Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Malam itu, di kediaman keluarga Dominic, Amerda Conti berdiri di dekat jendela kamar dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah pucat ketika mendengar suara ayahnya dari seberang panggilan.
[Amerda, apa yang sebenarnya terjadi pada hari pernikahan Gia dan Ricardo?] tanya Sadam dengan nada serius. [Tuan Marco, anak buah Tuan Adam Lorenzo Maxnore, datang ke rumah kita untuk mencarimu.]
Mata Amerda langsung membelalak, “Apa?”
[Dia mengatakan bahwa antingmu ditemukan di lokasi kecelakaan yang menewaskan calon istri Tuan Adam. Sekarang Tuan Adam ingin membawamu untuk dimintai keterangan. Ayah tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tetapi kamu harus segera pulang dan menjelaskan semuanya. Kau tau, kita tidak bisa melawannya, mereka sangat berbahaya, Amerda.]
Ia sudah berusaha melupakan kejadian mengerikan tersebut, tetapi rupanya ada sesuatu yang tertinggal di lokasi kecelakaan. Sesuatu yang kini menjadi petunjuk bagi Adam untuk mendekatinya.
'Bagaimana mungkin bisa aku sebodoh itu?!'
Amerda mengepalkan tangan, berusaha menahan gemuruh di dadanya.
“Ayah, apa Ayah sudah mengatakan sesuatu kepada mereka?” tanyanya dengan suara bergetar.
[Ayah sudah membela kamu. Ayah mengatakan bahwa kamu tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Tetapi, Amerda, jika memang ada sesuatu yang perlu kamu jelaskan, katakanlah sekarang. Jangan sampai masalah ini semakin besar. Ayah, selalu mendukung kamu, jadi kamu harus benar-benar bebas dari masalah ini,]
“Aku tidak melakukan apa-apa!” bentak Amerda spontan.
Di seberang sana, Sadam terdiam. Amerda segera menyadari kesalahannya. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan suaranya.
“Maksudku, Ayah, aku tidak tahu apa-apa tentang tuduhan mereka. Mengapa mereka harus mencariku hanya karena sebuah anting? Bukankah bisa saja benda itu ditemukan orang lain?”
[Itulah yang Ayah katakan kepada Tuan Marco. Namun, mereka tetap ingin berbicara denganmu.]
Amerda menggigit bibir bawahnya, “Lalu, apa lagi yang Ayah katakan?”
[Ayah juga mengatakan bahwa mungkin saja Gia yang terlibat. Dia menghilang tepat pada hari pernikahannya. Sampai sekarang, kita tidak tau di mana dia berada.]
Mendengar nama itu membuat Amerda tersenyum, dalam arti itu berarti Ayah angkatnya mempercayainya.
Amerda mengira Gia sudah tidak akan menjadi masalah lagi setelah menghilang dari kehidupan mereka. Ia bahkan berharap perempuan itu tidak pernah kembali. Namun, jika Adam masih mencari dirinya, itu berarti ada sesuatu yang belum selesai.
“Baiklah, Ayah. Aku mengerti,” jawab Amerda akhirnya. “Aku akan menghubungi Ayah lagi nanti.”
[Amerda, dengarkan Ayah. Jangan menghindari masalah ini. Jika kamu tidak bersalah, kamu harus berani menjelaskan semuanya kepada mereka, Ayah mertuamu bukan orang sembarangan, tetapi dia juga tidak akan tinggal diam kalau kamu terlibat kejahatan sebesar itu,]
“Iya, Ayah. Aku mengerti,"
Amerda segera mengakhiri panggilan sebelum Sadam sempat mengajukan pertanyaan lain. Begitu layar ponselnya kembali gelap, wajahnya berubah drastis.
“Sialan!”
Ia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur, kemudian menyapu sebuah vas kecil di atas meja rias hingga jatuh dan pecah di lantai.
“Kenapa semuanya menjadi seperti ini?!”
Amerda mencengkeram rambutnya sendiri. Napasnya memburu, sementara matanya bergerak liar seolah-olah ia sedang mencari jalan keluar dari ruangan yang mendadak terasa begitu sempit.
Anak buah Adam mencarinya. Bukan orang biasa yang datang menanyakan keberadaannya, melainkan orang-orang yang bekerja untuk Adam Lorenzo Maxnore. Pria yang namanya saja mampu membuat banyak orang kehilangan keberanian. Pria yang tidak akan segan menghancurkan siapa pun jika merasa orang tersebut telah ikut campur kehidupannya.
“Tidak mungkin! Seharusnya semua ini sudah berakhir!” desisnya.
Ia mondar-mandir di dalam kamar, mencoba mengingat setiap kejadian pada hari kecelakaan tersebut. Ia sudah berusaha menutupi semuanya. Ia sudah membiarkan Gia berada di dalam mobil ketika kecelakaan itu terjadi, lalu melarikan diri dari lokasi. Ia juga membiarkan semua orang percaya bahwa Gia adalah orang yang menghilang tanpa alasan pada hari pernikahannya.
Setelah itu, ia mengambil kesempatan untuk menikahi Ricardo. Ia pikir, dengan menjadi istri seorang putra keluarga Dominic, dirinya akan memiliki perlindungan yang cukup kuat untuk menghadapi siapa pun. Namun, ia melupakan satu hal, Adam Lorenzo Maxnore bukan pria yang bisa dihadapi hanya dengan berlindung di balik nama keluarga suaminya.
Amerda berhenti di depan cermin. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri yang pucat dan dipenuhi kecemasan.
“Tenang, Amerda. Tenang!” katanya kepada diri sendiri.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
“Aku tidak boleh panik. Aku tidak boleh membiarkan mereka menangkapku.”
Amerda segera mengambil ponselnya dari tempat tidur. Jemarinya bergerak cepat membuka daftar kontak, tetapi ia berhenti sebelum menekan nomor yang hendak dihubunginya. Ia teringat perkataan ayahnya, Marco datang ke rumah keluarga Conti untuk mencarinya.
Amerda menggigit bibirnya dengan gugup.
“Aku tidak mau mati sia-sia di tangan pria itu,” gumamnya penuh kebencian.
Ia tidak peduli lagi dengan rasa bersalah. Ia juga tidak peduli jika harus mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri, yang terpenting, ia harus tetap hidup.
Ia belum menikmati seluruh keuntungan yang diperolehnya setelah menikahi Ricardo. Ia belum benar-benar mendapatkan kedudukan yang selama ini diinginkannya. Ia tidak akan membiarkan semuanya hancur hanya karena sebuah kesalahan yang seharusnya sudah terkubur.
Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul di benaknya. Amerda menatap ponselnya, kemudian perlahan menyunggingkan senyum tipis.
“Kalau mereka ingin mencari seseorang untuk disalahkan,” bisiknya, “aku akan memastikan mereka menemukan orang yang tepat.”
Ia kembali duduk di tepi tempat tidur dan mulai menyusun rencana. Pertama, ia harus memastikan sejauh mana Adam mengetahui keterlibatannya. Kedua, ia harus mencari tahu apakah Gia benar-benar masih hidup.
Jika Gia ternyata sudah meninggal, Amerda mungkin masih memiliki kesempatan untuk mempertahankan kebohongannya. Namun, jika perempuan itu masih hidup dan bisa berbicara, seluruh rencananya akan runtuh.
Amerda mengepalkan ponselnya.
“Gia, sebaiknya kau sudah mati saat ini,” desisnya. “Karena jika kau masih hidup, kau akan menghancurkan semuanya.”
Ia kemudian membuka kontak seseorang. Jarinya sempat menggantung di atas tombol panggilan. Ia tahu suaminya bisa menjadi pelindung sekaligus ancaman. Jika Ricardo mengetahui kebenaran, belum tentu pria itu akan tetap membelanya. Amerda, harus secepat mungkin mencari cara untuk menghapus tuduhan atas dirinya.
ap Dy punya rencana sendri???