"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.Kebenaran yang Ditutupi
"Ada keributan apa ini sampai terdengar ke lorong depan?" suara dingin Aksa memotong udara steril di ruangan itu. Langkah kakinya yang berwibawa seketika membuat para teknisi menunduk takut dan mundur perlahan.
Naya menoleh cepat. Matanya yang memerah menahan amarah kini menatap langsung ke arah sang CEO. "Bagus kalau kamu datang, Aksa. Lihat sendiri kelakuan Wakil Direktur Medis kebanggaanmu ini. Dia sengaja mengganti alat bedah kita dengan barang cacat murahan!"
Bima tersenyum canggung, merapikan jas dokternya sambil melangkah mendekati Aksa. "Sama sekali tidak benar, Pak Aksa. Saya hanya menjalankan efisiensi anggaran sesuai arahan Bapak. Saya memilih penyuplai lokal dengan harga miring tapi kualitas standar. Dokter Naya saja yang sedang kewalahan karena jadwal operasinya terlampau padat."
"Standar dari mana?" Naya setengah berteriak, menunjuk tajam klem besi di atas meja. "Alat jepit itu tidak bisa mengunci pembuluh darah! Logamnya licin dan engselnya longgar. Pasienku nyaris kehabisan darah di meja operasi karena alat rongsokan ini meleset berulang-ulang. Bima sedang bermain kotor dengan dana rumah sakit demi kantongnya sendiri!"
Aksa berjalan perlahan mendekati meja besi itu. Tangannya ditarik keluar dari saku celana. Ia mengambil klem bedah yang dibanting Naya, memutarnya pelan di bawah cahaya lampu neon. Jemari panjangnya meraba permukaan logam itu, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi denting pelan. Wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Aksa enteng tanpa dosa.
Naya terkesiap hebat. Napasnya tercekat seolah baru saja dicekik. "Apa kamu bilang?"
"Aku tanya, apa masalahnya, Dokter Naya?" ulang Aksa dengan nada meremehkan, matanya menatap tajam wajah pucat wanita itu. "Klem ini terbuat dari besi. Bentuknya sama. Fungsinya juga sama. Kalau jepitannya meleset, itu berarti tanganmu yang sudah tidak punya tenaga untuk menekannya dengan benar. Bukan alatnya yang salah. Jangan mencari-cari alasan."
"Aksa, ini menyangkut nyawa manusia!" Naya mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan frustrasi. "Kamu bisa menghukumku sesukamu. Kamu bisa memotong jam tidurku, menyiksaku dengan jadwal operasi gila, aku tidak peduli! Tapi jangan korbankan keselamatan pasien kritis hanya karena kamu membenciku setengah mati!"
"Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Naya," potong Aksa tajam dan menusuk. "Aku tidak sedang menghukummu. Aku melihat realita. Bima benar. Kamu sengaja mencari kambing hitam atas kinerjamu yang merosot tajam. Tanganmu gemetar kelelahan, dan sekarang kamu menyalahkan alat medis untuk menutupi ketidakmampuanmu."
Bima yang berdiri aman di belakang Aksa tersenyum penuh kemenangan. Ia melipat tangannya di dada, sangat menikmati hancurnya sang Kepala Bedah Umum.
Naya menatap Aksa dengan dada naik turun dengan cepat. Rasa lelah yang meremukkan tulang dan amarah yang berkecamuk kini perlahan menguap.
Semua emosi itu mendadak digantikan oleh rasa perih luar biasa di hulu hatinya. Aksa di depannya sekarang bukanlah pria yang dulu selalu mengutamakan keselamatan nyawa pasien.
Pria dingin di depannya ini hanyalah monster yang sudah sepenuhnya buta karena dendam masa lalu. Aksa dengan sengaja menelan mentah-mentah kebohongan Bima hanya demi mematahkan argumen Naya. Aksa rela melihat sistem rumah sakit ini hancur asalkan Naya ikut terkubur di dalamnya.
"Mulai sekarang, belajarlah bekerja dengan fasilitas yang ada. Kalau kamu masih bertingkah manja dan tidak becus menggunakan alat standar ini, silakan serahkan surat pengunduran dirimu besok pagi. Aku bisa mencari puluhan dokter bedah lain yang tidak banyak mengeluh sepertimu," ucap Aksa dengan senyum sinis yang mengiris kewarasan Naya.
Keheningan pekat menyelimuti ruangan sterilisasi itu. Para teknisi bahkan menahan napas mereka ketakutan.
Bahu Naya perlahan turun. Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Bukan karena ia gentar pada ancaman pemecatan itu, melainkan karena ia sadar berteriak memohon pada Aksa tidak akan mengubah keadaan. Pria itu sudah menutup hatinya rapat-rapat.
Naya mundur satu langkah perlahan. Sorot matanya yang tadi menyala penuh perlawanan kini meredup total, menyisakan kekosongan yang dingin dan mati rasa. Ia menatap Aksa dengan keputusasaan yang sangat dalam.
"Baik. Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan protes lagi," ucap Naya dengan suara datar, nyaris berbisik di ruangan yang sunyi senyap itu. Ia membalikkan badan dengan langkah gontai, berniat pergi dari tempat yang membuatnya sangat muak itu.
Namun, tepat sebelum jemari Naya menyentuh sensor pintu, ia menghentikan langkahnya. Naya menatap Aksa dengan sorot mata mati rasa, bergumam pelan, "Kau bukan Aksa yang dulu."
Ucapan itu membuat dada sang CEO mendadak berdenyut nyeri tanpa alasan.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak