Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 Nasib Derita Istri Kuli Bangunan
Suara tangis bayi yang melengking kencang menembus dinding tebal ruang bersalin RSUD. Burhan yang sejak tadi duduk tersudut di bangku besi koridor langsung berdiri tegak.
Kedua tangannya yang kasar dan penuh bekas goresan kerja keras menangkup wajahnya sendiri. Napasnya terengah, bercampur antara rasa lega yang membuncah dan gumpalan kecemasan yang tiba-tiba mencekik dada.
Seorang perawat berseragam hijau keluar dari balik pintu ganda bertuliskan "Ruang Bersalin". Masker medisnya diturunkan sedikit ke dagu, mengumandangkan senyum hangat.
"Keluarga dari Ibu Anisa?" tanya perawat tersebut.
Burhan bergegas melangkah maju, nyaris tersandung kakinya sendiri. "Saya, Suster! Saya suaminya! Bagaimana keadaan istri dan anak saya?"
"Alhamdulillah, Bapak. Bayinya lahir selamat, jenis kelaminnya laki-laki. Ibunya juga sehat, hanya masih sangat lemas karena proses persalinan. Sekarang ibu dan bayi sedang dipersiapkan untuk dipindahkan ke ruang perawatan," jelas perawat itu ramah.
"Terima kasih, Suster... Terima kasih banyak," bisik Burhan dengan suara bergetar. Tangannya gemetar saat menjabat tangan perawat itu.
Namun, begitu perawat kembali masuk ke dalam ruangan, hembusan napas lega Burhan mendadak menguap. Pandangannya perlahan jatuh pada dompet kulit kusam yang tergeletak di saku celana jeans-nya. Burhan menariknya keluar dan membukanya di bawah temaram lampu koridor rumah sakit.
Dua lembar uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar uang ribuan yang lusuh. Hanya itu harta yang tersisa di dompetnya malam ini. Total tak lebih dari seratus tiga puluh ribu rupiah.
"Gusti Allah..." bisik Burhan lirih, meremas dompetnya erat-erat.
Rencana awal mereka adalah melahirkan di bidan desa atau Puskesmas setempat dengan biaya yang sudah dicicil sedikit demi sedikit dari upahnya sebagai buruh kuli bangunan. Namun, takdir berkehendak lain.
Tadi sore, Anisa mengalami pendarahan hebat dan kejang kecil yang membuat bidan desa menyerah, lalu merujuk mereka secara darurat menggunakan ambulans desa menuju RSUD kabupaten.
Di sinilah mereka sekarang, di sebuah rumah sakit umum daerah yang besar, tanpa kartu jaminan kesehatan dan tanpa persiapan dana ekstra.
Pintu ruang perawatan terbuka. Brankar ditorong keluar. Anisa terbaring di atasnya, wajahnya pucat pasi, rambutnya basah oleh keringat. Di sampingnya, sebuah boks bayi transparan berisi mungilnya buah hati mereka yang terbungkus kain bedong kuning muda.
Burhan menyamai langkah para perawat yang mendorong brankar menuju ruang perawatan kelas tiga. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Anisa, menggenggam tangan istrinya yang terasa begitu dingin.
"Anisa... Terima kasih ya, Mas bangga sama kamu," bisik Burhan, menahan air mata yang mendesak di sudut matanya.
Anisa membuka matanya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang amat lemah. "Mas Burhan... Anak kita, Mas... Dia tampan sekali..."
"Iya, Nisa. Tampan seperti yang kamu harapkan. Kamu istirahat ya, jangan memikirkan apa-apa dulu," balas Burhan lembut sembari mengelus dahi istrinya.
Setelah perawat selesai mengatur infus dan merapikan posisi Anisa di ranjang perawatan, salah seorang petugas administrasi ruangan mendekati Burhan.
"Pak Burhan, jika sudah tenang, tolong segera mengurus berkas administrasi dan biaya pendaftaran awal di loket keuangan lantai satu ya. Agar tindakan pengobatan dan perawatan lanjutan bisa berjalan lancar," ujar petugas tersebut dengan sopan namun tegas.
Burhan menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Baik, Mbak. Sebentar lagi saya ke bawah."
Ketika petugas itu pergi, Anisa yang rupanya mendengar percakapan tersebut menggeser pandangannya ke arah Burhan. Tatapan matanya yang sayu menangkap raut ketakutan di wajah suaminya.
"Mas..." panggil Anisa pelan.
Burhan berusaha mengukir senyum di bibirnya, meski hatinya berkecamuk. "Kenapa, Nisa? Ada yang sakit?"
"Uang kita... cukup kan, Mas? Kita di RSUD, bukan di Puskesmas. Biayanya pasti mahal sekali..." suara Anisa terdengar bergetar, penuh rasa bersalah. "Maafkan Anisa ya, Mas. Tubuh Anisa lemah, jadi malah bikin repot dan harus dibawa ke sini."
Burhan langsung menggenggam kedua tangan Anisa, mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Jangan bicara begitu! Kamu tidak salah sama sekali. Yang penting kamu dan anak kita selamat. Soal biaya, itu urusan Mas. Kamu fokus pemulihan saja, tidak boleh stres nanti ASI-nya tidak keluar."
"Tapi Mas..."
"Sudah, tenang ya. Mas bakal cari jalannya. Gusti Allah tidak pernah tidur, Nisa."
Meskipun mengucapkan kata-kata menenangkan itu, dada Burhan terasa sesak. Ia melangkah keluar dari kamar perawatan dengan langkah berat.
Di lantai bawah, ia berdiri di depan loket administrasi. Saat petugas menyerahkan estimasi rincian biaya persalinan darurat dan perawatan kamar yang mencapai angka beberapa juta rupiah, lutut Burhan rasanya ingin lemas seketika.
Ia berjalan ke luar gedung RSUD, mencari area taman yang sepi di bawah kegelapan malam. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang beton, lalu menyapu wajahnya kasar. Ke mana ia harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu semalam?