Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kalimat yang beracun
Keesokan paginya di sekolah, suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi abu-abu bagi diriku. Amel menghampiriku dekat ke bangku ku, wajahnya tampak ragu-ragu sebelum akhirnya membisikan sesuatu yang menghantam hatiku.
"Rin sebenarnya aku enggak enak mau ngomong ini," kata Amel sambil menatapku kasihan. "kemaren setelah dari rumahmu... Dian bilang ke kami kalau rumahmu jelek. Dia mengejek dinding rumahmu yang cuma terbuat dari triplek tipis"
Seluruh tubuhku menegang kaku seketika amarah yang membakar langsung menjalar
Kata-kata Amel terus terngiang-ngiang di kepalaku, meremukkan seluruh harga diri yang selama ini ku rawat dengan susah payah.
Rumah yang selalu melindungi ku dari hujan dan teriknya matahari tempat, orang tuaku membanting tulang setia hari demi membesarkan ku, dihina begitu saja sebagai tempat yang "jelek" oleh orang yang ku anggap teman.
Mataku mulai memanas. Air mata yang coba
Ku tahan, mulai menggenang, membuat pandanganku kabur. Aku mengepalkan tangan erat-erat di dalam saku seragam, berusaha memendam gemuruh emosi. Ada perpaduan rasa malu, marah dan kecewa mendalam tercampur menjadi satu. Kemarin mereka datang dengan wajah ceria, menyambut uluran
Uang iuranku dengan senyuman, tetapi begitu membalikkan badan, pisau kata-kata itu langsung tertusuk tepat dihatiku. Aku kecewa kenapa Dian bilang begitu, tidak dipikirkan dahulu sebelum berbicara. aku juga memiliki hati, ia tidak berpikiran itu.
Saat bel masuk berbunyi, Nayla datang membawa botol jus yang sudah selesai diblender dari rumahnya, akan segera di kumpulkan ke guru. Di belakangnya Dian berjalan dengan santai, tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Melihat wajah Dian yang tanpa dosa, rasa sesak di hatiku semakin tak tertahankan. Rasanya aku ingin berteriak,dan memintanya menjelaskan apa maksud dari perkataannya, tetap tenggorokanku mendadak tercekat, terkunci oleh rasa sakit hati yang terlanjur membeku.
Bel masuk berbunyi nyaring, memecah keheningan yang sempat membekukan ruangan kelasku. Guru mata pelajaran pertama
Masuk, meminta kami semua segera duduk di bangku masing-masing. Aku melangkah dengan berat, berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah dan mata yang mulai berkaca-kaca, aku memilih memendam semuanya dalam diam. Aku duduk di barisan ketiga di tengah, sengaja menghindar kontak mata dengan siapa pun, terutama dian yang tempat duduknya di depanku.
Pelajaran dimulai, tetapi tidak satupun penjelasan guru yang masuk ke kepalaku,
Kepalaku yang ada hanyalah ingatan tentang dinding triplek rumahku , tatapan kasihan dari Amel, dan senyuman palsu dari Dian yang menghantui pikiran ku. Akhirnya aku tahu bahwa kemiskinan membuatku tidak layak memiliki teman sejati.
Papan tulis didepan tampak kabur, tertutup oleh bayangan rumah sederhanaku yang hangat. Aku teringat bagaimana bapak pulang
Dengan baju yang basah oleh keringat, dan ibuku yang tangannya kasar karena berkerja tanpa henti. Rumah itu mungkin tidak megah, dindingnya mungkin sudah kusam, tetapi disanalah seluruh Cinta dan pengorbanan orang tuaku berada. Mengapa dian tega mengatakan sebagai tempat yang "jelek" dengan begitu mudah? Kata-kata itu terus berputar di otakku seperti kaset rusak, merobek sisa-sisa rasa hormatku padanya sebagai seorang teman.
Setelah dua jam pelajaran istirahat pun tiba
Teman-teman sekelas langsung bersorak kegirangan, berhamburan keluar pintu menuju kantin. Namun kakiku terasa berat, aku tetap terpaku dibangku memandangi permukaan meja kayu yang penuh coretan, rasa sesak dihati ku belum kunjung memudar.
