Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lo Apa-apaan Sih!
Deretan pepohonan yang lebat langsung menyambut rombongan Ayara, menciptakan jalur setapak yang teduh namun terasa lembap. Sinar matahari pagi hanya mampu menerobos masuk di antara celah-celah dedaunan, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas tanah yang dipenuhi serasah daun kering.
Di barisan depan, Heri berjalan memimpin dengan langkah yang teratur, diikuti oleh Andik, Stevi, Diana, Adel, Linda, Clara, Maura, Ayara dan Rian.
"Gimana, Ra? Masih kuat?" tanya Ayara ramah seraya menyesuaikan langkahnya agar tidak tertinggal.
Maura menoleh ke belakang, menyeka butiran keringat di keningnya dengan punggung tangan. "Baru juga setengah jam jalan, Ra. Tapi kaki gue udah mulai berasa ketarik nih. Padahal jalurnya masih landai, ya," keluh Maura, diiringi tawa kecil dari Clara.
"Namanya juga pemanasan, Ra. Sabar, perjalanan kita masih panjang banget," timpal Clara yang juga menenteng botol air mineral di tangannya.
Meski jalur pendakian awal Argopuro tergolong cukup ramah bagi pemula karena konturnya yang berupa tanah padat dan sesekali akar pohon yang melintang, bagi Ayara dan beberapa temannya yang belum pernah mendaki, aktivitas ini tetap menuntut tenaga ekstra. Suara dengungan serangga hutan dan kicauan burung liar berpadu dengan suara gesekan alas sepatu bot di atas tanah, menciptakan ritme alam yang menenangkan di tengah lelahnya fisik.
Sekitar lima jam perjalanan ditempuh tanpa henti, Heri akhirnya mengangkat tangan memberi isyarat agar rombongan berhenti. "Baik, semuanya. Kita sudah sampai di Pos 1. Kita istirahat sejenak, turunkan tas, minum air secukupnya dan jangan lupa atur napas."
"Akhirnya!" seru Maura dan Adel hampir bersamaan, dan langsung mencari tempat duduk di atas batang pohon tumbang yang bersih di tepi jalur pendakian.
Ayara menurunkan ranselnya yang terasa kian berat di pundak. Ia meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku, lalu mengeluarkan botol air minum dari saku samping tasnya. Air dingin yang mengalir di tenggorokan terasa begitu menyegarkan, mengembalikan tenaga yang sempat terkuras habis akibat pendakian nonstop selama dua jam penuh.
Sambil menikmati suasana sekitar, mereka saling melempar candaan untuk mencairkan ketegangan dan rasa lelah di kaki. Linda membagikan beberapa potong cokelat batangan kepada teman-temannya untuk tambahan energi.
"Nih, makan dulu biar nggak pada tumbang sebelum sampai pos berikutnya," kata Linda menyodorkan sepotong cokelat pada Ayara.
"Makasih, Lin," ucap Ayara tersenyum menerimanya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari arah jalur pendakian di bawah, sayup-sayup terdengar suara gaduh tawa dan obrolan laki-laki yang mendekat ke arah pos peristirahatan.
Tak berselang lama, muncul para pendaki pria berjumlah lima orang dengan pakaian dan atribut outdoor lengkap, mereka berjalan beriringan dengan gaya santai.
Para pria tersebut melewati rombongan Ayara dan langsung mengambil tempat duduk di sisi jalur pendakian, hingga hampir menutup akses pendakian. Salah satu dari mereka tampak memperhatikan Clara, Ayara yang melihat itupun mendekati Clara.
"Cowok pakai topi biru dari tadi lihatin kamu, Ra. Kamu kenal?" tanya Ayara, Clara tampak terkejut dan menggeleng.
"Wah, rame juga ya pos ini. Kirain cuma kita aja yang naik," ujar salah seorang pria.
"Namanya juga gunung, siapa aja boleh kalau mau mendaki," ucap pria lainnya.
Disisi lain, melihat waktu istirahat yang dirasa sudah cukup dan suasana yang mulai kurang nyaman, Heri pun berdiri dan memberikan instruksi.
"Baik, semuanya. Istirahatnya cukup ya. Kita lanjutkan perjalanan lagi sebelum jalur makin siang dan matahari makin terik."
Satu per satu anggota rombongan Ayara berdiri, mengenakan kembali ransel mereka dan bersiap melanjutkan langkah. Urutan barisan diatur ulang, di mana Clara berada di depan, disusul oleh Ayara tepat di belakangnya, lalu Maura, Adel, Diana, Stevi dan Linda, untuk guide dan porter, barisannya masih sama seperti tadi.
Rombongan Ayara mulai berjalan melewati area peristirahatan Pos 1. Jalur di sekitar pos tersebut agak menyempit karena diapit oleh dinding tanah dan semak belukar yang cukup lebat, memaksa pendaki untuk berjalan beriringan satu per satu.
Saat rombongan Ayara melangkah melewati gerombolan pria yang masih duduk-duduk santai, salah satu pria berkaus hitam yang tadi menatap Clara mendadak berdiri secara tiba-tiba. Tanpa diduga, tangan pria itu terulur dan menarik ujung lengan jaket Clara yang berjalan tepat di depan Ayara.
Gubrak!
Tarikan mendadak itu membuat keseimbangan Clara langsung hilang, tubuhnya terhuyung ke samping dan hampir jatuh ke tanah. Karena posisi Ayara berada tepat di belakang Clara dengan jarak yang sangat dekat, gerakan reflek Clara yang limbung pun ikut menyeret tubuh Ayara.
Ayara terkejut bukan main, langkah kakinya yang tidak seimbang membuatnya terpeleset di atas tanah berbatu. Dalam sepersekian detik, Ayara siap untuk merasakan tubuhnya meluncur ke depan dan menghantam tanah keras di tepi jalur pendakian.
Namun, sebelum tubuh Ayara menyentuh tanah, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram lengan dan bahunya dengan kuat dan menahan sekaligus menarik tubuh Ayara agar tidak jatuh.
Ayara tidak jadi jatuh, melainkan terdorong pelan dan mendarat di hadapan seorang pria, dimana pria itu merupakan salah satu dari rombongan pria yang menarik Clara.
Napas Ayara memburu kencang dan jantungnya berdegup sangat cepat karena kaget, ia mendongakkan kepalanya perlahan untuk melihat siapa sosok yang telah menyelamatkannya.
Di hadapannya kini, berdiri seorang pria berbalut jaket gunung waterproof warna abu-abu gelap dengan tudung kepala yang sudah diturunkan. Garis wajah pria itu tegas, berahang kuat, dengan sorot mata tajam namun memancarkan ketenangan yang luar biasa. Sepasang mata mereka beradu pandang selama beberapa detik di tengah kesunyian hutan.
"Kamu... tidak apa-apa?" suara pria itu bernada bass rendah, terdengar tenang namun berwibawa di telinga Ayara.
Ayara berkedip cepat, menyadari posisi mereka yang terlampau dekat. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena terkejut hampir terjatuh, melainkan juga karen genggaman tangan pria tersebut yang menahan bobot tubuhnya.
"Sa-saya tidak apa-apa, Mas. Terima kasih banyak," ucap Ayara terbata-bata seraya membetulkan posisinya dan melangkah mundur.
Maura yang dekat dengan Ayara pun segera memeriksa keadaannya, "Lo gapapa?" tanya Maura.
"Gapapa, Ra," jawab Ayara.
"Maaf ya, Ra. Gue kaget banget tadi," ucap Clara.
"Iya, gapapa. Kamu gapapa, kan?" tanya Ayara.
"Gue gapapa, kok," jawab Clara.
"Syukurlah kalau gapapa," balas Ayara.
"Lo apa-apaan sih!" bentak Clara, pada pria yang tadi menarik jaketnya.
"Masih marah?" tanya pria tersebut.
Pertanyaan itu sontak membuat semua teman-teman Clara terkejut termasuk Ayara, "Lo kenal, Ra?" tanya Adel.
"Nggak," jawab Clara cepat.
"Ck, baru juga putus udah lupa aja sama mantan. Padahal kita putusnya belum ada satu bulan," ucap pria tersebut.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita