NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34 mendamaikan pasangan

Sore itu Erin tidak menerima penolakan lagi. Ia berdiri di ambang kamar Veronica dengan tangan terlipat di dada, mengenakan gaun makan malam terbaiknya, lalu menyatakan bahwa Veronica harus ikut makan malam. Ketika menantunya hanya menggeleng sambil menarik selimut sampai ke dagu, Erin menghela napas dan berkata dengan tenang, "Kalau kau tetap menolak, aku yang akan pergi dari kediaman Vanguard malam ini juga. Biar rumah ini diurus oleh orang-orang yang tidak mau saling bicara."

"Ibu tidak bisa melakukan itu," protes Veronica sambil bangkit setengah duduk, matanya membulat. "Rumah ini membutuhkan Ibu."

"Kalau begitu, turunlah bersamaku," sahut Erin tanpa bergeser sedikit pun dari ambang pintu.

Veronica menatapnya tak percaya, lalu menghembuskan napas kalah. Ancaman itu terdengar seperti lelucon, tetapi sorot mata Erin sama sekali tidak bercanda, dan ia tidak sanggup membayangkan rumah ini tanpa wanita itu. Maka dengan bahu terkulai dan langkah yang diseret, ia mengikuti mertuanya menuruni tangga, padahal seluruh hatinya berteriak agar ia tidak perlu bertemu Altres sama sekali.

Namun akhirnya mereka duduk juga di meja yang sama. Lilin menyala di sepanjang meja, aroma sup hangat dan daging panggang memenuhi ruangan, tetapi suasananya sedingin udara di luar jendela. Altres duduk di ujung meja dengan punggung kaku, sesekali melirik istrinya yang pura-pura sibuk memotong dagingnya menjadi potongan-potongan kecil. Para pelayan bergerak serba hati-hati di sekitar meja, menuang air dan mengganti piring tanpa suara, seolah takut memecahkan keheningan yang rapuh itu. Denting sendok dan garpu terdengar terlalu nyaring di antara mereka, dan kecanggungan sejak peristiwa di istana masih menggantung seperti kabut yang menolak pergi. Erin menyesap anggurnya dengan santai, lalu membuka pembicaraan seakan tidak merasakan apa pun. "Festival panen akan diadakan dua minggu lagi. Veronica, sebagai Duchess kau yang akan memimpin acara penyerahan persembahan kepada dewa."

Garpu di tangan Veronica berhenti di udara. Ia menunduk, jemarinya meremas serbet di pangkuannya, dan untuk sesaat ia terlihat seperti anak kecil yang disuruh maju ke depan kelas tanpa persiapan. "Aku rasa itu tidak pantas, Ibu. Mungkin aku memang diberi gelar Duchess, tapi aku bukan nyonya keluarga Vanguard yang sesungguhnya."

Sebelum Erin sempat menanggapi, Altres sudah lebih dulu meletakkan sendoknya. "Kau adalah nyonya rumah ini." Ia mengangkat wajah dan menatap istrinya lurus-lurus, suaranya rendah namun mantap, sementara jemarinya mencengkeram tepi meja. "Terlepas dari perjanjian pernikahan yang mengikat kita, kau adalah nyonya rumah ini."

Veronica memalingkan wajah ke arah api lilin, bibirnya menipis. "Mudah sekali bicara begitu, Duke," ujarnya dengan senyum dingin yang tidak mencapai matanya. "Tapi kalau suatu hari aku melakukan kesalahan, bukankah itu justru kesempatan bagimu untuk membunuhku dan mengakhiri pernikahan yang hanya pengikat aliansi ini?"

Rahang Altres mengeras, dan ia meletakkan pisaunya dengan bunyi yang lebih keras dari yang ia maksudkan hingga salah satu pelayan di sudut ruangan tersentak. Tatapannya menggelap, bukan karena marah, melainkan karena tuduhan itu terdengar terlalu dekat dengan ketakutannya sendiri. "Kau terlalu berburuk sangka padaku. Aku hanya ingin kau menikmati posisimu sebagai Duchess, itu saja. Aku tidak berniat membunuhmu. Aku ingin aliansi dengan para naga terus berjalan supaya perang tidak pecah lagi."

Veronica mendengarkan sambil terus menikmati makan malamnya dengan gerakan yang tenang, tetapi tatapannya pada Altres dingin seperti es di sungai musim dingin. Mempercayai pria itu adalah hal yang mustahil baginya. Ia masih ingat jelas bagaimana pria itu berdiri di hadapan Kaisar dan menyatakan dirinya salah satu pembunuh naga terkuat di kekaisaran, kata-kata yang terus bergema di kepalanya setiap kali ia memejamkan mata. Pria seperti itu bisa membunuhnya dengan mudah kapan pun waktunya tiba, dan semua kata-kata manis tidak akan mengubah kenyataan itu. Ia menusuk sepotong daging dengan garpunya, mengunyahnya perlahan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan, seakan sedang menantang Altres untuk membantah.

