai uang kamu! Kamu pikir aku nggak cemburu?! Aku cemburu, Mas! Aku benci lihat dia berlagak suci padahal dia cuma benalu di hubungan kita!"
"Sudah kubilang dia bukan perempuan seperti yang kamu pikirkan!" Arga mengusap wajahnya dengan kasar. "Selama satu tahun ini dia nggak pernah menuntut apa-apa dari aku! Bahkan setelah rumah keluarganya disita, dia nggak pernah meminta uang sepeser pun dari aku! Dia lebih milih kerja keras daripada ngemis!"
Mendengar Arga terus-menerus memuji Nisa, kewarasan Adelia mendadak putus.
"Arghhhh!"
Adelia menjerit frustrasi. Tangannya dengan beringas menyapu bersih isi meja kaca. Vas bunga, asbak, dan tumpukan majalah berjatuhan ke lantai menimbulkan suara pecahan yang memekakkan telinga.
Arga tersentak mundur, terkejut melihat Adelia yang benar-benar kehilangan kendali.
Belum sempat Arga menenangkan kekasihnya, Adelia berlari ke arah dapur. Wanita itu menyambar sebuah pisau buah bergerigi tajam dari atas pantry, lalu kembali ke ruang tengah dengan napas tersengal-sengal. Tanpa ragu, Adelia menempelkan bilah pisau yang dingin itu tepat di leher jenjangnya.
"Adelia! Jangan gila!" seru Arga panik. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, mencoba menahan langkah wanita itu.
"Aku nggak gila, Mas!" Adelia menangis terisak, menatap Arga dengan pandangan putus asa. "Kamu yang bikin aku gila! Kamu pelan-pelan udah jatuh cinta sama Nisa, kan?! Kamu mau batalin cerai sama dia, kan?!"
"Del, turunkan pisau itu! Kita bisa bicara baik-baik!" bujuk Arga dengan suara bergetar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Nggak mau!" Adelia menekan bilah pisau itu lebih kuat hingga segaris darah tipis muncul di kulit lehernya. "Dengar aku baik-baik, Mas! Kalau kamu nggak masukin gugatan cerai ke pengadilan dalam tiga hari ini... lebih baik aku mati di depan matamu sekarang juga!"
"Adelia, tolong jangan gegabah! Kumohon!" Arga maju selangkah, namun Adelia malah mundur dan semakin menekan pisaunya.
"Tiga hari, Mas!" Adelia menjerit putus asa. "Tiga hari atau kamu lihat aku mati bawa bayi kita?!"
Langkah Arga terhenti seketika. "Ba... bayi?"
"Iya! Aku hamil, Mas!" tangis Adelia pecah. Ia menatap Arga dengan air mata berlinang. "Tiga minggu lalu aku cek, aku positif. Aku belum kasih tahu kamu karena aku nunggu waktu yang tepat. Tapi sekarang... kalau anak ini harus lahir tanpa status ayah yang jelas karena kamu masih terikat sama Nisa, mending kami berdua mati aja!"
Dunia Arga serasa berhenti berputar. Udara di sekitarnya tersedot habis. Adelia... hamil? Adelia mengandung darah dagingnya?
Pertahanan Arga runtuh seketika. Ia tidak bisa membiarkan Adelia melukai dirinya sendiri, apalagi dengan nyawa baru yang ada di dalam rahim wanita itu.
Arga mengembuskan napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Baik... baik, Adel. Turunkan pisau itu," ucapnya dengan suara parau, mengalah sepenuhnya pada keadaan.
Adelia masih menatapnya curiga. "Kamu janji?"
"Iya, aku janji," ulang Arga lambat-lambat, meski hatinya terasa ditikam ribuan jarum kasatmata. "Dalam tiga hari... aku akan serahkan berkas itu ke pengadilan. Aku janji. Tolong, jatuhkan pisau itu."
Mendengar janji Arga, ketegangan di bahu Adelia seketika mengendur. Ia menjatuhkan pisau buah itu hingga bergemerincing menabrak lantai kayu. Sambil terisak lega, Adelia berlari menghampiri Arga dan menabrakkan tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.
"Makasih, Mas... hiks... aku sayang banget sama kamu..." gumam Adelia di dada Arga.
Arga balas memeluk Adelia dengan kaku. Tangannya menepuk punggung kekasihnya, namun tatapannya kosong menembus dinding apartemen. Ia mendapatkan apa yang Adelia inginkan. Ia akan menceraikan Nisa dalam tiga hari. Namun anehnya, di saat tujuannya tercapai, pria itu justru merasa jiwanya baru saja mati.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga