"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 08
Rumah Sakit Cipta Medika tidak pernah benar-benar sepi.
Pukul sebelas malam, ruang IGD masih dipenuhi suara langkah cepat, roda brankar, tangis keluarga pasien, dan panggilan perawat. Bau antiseptik bercampur kopi sachet dari meja jaga. Di salah satu sudut, seorang anak kecil menangis karena jarum infus. Di sisi lain, seorang pria tua memegang dada sambil membaca doa pelan.
Naira masuk lewat pintu samping staf.
Ia tidak memakai jas putih. Hanya kemeja gelap, celana panjang, dan rambut yang diikat rendah. Namun begitu ia menunjukkan kartu akses sementara dari direktur rumah sakit, satpam langsung mempersilakan masuk.
"Dokter Bagus sudah menunggu," kata perawat.
Naira mengangguk.
Dokter Bagus adalah salah satu murid lama ibunya. Ia kini menjadi kepala bedah saraf di Cipta Medika. Sejak skandal Dr. Sari, ia memilih diam di depan publik, tetapi diam-diam tetap menyimpan sebagian arsip dan kontak.
Malam ini ia menelepon Naira dengan suara yang biasanya hanya muncul saat pasien berada di ujung hidup.
Kasus sulit.
Tidak ada dokter yang berani mengambil.
Dan ada nama lama yang muncul di rekam medis.
Naira masuk ke ruang konsultasi kecil. Dokter Bagus berdiri begitu melihatnya.
"Naira."
"Pasiennya?"
Tidak ada basa-basi. Dokter Bagus juga tidak mencoba memeluk atau bertanya kabar. Ia tahu Naira tidak datang untuk nostalgia.
Ia menyerahkan tablet. "Perempuan, tiga puluh delapan tahun. Perdarahan otak kompleks, riwayat kelainan vaskular langka. Kondisi memburuk cepat. Keluarga menolak dirujuk karena takut tidak sempat."
Naira membaca hasil CT scan.
Matanya berubah.
"Ini bukan kasus biasa."
"Aku tahu."
"Kenapa panggil aku?"
Dokter Bagus menatapnya. "Karena teknik operasi yang mungkin menyelamatkan pasien ini pernah ditulis Dr. Sari. Tidak pernah dipublikasikan penuh."
Jari Naira berhenti di layar.
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku pernah menjadi asistennya."
Hening singkat.
Di luar ruangan, seorang perawat mengetuk panik. "Dok, tekanan darah pasien turun lagi."
Naira langsung berdiri.
Dokter Bagus menahan lengannya. "Secara administrasi, kamu belum punya SIP aktif di rumah sakit ini. Aku bisa mengurus mandat tindakan darurat sebagai konsultan tamu, tapi perlu tanda tangan direktur dan persetujuan keluarga."
"Berapa menit?"
"Kalau semua orang bekerja cepat, lima."
"Pasien punya berapa menit?"
Dokter Bagus tidak menjawab.
Naira mengambil tablet. "Bawa aku ke keluarga pasien."
Di lorong, keluarga pasien berkumpul di depan ruang tindakan. Suami pasien terlihat hancur. Ibunya membaca doa sambil menangis. Ada dua kerabat yang terus bertanya kepada perawat, tetapi tidak mendengarkan jawaban.
Dokter Bagus memperkenalkan Naira sebagai konsultan bedah yang dipanggil khusus.
Suami pasien menatap Naira dari atas ke bawah.
"Dia dokternya? Muda sekali."
Naira sudah terbiasa.
"Istri Bapak mengalami perdarahan yang lokasinya sulit. Kalau tidak dioperasi sekarang, kemungkinan besar ia tidak bertahan. Kalau dioperasi, risikonya tetap tinggi."
"Dokter lain bilang hampir tidak mungkin."
"Hampir tidak mungkin bukan berarti tidak mungkin."
Ibu pasien menangis lebih keras. "Tolong selamatkan anak saya, Dok."
Naira menatap perempuan tua itu. Dalam suara itu, ia mendengar gema yang sangat jauh. Suara keluarga pasien di pos medis, suara orang yang menyerahkan hidup orang terkasih kepada tangan asing.
"Saya akan melakukan yang bisa dilakukan," kata Naira. "Tapi Bapak harus tanda tangan persetujuan sekarang."
Suami pasien memegang pena dengan tangan gemetar.
Sebelum tanda tangan selesai, suara lain terdengar dari ujung lorong.
"Naira?"
Naira menoleh.
Dimas berdiri di sana.
Di sampingnya ada Clara, memakai jas dokter muda dengan ID rumah sakit berbeda. Wajah Clara tampak terkejut, lalu cepat menyesuaikan menjadi khawatir.
"Mbak Naira, kamu sedang apa di sini?"
Dimas menatap Naira, lalu tablet di tangannya, lalu keluarga pasien.
"Kamu dipanggil?"
Dokter Bagus mengerutkan kening. "Anda keluarga pasien?"
"Bukan," jawab Naira sebelum Dimas bicara. "Tidak relevan."
Clara maju setengah langkah. "Dokter Bagus, maaf, saya Clara Larasati. Saya sempat rotasi di sini. Kasus itu sudah dikonsultasikan ke beberapa dokter. Kalau Mbak Naira ikut campur tanpa kewenangan, ini bisa bahaya."
Keluarga pasien langsung panik.
"Maksudnya apa, Dok?" tanya suami pasien.
Clara tampak menyesal. "Saya hanya khawatir. Tindakan medis harus dilakukan oleh dokter yang jelas izin praktiknya."
Naira menatap Clara.
Kalimat itu terdengar benar. Justru karena terdengar benar, bahayanya lebih besar.
Dokter Bagus berkata tegas, "Dr. Naira bertindak sebagai konsultan tamu atas mandat darurat. Dokumen sedang ditandatangani direktur."
Dimas seperti tidak percaya. "Dr. Naira?"
Naira tidak punya waktu untuk wajah terkejutnya.
Perawat berlari keluar. "Dok, pupil pasien mulai tidak sama!"
Naira langsung bergerak. "Ruang operasi."
Clara menahan. "Tunggu. Ini harus dibahas..."
Naira menepis tangannya. Tidak keras, tapi cukup membuat Clara mundur.
"Pasien tidak menunggu kamu merasa penting."
Wajah Clara memerah.
Dimas tanpa sadar melangkah mengikuti. "Naira, sejak kapan kamu..."
Naira berhenti di depan pintu ruang operasi dan menatapnya.
"Sejak sebelum kamu mengenalku."
Pintu tertutup.
Dimas berdiri di lorong, pikirannya kosong.
Clara menggigit bibir. "Mas, jangan percaya begitu saja. Sekarang banyak orang bisa mengaku dokter ahli. Mungkin dia hanya..."
"Dokter Bagus memanggilnya dokter."
Clara terdiam.
Empat jam berikutnya terasa seperti waktu yang dipatahkan.
Dimas tidak pulang. Ia duduk di kursi lorong, masih dengan kemeja kantor. Clara duduk di sebelahnya, beberapa kali mencoba bicara, tetapi Dimas hanya menjawab pendek.
Di layar ponselnya, pesan dari Bu Ratna terus masuk.
Mama: Kamu di mana?
Mama: Naira itu benar-benar keterlaluan.
Mama: Jangan mau ditakuti pengacara.
Dimas tidak membalas.
Pukul tiga lewat dua belas, lampu ruang operasi padam.
Dokter Bagus keluar lebih dulu. Wajahnya lelah, tapi matanya menyala.
Suami pasien berdiri. "Dok?"
Dokter Bagus tersenyum kecil. "Operasi berhasil. Masa kritis belum selesai, tapi perdarahan terkontrol."
Keluarga pasien menangis lega.
Lalu Naira keluar.
Ia memakai pakaian operasi, masker diturunkan ke dagu. Di pelipisnya ada keringat. Matanya tenang, seperti perempuan yang baru saja menyelesaikan pekerjaan sulit, bukan seperti seseorang yang baru mengguncang dunia kecil Dimas.
Seorang perawat muda berbisik kepada temannya, tetapi cukup terdengar.
"Itu dokter yang tadi? Gerakannya gila. Dokter Bagus saja sampai diam lihatnya."
Perawat lain menjawab, "Katanya dia murid langsung Dr. Sari Anggraini."
Dimas berdiri.
Nama itu kembali menghantamnya.
Sari Anggraini.
Ibu yang kemarin dihina Bu Ratna.
Ibu yang selama ini ia anggap bagian dari masa lalu Naira yang memalukan.
Clara ikut berdiri, wajahnya tegang. "Mbak Naira..."
Naira melewati mereka.
Dimas menahan langkahnya. "Naira, tunggu."
Ia berhenti, tetapi tidak menoleh penuh.
"Kamu dokter?"
Pertanyaan itu keluar begitu bodoh sampai Dimas sendiri ingin menariknya kembali.
Naira menatapnya.
"Menurutmu tadi apa? Sulap?"
Dimas tidak bisa menjawab.
Clara cepat berkata, "Mas, dia mungkin punya latar belakang medis, tapi bukan berarti..."
Dokter Bagus memotong dari belakang. Suaranya dingin.
"Dr. Naira bukan hanya punya latar belakang medis. Kalau bukan karena dia, pasien saya sudah meninggal."
Clara memucat.
Naira tidak tampak puas. Ia justru terlihat semakin lelah.
"Dokter Bagus, kirim laporan pascaoperasi ke saya. Saya pulang."
"Aku antar."
Dimas dan Clara menoleh bersamaan.
Raka Wiratama berdiri di ujung lorong.
Tidak ada yang tahu sejak kapan ia ada di sana.
Di belakangnya, Hanif membawa mantel hitam. Beberapa petugas keamanan rumah sakit berdiri kaku, tidak berani mendekat.
Raka berjalan ke arah Naira, matanya hanya pada perempuan itu.
"Kakimu masih sakit," katanya.
Dimas menegang. "Kamu siapa?"
Raka baru menoleh kepadanya.
Tatapannya membuat lorong yang sudah dingin terasa lebih dingin.
"Orang yang datang tepat waktu."
Naira memejamkan mata sebentar.
Ia terlalu lelah untuk dua pria egois dalam satu malam.
"Aku tidak butuh diantar," katanya.
Raka menyerahkan mantel ke tangannya, bukan memakaikannya.
Gerakan itu kecil.
Tapi Naira melihat perbedaannya.
Ia menerima mantel itu.
Dimas melihatnya juga.
Dan entah kenapa, pemandangan itu lebih menusuk daripada semua dokumen perceraian.
Raka tidak tersenyum kepada Dimas. Ia juga tidak menggandeng Naira keluar seperti pria yang ingin memamerkan kemenangan.
Ia hanya berjalan setengah langkah di belakang, cukup dekat kalau Naira roboh karena lelah, cukup jauh agar perempuan itu tetap memimpin jalannya sendiri.
Hal kecil itu membuat Dimas semakin tidak nyaman.
Karena ia tidak pernah berjalan seperti itu.
Ia selalu berjalan di depan, lalu menganggap Naira pasti mengikuti.