NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Jumat pagi ruang baca terbatas sudah terbuka ketika Alina tiba. Sari mengantarnya dari lobi seperti kemarin. Kartu akses sementara dijepit di antara dua jari Sari, dan tali pengunjung di leher Alina masih yang sama, plastiknya sudah agak melengkung di tepi. Lift berhenti tanpa bunyi. Koridor lantai arsip lebih terang dari lobi. Lampu neon tidak berkedip. Pintu di ujung tidak terkunci.

Sari membukanya, menunggu Alina masuk, lalu tetap di ambang. "Saya di luar. Kalau selesai, ketuk."

"Baik."

Di dalam, Dimas sudah duduk. Laptopnya tertutup. Buku catatan terbuka di sisi monitor, pena diletakkan sejajar dengan tepi meja. Kursi yang kemarin dipakai Alina masih menghadap layar yang sama. Monitor menyala pada halaman yang ia tinggalkan, seolah tidak ada orang yang berani menggulirnya semalam.

"Drafnya sama," kata Dimas. "Oscar belum menyentuh. Pak Adrian minta ditahan dulu."

Alina duduk tanpa banyak basa-basi. Jaket tipisnya ia gantung di sandaran. Botol minum ia letakkan di lantai, bukan di meja, supaya tidak dekat dengan kertas. Ia membuka halaman yang kemarin sempat ia tandai di kepala, lalu menggulir lebih dalam ke lampiran pendukung. Kali ini ia tidak hanya mencari nama Lazuardi. Ia mencari pola pemindahan: tanggal, urutan, dan cara angka berpindah dari kolom detail ke ringkasan.

Layarnya penuh baris kecil. Nama vendor, kode, status, lalu kolom yang seharusnya menjelaskan dari mana uang itu bergerak. Ringkasan di halaman depan terlihat rapi. Lampiran di belakang tidak.

Tiga transaksi yang kemarin ia sebut muncul lagi dengan jejak yang lebih jelas. Yang pertama: sewa armada terkait, nilai Rp9,2 miliar, dipindah dari kolom detail ke ringkasan dengan catatan "diselesaikan 2024". Yang kedua: jasa pendukung gudang Rp4,1 miliar, status sama. Yang ketiga: Lazuardi Rp5,6 miliar, masih berstatus "muncul pada rekonsiliasi". Total yang digeser tepat Rp18,9 miliar. Ringkasan hanya menampilkan Rp12,4 miliar.

Alina menunjuk layar. "Ini bukan kesalahan input. Urutannya sama. Tanggal pemindahan berdekatan. Siapa pun yang menggeser tahu cara membuat ringkasan terlihat bersih tanpa menghapus jejak di belakang."

Dimas mencatat pelan. Pensilnya berhenti di angka terakhir. Ia menulis ulang jumlah itu di pinggir halaman, bukan menghitung di kepala. "Anda yakin ini disengaja?"

"Kalau tidak disengaja, kenapa tiga item sekaligus, dan kenapa Lazuardi dibiarkan hidup di rekonsiliasi sementara dua lainnya sudah ditandai selesai?"

Dimas tidak menjawab langsung. Ia hanya menulis tanggal dan nilai di buku catatannya, lalu membiarkan Alina melanjutkan. Di luar, kaki kursi bergeser sekali. Suara itu kecil, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa pintu tidak benar-benar lepas dari pengawasan.

Mereka bekerja sampai hampir siang. Alina menggulir pelan, berhenti tiap kali catatan status memakai susunan kata yang mirip. Ia menemukan dua baris tambahan yang nilainya lebih kecil, tapi pola pemindahannya identik: digeser pada rentang waktu yang sama, dengan catatan status yang hampir sama susunannya. Satu terselip di lampiran jasa. Satu lagi ada di daftar penyesuaian akhir tahun. Tidak ada nama baru yang mengubah arah. Yang berubah hanya keyakinan bahwa ini bukan satu kali tangan salah ketik.

"Yang kecil ini," kata Alina, menggulir balik supaya kedua baris terlihat bergantian, "kalau dibaca sendiri, kelihatan seperti pembulatan. Kalau ditaruh di samping tiga yang besar, catatannya meniru. Bahkan jarak setelah kata selesai hampir sama."

