Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Izin Dari dr. Andra
Pagi itu suasana kantor sudah mulai hidup. Beberapa karyawan tampak hilir mudik, sebagian baru datang, sebagian lagi sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Raya memarkirkan motornya dengan rapi di area parkir, lalu melepas helmnya. Ia merapikan sedikit kerudungnya yang sempat bergeser, kemudian mengambil tas dari dalam jok motor. Wajahnya terlihat segar, dengan senyum tipis yang selalu menghiasi bibirnya—senyum yang seolah sudah menjadi ciri khasnya.
Begitu melangkah masuk ke area kantor, Raya tidak pernah berjalan begitu saja. Matanya sigap menangkap siapa pun yang berpapasan dengannya.
"Pagi, Pak Danu,” sapanya hangat saat melewati pos keamanan.
Pak Danu yang sedang berdiri langsung menoleh, wajahnya ikut mengembang. “Pagi, Mbak Raya,” jawabnya sambil mengangguk hormat, tapi juga penuh rasa akrab.
Raya melanjutkan langkahnya. Di lorong menuju gedung utama, ia berpapasan dengan seorang OB yang sedang mendorong trolley berisi alat kebersihan.
"Pagi, Bu Wati,” ucapnya lagi dengan nada yang sama hangatnya.
"Pagi, Mbak,” balas Bu Sari dengan senyum tulus, terlihat senang disapa lebih dulu.
Tak berhenti di situ, saat seorang kurir yang sudah langganan datang membawa paket dari gudang melintas, Raya juga sempat mengangguk dan tersenyum. “Seperti biasa ya, Mas,” katanya ringan.
Sapaan-sapaan kecil itu mungkin terlihat sederhana, tapi bagi orang-orang di sekitarnya, itu berarti. Raya tidak pernah melewati siapa pun tanpa mengakui keberadaan mereka.
Di kantor, ia memang dikenal sebagai salah satu karyawan paling ramah. Bukan karena dibuat-buat, tapi karena memang begitu adanya. Ia tidak pernah membeda-bedakan—entah itu sopir, OB, security, bahkan kurir yang hanya datang sebentar untuk pick up barang di gudang klinik kecantikan Akmallia.
Bagi Raya, semua orang layak dihargai dengan cara yang sama.
Dan mungkin itu yang membuat kehadirannya selalu terasa hangat, bahkan sejak langkah pertamanya memasuki kantor setiap pagi.
Dengan langkah mantap, Raya akhirnya sampai di ruangannya. Ia membuka pintu, masuk, lalu meletakkan tasnya di atas meja kerja yang rapi. Tanpa menunda, ia mengambil air wudhu. Gerakannya tenang, sudah menjadi rutinitas yang melekat.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri dalam keheningan, menunaikan salat Dhuha. Gerakannya khusyuk, seolah menjadi momen ia menenangkan diri sebelum menghadapi kesibukan hari itu.
Setelah selesai, ia kembali ke meja. Tangannya mulai membuka beberapa berkas catatan keuangan. Matanya fokus, jemarinya sesekali membalik halaman, mengecek angka demi angka dengan teliti.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
"Wah, sepertinya jam segini dr. Andra sudah datang… mending sekarang saja aku membicarakan tentang podcast itu,” gumamnya pelan.
Ia menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu bangkit dari kursi. Langkahnya kembali mantap, kali ini dengan tujuan yang jelas.
Raya keluar dari ruangannya, berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai atas, tempat ruangan direktur berada. Semakin mendekat, suasana terasa sedikit lebih sunyi dan formal.
Sesampainya di depan ruangan, ia bertemu dengan Desy, sekretaris direktur.
"Mbak, saya mau bertemu dr. Andra, bisa sekarang nggak ya?” tanya Raya dengan sopan.
Desy tersenyum profesional, lalu mengetuk pintu sebentar sebelum masuk untuk memastikan. Tak lama, ia kembali keluar.
"Silakan, Mbak Raya, dr. Andra membolehkan Anda masuk.”
Raya mengangguk pelan. “Terima kasih, Mbak Desy.”
Ia berdiri sejenak di depan pintu, menarik napas dalam, sebelum akhirnya mengangkat tangan untuk mengetuk ringan.
"Masuk!” terdengar suara berat dari dalam.
Dan di situlah, untuk pertama kalinya hari itu, langkah Raya yang biasanya mantap… berubah sedikit ragu saat ia hendak membuka pintu.
Raya berdiri sejenak di depan pintu, jemarinya masih menggenggam gagang dengan ragu. Nafasnya tertahan sesaat, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Lalu perlahan ia mendorong pintu itu dan melangkah masuk.
Langkahnya ringan, tapi terasa hati-hati. Matanya menyapu seluruh ruangan direktur yang terasa begitu berbeda dari ruang kerja biasa—lebih luas, lebih hangat, dan tertata rapi dengan sentuhan elegan. Dindingnya dihiasi beberapa frame sertifikat dan foto profesional, sementara rak buku di sudut ruangan dipenuhi jurnal-jurnal medis. Aroma lembut, mungkin dari diffuser atau kopi yang baru diseduh, membuat suasana terasa nyaman, tidak kaku seperti yang ia bayangkan.
Di balik meja kerjanya yang besar dan rapi, duduk dr. Andra. Pria itu tampak tenang, mengenakan kemeja dengan jas dokter yang tergantung santai di kursinya. Wajahnya bersih, garis rahangnya tegas, dan ketika ia mengangkat pandangan, senyumnya langsung terukir—ramah, tapi tetap berwibawa.
Raya sempat terdiam sepersekian detik. Ada rasa canggung yang tiba-tiba muncul, entah karena ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan pribadi direktur sendirian, atau karena sosok di hadapannya memang punya aura yang sulit diabaikan.
"Silakan duduk, Mbak Raya,” ujar dr. Andra dengan suara tenang, sedikit dalam, namun hangat.
Raya tersadar, lalu mengangguk cepat. “I-iya, Dok,” jawabnya pelan.
Ia melangkah lebih jauh, menarik kursi di depan meja dengan gerakan hati-hati, lalu duduk dengan posisi tegak. Tangannya saling bertaut di atas pangkuan, berusaha menenangkan diri. Meski wajahnya berusaha terlihat biasa saja, ada sedikit kegugupan yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Sementara itu, dr. Andra masih menatapnya dengan senyum tipis, seolah memberi ruang agar Raya merasa lebih nyaman.
Ruangan itu mendadak terasa hening, hanya terdengar samar suara AC dan detak jantung Raya yang entah kenapa terasa lebih cepat dari biasanya.
Padahal, ia sudah menyiapkan apa yang ingin dibicarakan.
Tapi entah kenapa, berada langsung di hadapan dr. Andra seperti ini… membuat semuanya terasa sedikit berbeda.
"ada yang bisa saya bantu, Mbak Raya?"
"Ini Dok, saya itu dapat undangan untuk jadi Nara sumber di podcast-nya Bang Dansu, apakah boleh saya menerima undangan tersebut?"
"Narasumber sebagai apa Mbak Raya, manajer keuangan atau?" Pertanyaan dr. Andra menggantung.
"Narasumber sebagai wanita yang pernah disakiti, itu pernikahan saya yang viral itu, Dok."
"Oh soal itu. Bagi perusahaan gak masalah, asal jangan ganggu kerjaan aja. Jadi menyiasatinya ambil shooting pas hari libur."
"Jadi boleh ya, Dok?"
"Boleh banget. Tapi kamu sudah kuat menceritakan kembali kejadian tersebut?"
"Insya Allah kuat, Dok. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja dengan netizen, agar apa yang pernah saya alami tidak terulang oleh wanita di luar sana."
"Bagus, pemikiran yang sungguh bagus. Ceritakan juga gimana Mbak Raya bisa bangkit kembali, tidak terpuruk berkepanjangan."
dr. Andra sedikit memajukan tubuhnya, nada suaranya kini terdengar lebih ringan, seperti ingin menghapus keraguan yang tadi sempat muncul di wajah Raya.
Mbak Raya, kantor ini tidak membatasi karyawannya untuk berekspresi,” ujarnya tenang. "Kalau Mbak Raya punya kemampuan untuk memengaruhi orang, Mbak Raya bisa jadi influencer seperti dr. Akmal, seperti saya, silakan aja!”
Raya langsung mengangkat wajahnya. Ada sedikit keterkejutan di matanya, seolah tidak menyangka akan mendapat dukungan sejauh itu. Namun refleks, ia justru merendah.
"Oh begitu, Dok. Tapi saya tidak punya kemampuan itu.”
Ia menggeleng kecil, senyumnya tipis dan canggung. Jemarinya kembali saling mengunci, tanda ia belum benar-benar percaya pada dirinya sendiri.
dr. Andra menggeleng pelan, kali ini dengan senyum yang lebih yakin.
"Punya, Mbak. Hanya Mbak Raya belum menyadarinya.” Ia berhenti sejenak, menatap Raya lurus. “Public speaking Mbak Raya itu keren banget.”
Kalimat itu seperti berhenti di udara beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar sampai ke hati Raya.
"O ya?” Raya tersipu.
Pipinya sedikit merona. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung. Pujian itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat hatinya membuncah.
"Silakan diasah,” lanjut dr. Andra. “Itu bisa memberikan manfaat bagi yang lain. Berbagi sesuai dengan ilmu yang kita miliki aja, atau skill lain yang kita miliki.”
Raya mengangguk pelan. Kali ini bukan sekadar sopan, tapi benar-benar menyerap setiap kata yang ia dengar. Jemarinya yang tadi gelisah kini mulai tenang, bahkan genggamannya perlahan mengendur.
Ada sesuatu yang berubah—kecil, tapi terasa.
"Kalau masih ragu, nanti saya ajari. Di belakang ada banyak camera untuk live anak-anak menjual produk kecantikan, kali-kali bisa dicoba untuk dipakai. Kan gak selamanya dipakai sepanjang waktu. Nanti, ya beneran saya mau ajarinbak Raya."
"Terimakasih sebelumnya Dok!" Raya kembali mengucapkan terimakasih.
"Iya sama-sama Mbak Raya."
"Kalau begitu, saya pamit melanjutkan kerjaan, Dok."
"Ok, semoga sukses ya!"
Raya keluar dari ruangan dr. Andra dengan penuh percaya diri. Di dalam hatinya mulai tumbuh keyakinan bahwa dirinya memang punya sesuatu yang layak untuk dibagikan.
mantappp