NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kursi Kosong di Ruang Tunggu

"Walaupun yang akan diperiksa nanti adalah ayahku sendiri."

Kalimat Sekar masih terasa menggantung di ruang tamu yang sempit itu. Tidak ada yang langsung menjawab. Teh hangat yang dibawa Ibu Aina dari dapur dibiarkan mendingin di atas meja.

Aina menatap map merah di depannya, lalu menatap perempuan yang menyodorkannya. Ia tahu betapa berat keputusan itu. Sekar bukan hanya membela orang yang seharusnya menjadi saingannya. Sekar juga sedang membuka aib ayahnya sendiri di depan orang lain.

"Sekar," ucap Aina pelan. "Pikirkan baik-baik. Kalau kamu menyerahkan dokumen ini, ayahmu bisa berurusan dengan hukum. Hubunganmu dengan keluargamu mungkin tidak akan pernah sama lagi."

Sekar tersenyum tipis. Senyum yang lelah.

"Aku sudah memikirkannya sepanjang jalan dari Kuta ke sini, Aina. Aku memikirkan Arsya. Kalau suatu hari dia bertanya kenapa ibunya diam saja ketika orang lain dihukum karena kesalahan kakeknya, apa yang harus aku jawab?" Ia menggeleng. "Aku tidak mau anakku tumbuh di atas kebohongan. Abang sudah mengatakan hal yang sama di depan Pak Camat. Sekarang giliranku."

Raka mengangkat wajahnya. Matanya basah. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

Hamdan berdehem pelan. "Kalau begitu, ada satu hal yang harus kita lakukan malam ini juga."

Semua orang menoleh kepadanya.

"Dokumen asli ini sangat penting. Kalau sampai hilang atau rusak, kita kehilangan bukti terkuat." Hamdan merapikan lembaran-lembaran itu dengan hati-hati. "Aku akan memotretnya satu per satu dan membuat beberapa salinan. Satu salinan aku simpan di kantor lembagaku di Mataram. Satu lagi kita titipkan kepada Pak Camat besok pagi. Dokumen aslinya tetap dibawa Sekar sampai hari Senin."

"Kenapa harus serepot itu, Kak?" tanya Aina.

Hamdan menatap adiknya dengan serius. "Karena orang yang berani memalsukan surat negara tidak akan diam saja ketika rahasianya terbongkar."

Malam itu Sekar menginap di rumah Aina. Ia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Arsya tetap aman di rumah adiknya di Praya.

Aina dan Sekar tidur di kamar yang sama. Dulu, kamar itu adalah kamar Aina dan Raka. Kini Raka tidur di ruang tamu, di atas tikar pandan, bersama Hamdan.

Tengah malam, Aina terbangun karena mendengar isak pelan. Ia menoleh. Sekar duduk di tepi ranjang, membelakanginya, bahunya terguncang.

"Sekar?"

Sekar buru-buru menghapus air matanya. "Maaf. Aku membangunkanmu."

Aina bangkit perlahan dan duduk di sampingnya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan perempuan itu.

"Mamik dulu yang mengajariku membaca," bisik Sekar. "Setiap malam dia membacakan cerita sebelum aku tidur. Dia selalu bilang kejujuran adalah harta yang paling mahal." Ia tertawa getir. "Ternyata dia sendiri menjualnya."

Aina tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menggenggam tangan Sekar lebih erat. Dua perempuan yang dulu tidak saling mengenal, kini duduk berdampingan dalam gelap, sama-sama terluka oleh orang-orang yang mereka cintai.

************

Pada minggu siang, sebuah mobil berwarna perak berhenti di depan rumah Aina.

Aina sedang duduk di teras ketika seorang lelaki berusia enam puluhan turun dari mobil itu. Tubuhnya tegap, rambutnya beruban rapi, dan ia mengenakan baju koko putih dengan peci hitam. Wajahnya keras. Aina tidak perlu bertanya siapa dia. Sorot matanya sama dengan sorot mata Sekar, hanya jauh lebih dingin.

"Lalu Mustiadi"

"Di mana anakku?" tanyanya tanpa salam.

Sebelum Aina sempat menjawab, Sekar sudah muncul di ambang pintu. Raka dan Hamdan menyusul di belakangnya.

"Aku di sini, Mamik"

Lalu Mustiadi menatap putrinya. "Pulang. Sekarang."

"Aku akan pulang setelah hari Senin."

"Kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan, Sekar." Suaranya rendah, tetapi tajam. "Kau sedang menghancurkan keluargamu sendiri demi perempuan yang merebut suamimu."

"Aina tidak merebut siapa pun, Mamik," jawab Sekar tegas. "Dia ditipu sama seperti aku. Mami tahu itu lebih baik daripada siapa pun, karena Mamik yang menandatangani surat palsunya."

Wajah Lalu Mustiadi memerah. Untuk sesaat, Aina mengira lelaki itu akan berteriak. Tetapi ia justru tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Aina berdiri.

"Surat apa? Aku tidak tahu surat apa yang kau maksud." Ia menoleh kepada Aina. "Ibu Aina, Ibu seorang PNS. Ibu tentu tahu bahwa tuduhan tanpa bukti bisa berbalik menjadi fitnah. Saya harap Ibu berpikir panjang sebelum melangkah lebih jauh."

Hamdan maju satu langkah. "Bapak tidak perlu khawatir soal bukti. Semuanya sudah kami simpan dengan baik di beberapa tempat."

Senyum di wajah Lalu Mustiadi memudar. Ia menatap Hamdan lama, lalu menatap putrinya sekali lagi.

"Kau masih punya waktu sampai besok pagi untuk berubah pikiran Sekar," katanya. "Pikirkan ibumu. Pikirkan adik-adikmu. Pikirkan Arsya."

Ia berbalik dan masuk ke mobilnya tanpa menunggu jawaban. Mobil perak itu melaju meninggalkan debu di jalan gang yang sempit.

Sekar berdiri mematung di teras. Wajahnya pucat.

"Dia menyebut Arsya," bisiknya. "Kenapa dia menyebut Arsya?"

Ke esokan paginya tepat dihari Senin pagi, langit Praya mendung.

Kantor kepegawaian kabupaten sudah ramai sejak pukul delapan. Pegawai-pegawai berseragam keluar masuk dengan map di tangan. Di lantai dua, di depan sebuah ruangan bertuliskan Ruang Pemeriksaan, berjajar beberapa kursi plastik berwarna biru.

Aina duduk di salah satu kursi itu, mengenakan seragam cokelat khaki yang ia setrika rapi semalam. Tangannya memangku map biru berisi semua bukti yang ia miliki. Di sampingnya duduk Hamdan. Raka berdiri di dekat jendela, sesekali menatap ke halaman parkir di bawah. Pak Mahsun juga hadir. Ia sedang berbicara dengan seorang pegawai di ujung lorong.

Satu kursi di samping Aina masih kosong.

Kursi untuk Sekar.

Aina melirik jam di dinding. Pukul delapan lewat empat puluh. Pemeriksaan dijadwalkan pukul sembilan. Sekar berjanji akan datang pukul setengah sembilan bersama Arsya, yang akan ia titipkan kepada Ibu Aina di ruang tunggu bawah.

"Sudah ada kabar, Mas?" tanya Aina.

Raka menggeleng. Ia menekan layar ponselnya untuk kesekian kalinya, lalu menempelkannya ke telinga. Wajahnya semakin tegang.

"Tidak aktif," katanya. "Sejak subuh tadi nomornya tidak aktif."

Tadi malam, setelah Lalu Mustiadi pergi, Sekar memutuskan menjemput Arsya di rumah adiknya. Ia berkata tidak tenang meninggalkan anaknya setelah ayahnya menyebut nama Arsya. Ia berjanji akan langsung berangkat ke kantor kepegawaian pagi ini. Map merah dengan dokumen asli ada di tasnya.

Raka menelepon adik Sekar. Sambungan tersambung. Aina memperhatikan wajah suaminya berubah ketika mendengar jawaban di seberang.

"Sudah berangkat?" ulang Raka. "Jam berapa? Sendirian?"

Ia diam mendengarkan. Lalu tangannya yang memegang ponsel perlahan turun.

"Sekar berangkat pukul tujuh dengan Arsya," katanya kepada Aina dan Hamdan. "Naik mobil. Seharusnya dia sudah sampai sejak tadi."

Hamdan langsung berdiri. Aina merasakan perutnya menegang. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang, seperti pesan dokter. "Jangan stres. Jaga yang ada di dalam sini".

Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang pegawai perempuan berkacamata keluar dengan sebuah map di tangan.

"Saudari Aina?"

Aina membuka mata. Ia menoleh ke arah tangga, berharap melihat Sekar muncul dengan napas terengah-engah dan Arsya di gendongannya.

Tangga itu kosong.

"Saudari Aina," panggil pegawai itu sekali lagi. "Silakan masuk. Tim pemeriksa sudah menunggu."

Aina berdiri perlahan. Ia menatap kursi kosong di sampingnya untuk terakhir kali, lalu melangkah masuk ke ruangan itu tanpa saksi yang paling ia butuhkan.

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!