Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06: Senyum Menyakitkan
____🌺
Selena mengulurkan tangan kanannya yang memiliki kuku terawat dengan polesan cat merah menyala. Wajahnya dihiasi senyuman ramah yang begitu sempurna, seakan tidak ada rahasia atau rasa bersalah sedikit pun yang tersembunyi di balik penampilannya.
"Halo. Aku Selena Arviana," ucap Selena dengan nada suara yang halus, "Aku mitra bisnis baru perusahaan Mahendra Group, sekaligus ... teman lama Mas Adrian."
Nayara berdiri membeku di tempatnya.
Pandangannya tertuju pada telapak tangan Selena yang terulur di udara, lalu beralih menatap wajah perempuan di hadapannya.
Senyum manis di bibir Selena terasa sangat ganjil di mata Nayara, terutama setelah membaca pesan malam terakhir yang dikirimkan perempuan itu beberapa jam lalu.
Tenggorokan Nayara terasa kering. Dengan jari-jari yang dingin dan kaku, ia perlahan mengulurkan tangan untuk membalas jabat tangan Selena.
"Nayara," jawabnya singkat dan pelan. "Aku istrinya, Mas Adrian."
"Aku tahu ...," balas Selena cepat. Senyum di wajahnya makin mengembang.
Ia melepaskan pegangan tangannya dengan gerakan lambat. "Mas Adrian sering cerita soal kamu ... beberapa kali."
Adrian yang baru saja menyusul melangkah ke samping Selena terlihat sangat tegang. Dahi pria itu dibasahi bulir keringat tipis, dan matanya terus bergerak gelisah menatap bergantian antara Nayara dan Selena.
"Nay, kamu ... kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Adrian.
Nada suara pria itu seperti di paksa santai, meski nada cemas di dalamnya tidak bisa disembunyikan. "Kenapa tidak kirim pesan dulu kalau mau datang?"
Nayara mengangkat map biru tua di tangannya, menunjukkan dokumen yang sempat ia bawa dari rumah. "Dokumen perjanjian kerja sama kamu, tertinggal di meja ruang tengah, Mas. Katanya mau dipakai rapat jam satu siang, jadi aku antar ke sini."
Adrian mengembuskan napas panjang. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah istrinya, lalu menyambar map itu dari tangan Nayara
"Oh ... iya. Aku memang sempat cari dokumen ini tadi pagi. Terima kasih ya, Nay."
"Wah, perhatian sekali ya," sela Selena sambil terkekeh pelan.
Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan interaksi pasangan suami istri di depannya.
"Mas Adrian ini memang dari dulu tidak pernah berubah. Paling teledor kalau soal menaruh barang-barang penting."
Nayara menoleh tajam ke arah Selena. "Dari dulu?"
Selena mengangguk santai. "Iya, dari dulu. Waktu kita masih kuliah, dan kami sering menghabiskan waktu bersama, dia selalu lupa menaruh kunci mobil atau dokumen tugas. Dulu, aku yang selalu repot merapikan barang-barangnya, sebelum dia berangkat ke kampus."
Kata-kata itu keluar begitu mudah dari mulut Selena, meluncur tanpa ragu. Setiap kata yang diucapkannya menghantam dada Nayara dengan telak, menyisakan rasa sesak yang kian meluas.
Wajah Adrian mendadak berubah makin pucat. Pria itu menyenggol pelan lengan Selena dengan gestur cemas. "Selena, tidak usah bahas cerita lama, di sini."
"Kenapa tidak boleh, Mas?" tanya Selena sambil menaikkan satu alisnya. Matanya menatap Adrian yang dingin.
"Kan, tidak ada yang salah dari nostalgia sebentar? Aku cuma cerita kalau kamu itu tipe pria yang memang butuh perhatian lebih dari orang terdekat kamu."
Selena kembali mengalihkan pandangannya pada Nayara. Ia menatap gaun sederhana yang dikenakan oleh istri pria itu, dengan tatapan aneh, meski bibirnya tetap tersenyum ramah.
"Kamu tahu tidak, Nayara?" lanjut Selena dengan nada seperti sedang berbincang santai di kafe.
"Mas Adrian ini, kalau lagi banyak pikiran di kantor, sukanya minum cangkir kopi hitam tanpa gula sama sekali. Tapi anehnya, dia selalu minta ditemani camilan yang manis-manis. Dulu kalau dia lagi tertekan urusan proyek, aku selalu bawakan kue cokelat kesukaannya ke apartemen."
Nayara mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Jari-jarinya terasa kaku.
Kue cokelat yang ia siapkan semalam untuk acara peringatan pernikahan mereka tiba-tiba terbayang di benaknya, kue yang bahkan tidak dilirik sedikit pun oleh Adrian, karena beralasan sudah kenyang dan lelah.
"Selena, cukup," potong Adrian dengan nada tegas yang agak panik. Pria itu memegang siku Nayara, mencoba menarik perhatian istrinya.
"Nay, jangan didengarkan. Selena cuma bercanda. Itu cerita bertahun-tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama tinggal di luar negeri."
"Aku tidak bercanda kok, Mas," sanggah Selena cepat. Ia tertawa pelan, suara tawanya terdengar sangat renyah namun menyakitkan bagi telinga Nayara. "Aku cuma memberi tahu istrimu. Siapa tahu dia belum tahu kebiasaan-kebiasaan kecilmu yang dulu."
Nayara menarik tangannya perlahan dari genggaman Adrian. Ia menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sikap Adrian yang tidak berani menegur Selena secara keras membuat Nayara sadar akan satu hal: suaminya sangat segan pada perempuan ini. Atau lebih buruk lagi, suaminya masih menyimpan perasaan untuknya.
"Mas ..." panggil Nayara dengan suara yang hampir tak terdengar. "Kamu bilang tadi pagi kamu sibuk sekali, sampai tidak sempat sarapan di rumah?"
Adrian menelan ludah dengan susah payah. Ia mengusap tengkuknya yang tegang. "Iya, Nay. Aku memang sibuk. Ini ... ini aku baru mau keluar makan siang sebentar sama Selena buat bahas pekerjaan."
"Bahas pekerjaan?" ulang Nayara pelan. "Bahas pekerjaan sambil pegang-pegang kerah baju di depan lift?"
Pertanyaan langsung dari Nayara membuat suasana di lorong lobi itu mendadak hening seketika.
Adrian terbelalak, tidak menyangka istrinya melihat adegan di depan lift beberapa menit yang lalu.
"Nayara! Kamu ini bicara apa sih?!" tegur Adrian dengan suara setengah berbisik, wajahnya memerah karena malu dan panik. Ia melirik ke kanan dan kiri, takut ada staf kantor yang mendengar. "Jangan mulai drama di sini, malu dilihat orang! Selena itu cuma merapikan kerah bajuku yang melipat!"
"Aku tidak bikin drama, Mas. Aku cuma bertanya, apa yang aku lihat sendiri," balas Nayara. Suaranya tetap tenang meski air mata sudah menumpuk di sudut matanya.
Selena yang menyaksikan percekcokan kecil itu justru tampak menikmati pemandangan di depannya. Ia memperbaiki posisi tas selempang mewahnya di bahu, lalu melangkah maju mendekati Nayara.
"Sudah, Mas Adrian. Jangan dibentak istrinya," ucap Selena dengan nada membela yang terdengar sangat buatan. "Mungkin istrimu cuma kaget melihat aku ada di sini."
Selena melirik jam tangan emas di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Nayara dengan senyuman anggunnya yang mematikan.
"Sepertinya aku harus masuk ke restoran duluan deh," kata Selena santai. "Kalian selesaikan dulu urusan suami istri ini, ya. Aku tunggu di meja dalam, Mas."
Selena berbalik membelakangi Adrian, melangkah pelan mendekati Nayara yang masih berdiri kaku. Adrian sibuk membalikkan badan, berpura-pura memeriksa isi map biru yang baru saja diterimanya untuk menghindari tatapan mata para pegawai yang melintas di lobi.
Saat posisi tubuh Selena sejajar di samping Nayara, perempuan bergaun hitam itu menghentikan langkah kakinya sejenak.
Selena mencondongkan tubuhnya ke arah telinga kiri Nayara. Rambut bergelombangnya menepis pelan bahunya, membawa aroma parfum mawar yang menyengat.
Dengan senyum tipis yang masih terukir di wajahnya, Selena berbisik sangat pelan, hingga suaranya hanya bisa didengar oleh Nayara seorang.
"Kalau aku tahu dia akan menikahimu, mungkin aku tidak akan pernah melepaskannya."
emang lu doang yang bisa 🤣🤣