Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Buk!
Su Wanwan menutup buku yang di bacanya dan mulai mengetik sesuatu di catatan handphone nya.
"Jika melihat waktunya, sekarang harusnya Su Weiwei sudah berdagang lintas dunia dan mulai membangun kekuatan nya. Namun karena rumah itu di dapatkan olehku, maka hal ini pun tidak terjadi."
"Di cerita, dalam satu bulan Su Weiwei akan berhasil membuat dirinya menjadi kaya. Membuka toko kelontong modern, lalu dia akan di notice Jenderal perang saat sedang melakukan perjalanan dan menginap di desa."
"Su Weiwei dan jendral perang negara melakukan kerjasama dagang, Su Weiwei menjual pasokan hingga akhirnya dekat dengan nya dan membuat alur baru dengan sang jendral."
"Berarti, jika tidak ada efek kupu-kupu seharusnya Jenderal perang ini akan singgah di desa sebulan lagi..." Su Wanwan tersenyum tipis dengan tatapan licik yang menatap kekosongan.
"Aku ingin tahu bagaimana alur selanjutnya, saat Su Weiwei tidak mendapatkan cheat nya. Apakah alur hubungan nya dengan Jenderal perang masih akan ada."
Su Wanwan kembali membuka buku novel tebal itu, ia membuka bagian akhir. "Namun rasanya ending buku ini terasa menggantung, hubungan Su Weiwei dan Jenderal perang Huo tidak di jelaskan secara resmi. Cerita berakhir saat Jendra Huo terbukti sebagai putra pertama kaisar."
"Apakah ada Season 2 nya?"
Su Wanwan mengotak-atik handphone nya selama beberapa saat hingga akhirnya matanya mengerjap. "Berjuang Di Tiga Dunia bagian 2?!"
Tanpa pikir panjang Su Wanwan langsung memesan nya, dia menghela napas pelan. "Tiga dunia... Apakah pintu dimensi nya bisa terhubung dengan lebih dari satu dunia?"
"Mungkin saja terjadi, seperti di cerita-cerita serupa ada kemungkinan seperti itu."
Su Wanwan bangkit dari ranjang, ia menatap jam. "Jika aku tidur di sini, maka tengah malam nanti akan langsung terlempar ke ranjang kayu itu. Bagaimana jika aku tidur di dalam ruang, apakah akan terlempar juga?"
Su Wanwan mengambil bantal dan selimut tebalnya, dia menggelar selimut sebagai alas tidur dan langsung berbaring di sana. "Terasa menyegarkan, namun tidak dingin. Hoam~ "
***
Keesokan harinya.
Su Weiwei berdiri cukup lama di depan pagar rumah tua ujung desa itu, entah kenapa semakin menatap dia jadi makin merasa akrab. Namun saat tangan nya menyentuh pagar kayu itu, hatinya merasa asing.
Su Weiwei tidak mengerti dengan apa yang di rasakan nya, apakah seharusnya dia mengambil rumah ini saja? Tidak, rumah ini dekat dengan hutan dan terpencil. Ia dan anak-anak tidak akan hidup aman di rumah ini.
"Hah..."
Krieett...
Mendengar suara decit pintu tua terbuka, Su Weiwei menatap Hu Zheng yang keluar. Tatapan mereka bertemu, "ah, Hu Zheng" ucap Su Weiwei.
Hu Zheng mengangguk. "Bibi Wei, ada apa bibi kemari?"
Su Weiwei tersenyum ramah. "Hu Zheng, bibi membawakan kalian bakpao sayur. Ambilah ini, makan cepat-cepat jangan sampai Wanwan melihatnya. Kalian pasti kelaparan kan."
Su Weiwei menatap Hu Zheng sambil tanpa sepengatahuan nya melirik ke arah lain. Pikiran nya sedikit tidak bisa di kendalikan nya, saat melihat pria gagah ini dia tiba-tiba berpikir mengapa tidak dirinya saja yang memilikinya, kenapa harus kakak nya?
Namun lintasan pikiran yang sudah biasa itu kembali di hempas kan nya.
Su Weiwei mengulurkan keranjang yang berisi bakpao sayur nya kepada Hu Zheng dari luar pagar. Hu Zheng terdiam sebentar menatap keranjang bakpao itu.
"Bibi, terimakasih atas niat baik bibi. Namun bakpao ini bibi ambil kembali saja, kami tidak kekurangan makan."
Su Weiwei sedikit tersentak kaget. Apa yang terjadi tidak sesuai ekspektasi nya, dulu ia juga pernah memberikan makanan dan Hu Zheng akan sangat menghargai nya.
"Halo bibi,," sapa Bai Rongxin baru saja keluar. Dia mendengar apa yang di ucapkan Hu Zheng, dan melihat keranjang itu dia pun cukup tahu situasi nya.
"Bibi apa yang di katakan Kakak Hu benar, bakpao ini berikan saja pada adik Hao. Kami tidak kekurangan makanan."
Mendengar dua penolakan langsung, Su Weiwei tidak memiliki muka lagi jika terus memaksa. Ia memaksa kan senyuman nya dan menarik kembali keranjang nya.
"Baiklah, Wanwan sedang tidak menyukai ku. Aku tidak akan datang masuk, kalian berhati-hatilah, jika Wanwan menyusahkan kalian. Kalian bisa datang ke bibi." Ucap Su Weiwei sebelum berpamit pergi.
"Bibi Wei tenang saja, Nyonya baik kepada kami." ucap Bai Rongxin.
Su Weiwei terdiam sesaat, namun kaki nya kembali stabil melangkah pergi.
Selepas kepergian Su Weiwei, Bai Rongxin mengerutkan keningnya. "Kenapa dari ucapan Bibi Wei seperti Nyonya saja yang bersalah?"
"Dulu nyonya memang bersalah, sekarang perubahan nya belum di sadari banyak orang. Jadi orang-orang masih menganggap nya sama." ucap Hu Zheng, lalu pergi dengan embernya.
Meskipun perkataan Hu Zheng masuk akal, namun Bai Rongxin merasa ucapan Su Weiwei tidaklah benar juga. Dia menolak bakpao dari Su Weiwei karena tidak ingin menyusahkan nya lagi, terutama karena dia sadar keluar bibi Wei juga miskin. Namun ucapan Bibi Wei tadi sedikit mengubah pandangan nya.
Entah karena dia mulai berpihak pada Su Wanwan atau memang logika nya sedang jernih.
...
Bangun tidur Su Wanwan merasa sangat senang, berat badannya turun 3 kilo dalam sekali olahraga di ruangan. Kualitas kulitnya semakin membaik dan mood nya hari ini benar-benar baik.
Setelah kursi di buat dan meja di perbaiki, Su Wanwan tanpa sungkan memberikan mereka duduk semeja dengan nya. Sekarang, dia sarapan bersama ketiga bujang budak nya dengan menu seperti kemarin-- bubur daging.
Bai Rongxin memperhatikan ekspresi tuan nya yang tidak sedingin dan semisterius kemarin. 'Apakah makanan ku sangat enak sampai membuat Nyonya senang?' pikirnya.
Su Wanwan tidak peduli lagi dengan yang lainnya, di hadapan penampilan nya, dia tidak memiliki prioritas lain saat ini. Dengan cepat ia menghabiskan makanannya dan langsung kembali ke kamarnya, sebelum itu dia kembali berpesan.
"Seperti kemarin, jangan ganggu aku. Aku merasa kurang sehat ingin terus istirahat, kalian makan, makan saja yang ada. Jika bahan-bahan di rumah habis segera beritahu aku."
"Nyonya, apakah mau di buatkan sup jahe?"
"Tidak perlu, jangan mengganggu."
"Owh... Baiklah..."
Di dalam ruang, setelah mengganti pakaian nya dengan pakaian olahraga Su Wanwan kembali melakukan gerakan-gerakan pemanasan olahraga dasar.
Ia juga mempelajari gerakan wushu dan iseng membaca teori-teori kultivasi. Tak disangka, saat mempraktikkannya, tubuhnya perlahan terasa semakin kuat. Ia menyadari tubuhnya seperti menyerap energi di dalam ruangan ini. Awalnya tipis, tetapi semakin ia mempraktikkan teori tersebut, semakin kuat pula daya serap tubuhnya.