NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan Rania

Arkan akhirnya mengantar Rania pulang karena Karina tiba-tiba mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit. Padahal sejak awal Rania pergi dengan mobil Karina.

"Maaf ya, Ra." ujar Karina buru-buru sambil meraih kunci mobilnya. "Tadi pagi sudah dibilang libur, eh sekarang dipanggil. Gawat soalnya."

"Gak apa-apa, Kar." balas Rania.

Arkan langsung menawarkan, "Saya antar pulang aja."

Rania sempat ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk juga. Toh daripada repot pesan taksi atau ojek online, lebih cepat dan aman diantar Arkan.

Kenzie duduk anteng di kursi belakang, sementara Rania duduk di samping Arkan.

"Saya anterin Kenzie dulu, baru kamu." ujar Arkan tiba-tiba.

"Kenzie nggak ikut pulang ke rumah aku aja? Nanti kamu jemput lagi pas pulang kerja." tawar Rania. Dia memang tak keberatan mengasuh Kenzie.

"Nggak. Nanti Kenzie ada jadwal renang sama Zidan." jawab Arkan tenang.

"Kan Zidan bisa jemput di rumah aku. Emang sudah ada sus baru buat Kenzie?"

"Ada. Mbok Sum." balas Arkan singkat.

"Oh... yaudah." Rania mengangguk kecil, tak ingin memperpanjang obrolan. Ia juga tak mau terdengar seperti memaksa untuk menjaga Kenzie.

Setelah mengantar Kenzie, Arkan melanjutkan perjalanan mengantar Rania pulang.

"Kamu jadi ribet, kan? Padahal masih harus balik kerja." ucap Rania mendadak merasa tak enak.

"Nggak ada kerjaan mendesak. Aman." jawab Arkan santai.

Mobil Arkan berhenti perlahan di depan rumah Rania. Suasana sudah mulai tenang, matahari mulai condong ke barat.

"Thanks ya, sudah anterin." ucap Rania sambil membuka seatbelt.

Arkan menoleh, menatap Rania sejenak. "Iya. Hati-hati masuk."

Rania mengangguk, "Iya."

Namun saat hendak membuka pintu, Arkan kembali bicara, "Ra..."

Rania menoleh cepat, "Hm?"

"Jangan terlalu baik ke Kenzie kalau kamu nggak siap disayang balik." ucap Arkan pelan tapi dalam.

Rania sempat terdiam. Lalu matanya mengerjap cepat. "Siapa bilang nggak siap?" tanyanya setengah bercanda, setengah serius.

Arkan tersenyum tipis. "Bagus kalau siap."

Rania membuka pintu dan turun, sebelum melongok kembali ke dalam. "Kamu juga, jangan bikin bingung kalau nggak beneran siap ngajak serius."

Arkan tak menjawab. Ia hanya menatap Rania lama, lalu mengangguk satu kali. Diam-diam, senyumnya tumbuh pelan.

Rania masuk ke rumah sambil menutup pintu pagar. Sementara Arkan belum langsung pergi, masih duduk di balik kemudi, menatap rumah yang perlahan menutup pandangannya.

Arkan akhirnya menghela napas pelan dan menyalakan mesin mobil. Ia melirik sekali lagi ke arah rumah Rania sebelum memutar setir dan melaju perlahan meninggalkan area perumahan.

Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, pikirannya melayang ke kata-kata Rania barusan. "Kamu juga, jangan bikin bingung kalau nggak beneran siap ngajak serius."

Ucapan itu terngiang cukup lama di kepalanya.

Sesampainya di kantor, suasana sudah lebih sepi. Beberapa staf terlihat bersiap pulang, tapi Nathan dan Axel masih di ruang kerja bersama. Pintu terbuka, mereka melihat Arkan masuk.

Arkan menjatuhkan diri ke sofa ruang meeting dengan embusan napas panjang. Dasi dilepas separuh, dan matanya sempat terpesjam beberapa detik.

"Tumben lama?" tanya Axel tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

"Ngantar dua orang sekaligus." jawab Arkan datar, tapi ada nada lelah dan sisa senyuman di ujung suaranya.

Nathan melirik sebentar, lalu menyandarkan tubuh ke kursi, "Kenapa, lu?"

Arkan membuka mata, menatap langit-langit ruangan. "Lu pernah denger kalimat pendek... tapi rasanya kayak ditembak pake peluru karet? Gak berdarah, tapi nyiksa?"

Axel dan Nathan langsung saling pandang, sudah bisa menebak arah omongan itu.

Nathan terkekeh. "Rania nyeplos sesuatu?"

"Atau lu ditolak?" tebak Axel.

"Dia gak nolak. Tapi... sentilannya dalem." jawab Arkan, bibirnya tertarik membentuk senyum tipis.

Axel ikut tertawa kecil. "Langsung gas pelaminan lah kalau udah gitu."

Arkan duduk tegak. Matanya serius, tak lagi bercanda. "Gue serius sama dia. Tapi Rania kayak masih ragu. Mungkin karena gerakan gue terlalu cepat."

"Ya wajar, Man." ujar Axel sambil bersandar. "Baru kenal, langsung disuruh ngurusin orang demam, dekat sama anak lu, sekarang udah baper-baperan. Dia pasti mikir, ini serius atau cuma godaan iseng doang?"

Arkan mengangguk pelan. "Gue paham. Makanya gue nggak maksa. Tapi kalau gue sudah yakin, ya gue jalan terus. Nggak buru-buru, tapi nggak nyantai juga."

Nathan ikut nimbrung sambil memainkan tutup botol di tangannya. "Masalahnya, Rania itu masih muda. Lu? Udah senior. Pendekatan lu kaku."

Arkan mendengus, "Sialan lu."

"Coba aja ikutin gaya pendekatan cowok-cowok seusia dia." sambung Nathan. "Yang ringan, santai, tapi tetap bikin penasaran. Bukan langsung gaya bapak-bapak ngajak parenting bareng."

Axel tertawa pelan. "Iya, jangan langsung ngajak diskusi gaya di ranjang."

"Bisa kabur si Rania." timpal Nathan lalu terkekeh.

...****************...

Baru pukul delapan malam, tapi Rania sudah berada di kamar. Rambutnya tergerai, piyama longgar sudah dikenakan, dan lampu tidur mulai diredupkan. Ia memang berniat tidur lebih awal malam ini.

Namun, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Arkan.

Arkan: Saya di depan rumah kamu.

Mata Rania langsung membesar. Jarinya cepat mengetik balasan.

Rania: Hah? Ngapain?

Balasan datang tak lama kemudian.

Arkan: Keluar, Ra. Temenin saya makan malam.

Rania menatap layar ponselnya dengan ekspresi tak percaya. Ia mendengus pelan, setengah kesal, setengah bingung.

"Orang ini... malam-malam ngajak makan? Memangnya dia pikir saya belum sikat gigi?" dumelnya kesal.

Namun, kakinya tetap bergerak, turun dari tempat tidur. Sambil mengomel kecil, ia meraih hoodie yang tergantung di belakang pintu.

Dengan hoodie menutupi piyamanya, Rania keluar rumah sambil menggosok mata. Udara malam cukup sejuk. Di depan pagar, sebuah mobil hitam terparkir dengan lampu menyala redup. Jendela sisi pengemudi turun perlahan, memperlihatkan Arkan yang duduk santai dengan tangan di setir.

"Ra." sapa Arkan dengan senyum kecil.

Rania melipat tangan di dada. "Ngapain, sih???"

"Ingin makan ditemeni kamu." jawab Arkan tenang. "Ayo, saya lapar."

Rania melirik ke bawah, ke celana piyamanya. "Aku sudah siap tidur, tahu."

"Pakai hoodie juga masih kelihatan cantik kok." celetuk Arkan cepat.

Rania mendelik. "Menggombal terus, capek nggak?"

"Nggak, kalau ke kamu." balas Arkan santai.

Ia membuka pintu mobil dari dalam. "Yuk. Sebentar saja. Saya cuma ingin makan sama kamu."

Rania diam sejenak. Ada jeda antara enggan dan penasaran di matanya. Tapi akhirnya ia masuk juga ke mobil, menghela napas pendek.

"Cuma makan, terus pulang. Aku sudah mengantuk." ujarnya.

"Iya." sahut Arkan sambil menyalakan mesin mobil.

Mereka duduk di sebuah warung sate kambing sederhana tak jauh dari rumah Rania tempat yang ia rekomendasikan sendiri.

"Satenya enak. Tempatnya jangan dibandingkan sama restoran, ya." ujar Rania sambil tersenyum kecil.

Arkan hanya mengangguk santai. "Yang penting enak. Bukan soal tempat."

Tak lama, pesanan datang. Arkan memesan seporsi sate kambing dan lontong, sementara Rania hanya memesan es jeruk.

"Beneran nggak makan?" tanya Arkan sambil menusuk sate pertamanya.

"Aku sudah makan." sahut Rania. "Lagian ini sudah malam."

Arkan tak memaksa. Ia hanya mengangguk dan lanjut makan. Sesekali terdengar suara kendaraan lewat, tapi selain itu hanya ada percakapan ringan di warung dan suara kipas angin tua yang berdengung pelan.

Rania melirik Arkan sekilas. "Belum pulang ke rumah?"

Arkan masih dengan piring di depannya, menoleh sedikit. Ia memang masih mengenakan kemeja kerja, hanya saja dasinya sudah dilepas, dua kancing teratas dibuka dan lengannya digulung sampai siku, membuat penampilannya tampak lebih santai.

"Tadi masih lanjut meeting sama Axel, terus... ya, langsung ke sini jemput kamu." jawabnya.

Rania mengangguk pelan. Ada jeda, cukup panjang hingga hanya terdengar sendok yang beradu dengan piring.

Lalu Arkan meletakkan garpu, menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, dan menatap Rania.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!