Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Rabu, 9 November 2016 — New York
Pukul enam pagi, Arthur Sterling terbangun dengan sebuah pikiran yang terus mengganggu benaknya sejak malam sebelumnya.
Dalam kehidupan pertamanya, ia telah membangun kerajaan bisnis yang mencakup berbagai industri. Ia menguasai perusahaan investasi, memiliki saham di perusahaan teknologi, dan menanamkan modal pada berbagai bisnis yang kemudian menjadi pemimpin pasar. Namanya dikenal di kalangan orang-orang paling berpengaruh di dunia, meskipun sebagian besar kekayaannya dibangun melalui jaringan perusahaan yang jarang terlihat oleh publik.
Namun, semuanya bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Keputusan kecil.
Kesempatan yang tidak diabaikan.
Dan kemampuan untuk mengenali kapan sebuah usaha layak diperbesar.
Kini, pada usia dua puluh tahun, Arthur kembali berada di titik awal. Ia tidak memiliki kantor mewah, pegawai, atau jaringan pengusaha yang bisa membukakan pintu dengan satu panggilan telepon.
Ia hanya memiliki sejumlah uang hasil investasi, kemampuan analisis yang diperoleh dari kehidupan sebelumnya, dan sebuah usaha kecil bersama Daniel Brooks.
Bagi orang lain, keadaan itu mungkin tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan kehidupan Arthur yang dahulu.
Namun, Arthur justru melihatnya sebagai kesempatan untuk membangun sesuatu dengan cara yang lebih sehat.
Ia membuka laptop dan memeriksa catatan keuangan.
Saldo rekeningnya masih cukup untuk kebutuhan dasar. Sebagian keuntungan dari Aurelia Therapeutics tetap disimpan sebagai cadangan, sementara sejumlah kecil dana dialokasikan untuk kebutuhan usaha.
Arthur tidak berniat menggunakan seluruh uang itu untuk memperbesar bisnis secara tergesa-gesa.
Ia membutuhkan bukti bahwa usaha mereka dapat menghasilkan pendapatan secara konsisten.
Di bagian atas dokumen rencana bisnis, ia menulis sebuah kalimat.
Pertumbuhan bukan tujuan jika fondasi belum mampu menopangnya.
Arthur membaca kalimat tersebut, lalu membuka daftar pekerjaan hari itu.
Pertama, memastikan bahwa proyek Robert Hayes berjalan sesuai kesepakatan.
Kedua, memeriksa perkembangan proyek Peter Lawson.
Ketiga, menghubungi Samuel Carter mengenai hasil penggunaan tabel keuangan yang dibuat bersama Clara.
Dan terakhir, menyelesaikan tugas kuliah yang sudah hampir terlupakan karena terlalu banyak memikirkan bisnis.
Arthur menghela napas.
Bahkan setelah hidup selama delapan puluh tahun, ia tetap harus mengerjakan tugas kuliah.
Kehidupan kedua ternyata tidak memberinya kekebalan terhadap kewajiban mahasiswa.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Arthur tiba di kampus dan menemukan Daniel sedang duduk di tangga gedung fakultas.
Daniel mengangkat laptopnya begitu melihat Arthur.
"Kita punya pekerjaan baru."
Arthur duduk di sampingnya.
"Robert?"
"Benar. Dia sudah mengirimkan informasi yang kita butuhkan. Selain itu, Thomas Miller juga mengonfirmasi bahwa dia ingin melanjutkan paket dasar yang kita tawarkan."
Arthur menoleh.
"Thomas benar-benar menyetujuinya?"
Daniel mengangguk.
"Dia mengirimkan persetujuan tertulis tadi pagi. Kita tinggal menentukan jadwal pengerjaan."
Arthur tersenyum tipis.
Mereka kini memiliki tiga pelanggan yang sudah membayar atau menyepakati pekerjaan berbayar: Samuel Carter, Peter Lawson, dan Thomas Miller, sementara Robert Hayes telah menerima tawaran awal mereka dan sedang menyiapkan informasi untuk memulai proyek.
Jumlah itu masih kecil. Namun, mereka mulai memiliki beberapa jenis pekerjaan yang dapat dibandingkan.
Samuel membutuhkan bantuan memperbaiki informasi bisnis dan memahami arus kas restoran.
Peter membutuhkan dukungan untuk memperbaiki informasi daring dan mengevaluasi persoalan penjualan di salah satu tokonya.
Thomas membutuhkan pembaruan informasi bisnis dengan anggaran terbatas.
Robert ingin memperbaiki informasi bengkelnya dan mulai mencatat pertanyaan pelanggan baru.
Masing-masing memiliki kebutuhan berbeda, tetapi terdapat pola yang mulai terlihat.
Banyak pemilik usaha kecil tidak membutuhkan strategi pemasaran yang rumit. Mereka membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini diabaikan karena keterbatasan waktu, tenaga, atau pengetahuan teknis.
Arthur membuka spreadsheet mereka.
"Kita harus memastikan pekerjaan ini tidak membuat kita kewalahan."
Daniel mengangguk.
"Aku sudah memikirkan jadwalnya. Pekerjaan Thomas bisa diselesaikan dalam satu sesi, selama informasi dan fotonya sudah lengkap. Robert juga tidak membutuhkan situs web, jadi bagian awalnya relatif sederhana."
"Bagaimana dengan Peter?"
"Proyeknya berbeda. Kita masih perlu mengumpulkan data sebelum memberikan rekomendasi."
Arthur menyetujui pembagian tersebut.
Mereka kemudian menyusun jadwal pengerjaan selama satu minggu. Daniel bertanggung jawab atas pembaruan teknis dan pemeriksaan informasi, sedangkan Arthur mengurus komunikasi pelanggan, evaluasi data, dan laporan sederhana.
Namun, kali ini Arthur tidak menentukan semuanya sendiri.
Ia meminta Daniel memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan, kemudian membandingkannya dengan perkiraannya sendiri.
Hasilnya menunjukkan bahwa mereka sebelumnya terlalu optimistis mengenai waktu penyelesaian beberapa tugas.
"Kalau kita menerima pelanggan tambahan minggu ini, salah satu pekerjaan mungkin terlambat," kata Daniel.
Arthur mengangguk.
"Kalau begitu, kita tidak perlu memaksakan diri menerima semuanya."
Daniel menatapnya sambil tersenyum.
"Aku tidak pernah mengira akan mendengar seorang pengusaha mengatakan bahwa dia tidak ingin terlalu banyak pelanggan."
"Aku ingin pelanggan yang bisa kita layani dengan baik."
"Jawaban yang masuk akal. Sayangnya, tidak terdengar cukup dramatis untuk sebuah pidato motivasi."
Arthur tertawa.
"Kalau kau ingin pidato motivasi, carilah orang yang menjual seminar."
Daniel menutup laptop.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju kelas masing-masing.
Di tengah perjalanan, Arthur menyadari bahwa percakapan semacam itu merupakan salah satu kemajuan terpenting yang telah mereka capai.
Ia tidak lagi sekadar memanfaatkan ingatan masa depannya untuk mencari peluang.
Ia mulai membangun cara kerja yang memungkinkan orang lain mengambil bagian dalam keputusan, mengemukakan keberatan, dan membantu memperbaiki kesalahan.
Perusahaan yang kuat tidak dibangun hanya oleh seseorang yang mampu melihat jauh ke depan.
Perusahaan yang kuat membutuhkan orang-orang yang dapat bekerja sama ketika kenyataan tidak berjalan sesuai rencana.
Pada siang hari, Arthur mengunjungi restoran Samuel Carter.
Restoran keluarga itu sedang cukup ramai. Beberapa pelanggan duduk di dekat jendela, sementara dua pegawai sibuk melayani pesanan.
Samuel menyambut Arthur dari balik meja kasir dan mengajaknya ke sebuah meja kecil di bagian belakang.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu," katanya.
Ia mengeluarkan buku catatan yang berisi beberapa angka dari hari-hari sebelumnya.
"Aku mencoba menggunakan tabel yang dibuat Clara. Awalnya terasa sedikit merepotkan, tetapi sekarang aku mulai terbiasa."
Arthur memeriksa catatan tersebut.
Samuel telah mencatat jumlah transaksi, penjualan harian, pengeluaran bahan makanan utama, dan beberapa kejadian yang tidak biasa.
Pada salah satu hari, jumlah penjualan turun. Namun, catatan Samuel menunjukkan bahwa restoran menerima lebih sedikit pelanggan karena hujan deras pada sore hari.
Pada hari lain, penjualan meningkat meskipun jumlah transaksi relatif sama. Ternyata beberapa pelanggan membeli pesanan dalam jumlah lebih besar.
Data itu belum cukup untuk menunjukkan tren jangka panjang, tetapi sudah memberikan gambaran yang lebih jelas daripada perkiraan semata.
"Apakah tabel ini membantu Bapak mengambil keputusan?" tanya Arthur.
Samuel mengangguk.
"Setidaknya, sekarang aku bisa melihat pengeluaran mana yang perlu diperhatikan. Aku juga mulai menyadari bahwa beberapa bahan makanan terlalu sering tersisa menjelang tutup."
Arthur memeriksa bagian pencatatan makanan terbuang.
"Apakah Bapak sudah mengubah jumlah pembelian bahan baku?"
"Sedikit. Aku mencoba mengurangi pembelian beberapa bahan yang sering tersisa, tetapi aku belum mengubah semuanya. Aku ingin melihat apakah masalahnya berulang."
Arthur tersenyum.
"Itu keputusan yang bijak. Kita sebaiknya tidak mengubah terlalu banyak hal sekaligus, supaya kita bisa memahami apa yang sebenarnya memberikan dampak."
Samuel tertawa kecil.
"Kau tahu, aku sudah menjalankan restoran ini selama bertahun-tahun. Tetapi aku jarang memikirkan bisnis dengan cara seperti ini."
"Pengalaman Bapak tetap penting. Data hanya membantu memperjelas apa yang mungkin terlewat."
Samuel mengangguk.
Setelah membahas beberapa catatan, Arthur bertanya kepada Clara melalui pesan singkat apakah ia bersedia membantu mengevaluasi versi terbaru tabel tersebut jika waktunya memungkinkan.
Clara membalas bahwa ia bersedia, tetapi ingin membahas lebih dahulu bagaimana kontribusinya akan dihargai jika pekerjaan itu menjadi rutin.
Arthur setuju.
Ia tidak ingin kemampuan Clara dimanfaatkan tanpa pengakuan yang layak. Jika mereka mengembangkan layanan sederhana untuk membantu usaha kecil memahami arus kas, pekerjaan Clara harus menjadi bagian dari perencanaan bisnis, bukan sekadar bantuan tidak resmi.
Sebelum Arthur pergi, Samuel mengatakan bahwa ia mengenal seorang pemilik restoran lain yang mungkin membutuhkan bantuan serupa.
"Aku tidak bisa menjamin dia akan tertarik," kata Samuel. "Tetapi aku bisa memperkenalkan kalian."
Arthur mengucapkan terima kasih.
Ia tidak langsung menghitung calon pendapatan dari kemungkinan tersebut. Pengenalan itu baru merupakan kesempatan, bukan kesepakatan.
Namun, Arthur tahu bahwa kepercayaan pelanggan dapat menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengembangkan usaha kecil.
Dan kepercayaan hanya akan bertahan jika pekerjaan mereka benar-benar membantu.
Pukul tiga sore, Arthur bertemu Clara di perpustakaan kampus.
Clara telah membawa versi terbaru tabel keuangan Samuel, lengkap dengan beberapa catatan mengenai bagian yang perlu diperjelas.
"Aku mencoba mengurangi istilah yang terlalu teknis," katanya. "Pemilik restoran tidak harus memahami semua konsep akuntansi untuk mengetahui apakah pengeluaran bahan makanan meningkat."
Arthur memeriksa dokumen tersebut.
"Ini lebih mudah digunakan."
Clara duduk di seberangnya.
"Aku juga berpikir bahwa kalau kita ingin membantu bisnis kecil, kita tidak boleh membuat mereka bergantung pada kita untuk memahami setiap angka."
Arthur mengangkat wajah.
"Jelaskan."
"Kalau kita hanya memberikan laporan yang rumit, mereka mungkin akan terus membutuhkan bantuan untuk membaca laporan berikutnya. Tetapi kalau kita mengajari mereka cara mencatat dan memahami angka dasar, mereka bisa mengambil keputusan sendiri."