Dari sudut mata aku melihat Dian berdiri dari duduknya sambil tertawa renyah bersama teman-temanya. Ia melangkah melewati ku tanpa beban seolah kalimat yang beracun ia ucapkan kemarin hanyalah angin lalu. Ia tidak pernah tahu, atau mungkin tidak peduli, betapa setiap kosakata yang merendahkan itu telah menggores harga diriku dalam-dalam.
Aku tarik napas lalu pergi ke kantin di sana aku melihat Amel, Nayla, dan teman-teman lainnya.
"Itu loh yang banyak gaya banget, yang ngajak nongkrong tapi modal dompet orang" ucap Nayla dengan pelan.
Teman-teman yang lain ikut mengangguk kecil
Aku mendengar itu tersenyum kecil
Dian, dengan bibir yang biasa mengunyah makanan gratisan itu, ia merendahkan keluargaku bahkan merendahkan rumahku, seolah ia berdiri di atas menara. Ia mengira kata-katanya bisa menghancurkan ku, namun melihatnya bertingkah meminta-minta, luka hatiku perlahan berubah menjadi rasa sinis.
Dian tidak sedang berada di atas angin. Ia hanya sedang mati-matian menutupi kekurangannya dengan cara menginjak harga diri orang lain.
Langkah kakiku terasa lebih berat dari biasanya
Saat menyusuri jalan menuju rumah. Jam pulang sekolahku tepat pukul 13.00, matahari siang itu seolah ikut membakar amarah yang ditinggalkan Dian di sekolah tadi. Kata-kata sinisnya masih berdengung di telingaku, tetapi mengingat bagaimana ia selalu mengincar barisan belakang kantin demi traktiran teman-teman, aku hanya bisa tersenyum kecut.
Begitu sampai didepan rumah, aku menata emosiku agar bapak dan ibu tidak menangkap basah kegaduhan di wajahku. Rumah ini memang sederhana, jauh dari kata mewah, tetapi disinilah aku dirawat dengan penuh kasih sayang dan kenangan di rumah ini juga cukup banyak. Sesuatu yang jelas tidak dimiliki Dian dalam hidupnya yang penuh kepura-puraan.
Aku melangkah masuk lalu melepas sepatu di dekat jendela. Di dapur Bapak dan ibu yang sedang mengobrol santai, wangi aroma sayur asam buatan ibu langsung menyambut indra penciumanku, memberikan rasa hangat yang seketika meruntuhkan hawa dingin dari ejekan Dian tadi.
"Ehh sudah pulang" sapa ibu begitu menyadari kehadiranku. Senyumnya merekah, kerutan di sudut matanya memancarkan ketulusan yang selalu berhasil menjadi penawar luka. Bapak yang sedang menyesap teh hangat ikut menoleh.
Melihat bapak, dan ibu sedang mengobrol santai, aku memaksakan sebuah senyuman yang terbaik. Aku tidak ingin merusakan kedamaian rumah ini dengan membawa-bawa nama dian, dan kata-kata yang beracunnya itu.
"Kebetulan kamu sudah pulang, ayo langsung makan siang, ibu baru saja angkat sayur asamnya. masih hangat," ajak ibu sambil menyiapkan piring di atas meja kayu.
Di atas meja, menu makan siang kami sangat bersahaja. Selain sayur asem, hanya ada tempe goreng garing, sambal terasi, dan ikan asin.
namun, bagi tempatku pulang ini, sangat tenang.
Kami bertiga kemudian mulai menyantap makan siang dalam suasana yang begitu damai. Bapak sesekali lelucon yang begitu receh yang membuat ibu tertawa kecil, sementara aku menikmati setiap suapan sayur asam yang segar. Rasa hangatnya menjalar ke seluruh tubuh, perlahan-lahan.
Di sini, di meja makan yang sederhana ini,
aku sadar satu hal Dian yang menjelek-jelekkan ku dia lebih buruk, dia pasti tidak merasakan kedamaian dan ketulusan seperti yang aku rasakan saat ini.
pokoknya harus Sampek ending