Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Sumpah seumur hidup
Aroma karbol dan antiseptik mendominasi udara di kamar VIP nomor 408 Rumah Sakit Medika Utama. Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis, membiaskan cahaya keemasan yang menimpa seprai putih.
Di atas tempat tidur, Raya duduk bersandar pada tumpukan bantal. Kepala dan dadanya masih sering terasa nyeri, tetapi luka fisik itu tak sebanding dengan rasa hampa yang menggerogoti jiwanya.
Di atas meja kecil di samping tempat tidur, tersaji satu piring bubur halus dan segelas air putih yang belum tersentuh. Raya menatap tangannya sendiri, jemari yang halus, tanpa bekas luka, namun terasa bukan miliknya.
"Siapa aku sebenarnya?" bisik Raya pada dirinya sendiri. Suaranya tenggelam oleh desis halus alat pemantau detak jantung di sudut ruangan.
Tiga hari sejak ia tersadar dari koma, dokter dan perawat berulang kali datang memeriksa refleksnya. Mereka tersenyum ramah, memberikan dorongan semangat, dan mencatat angka-angka pada papan jalan.
Namun bagi Raya, setiap senyuman medis itu justru mempertegas satu kenyataan mengerikan bahwa ia adalah seorang asing di dalam tubuhnya sendiri.
Ia memejamkan mata dan berusaha memanggil ingatan apa pun. Kenangan masa kecil, aroma rumah, suara orang tua, atau wajah teman-teman.
Namun, setiap kali ia mencoba menembus kegelapan di dadanya, gelombang pusing yang hebat langsung menghantam pelipisnya. Seperti ada dinding tebal tak kasat mata yang sengaja dibangun untuk menguncinya dari masa lalu.
Pintu kamar berdecit pelan. Aris melangkah masuk seraya membawa satu buket bunga tulip putih segar dan sebuah tas kertas berukuran sedang
Pria itu sudah memotong rapi rambutnya, perban di dahinya kini diganti dengan plester luka yang lebih kecil, dan setelan kemeja birunya membuatnya tampak gagah namun menyimpan kelelahan yang amat sangat di bawah matanya.
"Selamat pagi, Raya," sapa Aris dengan nada suara yang sengaja dibikin sehangat mungkin. Ia meletakkan buket bunga di vas meja nakas, dan menggantikan bunga kemarin yang mulai layu.
Raya mendongak. Matanya yang bening menatap Aris dengan tatapan asing yang selalu membuat dada Aris seperti dihantam benda tumpul.
"Pagi, Aris..." jawab Raya pelan.
Aris duduk di kursi kayu berbusa di sebelah tempat tidur. Ia meraih piring bubur yang sudah dingin, lalu menatap Raya dengan senyum lembut. "Kamu belum menyentuh sarapanmu. Dokter bilang kamu harus banyak makan agar stamina dan daya tahan tubuhmu cepat pulih."
Raya menggeleng pelan. "Aku tidak berselera. Makanan di sini rasanya seperti kertas."
"Kalau begitu, aku minta koki rumah sakit membuatkan sup ayam hangat, mau?" tawar Aris sabar.
Raya tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aris, hingga membuat Aris menahan napas sejenak, takut jika ada celah kebohongan yang tertangkap oleh wanita itu.
"Aris..." panggil Raya lirih.
"Ya, Sayang?"
"Kenapa aku terasa sangat asing dengan diriku sendiri?" tanya Raya, air mata yang ditahannya sejak pagi mulai menggenang di sudut mata. "Kamu bilang kamu kekasihku... Kamu bilang kita sudah lama bersama. Tapi kenapa saat kamu menyentuh tanganku, atau saat kamu memanggil namaku... hatiku merasa ada sesuatu yang hilang? Kenapa rasanya seperti aku sedang hidup dalam cerita orang lain?"
Aris membeku. Tangannya yang memegang sendok gemetar tipis. Rasa bersalah yang membakar jiwanya kembali membuncah. Pria itu harus mengerahkan seluruh ketenangannya agar raut wajahnya tidak menunjukkan kepanikan.
"Itu hal yang sangat wajar, Raya," ucap Aris pelan, kemudian menyusun kebohongan baru dengan sangat hati-hati. "Trauma benturan di kepalamu sangat berat. Dokter sudah menjelaskan bahwa amnesia membuat ingatan emosional dan ingat memori logismu terputus sementara. Jiwamu sedang kaget, Raya. Bukan berarti kehidupan ini bukan milikmu."
"Tapi rasanya sangat menakutkan," cicit Raya, air matanya akhirnya jatuh menembus pipinya yang pucat. "Bagaimana kalau ingatanku tidak pernah kembali? Bagaimana kalau aku selamanya menjadi orang kosong seperti ini?"
Aris meletakkan piring bubur ke meja, lalu merengkuh kedua tangan Raya ke dalam genggamannya. Ia menatap mata Raya dengan intensitas yang begitu dalam, sebuah tatapan yang memancarkan campuran antara rasa bersalah, penyesalan, dan keinginan kuat untuk melindungi.
"Jika ingatanmu tidak kembali, maka aku yang akan menjadi ingatanmu," tegas Aris dengan suara parau yang bergetar. "Aku akan menceritakan siapa dirimu setiap hari. Aku akan mendampingimu sampai kamu menemukan kembali dirimu yang baru. Kamu tidak sendirian, Raya. Kamu punya aku... dan kamu punya Cyla."
Ucapan Aris sedikit meredakan gemuruh ketakutan di dada Raya, meski rasa hampa itu tidak sepenuhnya sirna. Namun, janji manis itu terasa begitu sungguh-sungguh, hingga membuat Raya memilih untuk bersandar pada pria di hadapannya.
Sekitar pukul sebelas siang, ketukan ceria terdengar dari balik pintu. Pintu terbuka, dan Suster Santi masuk seraya menggandong Cyla. Balita berusia satu tahun itu mengenakan baju terusan kuning bergambar kelinci dengan pita kecil yang menempel di rambut tipisnya.
"Mami! Ma... Ma!" seru Cyla begitu melihat Raya di atas tempat tidur. Tangan-tangan mungilnya menggapai-gapai ke udara dengan sabar.
Binar di mata Raya yang tadinya redup seketika menyala. Rasa hampa yang menyiksanya perlahan tergeser oleh gelombang kehangatan yang tak terelakkan setiap kali ia melihat anak kecil itu.
"Cyla..." panggil Raya dengan senyum tulus yang pertama kali terukir di wajahnya hari itu.
Aris dengan sigap berdiri, membantu Suster Santi dan mengambil Cyla ke dalam pangkuannya, lalu menaruhnya perlahan di atas tempat tidur di samping Raya.
"Anak pintar ini rewel terus dari pagi di kamar sebelah, Pak," ujar Suster Santi ramah. "Dia cuma mau ketemu Ibu Raya."
Cyla langsung merangkak cepat di atas seprai putih, dan menabrakkan tubuh mungilnya ke dada Raya. Tangan kecilnya yang gembil menepuk-nepuk pipi Raya dengan gemas.
"Aba! Aba... Mama!" celoteh Cyla polos seraya memamerkan dua gigi kelinci bawahnya.
Raya tertawa renyah, sebuah suara tawa yang indah dan bening, yang membuat Aris tertegun di samping tempat tidur. Untuk sejenak, rasa tegang yang menggelayuti bahu Aris luruh begitu saja.
"Cyla sayang... Jangan kencang-kencang nepuknya, nanti Mama sakit," bisik Raya seraya mencium pipi gembil Cyla berkali-kali. Cyla pun tertawa geli, dan meliuk-liukkan tubuhnya karena kegelian.
Aris memperhatikan interaksi itu dengan dada yang berdesir hebat. Di satu sisi, ia merasa lega luar biasa melihat Raya bisa tersenyum dan menemukan penghiburan dari Cyla.
Namun di sisi lain, kenyataan pahit kembali menghantam pikirannya.Cyla bukanlah anak angkatnya, dan Raya bukanlah kekasihnya. Ayah kandung dari balita ini telah membeku di bawah tanah merah karena kecerobohannya.
"Cyla, lihat Papa bawa apa," ujar Aris mengalihkan perhatian, dan mencoba menutupi gejolak emosinya. Ia lalu mengambil tas kertas yang dibawanya tadi pagi dari atas sofa.
Dari dalam tas itu, Aris mengeluarkan sebuah boneka beruang bulu berwarna cokelat muda yang sangat lembut dan memiliki suara jika dadanya ditekan.
"Puk!" Cyla menepuk boneka beruang itu dengan mata bulatnya yang berbinar-binar. Saat Aris menekan dada boneka tersebut, alunan musik lagu nina bobo lembut terdengar mengalun di dalam kamar.
Cyla bertepuk tangan dengan riang, "Hore! Ndut! Ndut!"
Raya tak sanggup menahan senyumnya melihat kepolosan Cyla. Ia menoleh pada Aris dan bertanya, "Kamu yang belikan boneka ini?"
Aris mengangguk. "Aku tahu dia suka boneka yang ada musiknya. Dulu... maksudku, waktu kita jalan-jalan sebelum kecelakaan, kamu pernah bilang Cyla selalu tenang kalau dengar musik lembut."
Raya menatap boneka itu, lalu kembali menatap Aris. "Terima kasih, Aris. Kamu selalu perhatian."
"Itu kewajibanku, Raya," jawab Aris pelan. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Cyla yang sedang sibuk menggigit telinga boneka beruangnya.
Sore harinya, Cyla tertidur lelap di tengah-tengah tempat tidur, tertutup selimut tipis bersama Raya yang juga ikut tertidur karena pengaruh obat pemulihan. Suasana kamar menjadi sangat tenang, hanya diiringi deru halus pendingin udara.
Aris berdiri di dekat jendela besar, memandangi langit sore kota yang perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan. Di tangannya, sebuah ponsel genggam bergetar tanpa suara.
Ia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Bagaimana, Hendra?" bisik Aris pelan, matanya tetap mengawasi wajah Raya yang tertidur pulas.
"Semua berkas penyidikan dari kepolisian sudah resmi ditutup sore ini, Pak Aris," suara Hendra terdengar jernih dari balik telepon. "Pihak kepolisian menyatakan bahwa kasus ini adalah kecelakaan murni akibat kondisi cuaca buruk dan jarak pandang yang minim. Tidak ada tuntutan dari pihak mana pun karena almarhum Ardiansyah tidak memiliki anggota keluarga lain yang terdaftar."
Aris memejamkan matanya erat-erat. "Bagaimana dengan barang-barang peninggalan dari mobil mereka?"
"Semua barang bukti yang rusak sudah dimusnahkan sesuai prosedur. Namun, ada sebuah tas kecil milik Ibu Raya yang berhasil diselamatkan dari dalam mobil. Di dalamnya ada beberapa dokumen pribadi, dompet, dan foto keluarga kecil mereka..."
Jantung Aris serasa berhenti berdetak. "Di mana tas itu sekarang?"
"Ada di tangan saya, Pak. Saya menyimpannya di brankas kantor Anda. Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya selain saya."
"Bagus," bisik Aris tegas. "Bakar semua dokumen dan foto itu. Jangan ada satu pun bukti atau barang peninggalan masa lalu yang tersisa. Hancurkan semuanya sampai jadi abu."
Terjadi jeda sebentar di seberang telepon sebelum Hendra menjawab, "Baik, Pak Aris. Saya akan urus malam ini juga."
Aris mematikan sambungan telepon. Ia menyandarkan dahinya pada kaca jendela yang dingin. Rasa bersalah kembali mencengkeram dadanya seperti cakar besi.
Ia tahu tindakannya ini adalah sebuah kejahatan besar, menghapus identitas seorang wanita, membakar kenangan tentang pria yang telah mati, dan membentuk kebohongan baru.
Namun saat Aris memutar tubuhnya dan melihat betapa tenangnya wajah Raya saat tidur sambil memeluk Cyla, ketakutan akan kehilangan wanita itu mengalahkan rasa bersalahnya.
Aris melangkah pelan mendekati tempat tidur. Ia berlutut di samping tempat tidur Raya, dan menyandarkan dagunya di atas matras. Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi dahi Raya.
"Maafkan aku, Raya..." bisik Aris dalam kepiluan yang sunyi. "Aku tahu aku sudah merenggut segalanya darimu. Tapi aku bersumpah... seumur hidupku, aku akan membayar dosa ini dengan membahagiakanmu dan Cyla. Aku tidak akan pernah biarkan air mata jatuh lagi dari matamu."
Raya bergerak sedikit dalam tidurnya, bergumam pelan seraya mempererat pelukannya pada Cyla. Di dalam kegelapan amnesianya, Raya merasa aman.
Namun ia tak pernah tahu bahwa pria yang memberinya rasa aman itu adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya seluruh dunianya.
Bersambung...