Arthur terdiam sesaat.
Pernyataan itu sederhana, tetapi mengandung prinsip yang sangat penting.
Dalam kehidupan sebelumnya, Arthur pernah membangun bisnis konsultasi yang menghasilkan pendapatan besar. Namun, ia juga pernah menyaksikan bagaimana beberapa perusahaan konsultan menciptakan sistem yang begitu rumit sehingga klien merasa tidak mampu menjalankannya tanpa bantuan mereka.
Ketergantungan itu menguntungkan bagi penyedia jasa dalam jangka pendek.
Namun, tidak selalu menghasilkan hubungan yang sehat.
"Aku setuju," jawab Arthur. "Kita seharusnya membantu mereka menjadi lebih mandiri, bukan membuat mereka merasa tidak mampu tanpa kita."
Clara tersenyum.
"Itulah yang ingin kulakukan."
Arthur memandangnya dengan perasaan hangat.
Ia selalu mengetahui bahwa Clara memiliki kecerdasan dan ketelitian. Namun, semakin sering mereka bekerja bersama, semakin jelas bahwa Clara juga memiliki prinsip yang ingin ia pertahankan.
Ia tidak hanya ingin membuat sesuatu yang berguna.
Ia ingin memastikan bahwa sesuatu itu benar-benar membantu orang lain.
Arthur menyadari bahwa ia ingin mengenal Clara lebih jauh, bukan hanya karena perasaannya dari kehidupan pertama, tetapi juga karena ia mulai melihat siapa Clara dalam kehidupan ini.
Seseorang yang memiliki pikiran, keinginan, dan prinsipnya sendiri.
"Kalau kita benar-benar ingin mengembangkan layanan ini," kata Arthur, "kita perlu membicarakan peranmu secara lebih teratur. Kita bisa mulai dengan proyek Samuel, lalu melihat apakah ada kebutuhan dari pelanggan lain."
Clara mengangguk.
"Aku bersedia membantu menyusun metode dan menguji formatnya. Tetapi aku tidak ingin berjanji terlalu banyak sebelum tahu berapa waktu yang dibutuhkan."
"Itu adil."
"Dan kita perlu membicarakan pembayaran kalau pekerjaan ini menjadi layanan berbayar."
"Tentu."
Clara tersenyum.
"Bagus. Setidaknya kita sepakat mengenai hal itu."
Mereka kemudian menghabiskan waktu hampir satu jam membahas kemungkinan layanan pencatatan keuangan sederhana untuk restoran dan toko kecil.
Arthur tidak menyebutnya sebagai peluang bisnis besar.
Untuk saat ini, itu hanya gagasan yang layak diuji.
Mereka membutuhkan masukan pelanggan, metode yang mudah digunakan, dan perhitungan biaya yang realistis sebelum memutuskan apakah layanan tersebut dapat dikembangkan.
Namun, Arthur mulai melihat kemungkinan yang lebih luas.
Mereka tidak harus menjadi perusahaan pemasaran digital biasa.
Jika mereka mampu menggabungkan kemampuan teknis Daniel, kemampuan analisis Arthur, dan pemahaman Clara mengenai pencatatan keuangan sederhana, mereka mungkin dapat menawarkan layanan yang berbeda dari pesaing.
Bukan hanya membantu bisnis terlihat di internet, melainkan juga membantu pemiliknya memahami apa yang terjadi setelah pelanggan datang.
Gagasan itu belum menjadi strategi yang matang.
Tetapi untuk pertama kalinya, Arthur melihat sebuah kemungkinan yang muncul bukan semata-mata dari ingatannya tentang masa depan, melainkan dari kemampuan orang-orang yang kini berada di sekelilingnya.
Dan kemungkinan itu terasa jauh lebih berharga.
Sore menjelang malam, Arthur menerima email dari Richard Coleman.
Richard mengatakan bahwa ia telah membaca catatan analisis Aurelia Therapeutics yang dikirim Arthur sebelumnya. Ia mengapresiasi pemisahan antara tesis investasi, risiko perusahaan, dan alasan Arthur menjual sebagian besar posisi.
Namun, Richard juga memberikan sebuah pertanyaan tambahan.
