NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pertemuan Tak Terduga

Suara ketukan pintu kayu jati kamarku terdengar pelan di tengah keheningan malam yang makin larut. Aku yang sedang duduk mematung di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah gaun sketsa yang belum usai, menghela napas panjang.

"Mei, sudah tidur?" suara Bulek Gusti Partini terdengar samar dari balik pintu.

Aku merapikan posisi dudukku dan menyapu sisa air mata di pipi. "Masuklah, Bulek."

Pintu berderit pelan. Bulek Partini melangkah masuk dengan gaun malam santainya. Langkah kakinya yang biasanya angkuh kini terasa jauh lebih pelan. Di kedua tangannya, beliau membawa dua kaleng minuman soda dingin yang embun airnya tampak berkilat tertimpa cahaya lampu kamar.

"Nih," ucap Bulek seraya menyodorkan sekaleng soda dingin padaku.

Aku menatap kaleng soda itu dengan dahi berkerut. Seorang Gusti Partini Natakusumah yang selalu menjunjung tinggi tata krama keraton dan melarang keras minuman berkarbonasi karena dianggap 'tidak anggun' malam-malam membawakanku minuman soda?

"Matur nuwun, Bulek," bisikku pelan, menerima kaleng yang terasa membekukan jemariku.

Bulek Partini duduk di kursi kayu dekat meja kerjaku. Beliau membuka kaleng sodanya sendiri, mendesis pelan saat gasnya terlepas, lalu meneguknya sedikit. Sikapnya begitu santai, sangat berbeda dengan sosok yang satu jam lalu memojokkanku di ruang keluarga.

"Maaf kalau Bulek keras tadi di depan Romo-mu," ucap Bulek Partini pelan, menatap lurus ke arah cangkir-cangkir porselen di rak. "Semua sudah ada aturannya, Nduk. Kamu tahu sendiri bagaimana karakter Romo-mu kalau keputusannya disanggah."

Aku tersenyum tipis, membuka bunyi kaleng sodaku sendiri. "Mei paham kok, Bulek."

Bulek Partini menyesap sodanya lagi, lalu menoleh memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan ada sedikit kehangatan yang amat jarang beliau perlihatkan.

"Bulek sudah ketemu Dimas waktu acara kolega bisnis bulan lalu," kata Bulek. "Dia ganteng, gagah. Sama kamu cocok kayaknya. Kamu kan cantik, Nduk... bakat seni dan keanggunanmu itu komplet."

Aku menunduk, memainkan penutup kaleng soda di tanganku. Kata 'cantik' dan 'cocok' terasa begitu hampa jika itu semua hanya digunakan sebagai alasan penentu aliansi keluarga. Aku mengamati wajah Bulek Partini baik-baik. Di bawah remang lampu kamar, bayangan lelah dan guratan kesepian yang tersembunyi rapat di balik bedak tebalnya malam ini terlihat jelas.

"Bulek..." panggilku pelan, membuat Bulek Partini menoleh. "Bulek kesepian?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Bulek Partini sempat membeku seketika. Matanya berkedip cepat, terkejut dengan keberanianku menanyakan hal yang sangat personal baginya.

Tiga tahun lalu, Bulek Partini bercerai dengan suaminya. Pernikahan yang dulunya dirayakan dengan pesta megah tujuh hari tujuh malam itu kandas karena satu hal: Bulek tidak bisa memberikan keturunan. Hal yang sama sekali bukan rencananya dalam hidup. Gejala kanker rahim yang dideritanya beberapa tahun lalu memaksa Bulek mengambil keputusan pahit untuk merelakan rahimnya diangkat demi bertahan hidup. Namun bagi tatanan keluarga bangsawan yang patriarkal, ketidakmampuan memberikan ahli waris adalah sebuah dosa sosial yang tak terampuni.

Hening sejenak merayapi kamar. Hanya terdengar dengung pendingin udara.

"Banget, Nduk," jawab Bulek Partini akhirnya dengan suara parau. Senyum getir terukir di bibirnya. "Banget. Tapi Bulek tidak bisa berbuat apa-apa. Toh teman-temannya Bulek pada sibuk dengan keluarganya sendiri, sibuk dengan anak cucu mereka. Bulek sendirian di rumah besar itu."

Batinku mengaduh pilu. Betapa kejamnya stigma masyarakat. Kenapa nasib dan harga diri seorang perempuan sering kali hanya digantungkan pada satu hal, apakah dia bisa memberikan keturunan atau tidak? Jika bisa, dia dianggungkan; jika tidak, dia disingkirkan, seolah-olah seluruh kebaikan dan kecerdasannya tak lagi bernilai.

Bulek Partini menatapku dalam-dalam, lalu memajukan posisi duduknya. Sorot matanya yang tadi lelah mendadak berubah tajam dan penuh determinasi.

"Mau Bulek kasih saran?" ucap Bulek pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan misterius.

"Saran apa, Bulek?"

Bulek Partini mendekatkan wajahnya ke telingaku. Nafasnya hangat saat beliau membisikkan sesuatu yang membuat seluruh aliran darahku mendadak berhenti.

"Kalau besok kamu terpaksa menikah dengan Dimas... jangan pernah serahkan seluruh hatimu dan mimpi-mimpimu padanya. Jadikan pernikahan ini batu loncatanmu. Pakai uangnya, pakai pengaruh nama besarnya untuk membangun label busanamu sendiri secara mandiri. Buat perjanjian pra-nikah kalau perlu. Kalau kamu punya uang dan posisi yang kuat, Romo-mu tidak akan bisa mengontrolmu lagi, dan Dimas tidak akan bisa merendahkanmu. Jangan mau bernasib sama seperti Bulek menurut pada aturan, lalu dibuang begitu saja tanpa punya apa-apa."

Aku tersentak kaget. Mataku membelalak menatap adik perempuan Romo ini. Bahkan Bulek yang selama ini aku kira paling pro dengan aturan Romo, paling lantang menuntutku untuk patuh... ternyata memiliki api pemberontakan dan luka mendalam yang disimpan begitu rapat!

"Bulek..." bisikku tak percaya.

Bulek Partini hanya tersenyum tipis, lalu menepuk pelan bahuku sebelum berdiri. "Minum sodamu sampai habis. Dan besok, tampilkan dirimu yang paling anggun, tapi ingat bisikan Bulek tadi. Jangan jadi wanita lemah di depan pria-pria itu."

Beliau berjalan keluar kamar, meninggalkan aku yang masih mematung dengan jantung berdegup kencang.

Hari Pertemuan Kedua Keluarga

Suasana di restoran otentik bergaya Jawa-Kolonial bernuansa kemewahan klasik itu terasa begitu tenang namun sarat ketegangan. Ruang VIP yang disewa khusus oleh keluarga Arjowibowo dihiasi ukiran kayu jati Jepara dan rangkaian bunga sedap malam yang harumnya menyeruak lembut.

Aku duduk di kursi kayu berukir, diapit oleh Ibu di sebelah kiriku dan Bulek Partini di sebelah kanan. Di seberang meja, Romo duduk dengan sikap tubuh yang amat tegap dan berwibawa. Di samping Romo, duduk adik laki-lakiku, Maulana Adam Pramudya, yang sengaja menyempatkan pulang beberapa hari dari kuliah kedokterannya di Brooklyn untuk menghadiri acara penentuan ini. Adam menatapku beberapa kali dengan sorot mata khawatir, tahu betul betapa tertekannya aku saat ini.

Gelas-gelas air mineral bertengger rapi, tapi tak ada satu pun dari kami yang menyentuhnya. Kami tengah menunggu kedatangan keluarga Arjowibowo.

Pintu ukir ruang VIP tiba-tiba bergeser terbuka. Seorang pelayan restoran membungkuk sopan, memberi jalan kepada para tamu yang ditunggu.

Seorang pria paruh baya berpenampilan elegan dan istrinya yang anggun berbalut kebaya modern masuk terlebih dahulu. Namun, perhatianku seketika teralih pada sosok pria yang berjalan tepat di belakang mereka.

Tinggi badannya sekitar 185 cm, dibalut setelan jas formal berwarna biru gelap yang dipotong sangat presisi, menyorot bahunya yang tegap dan kokoh. Rambut hitamnya yang sedikit gondrong disisir rapi ke belakang, memberikan kesan maskulin, modern, namun memiliki aura pemberontak yang halus. Ketampanannya sangat tajam garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan mata hitam pekat yang dingin.

Dengan penuh kesopanan, pria itu menarikkan kursi untuk ibunya terlebih dahulu, lalu untuk ayahnya, sebelum akhirnya beliau sendiri duduk tegak.

"Sugeng dalu, GRM Haryadi," sapa ayah pria itu dengan nada hangat dan ramah.

Basa-basi antar keluarga pun bergulir dengan sangat lancar. Pembicaraan mengenai silsilah keluarga, perkembangan bisnis, hingga obrolan mengenai relasi masa lalu mengalir tanpa hambatan. Romo sesekali tertawa kecil—suatu hal yang sangat jarang kukenali di rumah. Ibu dan Bulek Partini menimpali dengan keanggunan yang tertata rapi.

Namun, fokus gairah pikiranku sama sekali tidak ada di dalam percakapan itu.

Aku terus memperhatikan pria tinggi berambut gondrong di seberang meja itu. Ada sesuatu yang sangat familier dari caranya memegang cangkir, caranya mengetukkan jari secara konstan di atas meja saat mendengarkan obrolan tua, dan lirikan mata tajamnya yang beberapa kali tertangkap basah sedang mengamatiku.

Siapa dia? Kenapa rasanya aku pernah melihat wajah ini? Tapi di mana?

Ingatanku berputar cepat, mencoba melacak memori di antara ratusan wajah yang pernah kutemui saat pameran kain, pasar seni, atau kafe-kafe di sudut Jakarta dan Jogja.

Ketika hidangan penutup selesai disajikan, Ayah Dimas memberi isyarat pada putranya.

Dimas Arjowibowo berdeham pelan, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang namun menyita perhatian seluruh isi ruangan. Beliau mengancingkan satu tombol jasnya, melangkah mengitari meja panjang tersebut, dan berhenti tepat di samping kursiku.

Aura intimidatif dan aroma parfum woody-citrus yang mahal seketika menyeruak mengelilingiku.

"Saya Dimas Arjowibowo," ucapnya dengan suara berat dan berkarisma yang membuat bulu kudukku berdiri. Dimas mengulurkan tangannya yang jemarinya panjang dan bersih tepat di hadapanku. "Kamu pasti Mei, kan?"

Seluruh mata di ruangan itu mendadak tertuju pada kami berdua. Romo mengangguk penuh kepuasan, sementara Bulek Partini menatapku dengan tatapan mengingatkan.

Aku menarik napas perlahan, mencoba bersikap seanggun mungkin sesuai dengan tatanan keraton yang diajarkan sejak kecil. Aku berdiri, merapikan kebayaku, dan mengulurkan tangan untuk membalas jabat tangannya.

"Saya Maizara... "

Deg.

Saat telapak tangannya yang hangat dan sedikit kasar menyentuh kulit tanganku, dan saat mataku menatap tepat ke dalam manik mata hitamnya dari jarak dekat... sebuah memori tersembunyi yang terkunci rapat tiba-tiba meledak di dalam kepalaku!

Tiga bulan lalu. Sebuah kafe kecil di kawasan Senopati, Jakarta. Hujan deras.

Seorang pria asing dengan rambut gondrong berantakan yang panik karena kemeja putih mewahnya ketumpahan kopi hitam akibat tersenggol olehku. Pria yang waktu itu mengomeliku habis-habisan karena sketsa gaunku basah kuyup dan berserakan di lantai, pria yang dengan angkuhnya menyebut sketsaku "desain amatir yang terlalu sentimental", lalu melempar kartu kartunya padaku sebelum pergi begitu saja!

Pria gila yang membuatku menangis sejadi-jadinya di tepi jalan sore itu!

Sensasi kehangatan jemarinya dan tatapan angkuh yang persis sama itu meruntuhkan seluruh keanggunan dan tata krama keraton yang kususun rapi sejak tadi.

"Hah, Kamu.....! Aku sudah ingat!" teriakku refleks, menunjuk wajahnya dengan mata membelalak lebar.

Keheningan seketika melanda seluruh ruang VIP. Senyum di wajah Romo langsung membeku. Ibu memegang dadanya karena terkejut, sementara Bulek Partini tersedak sodanya. Adam bahkan sampai menegakkan duduknya dengan mulut sedikit terbuka.

Wajah polos dan dingin lelaki di hadapanku itu mulai mengerutkan keningnya, menatapku dengan kebingungan yang perlahan berubah menjadi keterkejutan yang nyata saat ingatan yang sama tampaknya baru saja menghantam pikirannya.

"Kamu... wanita ketumpahan kopi yang marah-marah di kafe itu?" bisik Dimas dengan alis terangkat tinggi, suaranya tak lagi tertata formal.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NinLugas: msh anyeng2 dia wkwk tnggu ya
total 3 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!