Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAGA HITAM VS BERUANG BAJA 4
Di pos penjagaan Nusakambangan yang berdiri tak jauh dari gerbang utama, kebosanan menyelimuti ruang sempit itu. Seorang sipir duduk bersandar malas di kursi, matanya menyapu baris demi baris halaman novel yang ia pegang, seakan waktu berjalan lambat di tempat itu.
Tuuuuttt...!!!!
Suara dering telepon berputar memecah keheningan, nyaring dan tajam di ruangan pengap itu. Sang sipir tersentak, meletakkan bukunya pelan lalu meraih gagang telepon berwarna gelap itu.
"Halo... di sini pos Nusakambangan, ada yang bisa saya bantu?" sapanya sopan, namun nada bicaranya masih terasa berat karena kantuk.
Dari seberang sambungan, suara wanita terdengar gemetar, parau, dan penuh isak yang ditahan dengan susah payah.
"Pak... tolong sampaikan kepada saudara Renzo Erlangga Abraham... keluarganya saat ini dipaksa pindah oleh anak buah Tuan Ramon. Katakan juga padanya — Alyssa, adiknya, dirudapaksa oleh Felix, teman sekelasnya sekaligus anak Tuan Ramon."
Jantung sipir itu berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya menegang kaku, kuku jarinya memutih mencengkeram gagang telepon.
"Hah?! Tunggu dulu, Ibu... kenapa Ibu tak datang langsung saja?"
"Kami tak punya waktu... kami semua sudah diseret paksa oleh anak buah Tuan Ramon untuk pergi dari kota... entah ke mana kami akan dipindahkan..."
Sipir itu menatap telepon yang kini berdengung pelan, napasnya tertahan di kerongkongan. "Baik... akan segera saya sampaikan..."
****
GRAAAAARRRGHHH!!!!
Di tengah arena, Ivan meraung sekuat tenaga, tubuhnya melesat tanpa trik, tanpa gerakan aneh — hanya satu pukulan lurus yang membawa seluruh kekuatan tubuhnya, keras dan brutal bagai palu godam jatuh dari langit.
Wusss...!!!
Tinju itu menerobos udara hingga menciptakan tekanan yang mencekik siapa pun yang berada di dekatnya. Namun Renzo hanya mendengus dingin. Dengan gerakan ringan ia memiringkan tubuhnya ke samping — menghindari maut seujung rambut. Di saat yang sama, kakinya menghentak tanah, melesat menendang paha kiri Ivan dengan kecepatan yang nyaris tak dapat diikuti mata.
DUGGG... SRRTTTT..!!!
Bunyi basah dan mengerikan terdengar jelas hingga ke tribun. Daging dan otot terkoyak seketika. Darah menyembur deras membasahi tanah, luka menganga lebar terbuka di paha kiri Ivan.
Namun detik itu, Renzo mengerutkan dahi tajam. Perasaan berbahaya menjalar di punggungnya.
"Sialan! Jebakan!"
Belum sempat ia menarik kaki kembali — tangan kiri Ivan berubah. Kuku-kukunya memanjang, menajam, berkilat dingin bagai baja — cakar mautnya langsung meluncur dalam lengkungan sempurna, tanpa celah untuk menghindar.
Siiiuutt...!!!
"Sialan!" Renzo berusaha mundur, tapi terlambat.
Sraaaaakkk..!!!
Cakar itu mengoyak dada kiri Renzo dengan kekuatan yang mampu menggores dinding batu. Kulit, otot, hingga tulang rusuk terlihat jelas di balik luka yang terbuka lebar. Tubuh Renzo terpental mundur beberapa langkah, darah menetes deras dari dadanya.
Keheningan menyelimuti arena. Renzo menunduk, menggertakan gigi erat menahan rasa sakit yang mengigit hingga ke tulang. Di hadapannya, Ivan juga terengah-engah, pahanya terkoyak parah membuatnya sulit berdiri tegak. Dua monster yang saling melukai, kini berdiri diam — napas berat mereka beradu di udara yang berbau amis darah.
Di kejauhan, seorang sipir muda berlari mendekati Kepala Penjara yang sedang menyaksikan dari balik bayangan dinding. Wajahnya pucat, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.
"Pak... Kepala Penjara... Ibu Iriana, ibu dari saudara Renzo, baru saja menelepon..." bisiknya gemetar, "Ia menyampaikan berita mendesak... Adik Renzo diperkosa oleh Felix, anak Tuan Ramon. Dan sekarang keluarganya diseret paksa oleh anak buah Tuan Ramon untuk meninggalkan Semarang..."
