Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 MARKO SIMIC DATANG KE TUMINTING PAKAI KEMEJA NELAYAN KROASIA
Marko Simic.
Ingat ? Striker Persija yang dulu idola Bima waktu umur 14 tahun , yang Bima tiru selebrasinya angkat tangan.
Sekarang dia sudah berumur 37 tahun , sudah pensiun. Rambut sudah botak sedikit. Perut sudah agak buncit. Tidak main di Persija lagi. Pulang ke Kroasia , jadi nelayan.
Iya , nelayan beneran. Di Pulau Hvar , Kroasia.
Bima pernah chat dia di Instagram tahun 2032 "Bang Marko , saya dari Manado , fans berat."
Simic balas pakai bahasa Inggris campur Kroasia "Hvala! Come to Croatia!"
Bima tidak ke Kroasia. Simic yang datang ke Tuminting.
Kenapa bisa datang ? Karena video Sinar Bima viral di TikTok. 12 juta views. Judulnya "Perahu Nelayan Jadi Museum dan Sekolah Bola Gratis di Manado - Kisah Bima Sakti dari Tuminting yang Main di Glasgow"
Agen Simic melihat , kasih ke Simic.
Simic kaget. "Ini perahu seperti perahu saya di Hvar!"
Bulan Desember 2033 , Simic dm Bima "Brother , I come to Tuminting. I bring fisherman shirt from Croatia."
Bima kira bercanda. Ternyata beneran booking tiket Zagreb Jakarta - Manado. 24 jam penerbangan.
Bima jemput di bandara Sam Ratulangi. Bima pakai baju biasa. Simic keluar pakai kemeja kotak - kotak nelayan Kroasia , topi nelayan , dan membawa koper besar.
"SIMIC ?" Bima berteriak di bandara.
Simic peluk Bima. Bau rokok dan bau laut Kroasia.
"Bima! My brother from Tuminting!"
Di mobil Avanza rental , Simic bercerita : Setelah pensiun dari Persija , dia sempat depresi selama 1 tahun. Tidak ada yang panggil namanya di stadion lagi , dan tidak ada gol lagi. Dia pulang ke Kroasia , bapaknya suruh dia melaut lagi seperti waktu kecil. Dia melaut , dapat ikan , dan menjual ikan.
"Football is like fishing , Bima. Sometimes you get big fish , sometimes you get nothing. But you must go to sea every day."
Sama seperti Bapak Bima bilang dulu.
Sore harinya , mereka berdua sampai di Tuminting. Simic melihat Sinar Bima yang sudah jadi museum + sekolah bola.
Simic membuka koper. Dia keluarin kemeja nelayan Kroasia asli , warna biru putih , dan masih bau laut Adriatik.
Dia kasih ke Bapak Bima.
Bapak Bima , umur sudah 50 tahun , kaki sudah tidak bengkak lagi karena operasi , pakai kemeja itu. Pas. Kebesaran sedikit , sama seperti dulu Bima pakai sepatu no 39 kebesaran.
Simic kasih juga satu bola Adidas asli , sudah ditandatangani "Untuk Ronald dan Aldo - Tendang yang keras - Marko Simic no 9"
Anak - anak Tikala kaget melihat bule tinggi besar botak datang ke lapangan lumpur.
Simic mencoba bermain bola di Tikala pakai sendal swallow. Baru 10 menit , dia sudah terjatuh di atas lumpur , celananya terkena lumpur , sama seperti Farrel dulu.
Anak - anak tertawa. Simic tertawa juga. Gigi depannya ompong satu karena dulu kena sikut bek di Liga 1.
Malamnya , semuanya makan di rumah Bima. Ibu masak ikan bakar 5 kg. Simic makan pakai tangan , tidak pakai sendok garpu. Pertama kali dia makan ikan bakar Manado pakai sambal dabu - dabu.
Pedas. Simic menangis kepedasan.
"Spicy! Like Persija vs Persib!"
Semua tertawa.
Jam 9 malam , di atas Sinar Bima , Simic , Bima, Yudi , dan Joshua yang pakai kruk , duduk melingkar. 12 anak sudah pulang.
Simic membuka hpnya , dia menunjukkan foto perahunya yang ada di Kroasia. Namanya Sveti Nikola. Sama kecilnya seperti Sinar Bima. Catnya juga biru putih.
Yudi bertanya "Bang Simic , di Kroasia juga ada Tikala ? Ada lapangan lumpur ?"
Simic menjawab "Ada. Namanya Hvar. Lumpur juga. Anak - anak juga main kaki ayam."
Joshua bertanya "Bang , waktu gol ke gawang Bali United 2018 , tendangan pisang itu latihan berapa lama ?"
Simic menjawab "Tidak latihan. Saya tendang karena saya marah sama bek. Sama seperti Bima tendang keras karena marah sama laut."
Bima terdiam. Dia ingat gol 30 meternya untuk Persija Jakarta vs Persib di umur 18 tahun. Itu bukan karena teknik. Itu karena marah karena Bapaknya hampir mati.
Simic berdiri , mau pulang ke homestay. Sebelum pergi , dia tulis di dinding Sinar Bima di bawah tulisan Joshua , pakai spidol hitam
MARKO SIMIC WAS HERE - FROM HVAR TO TUMINTING - TWO FISHING BOATS , ONE HEART - NEVER STOP FISHING , NEVER STOP SCORING
Di bawahnya , dia gambar ikan kecil.
Bima foto tulisan itu. Kirim ke Farrel di Jakarta. Farrel membalas "Anjir Simic di Tuminting ? Gila!"
Pagi harinya , Simic pulang. Bawa ikan asin Tuminting 2 kg untuk dibawa ke Kroasia.
Di bandara , Simic peluk Bima terakhir kalinya.
"Bima , you know why I come ?"
"Why ?"
"Because in Jakarta , they remember me as Simic who scores goals. In Tuminting , they remember me as Simic who falls in mud. I like second one better."
Simic masuk ke pesawat. Bawa bau ikan Tuminting ke Kroasia.
#####################################
Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading