32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Vivi Anindita, 30 tahun, telah menghabiskan delapan tahun terakhir hidupnya sebagai guru di yayasan pendidikan Pincuran Ilmu. Bagi rekan-rekannya, Vivi dikenal sebagai sosok sabar, pekerja keras, dan hampir tidak pernah mengeluh. Namun di balik senyumnya, ia menyimpan kesepian yang tidak pernah benar-benar hilang.
Hidupnya berjalan sederhana dan nyaris tanpa perubahan. Setiap pagi berangkat mengajar, sore menyiapkan materi pelajaran, lalu pulang ke rumah orang tuanya. Sementara satu per satu teman seusianya menikah dan membangun keluarga, Vivi memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Bukan karena ia tidak ingin menikah.
Bertahun-tahun lalu, saat masih berusia awal dua puluhan, Vivi menerima vonis yang menghancurkan harapannya. Dokter Sinta, dokter senior yang juga teman ibunya menyatakan bahwa ia mengalami gangguan yang membuatnya hampir mustahil memiliki keturunan. Sejak hari itu, dunia Vivi seakan berhenti bergerak.
Beberapa pria pernah mendekatinya. Ada yang tulus, ada yang datang melalui perjodohan keluarga. Namun satu per satu memilih mundur setelah mengetahui kondisinya. Ada yang menolak secara halus, ada pula yang terang-terangan mengatakan bahwa mereka menginginkan seorang istri yang dapat melahirkan anak.
Penolakan demi penolakan membuat Vivi kehilangan kepercayaan diri. Ia mulai meyakini bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dicintai sebagai seorang perempuan. Karena itulah ia berhenti berharap.
***
Pagi itu, Vivi dipanggil ke ruang pribadi Bu Mega. Bukan ruang rapat, bukan ruang administrasi. Ruangan itu lebih terasa seperti tempat keputusan besar dibuat, tempat yang tenang, rapi, dan dingin.
Vivi berdiri di depan meja kerja yang besar, sementara Bu Mega tidak langsung membuka pembicaraan. Ia justru menatap laporan di tangannya seolah sedang memastikan sesuatu yang sudah ia putuskan sejak lama. “Duduklah, Vivi,” ucapnya akhirnya.
Vivi menurut, meski firasat tidak enak mulai muncul sejak langkah pertamanya masuk ke ruangan itu.
Ada jeda panjang sebelum Bu Mega berbicara lagi. “Kamu sudah delapan tahun bekerja di yayasan ini.”
“Ya, Bu.” jawab Vivi dengan sopan.
“Dan selama itu, kamu tidak pernah membuat masalah.”
Vivi mengangguk kecil. Selama delapan tahun mengajar, setiap tahunnya ia selalu terpilih menjadi guru terbaik. Itu sudah menjadi bukti bagaimana ia disukai oleh murid-murid, rekan guru hingga wali murid.
Bu Mega meletakkan kertasnya perlahan. “Karena itu, saya percaya kamu orang yang bisa menjaga tanggung jawab.” Lalu kalimat itu datang, tanpa pembukaan yang lebih lembut. “Kamu tahu Baskara?" jeda sejenak . "Putra saya satu-satunya. Sejak dua tahun lalu ia menjadi duda, istrinya meninggal saat melahirkan cucu saya yang kelima." Ruangan terasa lebih sempit dalam satu detik. “Lima anaknya membutuhkan figur ibu,” lanjut Bu Mega, memotong pelan, tapi tegas. “Rumah itu sudah terlalu lama kosong dari sosok perempuan yang bisa menenangkan mereka.”
Vivi menunduk sedikit, mencoba mencari logika di balik percakapan ini, akan kemana arahnya? Sebab sebelumnya ia dan Bu Mega tidak dekat, hubungan mereka hanya sebatas atasan dan karyawan.
Tiba-tiba, seolah mengerti tanda tanya di kepala Vivi, Bu Mega menyatakan harapannya agar Vivi mau menjadi calon istri Baskara.
“Kenapa saya?” suaranya akhirnya keluar, lebih kecil dari yang ia inginkan. Ini kantor, tempatnya bekerja. Tetapi sekarang ia malah dijodohkan.
Bu Mega menatapnya lama. Bukan dengan ragu. Tapi dengan keyakinan yang membuat Vivi justru merasa tidak punya ruang untuk menolak. “Karena kamu stabil. Dan kamu tidak asing bagi saya.”
