NovelToon NovelToon
Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.

​Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.

​Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.

​“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”

​Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Tambang Berlian Dan Undangan Tak Diundang

Pagi hari di ibu kota diwarnai oleh lalu lintas yang padat di sekitar kawasan bisnis utama. Di lantai lima puluh gedung pencakar langit Blackwood Corp, suasana kerja berlangsung sangat dinamis. Karyawan lalang-buang membawa berkas, sementara di dalam ruang eksekutif, Aira sedang memeriksa grafik pertumbuhan saham perusahaannya yang meningkat tajam pasca krisis di Roma.

​Aira menghela napas lega, menyerahkan lembar Laporan Keuangan ke tangan Felix. "Pertumbuhan saham kita naik lima belas persen minggu ini, Felix. Langkah stabilisasi rute Laut Hitam terbukti efektif."

​"Benar, Nyonya Aira. Keputusan Anda di hadapan Dewan Tetua benar-benar memberikan dampak positif yang luar biasa bagi reputasi korporasi," puji Felix tulus dengan wibawa formalnya.

​Namun, perhatian Aira mendadak teralih ketika ia mendengar suara langkah kaki Gabriel yang melangkah santai memasuki ruangan. Pria tegap itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan dan tato tipisnya. Di tangan kanannya, Gabriel memegang sebuah sertifikat kepemilikan berbingkai kayu jati tebal yang dihiasi segel resmi bertinta emas.

​Aira menaikkan sebelah alisnya, menatap suaminya yang tersenyum lebar penuh kemenangan. "Gabriel? Sertifikat apa yang kamu bawa itu?"

​Gabriel melangkah mendekat, lalu meletakkan sertifikat tersebut tepat di atas meja kerja Aira dengan gaya penuh kebanggaan. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di tepi meja, menatap istrinya dengan pendar mata cokelat gelapnya yang berbinar-binar.

​"Coba baca sendiri, Permaisuriku tercinta," ujar Gabriel dengan nada suara yang membumbung tinggi.

​Aira mengambil sertifikat berbobot mantap itu, lalu membaca baris demi baris tulisan Latin dan Inggris di atas kertas papiro khusus. Matanya melotot kaget saat membaca bagian hak kepemilikan aset.

​"Sertifikat Hak Milik Mutlak atas Tambang Berlian 'Mutiara Hitam' Sektor 4, Kimberley - Afrika Selatan, diserahkan secara resmi atas nama Nyonya Aira Anindita Blackwood."

​Deg!

​Aira mendongak menatap Gabriel dengan raut wajah yang tidak percaya. "Gabriel! Kamu... kamu beli tambang berlian utuh di Afrika?!"

​Gabriel memamerkan cengiran lebar konyolnya, hilang sudah sisa-sisa wibawa Dark Lord-nya. "Iya! Kemarin tua bangka Don Vincenzo pamer cincin mutiara hitam murahan kan? Nah, sekarang aku belikan kamu tambang berliannya sekalian! Biar kalau kamu butuh berlian atau mutiara, kamu tinggal suruh anak buah kita mengeruk tanahnya sendiri!"

​Felix yang berdiri di sebelah meja hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat sambil memegang dada. "Tuhan... bos saya beli tambang berlian di Afrika cuma gara-gara cemburu sama kakek-kakek," batin Felix pasrah dengan penderitaan batinnya sebagai tangan kanan.

​Aira memegang jidatnya sendiri, antara ingin tertawa ngakak dan pusing melihat tingkah suaminya yang kelewat sultan dan posesif.

​"Gabriel, kamu ini bener-bener gak ada obatnya ya..." omel Aira gemas. "Uang sebanyak itu kamu pakai buat beli tambang berlian cuma gara-gara cemburu?"

​Gabriel mendadak memajukan tubuhnya, menangkup kedua pipi Aira dengan kedua tangannya yang hangat. "Aira, jangankan tambang berlian. Kalau kamu minta seluruh isi bumi ini, bakal aku belikan! Aku tidak mau ada pria mana pun yang merasa bisa memberikan sesuatu yang lebih hebat dari apa yang suamimu berikan."

​Dada Aira berdesir hebat. Di balik tindakan konyol dan berlebihan itu, tersimpan rasa cinta, kesetiaan, dan perlindungan yang teramat tulus dari pria yang paling ditakuti dunia bawah tanah ini. Aira mengulas senyum manis, menyentuh pergelangan tangan Gabriel.

​"Terima kasih, Tuan Sultan Bucin," bisik Aira lembut, lalu berjinjit sedikit dan mendaratkan ciuman manis di pipi Gabriel.

​Gabriel seketika merona merah bahagia, menyeringai lebar bagaikan anak kecil yang baru saja mendapat pujian dari gurunya.

​Namun, suasana manis di ruang eksekutif itu tidak bertahan lama. Suara denting bel pada pintu lift privat kembali berbunyi, memecah kehangatan di antara mereka.

​Pintu lift terbuka, memunculkan sosok pria tinggi berambut pirang dengan setelan jas putih klimis dan kaca mata hitam. Di tangannya, pria itu memegang sebuah amplop hitam polos berstempel lilin merah berlogo bunga mawar berduri—lambang dari Rosewood Syndicate, salah satu faksi paling misterius dari wilayah Amerika Utara.

​Gabriel seketika menegakkan tubuhnya, melangkah satu tindak di depan Aira untuk melindungi istrinya. Aura dingin membunuh seketika memancar pekat dari tubuhnya.

​"Siapa yang memberimu izin melangkah ke lantai lima puluh, Julian?" desis Gabriel dengan suara bariton rendah nan mengancam.

​Pria berambut pirang bernama Julian itu melepas kaca mata hitamnya, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin dan culas. Ia menunduk sopan sejenak ke arah Aira, mengabaikan tatapan membunuh Gabriel.

​"Tenanglah, Tuan Gabriel," ucap Julian dengan nada santai namun sarat akan intrik. "Saya datang bukan untuk mengobarkan perang. Saya hadir sebagai utusan resmi untuk menyampaikan undangan pesta malam amal internasional di Gedung Grand Ballroom minggu depan."

​Julian menyerahkan amplop hitam berstempel lilin merah itu ke tangan Felix.

​"Pesta amal itu dihadiri oleh seluruh petinggi korporasi dan penguasa jalur hukum dari berbagai belakangan negara," lanjut Julian, menatap lurus ke arah Aira. "Dan pimpinan kami sangat berharap, Nyonya Aira Anindita berkenan hadir untuk diperkenalkan secara resmi di hadapan publik korporasi global."

​Gabriel menyipitkan matanya tajam. "Pimpinanmu... si ular tua itu ingin Aira hadir di pesta terbuka?"

​"Ini adalah kesempatan emas untuk memantapkan posisi legal Blackwood Corp di pasar internasional, Tuan," sahut Julian tenang. "Kecuali jika... Anda takut tidak sanggup melindungi istri Anda di tengah keramaian publik?"

​Mendengar nada provokasi tersebut, Gabriel mengepalkan tangannya hingga berderit keras. Namun sebelum Gabriel meledak, Aira melangkah tenang berdiri sejajar di samping suaminya.

​Aira menatap Julian dengan sorot mata yang dingin, anggun, dan penuh wibawa seorang permaisuri.

​"Katakan pada pimpinanmu, Julian," suara Aira menggema tegas di ruangan. "Saya dan suami saya pasti akan datang. Dan pastikan tuanmu menyiapkan penyambutan yang layak untuk kami."

​Julian tersenyum miring, membungkuk dalam-dalam. "Jawaban yang sangat berani, Nyonya Besar. Sampai jumpa di malam pesta."

​Setelah Julian pergi memasuki lift kembali, Gabriel langsung berbalik, memegang kedua bahu Aira dengan raut cemas yang tidak bisa disembunyikan.

​"Aira! Pesta amal itu adalah sarang ular!" tegas Gabriel panik. "Banyak musuh tersembunyi yang mengincar kita di sana!"

​Aira tersenyum lembut, menggenggam jemari Gabriel erat-erat. "Aku tahu, Gabriel. Tapi kita tidak bisa terus bersembunyi di balik layar. Dengan kamu di sisiku, tidak ada satu pun ular yang bisa menyentuhku."

​Gabriel menatap manik mata istrinya yang jernih. Rasa takut di dadanya seketika runtuh, berganti menjadi tekad pembunuh yang membara. Ia merengkuh pinggang Aira erat-erat, berjanji di dalam hatinya bahwa malam pesta itu akan menjadi panggung di mana ia membantai siapa saja yang berani menyentuh istrinya.

​📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):

​Sumpah ngakak banget sama Gabriel yang belikan tambang berlian utuh di Afrika cuma gara-gara cemburu! Tapi tantangan baru udah depan mata nih, pesta malam amal penuh intrik dari faksi Rosewood! Siap-siap ya! 💎🌹

1
Chenyu Wang
mantap awal cerita sudah seru..
Chenyu Wang: sama2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!