Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Dia Seorang Artis
Pagi di kampus selalu memiliki suasana yang sama.
Mahasiswa berlarian mengejar kelas. Beberapa duduk di kantin sambil mengeluh tentang tugas. Sebagian lainnya memilih tidur di sofa perpustakaan dengan jaket menutupi wajah karena semalam begadang.
Arka Pratama tidak sedang tidur, tetapi keadaannya tidak jauh lebih baik.
Ia duduk di salah satu meja perpustakaan dengan laptop menyala di hadapannya. Layar itu menampilkan dokumen Microsoft Word berjudul "BAB 4 - REVISI FINAL FIX (3)".
Kursor berkedip statis di akhir sebuah paragraf. Sudah lima menit. Tidak ada satu kata pun yang bertambah.
Arka menyandarkan punggungnya, memijat pangkal hidungnya pelan. "Kenapa nulis skripsi sesusah ini?"
Di depannya, Rendy mendadak muncul dan meletakkan dua gelas es kopi susu.
"Karena lu kebanyakan nunda."
Arka meliriknya datar. "Gue nggak nunda."
"Terus?"
"Gue sedang memberi waktu kepada otak untuk menginkubasi ide."
Rendy duduk di kursi seberangnya. "Itu bahasa akademis dari menunda, Arka."
Arka mengabaikan sindiran itu dan langsung mengambil kopinya. "Yang penting sekarang idenya lagi berkembang."
Rendy menggeleng pelan, menyeruput kopinya. "Lu tuh aneh ya. Lulus bentar lagi, tapi lu kalau ditanya mau kerja di mana, jawabannya selalu abu-abu."
"Belum tahu."
"Serius?"
"Iya."
"Padahal nilai lu bagus, koneksi dosen juga lu punya." Rendy mengernyit. "Maksudnya lu belum tahu tuh gimana?"
"Ya... pengin cari kerjaan biasa aja. Mulai dari bawah. Cari pengalaman."
Rendy tertawa renyah. "Lu emang paling aneh sekampus."
Arka hanya tersenyum tipis.
Ia tentu saja tidak mungkin menjelaskan alasan sebenarnya. Kalau Rendy tahu bahwa mahasiswa yang sedang frustrasi di depannya ini adalah putra tunggal pewaris takhta Skysea Group, percakapan mereka pasti akan langsung berubah canggung. Teman-temannya akan mulai melihatnya melalui lensa kekayaan. Dosen akan memperlakukannya berbeda.
Itulah yang selama ini mati-matian ingin Arka hindari. Ia hanya ingin membuktikan kepada dirinya sendiri, bahwa tanpa berlindung di balik nama besar Pratama, ia tetap seorang Arka yang bisa berdiri sendiri.
Arka menghela napas dan kembali menatap layar laptopnya.
Namun, konsentrasinya buyar ketika suara dari ponsel Rendy tiba-tiba terdengar cukup keras. Temannya itu sedang menonton sebuah tayangan infotainment.
"...Alya Renata kembali menjadi sorotan setelah tampil memukau di acara penghargaan film tadi malam..."
Arka berhenti mengetik. Tangannya menggantung di atas keyboard.
"Alya Renata?"
Rendy langsung mendongak. "Kenapa? Lu nge-fans?"
Arka menggeleng. "Nggak. Kayaknya gue pernah dengar namanya, tapi lupa di mana."
"Serius lu?"
"Iya."
Rendy menatapnya seperti baru saja melihat keajaiban dunia. "Bro, lu hidup di goa mana? Itu Alya Renata."
"Terus?"
"Lu beneran nggak tahu wajahnya?!"
Arka menggeleng santai.
Gemas, Rendy menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Arka. "Nih! Lihat. Dia aktris paling mahal sekarang."
Arka akhirnya menoleh.
Di layar ponsel Rendy terpampang sebuah foto resolusi tinggi. Seorang wanita mengenakan gaun malam yang sangat elegan sedang berpose di atas karpet merah. Kilatan blitz kamera menjadi latar belakangnya. Wajahnya terlihat begitu sempurna.
Arka membeku.
Bukan karena kagum dengan kecantikannya. Bukan juga karena terpesona dengan gaun mahalnya. Tapi karena mata dan lekuk wajah itu... ia mengenalinya.
"Sebentar."
Arka merebut ponsel Rendy. Ia mencubit layar untuk memperbesar foto tersebut, memfokuskan pada mata sang aktris.
Mata yang sama dengan wanita di minimarket semalam.
