NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pecahan kaca bergemerincing jatuh ke lantai marmer bersamaan dengan rintihan kesakitan Bayu.

Tanpa memedulikan tatapan ngeri dari pengunjung lain maupun darah yang menetes dari pelipis temannya, Arga membalikkan badan. Langkahnya panjang dan cepat, membelah kerumunan pengunjung lounge dan menghilang di balik pintu keluar tanpa menoleh lagi.

Di belakangnya, Dimas langsung menyambar kerah kemeja Bayu, menarik pria yang sedang meringis kesakitan itu agar duduk dengan benar.

"Gila lo, Bay! Mulut lo emang nggak pernah di sekolahin!" makinya tajam, wajahnya merah padam menahan amarah. "Lo tahu persis posisi Nisa itu istri sahnya! Biarpun Arga tiap hari koar-koar benci sama istrinya, hak lo apa ngomong kotor begitu di depan suaminya?!"

"Gue kan cuma bercanda, Bangsat!" erang Bayu sambil memegangi pelipisnya.

"Bercanda lo kelewat batas!" timpal Riko sambil melemparkan segumpal tisu ke wajah Bayu. "Gue saksinya dari zaman kuliah, seberengsek-berengseknya Arga, dia paling pantang kalau milik sahnya dilecehkan orang lain. Urus tuh luka lo sendiri!"

****

Di dalam kabin mobil yang melaju membelah jalanan sepi ibu kota, napas Arga masih memburu. Dadanya naik turun dengan ritme yang menyakitkan. Ia memukul setir kemudi dengan keras.

Kenapa ia harus semarah ini? Bukankah seharusnya ia tidak peduli pada Nisa?

Namun, sekuat apa pun otaknya menolak, jarinya bergerak dengan sendirinya di atas layar ponsel yang terhubung ke dashboard mobil. Ia menekan nama Nisa. Layar head unit menyala, menampilkan durasi panggilan yang mulai berjalan.

Tut... tut... tut...

Tidak ada jawaban. Arga menekan tombol panggil ulang. Sekali. Lima kali. Sepuluh kali.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator itu terdengar seperti ejekan di telinga Arga. Ia membanting ponselnya ke jok penumpang. Perasaan gelisah mulai merayap naik, mencengkeram lambungnya.

Jam di dashboard menunjukkan pukul dua dini hari. Angin malam di luar sana sangat dingin. Ke mana wanita itu pergi membawa satu koper kecil? Ke mana ia akan tidur malam ini?

"Pasti dia pulang ke rumah orang tuanya," gumam Arga pada dirinya sendiri, mencoba mencari sedikit ketenangan yang tersisa. "Ya, dia pasti pulang ke rumah mertuaku. Besok pagi, aku akan ke sana. Bukan untuk menjemputnya, tapi... untuk memastikan dia sampai dengan selamat. Ya, hanya itu."

Afirmasi itu tidak membuat tidurnya nyenyak. Sepanjang sisa malam, Arga hanya berbaring menatap langit-langit kamarnya yang kosong, merindukan keheningan yang biasanya diisi oleh suara pelan Nisa yang membangunkannya untuk salat subuh.

Matahari baru saja naik ketika mobil SUV hitam milik Arga berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi bercat hitam. Itu adalah rumah orang tua Nisa. Sebuah rumah bergaya klasik yang biasanya selalu tampak asri dengan tanaman hias di setiap sudut halamannya.

Namun, dahi Arga berkerut dalam saat ia melangkah turun dari mobil.

Pintu gerbang itu digembok dengan rantai besi tebal. Rumput liar di pinggir pagar tampak tak terurus. Dan yang paling membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak adalah sebuah spanduk kuning menyala berukuran besar yang membentang menutupi pagar rumah tersebut.

DISITA OLEH PIHAK BANK.

"Apa-apaan ini?" desis Arga tak percaya. Ia mendekat, mencengkeram jeruji besi pagar. "Pindah? Bangkrut? Kenapa Nisa tidak pernah..."

"Lho, Mas Arga?"

Suara serak seorang pria tua membuat Arga menoleh cepat. Di rumah sebelah, seorang pria paruh baya yang memakai kaus oblong dan sarung tampak berdiri memegang selang air, menatap Arga dengan ekspresi terkejut yang luar biasa. Itu Pak Yanto, tetangga sebelah yang cukup akrab dengan mertuanya.

"Pak Yanto," sapa Arga tergesa-gesa, melangkah menghampiri pria itu. "Bapak tahu ke mana Pak Banu dan Bu Inggrid pindah? Dan kenapa rumah ini disita bank?"

Selang air di tangan Pak Yanto merosot pelan. Pria tua itu menatap Arga dari atas ke bawah, seolah melihat hantu di siang bolong. Sorot matanya dipenuhi ketidakpercayaan, bercampur dengan sedikit kemarahan yang tertahan.

"Mas Arga... Mas ini suaminya Mbak Nisa, kan?" tanya Pak Yanto dengan nada bergetar.

"Astaghfirullahaladzim. Ke mana saja Mas selama ini?! Kenapa baru menampakkan batang hidung di sini?"

"Maksud Bapak apa?" Arga mulai terpancing, namun kegelisahan di dadanya jauh lebih besar dari egonya. "Saya akhir-akhir ini sibuk di kantor. Tolong katakan pada saya, di mana Nisa dan kedua orang tuanya sekarang? Saya harus bertemu mereka."

Pak Yanto mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mematikan keran air, lalu menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Bertemu bagaimana, Mas?" Suara Pak Yanto terdengar serak, dipenuhi kepedihan yang menyayat. "Pak Banu dan Bu Inggrid sudah tidak ada."

Dunia Arga mendadak berhenti berputar. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. "Tidak ada? Maksud Bapak... meninggal? Kapan? Sakit apa?"

"Seminggu yang lalu, Mas Arga." Pak Yanto menelan ludah, menunjuk ke arah rumah kosong itu dengan tangan gemetar. "Kecelakaan. Masuk ke jurang di daerah perbatasan kota. Tapi pihak kepolisian bilang, dari jejak rem di jalan, Pak Banu sengaja memacu mobilnya ke arah tebing. Beliau mengajak istrinya bunuh diri."

"Bunuh diri?!" Arga mundur selangkah. Kakinya terasa seperti agar-agar. "Itu tidak mungkin! Pak Banu tidak mungkin melakukan itu!"

"Terlilit utang puluhan miliar, Mas," lanjut Pak Yanto, suaranya kini bergetar menahan tangis. "Beliau ditipu rekan bisnisnya. Semua asetnya, pabriknya, rumah ini, semuanya habis disita bank untuk menutupi utang yang tak sanggup dibayar. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Malam sebelum kejadian, saya masih dengar Pak Banu menangis minta maaf pada Bu Inggrid di teras depan. Besoknya... mereka sudah ditemukan tak bernyawa di dasar tebing."

Tubuh Arga menabrak badan mobilnya sendiri. Kepalanya pening luar biasa. Seminggu yang lalu?

Tujuh hari yang lalu... saat di mana ia mengambil cuti untuk pergi berlibur ke Bali bersama Adelia. Ia ingat dengan jelas, malam itu Nisa meneleponnya puluhan kali, namun ia me- reject semua panggilan itu dan mematikan ponselnya dengan alasan tidak ingin diganggu.

"Lalu... Nisa?" suara Arga kini tak lebih dari sebuah bisikan parau. "Istri saya... Nisa di mana, Pak?"

Pak Yanto menatap Arga dengan sorot kekecewaan yang sangat dalam. "Semenjak pemakaman kedua orang tuanya selesai, Mbak Nisa sudah tidak pernah terlihat lagi di sini. Dia mengurus semuanya sendirian, Mas. Menghadapi polisi, menghadapi debt collector yang menagih utang, memandikan jenazah orang tuanya... sendirian. Tanpa didampingi suaminya sama sekali."

Tenggorokan Arga terasa tercekik oleh ribuan paku berkarat. Bayangan mertuanya berkelebat di pelupuk matanya. Pak Banu yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat, yang selalu menepuk pundaknya dengan bangga. Bu Inggrid yang selalu membawakannya rantang berisi masakan kesukaannya setiap akhir pekan. Kedua orang tua itu menyayanginya seperti anak kandung sendiri, namun Arga bahkan tidak hadir untuk mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir.

Dan Nisa...

Ingatan Arga berputar ke kejadian tiga hari yang lalu. Malam di mana Nisa bersimpuh di dekat kakinya, menangis terisak, memohon sesuatu yang tak pernah Arga dengarkan karena ia sibuk membalas pesan Adelia. Arga membalas tangisan istrinya malam itu dengan teriakan: Kita cerai saja kalau kamu sudah tidak bisa mengerti aku!

Tuhan...

Nisa menangis malam itu bukan karena cemburu pada Adelia. Nisa sedang memohon padanya karena wanita itu baru saja kehilangan seluruh dunianya. Wanita itu sedang mencari perlindungan karena ia sudah tidak memiliki rumah untuk pulang. Dan apa yang Arga lakukan? Ia mengusir istrinya yang sedang hancur lebur.

Dada Arga bergemuruh hebat. Penyesalan itu datang, bukan mengalir perlahan, melainkan menghantamnya seperti gelombang tsunami yang menghancurkan seluruh dinding kewarasannya. Ia merosot di samping ban mobilnya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sementara air mata keputusasaan akhirnya luruh tanpa bisa dicegah lagi.

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!