Kalimat terakhir itu membuat Vivi bingung. Seolah semua alasan yang disebutkan bukanlah alasan, melainkan penempatan. Seperti ia sudah dipilih jauh sebelum percakapan ini dimulai. Vivi menarik napas pelan. “Ini… lamaran?” tanyanya hati-hati, hampir tidak percaya dirinya mengucapkan kata itu.
Bu Mega mengangguk. “Kurang lebih begitu. Maafkan saya kalau lamaran ini terkesan resmi, di tempat kerja, tanpa kehadiran keluarga, tetapi saya terpaksa melakukan ini demi cucu-cucu saya,” jawabnya. Lalu Bu Mega melanjutkan, kali ini lebih pelan, tapi justru lebih tajam. “Kalau kamu menolak, mungkin kami tidak bisa menempatkan kamu di yayasan lagi.” Kalimat itu tidak perlu dilanjutkan. Tidak ada ancaman yang diucapkan keras-keras.
Namun Vivi mengerti dengan sangat jelas. Delapan tahun kerja, satu-satunya tempat ia berdiri, semua bisa runtuh hanya dengan satu jawaban. Vivi menatap tangannya sendiri di atas lutut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak sedang memilih karier. Ia sedang memilih hidupnya.
***
Malam itu, rumah sederhana itu terasa seperti biasa. Tidak besar, tidak mewah, tapi cukup lapang untuk tiga orang yang tinggal di dalamnya, yaitu Vivi dan kedua orang tuanya. Kedua kakaknya sudah berumah tangga dan menetap di kota lain, menyisakan rumah itu dengan ritme yang pelan dan teratur.
Seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah, mereka makan malam bersama di meja yang sama, tiga piring, tiga gelas, dan obrolan ringan tentang hari yang baru saja lewat. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda di dada Vivi. Ia makan lebih lambat dari biasanya.
Ibunya yang pertama kali menyadari. “Kamu capek?” tanya ibunya sambil menyendok sayur.
Vivi mengangguk kecil. “Sedikit.”
Ayahnya tidak banyak bicara. Hanya makan seperti biasa, tenang, seolah dunia di luar meja makan tidak sedang membawa sesuatu yang baru.
Setelah makan selesai, seperti tradisi kecil yang tidak pernah dilewatkan, ibunya mulai membereskan piring, sementara ayahnya duduk bersandar di kursi kayu tua mereka. Dan di saat itulah, Vivi akhirnya membuka suara. “Bu, Pak… aku mau cerita sesuatu.”
Gerakan ibunya berhenti sejenak. Ayahnya menoleh pelan.
Vivi menarik napas. “Di yayasan, tadi aku ditawari untuk menikah.”
Seketika, tangan ibunya yang memegang piring terhenti di udara. “Apa?” suara ibunya naik sedikit, bukan marah, tapi kaget yang tidak disembunyikan.
Vivi melanjutkan cepat, seolah takut kehilangan keberanian. “Namanya Baskara. Anak pemilik yayasan. Duda,” tambah Vivi, “punya lima anak.”
Ibunya langsung menoleh penuh. “Lima?” ulangnya, seperti memastikan ia tidak salah dengar.
Vivi mengangguk. Untuk sesaat, hanya suara jam dinding yang terdengar di ruangan itu.
Lalu ibunya duduk kembali, tapi kali ini bukan dengan ragu. Justru ada sesuatu yang menyala di matanya. “Ya sudah,” katanya cepat. “Terima.”
Vivi berkedip. “Bu?”
“Ini kesempatan bagus,” lanjut ibunya, suaranya mulai naik semangat. “Kamu itu sudah tiga puluh, Vivi. Kamu pikir mau tunggu sampai kapan? Ini pria mapan, anak orang baik-baik, kerjaan kamu juga aman.” Vivi membuka mulut, tapi belum sempat bicara, ibunya sudah melanjutkan lagi. “Lima anak juga bukan masalah. Kamu kan memang,” ibunya ragu sejenak, lalu menurunkan suara, “kamu tidak bisa punya anak. Jadi kamu tidak perlu khawatir soal itu. Malah ini seperti jalan keluar." Ibunya tidak bermaksud menyakiti. Justru sebaliknya, ibunya terlalu ingin memastikan hidup Vivi seperti kebanyakan orang-orang yang lain. Setelah dewasa menikah.
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik