Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 DI ANTARA KENANGAN DAN MASA DEPAN
Waktu berlalu begitu cepat, daun-daun berganti warna, dan udara di sekitar asrama terasa semakin sejuk. Keira berdiri di jendela kamar asrama putri, menatap ke arah taman tempat dulu dia sering merasa canggung dan asing. Sekarang, tempat itu terasa seperti rumah baginya.
Suatu sore, Zain mengajak Keira berjalan-jalan ke bukit kecil di belakang sekolah, tempat yang sering mereka kunjungi saat ingin bicara dengan tenang. Dari atas sana, mereka bisa melihat atap-atap gedung asrama yang tersebar di bawah, terlihat begitu damai di bawah cahaya matahari sore yang keemasan.
"Kamu tahu, Zain" Ucap Keira pelan sambil memeluk lututnya
"Dulu aku pikir mencintaimu berarti harus selalu bersamamu, tahu setiap gerak-gerikmu dan memastikan tidak ada yang lain di dekatmu. Aku pikir kalau aku berpegangan erat-erat, kamu tidak akan pergi. Ternyata aku salah, semakin erat aku mencengkeram, semakin aku takut kehilangan. Dan rasa takut itu justru yang membuatku menyakitimu dan menyakiti diriku sendiri" Lanjut Keira
Zain menatapnya lembut, lalu menyentuh punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Itu bukan kesalahanmu sepenuhnya, Keira. Kita semua belajar mencintai dari apa yang kita alami di rumah. Kalau kasih sayang yang kita kenal selama ini penuh dengan kecemasan, wajar kalau kita pikir itu bentuk cinta yang benar. Tapi cinta yang sehat seharusnya membuat kita merasa aman, bukan gelisah" Jawab Zain
Keira menoleh, menatap mata Zain yang selalu terasa seperti rumah baginya.
"Terima kasih sudah sabar menungguku tumbuh, terima kasih tidak pergi saat aku paling sulit dimengerti. Aku tidak sempurna, Zain. Aku mungkin masih cemburu kadang-kadang, masih takut kehilanganmu. Tapi sekarang aku belajar menaruh kepercayaan, bukan rasa takut, di hatiku" Ucap Keira
Zain tersenyum tulus, lalu menggenggam tangannya erat namun lembut.
"Aku juga tidak sempurna, Keira. Kadang aku terlalu diam, terlalu menyendiri tapi kita belajar bersama, kan ? Itu yang terpenting. Kita tidak harus sempurna untuk layak bersama, kita hanya harus saling berusaha untuk menjadi lebih baik, satu sama lain" Jawab Zain
Saat mereka turun dari bukit, mereka melihat pemandangan yang hangat di halaman asrama. Dina sedang tertawa bersama beberapa gadis lain sambil membagikan kue yang baru saja ia pelajari membuatnya. Aldo sedang membantu teman-teman yang lain memperbaiki pagar kayu yang rusak, dan sesekali terdengar tawa renyahnya tawa yang dulu hampir tak pernah keluar dari bibirnya. Rian, Bima, dan Dimas sedang duduk melingkar sambil merencanakan kegiatan bakti sosial untuk akhir pekan nanti. Semua orang tumbuh, semua orang berubah, dan perubahan itu dimulai dari satu hal kecil: kebaikan yang tulus.
Keira menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Zain sebelum mereka berpisah menuju asrama masing-masing.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kita lulus nanti, mungkin kita akan terpisah jarak, mungkin dunia di luar sana lebih keras dari yang kita kira. Tapi satu hal yang aku tahu, apa pun yang terjadi di masa depan, bagian hidupku di sini, bersamamu dan teman-teman kita, akan selalu menjadi bagian terindah dalam ceritaku" Ujar Keira
Zain tersenyum, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.
"Aku juga, Keira dan percayalah masa depan tidak perlu ditakuti selama kita berusaha membangunnya dengan kebaikan yang sama seperti yang kita pelajari di sini. Di mana pun kita berada, kita selalu membawa pelajaran ini di dalam hati" Jawab Zain
Malam itu, bintang-bintang bersinar terang di langit yang jernih. Tidak ada janji abadi yang terucap, tapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu keyakinan bahwa mereka berdua sedang berjalan ke arah yang sama, saling mendukung dan tumbuh bersama menuju versi diri yang lebih baik.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...