"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eva semakin kesal
"Huaaaa!"
"Kamu kenapa sih dari tadi berteriak terus" gerutu Shaquilla karena Kanaya terus berteriak.
Sejak mereka kembali masuk ke pabrik dan pulang, Kanaya terus tiba-tiba berteriak dan membuat teman temannya terkejut karena selain berteriak Kanaya juga mengacak rambutnya, hingga membuat Sultan mengira Kanaya kesurupan dan hampir membawa Kanaya ke pesantren tapi Kanaya menolak.
"Aku malu karena tanganku sudah kurang ajar" jawab Kanaya memeluk Shaquilla yang terkekeh.
"Lagian kamu kebiasaan kalau sedang cemas suka lupa segalanya" jawab Shaquilla
"Bagaimana ini, aku takut nanti ketemu kak Gerhana, nanti dia marah bagaimana?" tanya Kanaya
"Tidak akan, paling sebentar lagi dia ke sini mengantarkan makan malam untuk kita, kamu tenang saja" jawab Shaquilla
Tok. Tok. Tok.
"Kanaya, Shaquilla sudah waktunya makan malam" panggil Raditya
"Iya Om, kami akan menyusul" jawab Kanaya
"Ayo nanti Om Raditya ngambek" ajak Shaquilla.
Mereka keluar kamar, ternyata di meja makan sudah banyak makanan yang tersaji di meja dan semuanya adalah daging yang terlihat belum matang. Raditya bahkan sudah merangkul Kanaya untuk duduk di sampingnya dan menyiapkan piring untuk Kanaya juga Shaquilla.
"Mas, kamu bilang kan aku tidak boleh menyiapkan makanan untuk mereka, jadi aku hanya buat untuk kita saja" ucap Eva
"Iya aku tahu, mungkin lelaki tidak tahu malu itu sebentar lagi akan datang untuk mengantarkan makanan mereka, benar benar merepotkan sebenarnya tapi tidak apa apa" jawab Raditya masih tersenyum ke arah Kanaya dan itu membuat Eva kesal.
"Tapi dia tidak datang, mungkin dia lupa" ucap Hilda
"Dia sedang dalam perjalanan, mungkin sudah di depan" jawab Raditya yang langsung memakan daging miliknya dengan begitu lahap.
"Enak ya Om?" tanya Shaquilla
"Enak sekali apalagi kalau kalian juga memakannya, kalian akan ketagihan" jawab Raditya tersenyum genit pada Shaquilla.
Shaquilla ingin tertawa, dia tahu Raditya ini begitu berbeda ketika dia mode bekerja, makan dan mode santai, tapi sikap genitnya itu tidak pernah hilang selama Shaquilla mengenal Raditya beberapa hari di Ciremai. Bahkan Shaquilla sudah hafal saat Raditya mengedipkan matanya itu tandanya dia suka dengan sikap patuh Kanaya dan Shaquilla.
"Permisi" panggil seseorang dari arah luar rumah.
"Itu suara kak Gerhana, biar aku yang ambil makanan nya" ucap Shaquilla berbinar.
Shaquilla langsung berlari ke arah depan, Kanaya ingin ikut tapi dia masih malu dengan kejadian yang tadi siang dia lakukan pada Gerhana, Kanaya dengan begitu santai mengusap dan membersihkan tubuh Gerhana yang penuh darah di warung makan yang tiba tiba jadi sepi, dan setelah semuanya selesai, warung makan itu tiba tiba ramai kembali.
Pipinya bahkan sudah kembali memerah karena dia tidak tahu bagaimana akan bersikap jika nanti dia berhadapan dengan Gerhana lagi, Kanaya pasti tidak akan bisa bersikap biasa saja dan akan merasa canggung.
"Kanaya, lihat kita di belikan sate sama ini katanya untuk besok pagi" ucap Shaquilla yang membawa satu plastik berisi sate lengkap dengan lontongnya dan perlengkapan P3K.
Kanaya mengerti maksud Gerhana memberikan itu, itu pasti karena milik Kanaya sudah di pakai oleh Gerhana, tanpa Kanaya tahu kalau Gerhana ingin Kanaya merawat lukanya lagi nanti yang sengaja tidak menggunakan energi Hala supaya cepat sembuh, Gerhana ingin Kanaya yang merawat lukanya.
