NovelToon NovelToon
Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.

​Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.

​Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.

​“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”

​Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Mode Monster Dan Rahasia Terkuak

Pintu mobil tertutup rapat. Dari dalam, Aira hanya bisa melihat bayangan Gabriel yang berdiri sendirian di tengah jalanan sepi, dikelilingi oleh delapan orang pria berwajah beringas.

​Aira meremas jemarinya dengan cemas. Gabriel konyol itu... bagaimana bisa dia menghadapi delapan pria sendirian? Dia bahkan tidak bisa memotong roti tawar dengan benar tadi pagi!

​Di luar mobil, udara malam terasa sangat dingin.

​Gabriel berdiri tegap. Angin malam menyapu rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya dengan pemantik emas. Ia menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap putih ke udara dengan sangat tenang.

​"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Gabriel. Suaranya tidak lagi cempreng atau manis seperti saat berbicara dengan Aira. Suara itu kini menjelma menjadi gema kematian yang sangat dingin, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak.

​Si kepala botak tertawa mengejek. "Kau tidak perlu tahu siapa yang membayar kami, Alexius! Malam ini, riwayatmu dan bisnis gelapmu berakhir di sini!"

​Pria botak itu mengayunkan tongkat besinya tepat ke arah kepala Gabriel dengan kekuatan penuh!

​Aira di dalam mobil memekik histeris sambil memejamkan mata.

​Namun, benturan yang dibayangkan tidak pernah terjadi.

​Tanpa menggeser kakinya sedikit pun, tangan kanan Gabriel melayang cepat bak kilat, menangkis dan mencengkeram pemukul besi itu di udara dengan tangan kosong!

​TAK!

​Mata si kepala botak melotot tidak percaya. Pemukul besi yang diayunkannya dengan seluruh tenaga mendadak terkunci rapat di dalam genggaman Gabriel, tak bergeser seilun pun.

​Gabriel menatap pria itu dengan pandangan mengeringkan darah. "Kalian membuat istriku ketakutan," desis Gabriel pelan. "Dan aku... paling tidak suka kalau ada yang mengganggu senyumannya."

​KRAK!

​Dengan satu gerakan teratur, Gabriel memutar tongkat besi itu, mematahkan pergelangan tangan si kepala botak hingga terdengar bunyi tulang berderak yang mengerikan. Pria botak itu menjerit kesakitan, namun sebelum suaranya membumbung tinggi, lutut Gabriel sudah mendarat telak di dadanya, mementalkannya sejauh tiga meter hingga terkapar tak berkutik di atas aspal!

​Tujuh pria sisanya terpaku shock. Semangat bertarung mereka mendadak runtuh melihat betapa mudahnya pemimpin mereka ditumbangkan dalam satu detik.

​"T-Ternyata rumor itu benar..." bisik salah satu preman dengan bibir gemetaran. "Dia... dia bukan manusia! Dia Monster Alexius!"

​"Maju bersamaan!" teriak yang lain panik.

​Pertarungan—atau lebih tepatnya pembantaian berat sebelah—terjadi begitu cepat. Gabriel bergerak seperti bayangan. Setiap pukulan, tendangan, dan kuncian yang ia layangkan dilakukan dengan presisi mematikan seorang predator puncak. Tidak ada gerakan sia-sia. Dalam waktu kurang dari dua menit, tujuh pria berbadan besar itu sudah terkapar bersimbah darah di atas jalanan, mengerang kesakitan tanpa mampu bangkit kembali.

​Gabriel berdiri di tengah-tengah tubuh para musuhnya. Napasnya bahkan tidak terengah. Ia mengibaskan sedikit debu di lengan kemejanya, lalu melangkah mendekati si kepala botak yang merayap ketakutan di atas aspal.

​Gabriel berlutut di sampingnya, mencengkeram rambut pria itu dan memaksa matanya menatap langsung ke dalam mata iblis miliknya.

​"Katakan pada bosmu," bisik Gabriel dingin tepat di telinga pria itu. "Jika dia menyentuh sehelai rambut istriku lagi... aku sendiri yang akan mencabut jantungnya saat dia tertidur."

​Tepat saat itu, tiga mobil SUV hitam milik jaringan pengawal Gabriel tiba dengan raungan mesin yang keras. Puluhan pria berjas hitam pimpinan Felix melompat keluar dengan senjata laras panjang tersiap.

​"Tuan Besar!" seru Felix panik melihat pemandangan di jalanan. "Anda tidak apa-apa?"

​Gabriel melepaskan cengkeramannya dan berdiri. Ia mengambil sapu tangan putih dari sakunya untuk menyapu sedikit noda darah yang menempel di jemarinya.

​"Bereskan sampah-sampah ini," perintah Gabriel datar pada Felix. "Jangan tinggalkan jejak sedikit pun."

​"Baik, Tuan!"

​Gabriel menghela napas, lalu merapikan tatanan rambutnya. Kilatan kejam di matanya perlahan menghilang, berganti dengan kepanikan luar biasa ketika ia teringat satu hal: Aira di dalam mobil!

​Aduh! Bagaimana kalau Aira melihat semuanya?! Bagaimana kalau Aira takut padaku dan minta cerai?! batin Gabriel menjerit histeris. Wajahnya yang tadinya bak raja kematian seketika pucat pasi karena panik.

​Gabriel buru-buru menghampiri pintu mobil Rolls-Royce dan menekan tombol pembuka kunci. Dengan senyuman manis yang dipaksakan dan wajah yang dibuat seolah-olah baru saja menangis ketakutan, Gabriel membuka pintu mobil.

​"Aira! Sayang! Aku selamat!" seru Gabriel dengan nada manja yang berlebihan, siap melompat untuk memeluk Aira. "Pria-pria jahat itu tadi mendadak terpeleset dan pingsan semua! Seram sekali—"

​Perkataan Gabriel terhenti kaku di tenggorokan.

​Aira duduk di kursi penumpang dengan tubuh kaku bak patung. Matanya melotot lebar menatap Gabriel, lalu beralih menatap noda darah segar yang masih membekas di jemari tangan suaminya.

​Aira tidak melepas pandangannya dari kaca mobil sejak awal. Meskipun kaca mobil itu gelap dari luar, dari dalam interior mobil yang terang, Aira bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana suaminya—pria konyol yang tadi pagi menangis karena roti tawar peyot—menumbangkan delapan pria bersenjata dengan tangan kosong bagaikan seorang monster pembunuh berdarah dingin.

​"G-Gabriel..." suara Aira tercekat di tenggorokan, gemetaran hebat. "Kamu... kamu sebenarnya siapa?"

​Jantung Gabriel rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Wajah konyolnya luntur sepenuhnya, berganti dengan raut kepanikan dan rasa takut paling nyata yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya—takut kehilangan wanita di depannya.

​Rahasia terbesar sang Ketua Mafia kini telah terbongkar sepenuhnya di depan sang istri.

​[Bersambung ke Bab 4...]

​Bagaimanakah nasib pernikahan Aira setelah mengetahui identitas asli Gabriel? Akankah Gabriel berhasil membujuk istri kecilnya agar tidak kabur dari penthouse?

1
Chenyu Wang
mantap awal cerita sudah seru..
Chenyu Wang: sama2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!