Mata Kepala Penjara membelalak lebar. Ia menoleh cepat ke sekeliling — memastikan tak ada narapidana yang mendengar. Ribuan mata masih tertuju pada dua petarung di tengah arena, napas mereka tertahan. Tatapannya kemudian beralih ke tribun tempat Kolonel dan lima penguasa penjara duduk — mereka masih serius menonton, tak menyadari badai yang baru saja tiba.
Namun saat tatapannya jatuh pada Renzo... darahnya membeku.
Perlahan, Renzo mengangkat kepalanya. Wajahnya memerah padam, urat di lehernya menegang tebal bagai ular di bawah kulit. Giginya bergemeretak hingga terdengar nyaring di keheningan itu. Rasa sakit di dadanya lenyap — digantikan oleh amarah yang sedari dulu ia tahan dalam-dalam, kini meledak tanpa sisa.
Sebagai mantan prajurit militer, pendengarannya tajam melebihi orang biasa. Di tengah keheningan itu, bisikan sipir itu terdengar jelas — setiap kata, setiap getaran— semuanya masuk ke dalam telinganya.
Renzo mendongak ke langit. Dadanya mengembang sepenuhnya.
GRAAAAAAAAAGGHHH...!!!!
Raungan itu bukan sekadar suara — itu adalah gempa. Menggelegar hingga mengguncang fondasi penjara, menembus dinding batu, dan menghantam hati setiap orang yang mendengarnya. Jiwa Beruang Baja yang selama ini tertidur — akhirnya bangkit sepenuhnya. Gelombang suara menyapu ke segala arah, ribuan narapidana di empat enam penjuru serentak membeku di tempat. Para sipir menahan napas. Kepala Penjara mundur selangkah, keringat dingin jatuh satu per satu.
"A... apakah dia benar-benar manusia?" bisiknya gemetar.
Di hadapannya, Ivan Dragos yang selalu menyunggingkan seringai buas — perlahan senyumnya luntur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan rasa takut yang murni.
Raungan itu mereda perlahan, namun atmosfer di sekeliling Renzo berubah total. Udara menjadi berat, menekan dada siapa pun yang berada di dekatnya. Aura membunuhnya semakin padat, semakin pekat, semakin berbahaya dari sebelumnya.
SIUUUUTTT...!!!
Tanpa peringatan, Renzo melesat ke depan. Tubuhnya bagai anak panah yang baru saja dilepaskan dari busur — cepat, lurus, dan mematikan. Luka menganga di dadanya seakan tak ada.
WAAAHHH..!!!! Para tahanan berdecak kagum sekaligus ngeri.
Ivan yang panik segera menyilangkan kedua tangannya di depan wajah, berusaha menahan benturan yang datang bagai badai tak terelakkan.
DUAAAAAARHHHH!!!
Tidak ada jeritan. Tidak ada waktu untuk bereaksi. Tubuh Ivan terlempar ke udara secara diagonal sejauh tiga ratus meter, tubuhnya meluncur di atas tanah dengan kecepatan yang tak masuk akal.
SRAAAAAKKK!!!! Tanah bergetar hebat. Debu beterbangan setinggi rumah. Sepanjang jalur yang dilaluinya, tanah terbelah, meninggalkan jejak goresan darah yang mengerikan.
Namun itu belum berakhir. Tubuh Ivan masih meluncur deras menuju lorong tempat ratusan narapidana berkumpul menonton.
BLAAMM... BLAAAMM.. BLAAAAMM...
Tubuhnya menghantam kerumunan dengan kekuatan dahsyat. Tujuh orang terpental dan tewas seketika di tempat. Lorong yang tadi riuh — kini sunyi senyap. Hanya satu suara yang terdengar.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Ivan batuk hebat, darah segar terus menyembur dari mulutnya. Pandangannya kabur, tubuhnya terasa berat bagai gunung — nyawanya seakan setengah tercabut dari tubuhnya.
Semua mata kini tertuju pada Renzo. Sosok itu melangkah perlahan, setiap langkahnya membuat tanah bergetar pelan.
"Monster..." batin semua orang serentak.
SIUUUUTTT...!!!
Bayangan melesat secepat kilat. Dalam sekejap mata, Renzo sudah berdiri tepat di depan Ivan yang terkapar penuh luka dan darah.
"T... t... tidak...!!!" Mata Ivan membelalak penuh ketakutan. Semua orang yakin — detik ini juga Renzo akan mengakhiri hidupnya.
Namun tangan yang terulur ke arahnya... bukan mengepal untuk memukul. Melainkan terbuka menawarkan bantuan untuk bangkit.
"Hah?!!" Ribuan orang serentak menahan napas. Waktu seakan melambat. Pemandangan yang mustahil kini terjadi di depan mata mereka.