Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Rian memandang ke arah beberapa tas milik ibunya yang masih tergeletak di dekat pintu. Dia kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh rumah, seolah baru menyadari bahwa tidak ada lagi ruang kosong yang bisa digunakan.
"Di sini sudah tidak ada kamar kosong lagi, Bu. Kamar Kayla sudah dipakai Lukman," ucap Rian akhirnya.
Rukmini terdiam sebentar. Matanya menyapu ruang tengah, lalu berhenti pada sofa panjang yang berada di dekat jendela. "Kalau begitu, Ibu tidur di ruang tengah saja. Tidak jadi masalah kok," jawabnya santai.
Rian langsung terlihat tidak enak hati. "Di ruang tengah, Bu?"
"Iya. Kenapa? Memangnya Ibu tidak boleh tidur di sana?"
"Bukan begitu. Tapi nanti tidak nyaman."
Rukmini mengibaskan tangannya."Sudahlah. Ibu sudah biasa hidup sederhana. Yang penting Ibu bisa tinggal dekat dengan anak-anak Ibu."
Mia yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas panjang. Dia menatap ruang tengah yang kini sudah jauh berbeda dari sebelumnya.
Dulu ruangan itu selalu menjadi tempat favoritnya. Sofa tertata rapi, meja bersih tanpa barang berserakan, lantai selalu mengilap, dan tidak pernah ada tumpukan tas atau pakaian di sudut ruangan.
Sekarang? Semuanya berubah.
Beberapa barang milik Lukman dan Sonya berserakan. Mainan Janu ada di berbagai sudut. Botol susu tergeletak di atas meja. Selimut dan bantal kadang dibiarkan begitu saja di sofa.Bahkan ruang tengah yang dulu terasa lapang kini terlihat sempit karena terlalu banyak barang.
Mia mengembuskan napas perlahan.
Bukan hanya ruang tengah yang berubah. Dapur juga tidak pernah lagi benar-benar bersih. Piring kotor sering menumpuk di wastafel. Sisa makanan terkadang dibiarkan terlalu lama. Barang-barang milik orang lain mulai memenuhi beberapa sudut rumah.
Dan sekarang Rukmini akan tidur di ruang tengah.
Mia memejamkan mata sesaat.
Rumah yang dulu bersih dan rapi, perlahan berubah menjadi rumah yang terasa asing baginya.
"Ibu benar-benar tidak masalah tidur di sini?" tanya Rian sekali lagi.
Rukmini tersenyum. "Tidak masalah. Ibu tidak ingin merepotkan kalian."
Mia hampir tertawa mendengar kalimat itu.
Tidak ingin merepotkan? Justru sejak kedatangan mereka, Mia merasa dirinya semakin repot, tidak memiliki ruang untuk bernapas. Namun dia memilih menelan semua perkataan yang sudah berada di ujung lidahnya.
Rian kemudian mengambil salah satu tas milik ibunya."Baiklah, Bu. Nanti aku bantu menata barang-barang Ibu."
"Taruh saja di ruang tengah dulu."
Rian mengangguk. Dia membawa tas tersebut ke dalam. Mia memperhatikan suaminya tanpa ekspresi.
Tidak lama kemudian, tas-tas Rukmini mulai memenuhi sudut ruangan. Satu demi satu barang dikeluarkan. Sebuah rak plastik kecil yang dibawa Rukmini ikut diletakkan di dekat sofa.
Mia hanya berdiri sambil menatap semua itu. Dadanya terasa sesak.
"Mi," panggil Rian.
Mia menoleh.
"Nanti tolong bantu Ibu kalau ada yang kurang, ya."
Mia menatap suaminya beberapa detik."Bantu?" tanya Mia keberatan.
"Iya."
Mia mengangguk pelan. "Iya." Hanya itu jawabannya. Namun di dalam hati, ada sesuatu yang mulai retak.
Selama ini Mia selalu berusaha menjadi istri yang sabar. Dia menerima keberadaan Lukman dan Sonya meskipun sejak awal dirinya tidak pernah benar-benar nyaman.
Dia juga mencoba memahami Rian yang merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya. Tetapi sekarang ibunya datang dan ikut tinggal di rumah mereka.
Mia mulai bertanya-tanya, apakah rumah tangganya masih memiliki ruang untuk dirinya sendiri?
Dia berjalan menuju dapur. Begitu masuk, Mia kembali melihat pemandangan yang membuatnya ingin menangis.
Piring kotor kembali menumpuk. Gelas-gelas bekas minum tergeletak di meja. Beberapa bungkus makanan ringan berserakan.
Mia menatap semuanya dengan tatapan kosong.
Tangannya mengepal perlahan. Dia kemudian memandang ke arah ruang tengah.
Suara Rukmini dan Rian terdengar sedang berbicara. Dari kamar Kayla, terdengar pula suara Sonya menenangkan Janu yang sedang rewel. Tidak lama kemudian terdengar suara Lukman tertawa dari dalam kamar.
Mia berdiri sendirian di dapur. Tidak ada yang bertanya apakah dia lelah. Tidak ada yang bertanya apakah dia keberatan. Tidak ada yang peduli bahwa sejak pagi dia sudah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah.
Semuanya hanya datang, tinggal, makan, menggunakan fasilitas rumah, lalu meninggalkan pekerjaan untuknya.