Mata yang sama dengan wanita yang memakai masker medis, topi bisbol, dan jaket kedodoran siang tadi. Bedanya, wanita di foto ini memiliki riasan sempurna, sementara yang ditemuinya nyaris seperti buronan.
Arka terdiam selama beberapa detik.
"Oh."
Rendy tertawa. "Baru nyadar lu betapa cantiknya dia?"
Arka mengembalikan ponsel itu ke atas meja. "Dia perempuan yang kemarin dan tadi."
Rendy mengerutkan dahi. "Yang kemarin dan tadi siapa maksud lu?"
"Perempuan di minimarket yang gue ceritain tadi pagi."
Rendy langsung mematung. Matanya membelalak menatap Arka. "Lu... lu kemarin ketemu Alya Renata?!"
Arka mengangkat bahu, mulai mengetik di laptopnya lagi. "Kayaknya iya."
"Kayaknya?!"
"Ya, matanya persis. Gue yakin itu dia."
Rendy nyaris menjatuhkan es kopinya. "Bentar, bentar. Lu beneran ngomong sama dia?"
"Iya."
"Minta foto?!"
"Nggak."
"Tanda tangan?!"
"Nggak, Ren."
"Lu beneran nggak tahu kalau dia artis pas ketemu?!"
"Gue aja ngira dia orang aneh yang mau maling di minimarket."
Rendy memijat pelipisnya, seolah tensi darahnya baru saja naik. "Terus lu ngapain aja pas ketemu dia, hah?"
Arka menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Minjemin payung. Terus siang tadi gue ngambil dompet yang ketinggalan, dan dia nuduh gue nguntitin dia."
Rendy menatap Arka dengan mulut setengah terbuka. Kemudian, ia tertawa terbahak-bahak sampai beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh marah.
"Gila! Asli lu gila, Ka!"
"Apanya yang gila?"
"Lu ketemu aktris A list—bintang papan atas Indonesia—terus yang lu lakuin cuma minjemin payung dan dituduh nguntit?!" Rendy menggeleng tak percaya. "Minimal lu minta foto kek buat flexing!"
"Buat apa?"
Pertanyaan santai Arka membuat Rendy terdiam. "Ya... buat dipamerin di Instagram?"
Arka mengetik titik di akhir kalimatnya, lalu menatap Rendy. "Ribet. Lagian dia cuma mau beli air, bukan lagi jumpa fans."
Rendy kehabisan kata-kata. Ia menepuk meja pelan. "Lu memang beda, Ka. Kalau ada penghargaan manusia paling cuek se-Indonesia, pialanya buat lu."
Arka hanya tertawa kecil.
Bagi Arka, fakta bahwa wanita yang ditemuinya ternyata adalah aktris terkenal tidak mengubah pandangannya sama sekali. Semalam, wanita itu hanyalah seseorang yang kedinginan dan butuh payung. Tadi siang, wanita itu hanyalah orang asing yang canggung. Sekarang ia tahu profesi dan namanya. Selesai. Tidak ada yang spesial.
Arka kembali fokus pada skripsinya.
Namun, di sisi lain kota, seseorang justru sama sekali tidak bisa bersikap santai.
Alya duduk di kursi rias ruang tunggu khusus untuknya di lokasi syuting. Di depannya terdapat naskah skenario yang dijepit dengan penjepit kertas.
Namun, sejak lima belas menit yang lalu, ia masih menatap halaman yang sama.
"Alya."
Suara Mbak Rini, manajernya, membuyarkan lamunan.
"Ya, Mbak?"
"Dialog scene tujuh belas sudah dihafal? Bentar lagi take lho."
Alya melihat ke arah naskahnya, tersenyum kecil. "Oh, sudah."
Mbak Rini menatapnya dengan curiga dari pantulan cermin. "Yakin? Dari tadi halamannya nggak dibalik."
Alya mengangguk meyakinkan. "Yakin, Mbak. Tenang aja."
Sang manajer hanya geleng-geleng lalu keluar ruangan untuk mengurus properti.
Alya kembali menatap naskahnya. Namun, deretan huruf di sana tidak ada yang masuk ke otaknya. Pikirannya justru terus kembali pada kejadian kemarin malam dan siang tadi.
Mahasiswa itu. Payungnya. Minimarket. Dompet yang tertinggal. Dan tuduhan konyol soal buronan.
Alya menutup wajahnya dengan sebelah tangan dan tersenyum kecil. "Dia benar-benar nggak tahu gue siapa."
Seorang makeup artist yang sedang merapikan palet bedak di meja mendengar gumaman pelan itu. "Nggak tahu apa, Kak Alya?"
Alya langsung menurunkan tangannya dan menggeleng. "Nggak ada, Mba."