"Kenapa ada perlengkapan P3K?" tanya Raditya
"Tidak tahu Om, Kanaya memang sering bawa yang seperti ini ke mana mana" jawab Shaquilla.
"Lihat saja siku, dengkul sama kening Shaquilla Om, dia ini ceroboh makanya pacarnya sering khawatir, Kanaya yang rawat dia selama jauh dari pacarnya" gerutu Kanaya dan Raditya tertawa karena memang Shaquilla memakai plester di siku, dengkul bahkan di keningnya karena dia sering ceroboh menabrak sesuatu.
"Hati hati cantik, jangan sampai kamu terluka, kulit cantik kamu itu nanti jadi ada bekasnya kan sayang" ucap Raditya
"Iya Om, Shaquilla juga di berikan obat terbaik sama Kanaya, Om mau makan sate?" tanya Shaquilla.
"Mau kalau Kanaya yang suapi" jawab Raditya.
"Mas... jangan keterlaluan, habiskan makananmu sekarang dan setelah itu istirahat" kesal Eva
"Aku hanya bercanda Eva" jawab Raditya
"Jangan buat Eva marah Raditya" ucap Hilda dan Raditya mengangguk.
Kenanga tadinya ingin menyuapi Raditya supaya Raditya kembali mengalami kesialan, tapi Sanca melarangnya karena dia khawatir nanti Eva atau Raditya akan curiga karena Tarman dukun Eva sudah kalah oleh Hala.
"Makan yang banyak, kamu terlalu kurus, lihat Shaquilla tubuhnya montok dan bagus" ucap Raditya mengusap kepala Kanaya.
"Iya Om" jawab Kanaya tersenyum manis.
Eva mengepalkan tangannya di bawah meja, dia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Raditya selama tiga hari ini yang terus berubah bahkan terlihat begitu memanjakan Kanaya juga Shaquilla, padahal mereka sudah sepakat untuk membuat Kanaya tunduk pada Eva yang akan menikahkan Kanaya dengan salah satu preman di kampung itu.
Tapi rasa kesalnya tiba tiba harus dia hilangkan setelah Tarman mengirimkan pesan untuk bertemu dan meminta Eva datang tepat ketika tengah malam nanti di tempat biasa mereka bertemu.
"Aku sudah selesai mas, aku mau ke kamar dan langsung tidur" ucap Eva datar.
"Iya kamu istirahat saja biar nanti kopi Raditya mama yang buat dan cuci piring...." ucap Hilda melirik Kanaya juga Shaquilla.
"Piringnya biar kami yang cuci Bu, nanti setelah selesai makan" ucap Kanaya dan Hilda mengangguk.
Raditya memang selalu minum kopi setelah makan, tapi itu nanti ketika pukul sembilan malam karena Raditya akan memeriksa beberapa laporan dari pabrik dan juga menonton televisi. Jin yang menempati tubuh Raditya benar benar melakukan semua tugas Raditya dengan baik bahkan Raditya yang dulunya sering beribadah juga sekarang sudah tidak ada lagi.
"Mas.. Tidur ini sudah malam, aku mau ke tempat dukun Tarman" ucap Eva ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Iya" jawab Raditya lalu berdiri tapi dia tidak langsung ke kamarnya, dia memeriksa Kanaya juga Shaquilla yang juga sudah tertidur pulas di kamar mereka.
"Selamat malam Kanaya, Shaquilla, kalian begitu berbeda dengan Eva, kalian lebih ceria sedangkan Eva terlalu banyak mengatur" ucap Raditya mengecup kening Kanaya dan segera pergi ke kamarnya.
"Dasar lelaki bajingan, untung kamu menggunakan jasad ayah Kanaya, kalau bukan sudah aku cincang tubuhmu karena sudah berani menyentuhnya putriku!" umpat Sanca
Sanca penasaran dengan apa yang di lakukan Eva, dia ingin pergi untuk mengikuti Eva tapi dia ingat pesan Hala untuk tidak jauh jauh dari Kanaya karena dia belum terikat secara jiwa dengan Kanaya.
"Si Eva pasti akan menemui Tarman, dia pasti akan melakukan sesuatu yang tidak baik lagi untuk Kanaya" gumam Sanca