NovelToon NovelToon
Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Nina1708

Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boneka Kecil

Happy Reading

❤❤❤❤❤❤❤

Keesokan hari nya, Tuan Herman mengajak Queen sarapan di taman. Seperti biasa, Tuan Herman bersikap seperti paman yang paling penyayang di dunia.

"Queen, Paman sudah bilang ke Dewan Keluarga kalau kau akan mewarisi 30 persen saham perusahaan Alessandro yang dulu milik ayah mu. Paman akan mengelola nya sementara sampai kau cukup umur, 25 tahun," kata Tuan Herman sambil menuangkan teh.

Queen hampir melempar cangkir teh itu ke wajah Vito. 30 persen saham! Ayah nya dulu memegang 60 persen. Kemana 30 persen lain nya? Pasti di ambil Tuan Herman secara ilegal setelah kematian ayah nya.

"Terima kasih, Paman. Paman baik sekali," kata Queen manis. "Tapi Paman tidak perlu repot. Aku tidak butuh uang. Aku cuma ingin belajar bisnis dari Paman. Biar aku bisa bantu Paman."Ujar Queen.

Mata Tuan Herman berbinar. "Benarkah? Kau mau belajar?" Tanya Tuan Herman.

"Ya. Mulai hari ini, boleh aku ikut Paman ke kantor? Boleh aku lihat arsip-arsip lama Ayah? Aku kangen Ayah," kata Queen dengan mata berkaca-kaca. Akting nya sempurna. Bahkan Ibu Rita yang melihat ikut terharu.

Tuan Herman langsung luluh. "Tentu saja! Paman akan ajari kau semua nya. Kau adalah darah Alessandro. Kau berhak tahu semua nya." Jawab Tuan Herman.

Itulah yang di tunggu Queen. Kesempatan untuk masuk ke kantor Tuan Herman, ke ruang arsip nya, ke brankas nya.

Siang itu, Tuan Herman membawa Queen ke kantor nya di pusat kota. Gedung tinggi 30 lantai dengan logo Alessandro Group. Di lantai 28 adalah ruang kerja Tuan Herman. Ruangan nya sangat besar, lebih besar dari ruang kerja ayah Queen dulu.

"Paman, ini kantor Ayah dulu, kan?" tanya Queen saat masuk lift.

Tuan Herman tersenyum kaku. "Dulu iya. Tapi Paman sudah renovasi total. Biar tidak ada kenangan sedih." Jawab Tuan Herman.

Lift terbuka. Queen melangkah masuk. Ruangan itu dingin, penuh marmer hitam dan kaca. Di dinding tergantung lukisan kapal perang kuno. Di meja kerja Tuan Herman ada dua monitor besar dan sebuah laptop hitam yang selalu dia bawa kemana-mana.

"Queen, kau tunggu di sini dulu. Paman ada meeting 30 menit dengan Dewan. Jangan sentuh apa-apa ya, sayang," kata Tuan Herman sambil merapikan dasi nya.

Setelah tuan Herman pergi, Queen langsung bergerak. Dia tahu dia hanya punya 30 menit.

Dia pertama-tama memeriksa laci meja Tuan Herman. Semua terkunci. Dia memeriksa brankas di balik lukisan kapal. Terkunci dengan sidik jari. Dia tidak bisa membuka nya.

Lalu mata nya tertuju pada laptop hitam Tuan Herman. Laptop itu tidak di matikan, hanya dalam mode sleep. Queen menggerakkan mouse. Layar menyala. Ternyata tidak ada password. Tuan Herman terlalu percaya diri karena ruangan nya selalu di kunci.

Queen membuka file-file terbaru. Ada folder bernama "Project Phoenix". Queen mengkliknya. Di dalam nya ada puluhan dokumen: daftar nama anggota Dewan, jadwal pengiriman senjata, kontrak pelabuhan, dan satu file video berjudul "Villa Fire - 15 Years Ago - Do Not Delete".

Tangan Queen gemetar. Itu dia. Rekaman malam kebakaran vila orang tua nya.

Dia mengklik video itu. Layar hitam sesaat, lalu muncul gambar vila dari kamera keamanan. Jam menunjukkan 23.00. Tiba-tiba layar menjadi hitam. Kamera di matikan. 10 menit kemudian, kamera menyala lagi. Api sudah membesar. Orang-orang bertopeng masuk lewat gerbang utama.

Queen memperbesar video. Di gerbang utama, ada satu sosok yang membuka gerbang. Sosok itu mengenakan topi dan masker, tapi postur tubuhnya... Queen mengenal postur itu. Itu Marco. Ya, itu Marco yang membuka gerbang seperti yang sudah dia akui.

Tapi kemudian, 5 menit setelah api berkobar, muncul satu mobil hitam yang datang dari arah belakang vila. Dari mobil itu keluar seorang pria berjas mahal. Pria itu tidak memakai masker. Dia berdiri di depan vila, menonton api membakar, sambil menelepon seseorang dan tersenyum.

Queen memperbesar wajah pria itu. Wajah itu... wajah Tuan Herman Adijaya. Paman baik nya.

Tuan Herman yang menonton rumah kakak nya terbakar sambil tersenyum.

Air mata Queen jatuh tanpa bisa dia tahan. Selama ini dia pikir Tuan Herman hanya dalang di balik layar. Ternyata Tuan Herman datang langsung malam itu. Tuan Herman melihat langsung orang tua nya mati terbakar.

Queen segera menyalin video itu ke flashdisk kecil yang sudah dia siapkan di dalam BH nya. 99 persen. 100 persen. Berhasil.

Tepat saat Queen mencabut flashdisk, pintu ruang kerja terbuka. Tuan Herman masuk lebih awal dari jadwal.

"Queen? Kamu ngapain di laptop Paman?" tanya Vito, wajah nya berubah tegang.

Queen dengan cepat menyembunyikan flashdisk di tangan nya dan menjawab dengan polos, "Aku bosan, Paman. Aku cuma lihat-lihat wallpaper laptop Paman. Keren. Foto kapal perang." Jawab Queen.

Tuan Herman menatap Queen tajam selama 5 detik. Lalu dia berjalan ke meja nya, memeriksa laptop nya. Melihat tidak ada yang berubah, dia tersenyum lagi.

"Oh, itu. Iya, kapal kesukaan kakek kita dulu. Kau suka? Nanti Paman ceritakan sejarah keluarga kita," kata tuan Herman.

Queen mengangguk. "Mau, Paman." Jawab Queen dengan wajah polos nya.

Dalam perjalanan pulang, tuan Herman tiba-tiba berkata, "Queen, Paman mau tanya. Kau masih percaya sama Marco, kan? Marco itu setia. Dia jaga kau 15 tahun. Paman juga percaya sama dia."

Queen menoleh. "Kenapa Paman tanya soal Marco?" Tanya Queen.

"Tidak apa-apa. Paman cuma tes saja. Soal nya Paman dengar kabar kalau Marco akhir-akhir ini sering bertemu dengan Lucas, anak keluarga rival kita. Paman takut Marco mengkhianati kita," Jawab tuan Herman santai, tapi mata nya mengawasi reaksi Queen.

Queen pura-pura terkejut. "Apa? Marco ketemu Lucas? Paman, aku tidak tahu. Aku akan tanya Marco nanti." Ujar Queen.

Bagus. Jadi Tuan Herman sudah tahu kalau Marco dan Lucas bertemu. Artinya, Tuan Herman sudah mengawasi mereka semua. Queen harus lebih hati-hati.

Malam itu, Queen mengirim pesan terenkripsi ke Lucas lewat handphone cadangan.

💌"Aku dapat video nya. Herman ada di TKP malam itu. Dia tersenyum. Kirim backup ke email aman. Aku butuh kau sekarang."

Balasan Lucas datang 10 menit kemudian.

💌" Aku di depan gerbang belakang rumah Tuan Herman. Aku bawa tim. Kalau ada apa-apa, aku masuk."

💌"Jangan. Belum waktu nya. Herman masih curiga. Tunggu aku bilang 'boneka sudah jatuh'." Balas Queen.

💌"Hati-hati, Queen. Aku sayang kamu."

Queen menatap layar handphone itu lama. Lucas. Satu-satu nya orang yang tulus pada nya di dunia yang penuh kebohongan ini.

Tiba-tiba, pintu kamar nya di ketuk. Ibu Rita masuk dengan nampan berisi susu hangat.

"Nona, Tuan Herman menyuruh saya bawakan ini. Kata nya, biar Nona tidur nyenyak," kata Ibu Rita.

Queen menerima susu itu. Tapi dia tidak langsung minum. Dia mencium nya dulu. Ada bau aneh. Bau obat tidur.

Queen tersenyum. Jadi Tuan Herman mulai bergerak. Dia ingin Queen tidur lelap malam ini agar dia bisa menggeledah barang-barang Queen.

Setelah Ibu Rita pergi, Queen menuangkan susu itu ke tanaman di balkon. Tanaman itu langsung layu dalam 5 menit.

Queen lalu berpura-pura tidur. Dia berbaring di tempat tidur, napas teratur, mata terpejam.

Jam 1 pagi, suara pintu terbuka lagi. Kali ini, dua orang masuk. Mereka menyalakan lampu senter kecil dan mulai menggeledah koper Queen, laci meja, bahkan di bawah kasur. Queen tetap diam. Dia mendengar mereka menemukan sesuatu.

"Nona, apa ini?" bisik salah satu anak buah tuan Herman. Suara nya adalah anak buah kepercayaan Tuan Herman bernama Cristine.

"Ini flashdisk kosong," Sahut Cristine. "Dan ini pistol kecil. Haruskah kita lapor ke tuan Herman?" Ujar Cristine.

Teman nya menjawab, "Jangan. Tuan Herman bilang, kalau Nona punya pistol, jangan di rampas. Biar dia yang tahu Nona masih menyimpan senjata. Biar dia tahu Nona masih berbahaya. Dia mau Nona tetap merasa aman dengan pistol itu, padahal pistol itu sudah kita ganti peluru nya dengan peluru kosong."

Dunia Queen runtuh lagi. Pistol nya sudah di ganti peluru kosong. Tuan Herman tahu dia punya pistol. Tuan Herman membiarkan nya punya pistol yang tidak berfungsi.

Mereka pergi. Queen membuka mata. Dia mengambil pistol nya dari bawah bantal. Dia memeriksa magasin nya. Benar. Semua peluru berwarna perak, tapi ujung nya tumpul. Peluru kosong.

Queen tertawa kecil dalam gelap. "Paman, kau pikir kau lebih pintar dari ku? Kau pikir aku akan bawa pistol asli ke rumah mu?" Ujar Queen.

Ternyata, pistol yang di geledah itu adalah pistol palsu yang sengaja di siapkan Marco. Pistol asli Queen sudah dia sembunyikan di dalam lubang ventilasi kamar mandi, di bungkus plastik dan lakban, tempat yang tidak akan pernah terpikirkan oleh anak buah tuan Herman.

Dan flashdisk berisi video pembunuhan orang tua nya itu sudah dia kirim ke email Lucas 2 jam sebelum nya, sebelum tuan Herman menggeledah kamar nya. Jadi kalau tuan Herman merebut flashdisk palsu itu, tuan Herman tidak akan dapat apa-apa.

Queen menatap langit-langit kamar ibu nya. "Mama, Papa, lihat. Aku baik-baik saja. Aku sudah masuk ke rumah iblis itu. Dan aku akan keluar sebagai ratu." Ujar Queen.

Tiba-tiba, handphone cadangan nya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal.

💌" Queen, ini Herman. Aku tahu kau tidak tidur. Aku tahu kau berpura-pura. Aku tahu kau sudah ambil sesuatu dari laptop ku. Boneka kecil ku, permainan kita baru saja di mulai."

Queen terkejut. Tuan Herman tahu? Bagaimana Tuan Herman bisa tahu?

Queen mengetik balasan dengan tangan gemetar.

💌"Paman salah orang."

Balasan Tuan Herman datang secepat kilat.

💌Kalau aku salah orang, kenapa kau tidak minum susu yang ku bawakan? Tanaman di balkon mu kenapa layu, Queen?"

Queen menoleh ke balkon. Tanaman layu itu terlihat jelas dari jendela kamar tuan Herman yang tepat berada di seberang.

Queen terjebak. Tuan Herman sudah tahu. Tapi tuan Herman belum menangkap nya. Tuan Herman masih bermain.

Queen mengetik balasan terakhir:

💌"Kalau begitu, Paman, selamat bermain. Aku tidak sabar melihat topeng Paman jatuh di depan semua orang."

Dia mematikan handphone itu, melempar nya ke lantai, dan menginjak nya sampai hancur.

Malam itu, untuk pertama kali nya sejak 15 tahun, Queen tidur tanpa takut. Karena topeng nya sudah jatuh. Dan topeng tuan Herman juga akan segera jatuh. Perang sesungguh nya baru akan di mulai.

*********

Happy Reading Guys. 🤗🥰

1
🙈
karyanya bagus banget 😍
🙈
semangat nulisnya kak, 🤭, yokk intip karyaku kak 🤭, like komen yukk🤭
🙈: aman kak, yok nilai punya ku bestie,😋
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!