"Nilainya saya tulis terpisah," kata Dimas. "Supaya tidak tercampur dengan delapan belas koma sembilan."

"Jangan digabung. Tulis apa adanya. Nilai, tanggal, dan kalimat statusnya."

Dimas menulis semuanya tanpa komentar berlebihan. Sesekali ia meminta Alina mengulang satu tanggal, lalu membandingkannya dengan yang ada di layar. Jarinya menahan halaman buku supaya tidak berpindah. Sari sesekali membuka pintu, memastikan tidak ada yang masuk atau keluar tanpa sepengetahuannya. Pada kali ketiga ia hanya melihat ke dalam, mengangguk, dan menutup lagi.

"Air?" tanya Sari dari celah pintu.

"Tidak," jawab Alina.

"Saya juga tidak," kata Dimas. "Terima kasih."

Pintu tertutup. Di ruangan itu hanya ada dengung monitor dan gesekan pena. Alina membetulkan duduknya. Bahunya pegal, tapi ia tidak meminta istirahat. Setiap menit di ruang ini adalah menit yang bisa dicabut.

Adrian masuk tepat sebelum waktu yang ditentukan. Pintu terbuka tanpa ketukan panjang. Ia berdiri di belakang Dimas, membaca catatan yang sudah terkumpul. Wajahnya tidak berubah, tapi jari yang biasanya mengetuk tepi meja berhenti bergerak.

"Tiga transaksi utama," kata Dimas, memutar buku supaya hurufnya tegak ke arah Adrian. "Ditambah dua yang lebih kecil dengan pola sama. Semuanya digeser, bukan dihapus. Lazuardi masih aktif."

Adrian menatap layar, lalu menatap Alina. "Anda menemukan ini dalam dua hari di ruang yang saya batasi."

"Karena jejaknya ada. Bukan karena saya pintar menebak."

Adrian menarik napas pelan. Ia tidak bisa lagi menganggap ini tipuan semata. Angka yang sama muncul di dua tempat, dengan cara yang sama, dan Lazuardi masih hidup di draf yang akan dikirim ke investor. Kalau ini kebocoran atau manipulasi, akuisisi Pesisir Garuda bisa retak sebelum tanda tangan. Investor seperti Aruna tidak suka kejutan di lampiran.

Ia mengetuk pinggir monitor sekali, pelan. "Delapan belas koma sembilan di belakang. Dua belas koma empat di depan."

"Ya," kata Alina. "Selisihnya tidak hilang. Hanya tidak ditaruh di halaman yang dibaca pertama."

"Cukup," kata Adrian. "Hari ini sampai di sini."

Alina berdiri. Kursi bergeser sedikit di lantai. "Saya ingin melihat satu folder lagi. Yang terkait Koridor Timur."

"Tidak. Itu di luar izin." Adrian menatap Dimas. "Antar dia ke lobi. Ponsel tetap di laci. Besok kita bicara lagi."

Alina tidak membantah. Tangannya sempat berhenti di sandaran kursi, lalu ia mengambil jaket dan botol. Ia keluar bersama Sari. Di lift, ia menatap angka lantai yang turun dan memikirkan dua kemungkinan: Adrian akan membersihkan jejak itu sebelum Aruna melihat, atau ia akan dipaksa mengakui bahwa lubangnya lebih dalam dari yang ia kira. Keduanya sama-sama berbahaya baginya.

Sari berdiri di sisi lain lift, tangan di depan, tidak mengisi keheningan. Di lobi ia mengantar Alina sampai pintu putar, lalu berhenti.

"Sampai di sini."

"Saya tahu."

Di ruang baca, Adrian masih berdiri di depan monitor setelah pintu tertutup. Dimas menunggu tanpa berbicara. Buku catatannya tetap terbuka. Menutupnya terlalu cepat terasa seperti setuju bahwa pagi ini tidak terjadi.

"Laporkan ini ke saya saja," kata Adrian. "Jangan ke Oscar dulu. Jangan ke siapa pun di tim hukum. Saya yang akan putuskan kapan dibuka."

"Baik."

"Oscar kalau melihat selisih, refleksnya merapikan halaman depan. Saya belum ingin ini dirapikan."

Dimas mengangguk. "Saya salin catatannya ke Anda. Yang di buku tetap di saya."

Adrian menutup draf. Layar menjadi gelap, dan ruangan terasa lebih sempit tanpa angka-angka itu. "Dan soal nama itu. Sudah ada kemajuan?"

Dimas menelan. Ia teringat foto 2019 yang masih tersimpan di folder terenkripsi. Laptopnya tertutup. Ia tidak membukanya. "Saya masih mencocokkan. Belum final."

Adrian menatapnya lebih lama dari yang diperlukan untuk sebuah anggukan. "Jangan sampai saya mendengarnya dari orang lain."

"Tidak akan."

Adrian mengangguk sekali, lalu keluar. Langkahnya di koridor tidak terburu. Dimas tinggal sendirian. Ia membuka folder itu di laptop, menatap foto acara tahunan sekali lagi, lalu menutupnya. Perempuan di baris belakang staf keuangan. Garis rahang yang kemarin ia bandingkan dan hari ini tidak ia sebut. Ia tahu ia tidak bisa menahan lebih lama. Tapi hari ini, dengan tiga transaksi yang sudah terbukti digeser, ia memilih menunggu satu hari lagi. Kalau ia membuka nama sekarang, fokus akan berpindah dari angka ke dendam keluarga, dan itu bisa membuat Adrian menutup akses sama sekali.

Ia menyimpan buku catatan di laci meja, bukan di tas. Kunci ia putar dua kali. Foto itu tidak ia cetak. Tidak ia kirim. Layar ia tutup sampai benar-benar gelap.

Sore itu Alina kembali ke Tebet lewat jalan yang sama. Gang belakang masih sempit. Lampu tangga masih mati di tanjakan kedua. Ia naik pelan, satu tangan di dinding, menghitung anak tangga supaya tidak salah injak. Di dalam studio, ia duduk di kursi lipat dan menulis di kertas yang sudah penuh coretan: tiga transaksi utama, dua tambahan, pola sama, Lazuardi masih hidup. Di bawahnya ia tulis angkanya lagi, bukan karena lupa, tapi supaya besok pagi kertas itu tidak bergantung pada ingatan yang lelah. Rp9,2 miliar. Rp4,1 miliar. Rp5,6 miliar. Total Rp18,9 miliar. Ringkasan Rp12,4 miliar.

Adrian tidak bisa menganggapnya tipuan lagi. Itu satu-satunya kemenangan kecil yang ia punya tanpa ponsel dan tanpa akses penuh.

Ia mencoba menelepon Mei dari laptop, tapi aplikasi pesan tidak terhubung dengan baik. Ikon berputar, lalu berhenti di layar abu-abu. Jaringan di sudut studio memang sering putus kalau hujan semalam meninggalkan kabel yang longgar. Ia hanya menulis catatan singkat dan membiarkannya tertunda. "Angka sama. Belum bisa cerita panjang." Kiriman itu tidak pergi. Kursor berkedip di akhir kalimat, lalu ia menutup laptop.

Malam itu ia tidur dengan lampu meja tetap menyala. Kertas catatan ia taruh di bawah botol minum kosong, supaya tidak terbang kalau jendela tidak rapat.

Di apartemen Senopati, Adrian membuka map abu-abu yang kemarin ia bawa pulang. Lampu di ruang kerja kecil hanya satu, mengarah ke meja, bukan ke seluruh ruangan. Ia membandingkan halaman ringkasan dengan catatan Dimas baris demi baris. Sewa armada. Jasa gudang. Lazuardi. Dua baris kecil yang Dimas tulis dengan huruf lebih rapat, lengkap dengan tanggal pemindahan. Angka tidak bohong. Seseorang telah menggeser, dan nama Lazuardi masih menunggu untuk ditandai ulang.

Ia menulis di catatan pribadinya dengan tinta hitam: "Jangan biarkan Oscar menandai sebelum saya bicara dengan perempuan itu lagi."

Pena ia tutup. Map ia tutup. Ia tidak menelepon siapa pun. Di luar, jalan Senopati masih ramai, tapi suara itu tidak masuk sampai meja.

Ponsel Alina tetap di laci lantai 28. Kuncinya tetap di tangan Adrian. Di antara mereka, jarak itu belum berkurang. Hanya angka yang sudah terlalu jelas untuk diabaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!