Jika Anda ingin mengembangkan kemampuan analisis, cobalah mengevaluasi satu perusahaan dari sudut pandang seorang pemilik bisnis, bukan hanya seorang investor. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda harus mengoperasikan perusahaan tersebut selama lima tahun?
Arthur membaca pertanyaan itu dua kali.
Ia kemudian membalas bahwa ia akan mencoba mengerjakannya.
Setelah mengirim email, Arthur membuka dokumen baru dan menuliskan pertanyaan tersebut di bagian atas halaman.
Bagaimana jika ia harus mengoperasikan sebuah perusahaan selama lima tahun?
Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah memimpin berbagai perusahaan dan membuat keputusan strategis bernilai sangat besar. Namun, saat ini ia sedang memulai usaha kecil dengan dua orang yang memiliki keterbatasan waktu, modal, dan pengalaman.
Mungkin justru inilah kesempatan untuk melatih kembali kemampuan yang selama ini ia anggap sudah dikuasainya.
Ia akan memilih sebuah perusahaan yang laporan keuangannya tersedia untuk publik, mempelajari model bisnisnya, dan menilai bagaimana ia akan memperbaiki operasional, mengalokasikan modal, serta menghadapi persaingan.
Ia tidak akan menganggap hasil analisisnya pasti benar.
Ia akan mencatat asumsi dan kelemahan yang ditemukan.
Seperti yang selalu dikatakan Professor Harris, angka hanyalah petunjuk.
Arthur mulai menulis.
Di luar jendela perpustakaan, langit New York berubah gelap. Mahasiswa mulai meninggalkan gedung, sementara suara langkah kaki bergema di lorong.
Arthur baru berhenti ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Daniel muncul di layar.
Thomas sudah mengirimkan foto-fotonya. Aku bisa mulai mengerjakan pembaruan informasi malam ini. Kita perlu memastikan jadwal pengerjaan Robert tidak bertabrakan dengan proyek Peter.
Arthur membalas bahwa mereka akan membahas jadwalnya keesokan pagi.
Ia menyimpan dokumen, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berjalan keluar dari perpustakaan.
Hari itu tidak membawa keuntungan besar atau perubahan dramatis.
Namun, beberapa hal mulai bergerak ke arah yang lebih baik.
Usaha kecilnya bersama Daniel memperoleh pelanggan baru. Samuel mulai menggunakan tabel keuangan dengan lebih teratur. Clara menunjukkan bahwa ia bersedia terlibat dalam pengembangan metode yang bermanfaat bagi bisnis kecil. Richard memberinya pertanyaan yang dapat membantu mempertajam cara berpikirnya.
Semua itu merupakan kemajuan.
Tetapi Arthur tahu bahwa kemajuan tidak boleh membuatnya kehilangan kewaspadaan.
Ia masih memiliki kewajiban kuliah, cadangan uang yang harus dijaga, dan berbagai proyek yang belum terbukti dapat menghasilkan keuntungan secara konsisten.
Ia juga masih harus menghadapi persoalan Clara yang belum sepenuhnya dipahami.
Tidak satu pun dari masalah itu dapat diselesaikan hanya dengan mengingat masa depan.
Arthur berjalan menuju halte sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
Ia pernah menjadi orang terkaya di dunia, tetapi kekayaan itu tidak membuatnya mampu mengendalikan setiap hal yang penting dalam hidupnya.
Kali ini, ia ingin membangun kekuatan yang berbeda.
Kekuatan yang berasal dari kemampuan memahami masalah, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia tidak tahu seberapa jauh usaha kecilnya akan berkembang.
Namun, ia mulai memahami bahwa sebuah kerajaan bisnis tidak selalu dimulai dengan modal yang besar atau gagasan yang menggemparkan dunia.
Terkadang, semuanya dimulai ketika seseorang menemukan masalah yang nyata, kemudian bekerja bersama orang lain untuk menyelesaikannya dengan baik.
Dan Arthur Sterling baru saja menemukan bahwa langkah pertamanya mungkin bukan membangun perusahaan terbesar di dunia.
Melainkan membangun sebuah perusahaan yang pantas dipercaya.
Sebab, sebelum seseorang dapat menguasai pasar, ia harus terlebih dahulu belajar memahami orang-orang yang ada di dalamnya.