Erin meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menoleh bergantian pada keduanya dengan senyum yang terlalu tenang. "Apakah kalian sudah cukup dengan pertengkaran ini?" Ia menunggu sejenak, kemudian beralih pada Veronica dengan nada yang lebih lembut. "Veronica, jawab dengan jujur. Apakah putraku pernah menyakitimu dengan tangannya sendiri?"

Veronica terdiam sejenak, mengerutkan kening seakan benar-benar menggali ingatannya, lalu menggeleng pelan. "Tidak pernah. Tapi aku juga tidak ingin suatu hari dibunuh olehnya."

"Itu tidak akan pernah terjadi selama aku masih hidup." Erin menepuk punggung tangan Veronica dengan mantap, lalu menatap putranya tanpa berkedip. "Aku akan melindungimu dari putraku sendiri kalau perlu." Ia kemudian menegakkan punggung dan bertanya langsung pada Altres, "Jawab ibumu dengan jujur, Nak. Apakah kau akan membunuh Veronica kalau dia melakukan kesalahan?"

Altres terdiam cukup lama, menatap piringnya seolah jawabannya tertulis di sana. Suasana meja makan mendadak begitu sunyi hingga bunyi api lilin yang berderak pun terdengar jelas. Akhirnya ia mengangkat wajah. "Aku tidak akan membunuh sembarangan, Bu. Kecuali kalau Veronica mengancam para penduduk di Kekaisaran Uddine." Ia menggeleng pelan dengan senyum getir. "Tapi aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya. Dia istriku, orang yang ingin kulindungi dengan seluruh kekuatanku."

Veronica nyaris tersedak minumannya, dan pipinya menghangat tanpa bisa ia cegah. Kata "istriku" terdengar asing sekaligus aneh di telinganya, seperti nada yang belum pernah ia dengar dalam lagu lama, tetapi ia segera menunduk dan menyembunyikan perasaan itu di balik gelas, menolak mengakui bahwa jantungnya baru saja melompat.

"Nah," kata Erin sambil menoleh pada Veronica dengan alis terangkat. "Kau sudah mendengar sendiri jawabannya, tanpa perantara dan tanpa paksaan. Apakah kau puas dengan jawaban langsung dari putraku?"

"Aku sudah kehilangan kepercayaanku pada Duke," sahut Veronica pelan namun tegas, tanpa menatap siapa pun. "Dan aku tidak akan mempercayainya sampai kapan pun."

Altres menunduk dalam-dalam, jemarinya mengepal di atas paha, dan sesuatu di wajahnya tampak runtuh sesaat sebelum ia menyembunyikannya kembali di balik topeng dinginnya. Ia tidak membantah sepatah kata pun. Erin hanya mengangguk pelan, tidak berniat memaksa siapa pun malam itu. Meyakinkan istrinya adalah tugas Altres sendiri, dan ia hanya ingin perang dingin di antara keduanya berakhir malam ini juga.

"Baiklah, cukup soal itu," ujarnya sambil menyandarkan punggung ke kursi dan mengusap sudut bibirnya dengan serbet. "Besok kita kedatangan tamu yang harus kita temui bersama, dan aku tidak ingin ada yang absen. Tamu itu adalah Rose Valen." Ia memutar gelas anggurnya perlahan, memandangi cairan merah itu berputar seperti sedang menimbang sesuatu. "Dia akan membicarakan festival panen, tapi sebenarnya dia ingin merebut posisimu sebagai Duchess Vanguard, Veronica. Karena itu aku ingin kau melakukan apa yang kupikirkan untuk memberi pelajaran kepadanya."

Veronica tertegun, sendok di tangannya berhenti di tengah jalan menuju mulut. Nama itu membuka kembali ingatan yang selama ini ia coba kubur, tentang kata-kata tajam yang pernah dilontarkan Rose Valen, kalimat-kalimat yang menusuk hingga membuatnya tidak enak hati pada Erin, wanita yang kehilangan suami dan kedua putranya dalam perang melawan para naga. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu mengangkat pandangan, menatap mertuanya yang justru tersenyum penuh arti, senyum yang sama sekali tidak mirip senyum seorang wanita yang sedang berduka.

"Aku tidak ingin Ibu terluka lagi karena aku," bisik Veronica nyaris tak terdengar.

"Aku tidak akan terluka, Nak," jawab Erin lembut sambil meremas jemarinya. "Aku sudah cukup lama berduka, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memakai dukaku untuk menyakitimu. Justru Rose Valen yang harus belajar bahwa tidak semua kata bisa diucapkan tanpa akibat."

Altres menatap kedua wanita itu bergantian dengan kening berkerut, jelas tidak mengerti apa yang sedang direncanakan ibunya, tetapi untuk pertama kalinya malam itu Veronica balas menatapnya sekilas, singkat dan tanpa senyum, sebelum kembali menunduk dan melanjutkan makan malamnya dalam diam, tetapi kali ini tanpa dinginnya yang tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!