Sambil menunggu take, Alya membuka ponselnya. Namanya kembali trending di media sosial. Berbagai akun gosip dan portal berita hiburan mengunggah foto-fotonya dari acara penghargaan semalam.
Pujian soal gaunnya, analisis riasannya, spekulasi tentang proyek berikutnya... semua orang seolah berlomba-lomba membicarakannya.
Alya menghela napas panjang. Mengunci layar ponselnya.
Begitulah rutinitas hidupnya. Jutaan orang mengenal wajahnya, menyebut namanya, bahkan merasa paling tahu tentang kehidupannya. Namun, sebagian besar dari mereka hanya mencintai persona sang bintang, bukan Alya sebagai manusia biasa.
Tiba-tiba, wajah datar mahasiswa minimarket itu melintas di kepalanya. Mahasiswa yang bahkan tidak berkedip dua kali melihat wajahnya.
"Mungkin itu sebabnya..."
"Apa, Kak?" Makeup artist di sebelahnya kembali menoleh. "Bedaknya kurang?"
Alya tersadar dan tertawa pelan. "Ah, bukan. Nggak apa-apa."
Tidak lama kemudian, suara asisten sutradara terdengar dari pintu. "Kak Alya! Standby lima menit lagi!"
"Oke!"
Alya berdiri. Sebelum melangkah keluar dari ruang tunggu, ia mematut dirinya sejenak di depan cermin. Rambut yang ditata sempurna, makeup tanpa celah, pakaian ber-merk, dan senyum manis yang sangat profesional. Persona Alya Renata sang bintang box office telah kembali.
Namun, saat ia melangkah menyusuri lorong menuju set kamera, pikirannya masih menyimpan satu pertanyaan kecil yang mengganggu.
Kalau dia sadar aku artis... apakah sikapnya akan berubah?
Sore itu, langit mulai berwarna oranye.
Arka baru saja keluar dari gerbang gedung fakultas. Ia berjalan menuju halte bus sambil memanggul tasnya yang berat.
Ponsel di sakunya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi portal berita muncul di layar.
[Hiburan] "Aktris Top Alya Renata Resmi Membintangi Film Beranggaran Raksasa Terbaru!"
Arka membaca judulnya sekilas, mendengus pelan, kemudian mengusap notifikasi itu hingga menghilang dari layar. Selesai. Tidak ada alasan baginya untuk membaca isi beritanya.
Namun, saat ia berjalan beberapa meter lagi, langkahnya terhenti.
Di atas sebuah gedung di seberang jalan, terdapat billboard iklan kosmetik elektronik raksasa. Wajah Alya Renata terpampang di sana, tersenyum anggun menatap keramaian jalanan kota.
Arka memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, menatap billboard itu dalam diam. Beberapa detik kemudian, ia tertawa kecil.
"Oh... pantesan dia takut banget diikutin. Memang terkenal banget rupanya."
Ia kemudian kembali melangkah menuju halte tanpa menoleh lagi.
Tidak ada rasa terintimidasi. Tidak ada keinginan untuk membual kepada teman-temannya. Tidak ada keinginan untuk mencari akun media sosial sang aktris.
Hanya satu hal yang berubah bagi Arka hari ini. Sekarang, ia akhirnya tahu nama wanita aneh yang meminjam payungnya semalam. Alya Renata.
Sementara itu, di dalam sebuah MPV mewah yang sedang membelah kemacetan menuju lokasi syuting berikutnya, Alya menatap ke luar jendela.
Mobil itu kebetulan melewati jalan raya yang sama. Alya melihat billboard raksasa yang menampilkan wajahnya sendiri di kejauhan.
Ia menatap iklan itu sekilas, lalu entah kenapa, ingatannya kembali melayang pada mahasiswa minimarket yang sempat mengatainya berpakaian mirip buronan. Mahasiswa yang tidak meminta foto. Tidak mencari perhatian. Bahkan sibuk merobek plastik roti saat berada di dekatnya.
Alya tersenyum simpul.
Kalau sekarang dia sudah tahu aku ini siapa... apakah sikapnya akan sama santainya seperti kemarin? Atau dia akan berubah manis seperti orang-orang di sekitarku?
Pertanyaan itu terdengar sangat remeh. Namun entah kenapa, Alya benar-benar sangat ingin mengetahui jawabannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, seorang pria biasa yang bahkan belum ia kenal secara resmi... telah berhasil mengacaukan fokusnya.
Bukan karena pria itu berusaha keras mengejarnya.
Namun justru karena pria itu sama sekali tidak peduli.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!