Mia menunduk. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia segera mengusapnya.
"Ini rumahku bukan rumah mereka" bisiknya lirih.
Kalimat itu terdengar begitu kecil. Namun untuk pertama kalinya, Mia menyadari sesuatu. Dia tidak boleh terus membiarkan dirinya dianggap sebagai orang yang selalu bisa mengurus semuanya. Jika keadaan ini terus dibiarkan, suatu hari nanti rumah yang seharusnya menjadi tempat dia beristirahat justru akan menjadi tempat yang paling membuatnya tertekan.
Mia kembali melihat ke arah ruang tengah. Dulu dia begitu bangga dengan rumah itu. Kini dia bahkan tidak mengenalinya lagi.
Mia menarik napas panjang."Entah sampai kapan aku harus bertahan seperti ini..."
Dia kemudian mengambil spons dan mulai mencuci piring yang menumpuk. Namun kali ini, setiap gerakan tangannya terasa berbeda.
Bukan lagi sekadar lelah. Ada kekecewaan yang semakin dalam. Dan di dalam hati Mia, sebuah keputusan perlahan mulai terbentuk.
Jika Rian terus memilih keluarganya dibanding dirinya, mungkin suatu hari nanti Mia harus memilih dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut. Setelah seluruh pekerjaan rumah selesai, Mia akhirnya masuk ke kamar bersama Rian. Tubuhnya terasa begitu lelah, tetapi pikirannya justru semakin penuh.
Rian sudah berbaring di atas kasur, sementara Mia duduk di tepi ranjang. Ia menatap kosong ke arah lantai, memikirkan semua yang terjadi hari ini.
Kedatangan Rukmini membuat keadaan semakin rumit. Sekarang bukan hanya kebutuhan Lukman, Sonya, dan Janu yang harus mereka pikirkan, tetapi juga kebutuhan ibu Rian.
Mia akhirnya menarik napas panjang. "Sepertinya aku harus bekerja lagi." ucap Mia.
Rian yang sedang membenarkan posisi bantal langsung menoleh. "Kerja lagi?"
Mia mengangguk pelan. "Uangmu nggak akan cukup untuk menghidupi kita... dan mereka."
Rian terdiam. Dia tahu apa yang dimaksud Mia. Selama ini sebagian besar penghasilannya memang terserap untuk kebutuhan keluarga. Lukman belum bekerja, Sonya lebih banyak mengurus Janu, sementara sekarang sang ibu juga ikut tinggal bersama mereka.
Rian mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Tidak usah. Biar aku cari pekerjaan tambahan saja."
Mia menoleh."Kamu sudah kerja dari pagi sampai sore." ucap Mia tidak setuju.
"Nanti aku bisa ambil lembur."
"Nanti kamu kelelahan."
Rian tersenyum tipis. "Tidak apa-apa."
Mia kembali menghela napas. "Kamu selalu bilang tidak apa-apa. Padahal aku tahu kamu capek," lanjut Mia. "Aku bisa lihat dari wajahmu setiap hari."
Rian menunduk.
Mia kemudian bergeser sedikit lebih dekat. "Memangnya kamu tidak bisa bilang sama Lukman lagi? Coba kamu bilang di depan Ibu. Biar Ibu ikut menegur Lukman juga. Setidaknya Lukman tahu kalau dia harus mulai mencari pekerjaan dan membantu kebutuhan rumah."
Rian tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Akhirnya dia menggeleng pelan. "Nggak bisa, sayang"
"Kenapa?"
Rian menarik napas. "Kamu tahu sendiri sifat Ibu. Ibu pasti membela Lukman," lanjut Rian. "Kalau aku bilang Lukman harus bekerja, Ibu pasti bilang aku sebagai kakak harus membantu adik."
Mia menatap suaminya dengan kecewa. "Jadi kamu takut?" tanya Mia.
Rian tersenyum pahit. "Bukan takut."
"Terus?" desaknya.
"Aku cuma nggak mau memperpanjang masalah."
Mia menggeleng perlahan. "Tapi masalahnya sudah ada, Rian." kata Mia geram.
Rian terdiam.
"Kalau kamu terus diam, siapa yang akan menyelesaikannya?"
Tidak ada jawaban. Mia menatap suaminya cukup lama. "Aku bukan tidak mau membantu keluargamu. Aku juga tidak keberatan kalau sesekali kita membantu. Tapi kalau semuanya menjadi tanggung jawabmu, sementara kita sendiri juga punya kebutuhan, sampai kapan bisa seperti ini?"
Rian menarik napas panjang. "Aku akan cari jalan keluarnya."
"Sendirian?" tanya Mia, tapi tidak ada jawaban dari Rian.
Mia kemudian berbaring dan membelakangi suaminya."Kalau kamu terus diam, mereka akan menganggap semuanya baik-baik saja."
Rian memandang punggung istrinya. Dia tahu Mia benar. Tetapi setiap kali hendak membicarakan masalah dengan keluarganya, keberaniannya selalu hilang. Terlebih lagi sekarang ibunya sudah berada di rumah mereka.
Rian takut satu perkataan saja bisa membuat ibunya marah.
Malam itu, keduanya akhirnya terdiam. Mia memejamkan mata, tetapi sulit untuk tidur. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar. Sampai kapan dirinya harus ikut menanggung beban keluarga suaminya?
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.